Oleh: museumku | 13 Agustus 2013

UDAYA HALIM: Museum Tionghoa di Tengah Pasar

Kompas, Selasa, 13 Agustus 2013 – Percampuran budaya adalah kekuatan bangsa besar, termasuk Indonesia. Kesadaran itulah yang mendorong Udaya Halim (60) mendirikan Museum Benteng Heritage di tengah Pasar Lama, Tangerang, Banten, demi melestarikan budaya Tionghoa Peranakan. Itulah percampuran budaya Tionghoa dan Nusantara di bilangan Tangerang.

Museum Benteng Heritage berdiri di tengah pasar yang becek, di antara hiruk-pikuk pedagang kaki lima penjaja sayur, ikan, daging, perlengkapan sembahyang, dan penjaja penganan tradisional. Budaya pedagang dari peranakan Tionghoa, Sunda, Banten, Jawa, dan Betawi itu secara umum terwakili dan diserap dalam budaya Tionghoa Peranakan dan berkembang di Tangerang.

Museum itu menempati rumah Tionghoa yang diperkirakan berusia 200 tahun dengan ornamen bagian dalam yang bercerita tentang Delapan Dewa (dalam dialek Hokkian disebut Pat Hsian). Hal itu menandakan, bangunan itu adalah milik keluarga berada.

Kebetulan bangunan itu pun jatuh ke tangan orang yang peduli pada budaya leluhur, yakni Udaya Halim alias Lim Cin Peng. Padahal, sebagian besar bangunan di sekeliling Museum Benteng itu sudah dihancurkan dan berubah menjadi rumah toko, bahkan untuk sarang burung walet.

Wilayah sekitar Museum Benteng pada masa silam adalah bagian dari Benteng Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang terletak di timur Sungai Cisadane. Dalam era Sastra Melayu Pasar, sungai itu disebut Cidani.

Sebelah barat bangunan itu menjadi wilayah Kesultanan Banten. Sementara Tangerang adalah daerah penyangga kota Batavia yang disebut Ommelanden. Pemukim Tionghoa didatangkan Belanda ke kawasan Benteng itu. Mereka lalu disebut Cina Benteng.

Namun, orang Tionghoa di Tangerang yang datang kemudian mengakibatkan adanya kawin campur dengan warga setempat. Hal itu terjadi jauh sebelum VOC berkuasa.

”Orang Tionghoa di Tangerang datang lebih dulu daripada kedatangan bangsa Eropa di Banten, bahkan sebelum pendirian kota Batavia pada tahun 1619. Catatan tertua menyebutkan, orang Tionghoa datang ke Teluk Naga, Tangerang, pada tahun 1407,” kata Udaya.

Mereka datang satu periode dengan muhibah Cheng Ho ke Pulau Jawa. ”Tetapi, saya belum punya arsip tentang kaitan langsung migran Tionghoa di Teluk Naga dengan ekspedisi Cheng Ho yang mengerahkan 200-an kapal dan 20.000-an orang,” ujarnya.

Muhibah Cheng Ho dan migran Tionghoa itulah yang memperkenalkan warga setempat dengan pembuatan batu bata, genteng, kecap, tauco, tauge, tahu, mi, cat, dan kertas. Sesuatu yang lalu menjadi bagian kebudayaan dan keseharian warga di Tangerang.

Para pemukim Tionghoa berada di sepanjang alur Sungai Cisadane ke arah hulu. Mereka pada umumnya bertani. Mereka mengembangkan pertanian hingga daerah pedalaman, seperti Serpong, Rumpin, Ciseeng, Citeureup, dan di daerah hulu. Sementara di Kota Tangerang, banyak warga yang bekerja di sektor jasa dan perdagangan.


Laboratorium

Udaya mengingatkan, Tangerang dan tanah Betawi merupakan laboratorium peleburan budaya. Museum Benteng, misalnya, menampilkan koleksi seperti kebaya encim dan gambang kromong yang 80 persen instrumennya diserap dari Tiongkok.

Di sana juga terdapat rumah kayu, perkakas rumah, kecap Benteng khas Tangerang, dan artefak lain khas Tionghoa Peranakan. Perpaduan budaya itu sampai kini dapat dilihat, antara lain lewat kelompok gambang kromong yang pemainnya dari sejumlah suku, seperti Tionghoa Peranakan, Betawi, Jawa, dan Sunda.

Ia menambahkan, warga Tionghoa Peranakan di Tangerang atau Cina Benteng kerap disisihkan dalam pergaulan sosial masyarakat Tionghoa. Mereka dianggap ”berkasta rendah” karena status sosial yang jelata, terutama karena petani marjinal.

Bahkan, mereka semakin kehilangan lahannya. Mereka tergusur pembangunan perumahan dan pabrik. Udaya mencontohkan, di daerah Cukang Galih dan Cikupa, petani Tionghoa Peranakan tergusur pengembang perumahan yang dia sebut tunabudaya dan sejarah.

Agar tak kehilangan jejak Tionghoa Peranakan, sejak tahun 2007 Udaya merintis Museum Benteng Heritage dengan membeli bangunan tua berarsitektur Tionghoa. Ia tidak rela kawasan antik Benteng berubah menjadi kumpulan ruko dan kehilangan identitasnya.

”Indonesia sebetulnya punya wilayah kota tua di berbagai tempat, seperti Pecinan di Tangerang dan di Lasem yang layak dilestarikan. Ini seperti Malaka yang dijadikan kota warisan budaya dunia oleh UNESCO. Salah satu magnetnya adalah Pecinan di Bandar Malaka,” ujarnya.


Bahasa Inggris

Kehidupan Udaya bisa dikatakan potret perjuangan jatuh-bangun masyarakat Tionghoa Peranakan di Tangerang. Pada 1972, dia harus meninggalkan bangku SMP di Tangerang dan tinggal bersama neneknya di bilangan Senen, Jakarta Pusat.

Udaya menjadi penjaga kios di Pasar Baru dan Pasar Senen, Jakarta, sambil diam-diam belajar bahasa Inggris. ”Kalau ketahuan belajar bahasa Inggris, saya dimarahi. Ini karena nenek punya pandangan kolot, yang menilai orang tak bisa dapat uang dari penguasaan ilmu pengetahuan,” kata dia mengenang.

Demi mengikuti kursus bahasa Inggris, Udaya rela uang ongkos oplet dan makan siangnya ditabung untuk membayar biaya kursus.

”Saya berjalan kaki dari Pasar Senen ke Pasar Baru. Jatah makan saya, juga lauk telur, dikurangi agar dalam sebulan bisa terkumpul Rp 500. Uang itu untuk membayar kursus bahasa Inggris,” cerita Udaya.

Kehidupannya membaik saat Udaya menjadi tukang foto lepas sejak tahun 1972 hingga tahun 1996. Berkat penguasaan bahasa Inggris, pada tahun 1992 dia berkesempatan memotret konferensi internasional di Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Pada perhelatan itu, sejumlah peserta dan guru besar terkejut mendapati ada tukang foto yang ternyata fasih berbahasa Inggris. Udaya kemudian mendapat order untuk mengambil foto udara di kawasan industri Cilegon, Banten. Padahal, dirinya tidak memiliki sertifikasi untuk foto udara. Namun, tugas itu dapat diselesaikannya dengan baik.


Mengajar

Seiring berjalannya waktu, kepiawaian Udaya semakin diakui banyak orang. Dia pun diminta mengajar sebagian dokter di Tangerang. Dia juga diminta mengajar untuk program S-1 di sejumlah perguruan tinggi meski ijazah sekolah formalnya hanya sampai tingkat SMP.

Tidak berhenti sampai di sini, dalam bidang pendidikan Udaya kemudian membangun jaringan konsultasi dengan 25 perguruan tinggi di Britania Raya. Hal itu berawal pada tahun 1990-an saat dia ditantang membantu memperkenalkan perguruan tinggi di Glasgow, Skotlandia.

Bagi Udaya, tidak ada yang tidak mungkin. Jadilah dia menyanggupi tantangan itu, dan berhasil. Maka, terbentuklah Indonesia Britain Education Center yang menjadi perwakilan resmi dari 25 perguruan tinggi tersebut.

Udaya merasa senang karena bisa berbagi ilmu dengan orang lain. ”Saya memang hanya lulusan SMP, tetapi bisa mengusahakan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia ke Inggris dan Australia,” ucapnya.

”Saya juga berbagi ilmu dan melestarikan budaya Tionghoa Peranakan yang disebut Cina Benteng agar mereka tidak minder dan bangga karena adanya perpaduan budaya yang kaya di Tangerang,” kata Udaya.

Upayanya tak sia-sia, akhir tahun lalu, misalnya, ia mengirim puluhan sesepuh Cina Benteng mengikuti Konferensi Peranakan Tionghoa di Malaka, Malaysia. Ini menunjukkan masih adanya masyarakat Tionghoa Peranakan yang menjadikan budaya leluhur melebur di Nusantara sebagai gaya hidup, tak sekadar status sosial sebagai kaum Peranakan….

Udaya-halimUdaya Halim
Alias: Lim Cin Pengu
Lahir: Tangerang, Banten, 26 Maret 1953
Istri: Harum Widjaja (52)
Anak:
Udayacintya Halim (25)
Udayasistha Halim (23)
Udayasotyawidhi Halim (21)
Udayanaga Halim (13)

Oleh: Iwan Santosa


Responses

  1. Saya punya kamera jadul analog Yashica baru ditemukan dari gudang dan kamera digital generasi awal Che-Ez – jepang dan HP Nokia generasi awal yg di Indonesia type THF-9T .. ketiga barang tersebut akan kami jual ke kolektor karena kebutuhan …

  2. No Hp saya 0815 991 5518


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori