Oleh: museumku | 17 Juli 2012

Memori Pengunjung Perempuan Terhadap Representasi Perempuan Ningrat Jawa di Museum Ullen Sentalu

Oleh: Ajeng Ayu Arainikasih
Departemen Arkeologi Universitas Indonesia
Museum Ceria

Museum bukanlah institusi yang statis. Museum seharusnya terus berubah mengikuti perkembangan zaman untuk dapat bertahan dan tidak ‘punah’. Museum juga idealnya selalu mencoba melakukan hal-hal baru dan berbeda untuk menemukan konsep manajemen dan penyampaian informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengunjungnya (West, 2010:4-5). Menurut pendapat saya, dunia permuseuman Indonesia saat ini masih cenderung statis, kurang mencoba melakukan hal-hal baru yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung dan kurang mengikuti perkembangan zaman. Namun, salah satu kekurangan yang paling fatal adalah kurangnya penelitian dan publikasi dari para insan permuseuman mengenai keberhasilan ataupun kegagalan yang telah dilakukan oleh suatu museum, sehingga museum-museum di Indonesia tidak dapat saling belajar dari pengalaman museum lain. Misalnya, Museum A tidak mengetahui program publik apa yang telah sukses dilaksanakan di Museum B, atau bagaimana manajemen baru yang diterapkan di Museum C telah berhasil membuat Museum C menjadi lebih populer dari sebelumnya. Padahal, Direktorat Museum telah menyediakan Museografia, yaitu majalah ilmu permuseuman yang dapat digunakan sebagai ajang komunikasi dan publikasi berbagai hasil penelitian mengenai museum yang dapat dijadikan pelajaran bagi museum lain. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mencoba mempublikasikan hasil penelitian awal mengenai pengunjung perempuan dan memori mereka terhadap cerita tentang kehidupan perempuan-perempuan keraton yang dipaparkan di Museum Ullen Sentalu.

Tulisan ini dibagi menjadi lima bagian, yaitu pendahuluan, metode penelitian yang digunakan, pemaparan informasi mengenai tata pamer dan jalan cerita (storyline) Museum Ullen Sentalu, deskripsi dan analisis hasil penelitian serta penutup yang berupa saran baik bagi Museum Ullen Sentalu maupun bagi museum lain.


PENDAHULUAN

Museum Ullen Sentalu di Kaliurang, Yogyakarta, adalah museum yang memamerkan warisan budaya dari Kasultanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Puro Pakualaman dan Istana Mangkunegaran (http://www.ullensentalu.com/profile.php). Walaupun demikian, museum ini tidak hanya menceritakan sejarah raja-raja Jawa seperti museum-museum sejarah pada umumnya. Koleksi yang dipamerkan dan informasi yang disampaikan kepada pengunjung lebih banyak berkaitan dengan kebudayaan, kesenian dan kehidupan perempuan ningrat keraton. Menurut kepala kurator museum, Ullen Sentalu memang sengaja mengangkat untold story mengenai kehidupan perempuan keraton karena ternyata peranan mereka di keraton sangat besar. Lagipula, perempuan memiliki nilai filosofis yang tinggi serta memiliki nilai keindahan dan estetika untuk dikaji lebih jauh (Daniel Haryono, Kepala Kurator Musem Ullen Sentalu, 17/12/2009).

Anandita Ayudya dan Anasthasia Sadrach (2009) pernah membahas mengenai Museum Ullen Sentalu dan melakukan wawancara dengan Gusti Nurul, salah seorang putri keraton yang cerita hidupnya diabadikan di museum, di dalam buku mereka yang berjudul Perempuan Mencatat: 99 Tempat Liburan Akhir Pekan di Pulau Jawa dan Madura. Ninuk Asavasangsidhi dan beberapa perempuan lain juga mendeskripsikan kunjungan mereka ke Ullen Sentalu pada situs-situs pariwisata dan blog pribadi mereka di internet. Namun, tulisan mereka hanyalah sebatas deskripsi mengenai museum dan kesan mereka terhadap museum. Sedangkan artikel ini mengkaji sejauh mana pesan mengenai kehidupan modern perempuan keraton yang ingin disampaikan oleh museum diterima dan diingat oleh pengunjung perempuan.


METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan cara mengunjungi Museum Ullen Sentalu (pada tanggal 13 Desember 2009) dan mengikuti guided tour museum selama 50 menit. Selama tur berlangsung, dilakukan juga tanya jawab dengan pemandu museum untuk mendapatkan informasi lebih mendalam mengenai cerita dibalik koleksi yang dipamerkan.

Dalam rangka mengkaji konsep museum lebih mendalam dan mengetahui rencana museum kedepannya, dilakukan wawancara dan korespondensi dengan pengelola museum, yaitu kepala kurator Museum Ullen Sentalu. Sedangkan untuk mengetahui apa yang diingat oleh pengunjung perempuan terhadap representasi perempuan ningrat Jawa di Museum Ullen Sentalu dan sejauh mana pesan yang ingin disampaikan oleh museum dapat diterima oleh pengunjung dilakukan wawancara terstruktur dengan 20 responden perempuan. Pemilihan responden dilakukan secara acak dengan syarat mereka adalah perempuan dewasa yang pernah mengunjungi Museum Ullen Sentalu.

Data yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara kemudian dideskripsikan dan dianalisis berdasarkan teori-teori museologi, sebagai dasar untuk memberikan saran membangun bagi kemajuan Museum Ullen Sentalu di masa mendatang.


REPRESENTASI PEREMPUAN NINGRAT JAWA DI MUSEUM ULLEN SENTALU

Sebelum membahas mengenai ingatan pengunjung terhadap informasi apa yang telah mereka terima saat mereka mengunjungi Museum Ullen Sentalu, terlebih dahulu dipaparkan secara garis besar alur cerita (storyline) yang disampaikan di museum tersebut. Museum Ullen Sentalu merepresentasikan perempuan ningrat Jawa melalui koleksi yang dipamerkan, yaitu foto-foto, lukisan, kain batik, pakaian, perhiasan, patung, dan benda-benda lain. Sebagian besar koleksi museum merupakan hibah dari Kasunanan Surakarta, sedangkan interpretasi mengenai koleksi didapatkan dari studi pustaka, wawancara langsung dengan tokoh-tokoh keraton dan dengan melakukan diskusi kelompok dengan para pakar kebudayaan Jawa (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 17/12/2009). Benda-benda koleksi yang dipamerkan di museum juga tidak dilengkapi dengan label, sehingga untuk mengetahui cerita dibalik benda-benda tersebut pengunjung harus mendengarkan penjelasan dari pemandu, bukannya dengan membaca label seperti di museum lain.

Berbeda dengan museum lain yang pada umumnya membiarkan pengunjungnya bebas menjelajahi museum sendiri, Museum Ullen Sentalu mengharuskan setiap pengunjungnya untuk mengikuti guided tour yang dipandu oleh seorang pemandu museum. Museum menyediakan tur keliling (guided tour) setiap 20 menit dan setiap tur berdurasi 50 menit.

Pada awal tur pengunjung dibawa masuk ke ruang bawah tanah bernama Guwo Selo Giri. Didalam ruangan tersebut dipamerkan foto-foto, lukisan-lukisan dan gamelan. Fokus utama ruangan ini adalah cerita dibalik foto-foto dan lukisan-lukisan mengenai beberapa tokoh putri keraton yang berprestasi, memiliki karakter yang berbeda dan telah berfikiran modern di zamannya. Lukisan-lukisan para putri tersebut dibuat oleh tim museum berdasarkan data foto yang ada (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentalu, 13/12/2009). Beberapa lukisan di Guwo Selo Giri yang dibahas oleh pemandu museum antara lain lukisan Gusti Nurul, Gusti Menuk, dan lukisan Ibu Ageng.

Gusti Raden Ayu Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Surjosoejarso atau yang dikenal juga dengan panggilan Gusti Nurul (1921 – ) merupakan anak perempuan dari Mangkunegara VII. Di Guwo Selo Giri, Gusti Nurul dilukiskan sedang menari di pernikahan Ratu Yuliana di Amsterdam pada tahun 1937. Pada saat itu Gusti Nurul menari dengan diiringi gamelan yang dimainkan di Solo namun disiarkan di Amsterdam melalui radio relay (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentalu, 13/12/2009).

Gusti Menuk atau BRAj. Retno Puwoso (1889 – 1968), permaisuri dari Paku Alam VII yang sangat menyukai fashion, dilukiskan memakai kebaya, kain batik, dan memakai kalung kipas bulu yang menjuntai di bagian depan tubuhnya. Beliau sering mendesain sendiri perhiasan-perhiasannya (termasuk kalung kipas panjang yang ia kenakan) dan mendesain pakaian suaminya. Beliau bahkan memakai kain batik dengan cara yang berbeda dari perempuan-perempuan lain (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentalu, 13/12/2009).

Sedangkan Ibu Ageng (1898 – 1983), permaisuri dari Paku Buwono XI, dilukiskan sedang menunggui cucunya bermain piano sambil membawa segenggam kunci. Beliau adalah permaisuri yang sangat berkuasa sehingga beliau selalu membawa kunci ruangan-ruangan keraton kemana-mana. Ibu Ageng juga terlampau protektif terhadap anak lelakinya, Paku Buwono XII, sehingga beliau memiliki banyak selir namun tidak memiliki permaisuri, karena siapapun perempuan pilihannya yang ia ingin jadikan permaisuri selalu tidak disetujui oleh Ibu Ageng (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 21/01/2010).

Setelah selesai dari Guwo Selo Giri pengunjung kemudian keluar dari ruangan bawah tanah tersebut dan dipandu ke Kampung Kambang. Kampung Kambang terdiri atas 5 ruangan terpisah seperti rumah-rumah kecil yang dibangun di atas kolam besar dan saling dihubungkan dengan beranda yang berkelok-kelok seperti labirin. Lima ruangan tersebut adalah Ruang Syair Tinneke, Ruang Gusti Nurul, Royal Room Ratu Mas , Ruang Batik Vorstendlanden dan Ruang Batik Pesisiran.

Ruang Syair Tinneke (foto 1) didedikasikan khusus untuk memamerkan surat-surat milik Gusti Sekar Kedaton Koes Sapariyam, atau yang lebih dikenal dengan nama Tinneke, putri bungsu Pakubuwono XI. Surat-surat tersebut merupakan surat dari teman-teman dan sanak saudara Tinneke selama periode tahun 1939 – 1949 yang bertujuan untuk menghibur Tinneke yang sedang patah hati. Saat itu ibunya melarangnya menikah dengan pria impiannya dan menjodohkannya dengan pria pilihan ibunya (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentalu, 13/12/2009). Surat-suratnya berbentuk seperti puisi dan dihiasi dengan foto pengirimnya. Sebagian besar surat ditulis dengan menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia. Isi surat kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang, lalu terjemahan dan surat aslinya dipajang di dinding ruang tersebut (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 21/01/10).

Putri lain yang cerita hidupnya diabadikan di Museum Ullen Sentalu adalah Gusti Nurul. Gusti Nurul merupakan seorang putri keraton yang berfikiran sangat modern. Ketika sewaktu kecil putri-putri keraton lainnya belajar menari, Gusti Nurul lebih tertarik untuk belajar berkuda, padahal berkuda adalah hal yang tabu bagi seorang putri keraton. Beliau berhasil mendobrak tradisi-tradisi keraton, bahkan beliau menjuarai berbagai perlombaan berkuda. Beliau juga belajar berenang dan bermain tenis. Hal tersebut beliau lakukan karena ia juga ingin seperti pria dan anak-anak Belanda yang mahir menguasai berbagai bidang. Walaupun demikian, beliau juga pandai menari sehingga diundang untuk menari di pernikahan Ratu Yuliana di Belanda. Gusti Nurul juga sangat cantik. Ia pernah dipinang oleh Bung Karno dan Hamengkubuwono IX, namun mereka ia tolak dengan alasan ia tidak suka dengan konsep poligami (Ayudya dan Sadrach, 2009:138-140). Foto-foto masa kecil Gusti Nurul, foto ia sedang berkuda, foto di kapal pesiar ketika ia pergi ke Belanda dan foto bersama Bung Karno di istana, merupakan foto-foto yang dipamerkan di Ruang Gusti Nurul (foto 2).

Royal Room Ratu Mas juga merupakan ruangan yang khusus dibuat untuk seorang tokoh perempuan, yaitu Ratu Mas, istri ke-21 sekaligus permaisuri Pakubuwono X. Ruangan tersebut berisi lukisan, foto pernikahan Ratu Mas, perhiasan, kain-kain batik dan kebaya milik Ratu Mas. Ratu Mas merupakan permaisuri yang gemar berolahraga, beliau bahkan sangat mahir bermain Bulu Tangkis walaupun menggunakan kain dan kebaya. Selain itu beliau juga pintar memasak. Karyanya antara lain resep-resep masakan “Ratu Mas Drank” (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 11/01/2010).

Ruang Batik Vorstendlanden berisi koleksi kain-kain batik dari Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta. Kain-kain batik dengan berbagai motif tersebut memiliki filosofi yang berbeda-beda, antara lain ada motif batik yang tidak boleh dikenakan oleh pengantin karena dikhawatirkan akan membuat pengantinnya sering bertengkar. Adapula motif yang khusus dikenakan oleh keluarga raja, motif yang bisa digunakan untuk menolak ilmu hitam, dan motif yang akan membawa banyak rejeki (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentalu, 13/12/2009).

Sedangkan ruang batik pesisiran memamerkan berbagai jenis batik yang berasal dari daerah pantai utara Jawa. Batik-batik ini umumnya berwarna lebih cerah dibandingkan dengan warna batik Yogya maupun Solo. Di ruangan ini dipamerkan juga kebaya bordir dan mesin bordir berukuran mini yang dulunya dipakai oleh para perempuan untuk membordir. Apabila dikerjakan setiap hari, satu kebaya akan selesai dibordir dalam waktu sekitar tiga bulan (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentau, 13/12/2009).

Dari Kampung Kambang pengunjung kemudian dibawa ke galeri terakhir yang bernama Koridor Retja Landa dan Ruang Budaya. Di Koridor Retja Landa terdapat taman yang dihiasi oleh arca-arca dari masa kerajaan Hindu-Buddha, sedangkan di dalam Ruang Budaya dipajang patung perempuan. Di ruangan ini juga dipamerkan alat permainan congklak yang ternyata digunakan oleh para putri keraton untuk melenturkan jari-jari mereka agar lentik saat menari. Selain itu, dipajang juga beberapa lukisan, antara lain lukisan perempuan Jawa yang memakai pakaian pengantin Yogyakarta, dan lukisan Hamengkubuwono X dengan permaisurinya yang sedang menjamu Pangeran Charles dan Lady Diana. Adapula lukisan yang menggambarkan 10 penari berbaju hijau yang sedang menari Bedaya Ketawang. Sembilan penari tersebut adalah putri-putri keraton, sedangkan penari kesepuluh yang digambarkan melayang dan agak transparan dipercaya sebagai Gusti Kanjeng Ratu Kidul yang juga ikut menari bersama para putri (Aprilia Ambarwati, Pemandu Museum Ullen Sentalu, 13/12/2009).

Setelah selesai melakukan tur keliling museum, pengunjung kemudian dibawa ke ruangan khusus di depan toko suvenir dan disuguhi minuman Ratu Mas Drank. Minuman ini adalah ramuan tradisional putri keraton yang berkhasiat untuk membuat peminumnya menjadi awet muda, terbuat dari 7 bahan rahasia campuran jahe, kayu manis, gula jawa, garam dan daun pandan (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 21/01/2010).

Dengan menceritakan tentang Gusti Menuk yang berkreasi dengan fashion, Ibu Ageng yang dominan, Gusti Nurul yang anti poligami, jago berkuda dan diundang untuk menari di Belanda, serta Tinneke yang travelling ke Belanda, Museum Ullen Sentalu sengaja menampilkan sisi lain dari kehidupan perempuan keraton. Museum ingin menyampaikan pesan kepada pengunjung bahwa perempuan Jawa (terutama perempuan keraton) tidak seperti yang selama ini digambarkan, yaitu selalu terkekang oleh adat. Bukan hanya baru-baru ini saja mereka berpikiran modern, ternyata sejak dari zaman dahulu pun beberapa dari mereka sudah berpikiran maju dan memiliki pengaruh besar di kehidupan keraton (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 17/12/2009).


MEMORI PENGUNJUNG PEREMPUAN

Berdasarkan wawancara dengan para responden, diketahui bahwa lukisan, surat-surat di Ruang Syair Tinneke, batik, foto, Ruang Gusti Nurul, pakaian-pakaian perempuan keraton, dan patung perempuan merupakan benda-benda (atau ruangan) di Museum Ullen Sentalu yang mengingatkan mereka akan representasi perempuan di Museum Ullen Sentalu.

Penjelasan dari pemandu museum yang paling banyak diingat oleh responden (11 responden) adalah penggalan-penggalan informasi mengenai cerita kehidupan Gusti Nurul yang suka berkuda, jago main piano, cantik dan disukai oleh banyak pria, namun anti poligami. Beberapa responden juga sebenarnya ingat bahwa ada penjelasan pemandu tentang seorang putri yang menari di Belanda, namun tampaknya mereka tidak ingat bahwa putri tersebut juga Gusti Nurul. Mungkin hal ini disebabkan karena lukisan Gusti Nurul yang sedang menari dipajang di Guwo Selo Giri, sedangkan foto Gusti Nurul berkuda dan kisah cinta nya dipaparkan di Ruang Gusti Nurul di Kampung Kambang. Namun, dari sebelas responden hanya tiga responden yang mengingat nama Gusti Nurul secara spesifik serta mengingat keberadaan Ruang Gusti Nurul di museum. Salah seorang responden mendeskripsikan Ruang Gusti Nurul sebagai berikut:

“Satu ruangan yang isinya semua tentang putri sultan yang orangnya cantik banget. Jadi di ruangan itu ada semua foto-foto dari dia kecil sampai dewasa, dan ada beberapa barang-barangnya dia, tapi aku lupa nama putrinya itu siapa.”

Cerita mengenai Tinneke yang patah hati karena dijodohkan oleh ibunya dan dikirimi surat oleh teman-teman serta saudara-saudaranya juga merupakan salah satu informasi yang paling banyak diingat oleh responden. Walaupun demikian, dari tujuh responden yang menyatakan bahwa mereka ingat akan keberadaan Ruang Syair Tinneke di museum, tidak ada satu pun responden yang mengingat nama Tinneke, apalagi nama ruangannya. Kutipan berikut ini merupakan jawaban responden yang paling mewakili responden lain dalam menyatakan bahwa mereka ingat bahwa di Museum Ullen Sentalu ada Ruang Syair Tinneke.

“Ruangan khusus putri yang isinya adalah surat-surat dari teman dan saudaranya yang menghibur dia saat dia harus dijodohkan dengan lelaki pilihan ibunya.”

Gusti Nurul dan Tinneke merupakan dua tokoh perempuan keraton yang kisah hidupnya paling diingat oleh responden karena dua hal yang berbeda. Sebagai sesama perempuan, banyak responden yang merasa kagum akan karakter, pemikiran dan prestasi Gusti Nurul, sehingga mereka mengingat sosok Gusti Nurul. Sedangkan sosok Tinneke di museum ditonjolkan sebagai putri yang menderita karena perjodohan , sehingga responden pun merasa iba dan berempati kepadanya. Beberapa responden bahkan membandingkan dirinya sendiri dengan Tinneke dan bersyukur bahwa mereka hidup di dunia modern, dimana sudah tidak umum lagi bagi perempuan untuk dipingit dan dijodohkan oleh orang tua mereka.

Selain cerita mengenai Gusti Nurul dan Tinneke, sebagian besar responden juga ingat akan informasi yang berhubungan dengan dunia fashion dan pernikahan, namun detail informasi yang diingat oleh masing-masing responden berbeda-beda. Misalnya, ada responden yang ingat bahwa pemandu museum menjelaskan filosofi pakaian dan perhiasan pengantin perempuan, tetapi ada pula responden yang teringat pada cerita Gusti Menuk yang fashionable dan gemar merancang pakaian serta perhiasan.

Responden juga cenderung lebih ingat akan suatu hal apabila hal tersebut sesuai dengan minat mereka serta latar belakang kehidupan mereka. Contohnya, Anandita Ayudya dan Anasthasia Sadrach yang memiliki hobi jalan-jalan menuliskan di dalam buku mereka:

“Soal travelling, Gusti Nurul pun tidak jauh berbeda dengan kami, bila ada kesempatan dan diizinkan oleh ayahnya, beliau akan bepergian ke pelosok negeri, bahkan sampai ke negeri Belanda dan Eropa lainnya” (Ayudya dan Sadrach, 2009:140).

Dua responden yang berprofesi sebagai dosen menyatakan bahwa salah satu informasi yang disampaikan oleh pemandu museum yang masih mereka ingat adalah keterangan mengenai perempuan-perempuan keraton yang mengenyam pendidikan hingga ke Eropa. Seorang responden bahkan menyatakan bahwa ia masih ingat detail informasi dari pemandu museum mengenai filosofi dibalik motif-motif batik, karena saat ia mengunjungi Museum Ullen Sentalu ia sedang mengerjakan tesis tentang batik. Sedangkan salah satu responden yang mengaku tertarik dengan hal-hal yang berbau mistis menyatakan bahwa informasi dari pemandu museum yang paling beliau ingat adalah lukisan 10 penari Bedaya Ketawang yang salah satunya adalah Gusti Kanjeng Ratu Kidul.

Selain itu, hampir semua responden menyatakan bahwa mereka sangat menyukai arsitektur museum yang semi-outdoor, interior dan tata pamer museum, serta suasana maupun taman museum. Mereka juga suka dengan konsep museum yang unik, yaitu rute tur keliling museum yang membuat penasaran, seakan-akan membawa pengunjung bertualang memasuki dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Sedangkan empat responden menyatakan bahwa mereka sangat menyukai koleksi museum yang terawat dan merupakan koleksi pribadi.

Minum minuman Ratu Mas Drank yang disajikan pada akhir tur juga merupakan hal yang paling berkesan bagi sebagian besar responden (61%). Walaupun demikian, tidak ada satu responden pun yang mengingat nama minuman tersebut. Berikut merupakan pernyataan responden yang paling mewakili responden lain:

“Yang saya paling suka tuh waktu selesai tur dikasih minuman kayak sirop, mungkin pake jahe, beda gak kayak minuman biasa. Katanya sih minuman jamu khusus ala keraton yang bisa bikin awet muda.”

Khasiat minuman tersebut (awet muda) tampaknya menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung perempuan. Salah seorang responden memaparkan bahwa ia tetap meminum Ratu Mas Drank karena penasaran akan khasiatnya, walaupun ia tidak suka jahe.


PENUTUP

Melalui tata pamer dan penjelasan dari pemandu museum, Museum Ullen Sentalu ingin menyampaikan untold story mengenai kehidupan putri-putri Jawa yang berprestasi dan sudah berpikiran modern. Namun tampaknya pesan ini belum dapat tersampaikan dengan sempurna ke pengunjung. Mereka belum bisa menarik garis merah dari penggalan-penggalan cerita mengenai putri-putri keraton tersebut, hanya tiga dari 20 responden yang dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh museum. Sebagian besar responden lain mengira bahwa museum sengaja menampilkan cerita-cerita dari tokoh-tokoh yang berbeda karena mereka memiliki hubungan keluarga, bukan karena tokoh-tokoh tersebut berbeda dengan perempuan-perempuan ningrat lainnya.

Hal ini mungkin disebabkan karena saat mengunjungi museum, responden lebih tertarik dan penasaran dengan rute tur maupun dengan suasana dan arsitektur museum yang unik, sehingga mereka merasa seperti sedang melakukan petualangan. Penjelasan satu arah dari pemandu pun tidak dapat tertangkap semua, hanya hal-hal tertentu yang paling berkesan dan menarik minat saja yang diingat. Sebaiknya, sebelum tur dimulai pemandu memberikan garis besar kepada pengunjung bahwa pengunjung akan mengeksplorasi kehidupan putri-putri keraton yang selama ini tidak terungkap, sehingga pengunjung memiliki gambaran dan dapat menarik kesimpulan sendiri setelah tur berakhir. Beberapa responden juga memberikan saran agar Museum Ullen Sentalu menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari para putri keraton yang hidup di era modern ini.

Walaupun mendengarkan penjelasan lisan dari pemandu museum merupakan sistem pembelajaran pasif atau didactic – expository education (Hein and Alexander, 1998:33&40), hal ini merupakan keunikan dan ciri khas dari Museum Ullen Sentalu sehingga perlu untuk terus dipertahankan. Bagaimana pun juga, akan lebih baik apabila museum mengkombinasikan pembelajaran pasif dengan pembelajaran aktif, yaitu dengan melibatkan pengunjung secara aktif selama tur berlangsung.

Menurut kepala kurator museum, rencananya museum akan memperbolehkan pengunjungnya untuk memainkan gamelan yang ada di ruang pamer. Waktu tur juga akan di tambah karena pengunjung (baik perempuan maupun laki-laki) akan diajarkan untuk menari Jawa. Bahkan pengunjung juga dapat berfoto dengan menggunakan pakaian Jawa (Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 17/12/2009). Apabila program tersebut dilaksanakan maka pengunjung akan dapat mengeksplorasi Museum Ullen Sentalu dengan menggunakan kelima panca inderanya.

Mengoptimalkan penggunaan panca indera dalam sebuah pameran merupakan hal yang ideal untuk dilakukan karena pada dasarnya manusia mengumpulkan informasi dan mempelajari suatu hal dengan menggunakan kata-kata atau bahasa (baik dengan cara mendengarkan ataupun dengan membaca), melihat secara visual, dan dengan menggunakan indera perasa lainnya, yaitu dengan cara memegang, mencium, dan mengecap (Dean, 1994:26).

Meskipun demikian, dalam mendesain suatu pameran yang memungkinkan pengunjung untuk berinteraksi dengan objek pameran dan mendapatkan pengalaman tertentu, museum harus mengembangkan konsep yang jelas dan dapat mengintegrasikan antara communication goals (pesan apa yang ingin museum sampaikan kepada pengunjung), behavioral goals (apa yang museum inginkan untuk dilakukan oleh pengunjung) dan emotional goals (apa yang museum ingin pengunjung rasakan) (McLean, 1993:95). Rencana pengembangan program tur Museum Ullen Sentalu yang telah dipaparkan sebelumnya adalah rencana yang bagus karena akan mengajak pengunjung untuk mengeksplorasi museum secara aktif, tidak pasif seperti saat ini. Rencana tersebut juga akan membuat pengunjung merasakan bagaimana rasanya menjadi orang Jawa (keluarga keraton) dan melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan (main gamelan, menari, memakai pakaian Jawa dan minum jamu). Tetapi, pengelola Museum Ullen Sentalu juga harus ingat bahwa museum ini ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa ternyata sejak zaman dahulu perempuan ningrat Jawa sudah modern. Jadi jangan sampai pesan ini menjadi semakin tenggelam dengan adanya program-program baru tersebut.

Tidak hanya bagi Museum Ullen Sentalu, hasil penelitian ini juga dapat dijadikan pelajaran bagi museum-museum lain. Salah satu pelajaran yang dapat diangkat adalah suatu tata pamer museum idealnya memaparkan jalan cerita dan pesan yang ingin disampaikan kepada pengunjung, jangan hanya sekadar memajang benda dan informasi mengenai benda tersebut tanpa ada ceritanya. Apabila pengunjung hanya disuguhi benda semata tanpa disertai cerita maka pengunjung tidak akan terkesan dan mengingat informasi tersebut dalam waktu yang lama. Responden dalam penelitian ini mengunjungi Museum Ullen Sentalu antara 4 bulan sampai dengan 10 tahun sebelum mereka diwawancara, namun karena penyampaian informasi di museum tersebut dibuat menjadi cerita yang menarik, dan mereka juga mendapatkan pengalaman yang berkesan selama di museum, maka banyak informasi yang dapat mereka ingat untuk waktu yang lama. Selain itu, berdasarkan penelitian ini diketahui pula bahwa informasi yang diingat oleh pengunjung setelah mengunjungi museum berbeda-beda, sesuai dengan minat dan latar belakang kehidupan mereka. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila tema yang diangkat dalam suatu jalan cerita pameran (storyline) dibuat beragam dan diambil dari berbagai sudut pandang untuk mengakomodir berbagai minat dan latar belakang pengunjung museum yang berbeda. @


Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dipersembahkan kepada Bapak Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, yang telah banyak membantu dalam penulisan artikel ini. Terima kasih juga dihaturkan kepada keluarga dan teman-teman yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini dan telah membantu dalam mencarikan responden-responden lain, serta telah menemani penulis dalam melakukan observasi ke Museum Ullen Sentalu.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber Primer

  1. Observasi ke Museum Ullen Sentalu dan mengikuti guided tour museum, dipandu oleh Aprilia Ambarwati, 13 Desember 2009
  2. Wawancara dan korespondensi dengan Daniel Haryono, Kepala Kurator Museum Ullen Sentalu, 17 Desember 2009, 11 Januari 2010 dan 21 Januari 2010
  3. Wawancara dengan responden perempuan yang pernah mengunjungi Museum Ullen Sentalu:
No Narasumber Umur Pekerjaan Tgl Wwcr Wkt Berkunjung
1 Adisti Fathimah S. 28 Psikolog Anak 18/12/2009 Juli 1999
2 Aditya Natifa Putri 25 Pegawai Swasta 18/12/2009 Januari 2008
3 Anisla Triayu 22 Mahasiswi 17/12/2009 Januari 2008
4 De’Norraliana Ali G. 28

PNS, Mhswi S2

02/04/2010 Februari 2009
5 Desera Puti 24 Desainer Interior 22/12/2009 Februari 2009
6 Dian Sulistyowati 28 Asisten Dosen 18/12/2009 November 2008
7

Diski Parasayu

23

Jurnalis

18/12/2009 Jan 2008 & Mar 2009
8 Evita Mayanti 43 Wiraswasta 17/12/2009 Oktober 2007
9 Himiya Dinda 25 Arkeolog 18/12/2009 Maret 2008
10

Irmawati M. Johan

54

Dosen PNS

22/12/2009 Nov 2008 & Juli 2009
11 Ismoyomurti Wiyadi 72

Ibu RT

18/12/2009 Oktober 2007
12 Juni Handajani 38 Dosen PNS 21/12/2009 Februari 2009
13 Laksmiriah 57

Ibu RT

23/12/2009 Maret 2008
14 Maria Husna 29 Editor Majalah 18/12/2009 Maret 2008
15 Maugina R. Havier 23 Desainer Interior 21/12/2009 Agustus 2008
16 Ninie Susanti 54 Dosen PNS 23/12/2009 November 2008

17

Reni Anggraeni

53

Dokter Gigi

17/12/2009 Jan 2008 & Feb 2009
18 Shabryna R. 22 Mahasiswi 20/12/2009 Maret 2009
19 Triza Mudita K. 27 Asisten Dosen 02/04/2010 Desember 2009
20 Yunia Luyulestari 21 Mahasiswi 22/12/2009 Juli 2009


Sumber Sekunder

Artikel dan Buku
Ayudya, Anandita dan Anasthasia Sadrach. 2009. Perempuan Mencatat: 99 Tempat Liburan Akhir Pekan di Pulau Jawa dan Madura.PT. Gramedia: Jakarta.

Dean, David. 1994. Museum Exhibition Theory and Practice. Routledge: London.

Hein, George, E. and Mary Alexander. 1998. Museums: Places of Learning. American Association of Museums: Washington DC.

McLean, Kathleen. 1993. Planning for People in Museum Exhibitions. The Association of Science-Technology Centers: Washington DC.

West, Robert. 2010. “The Evolving Science Museum” dalam The Museum 2010 Proceeding. National Taipei University of Education: Taipei. Hal. 1-6.

Website
http://www.ullensentalu.com/profile.php, diakses 17/12/2009
http://navigasi.net/goart.php?a=mUllensnt, diakses 24/12/2009

*Pernah dimuat dalam Museografia edisi Juli 2011


Responses

  1. […] Penelitian lengkap di museumku.wordpress […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: