Oleh: museumku | 10 Maret 2012

Museum Gempa Kobe: Tak Sekadar Membawa Kembali ke 17 Januari 1995

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Hidup di daerah bencana membuat warga Jepang harus selalu waspada. Salah satu upaya mengingatkan warga adalah membangun museum. Seperti Museum The Great Hanshin-Awaji Earthquake. Museum yang lebih dikenal sebagai Museum Gempa Kobe 17 Januari 1995 ini beroperasi sejak tahun 2002 di Kota Kobe, Prefektur Hyogo, Jepang. Koleksi museum ini disajikan melalui peralatan multimedia yang lengkap sehingga tidak membosankan

KOMPAS, Kamis, 8 Maret 2012 – Beberapa uang receh yang terjebak dalam lelehan gelas kaca terpajang rapi di museum bencana Kobe, Jepang. Meski tampak tak berharga, koin-koin itu ternyata menyimpan cerita getir gempa Kobe di musim dingin, 17 Januari 1995.

Keping receh itu kenangan dari seorang bibi yang tewas akibat gempa di Kobe bagi keponakannya yang selamat. Dengan alasan menjaga privasi, museum enggan menyebutkan nama mereka. Yang pasti, keponakan itu hanya mampu menyelamatkan bundanya saat gempa berkekuatan 7,3 moment magnitude di kedalaman 16 kilometer dekat pusat kota terjadi.

Sederet dengan koin, sebuah rangkaian besi penutup saluran yang besinya menggeliat ke sana-kemari akibat panas sangat tinggi memberi gambaran kebakaran hebat yang melanda ribuan rumah di Prefektur Hyogo sesaat setelah gempa terjadi.

Barang-barang itu terpajang di Museum The Great Hanshin- Awaji Earthquake Memorial di Kota Kobe. Museum ini dibangun Pemerintah Jepang dan pemerintah lokal melalui Disaster Reduction and Human Renovation Institution.

Dalam museum yang mulai beroperasi tahun 2002, pengunjung bisa merasakan kekuatan gempa, yang meluluhlantakkan Kota Kobe dan sekitarnya serta menewaskan lebih dari 6.400 jiwa ini, melalui suguhan multimedia.

Museum ini berlokasi di samping Kantor Japan International Cooperation Agency (JICA) Hyogo di Kobe, berseberangan dengan pertokoan. Untuk melihat koleksi museum, pengunjung dewasa harus membayar 600 yen (sekitar Rp 68.133).

Tur museum dimulai di lantai 4. Di situ terdapat lukisan besar kehidupan Kota Kobe yang dilengkapi permainan warna lampu untuk menggambarkan denyut aktivitas warga.

Kemudian kita dipersilakan masuk ruangan teater dengan layar panggung separuh prisma berjumlah beberapa buah. Tayangan berdurasi tujuh menit menampilkan berbagai kejadian di penjuru kota saat gempa menyergap pukul 05.46. Kita bisa melihat laju kereta api menjadi tak terkendali karena rel menari-nari dimainkan gempa. Satu demi satu kolom pilar jalan layang Hanshin Expressway pecah dan melemparkan bus serta kendaraan lain ke bawah. Bagaimana bangunan tumbang dan terjadi kebakaran hebat.

”Kekuatan gempa sangat besar. Sebanyak 240.000 bangunan hancur bersamaan dalam waktu 20 detik,” kata Minoru Hanada, warga Kobe yang bekerja di museum, Jumat (24/2).

Pengunjung lantas dibawa menuju The Great Earthquake Hall melalui lorong sepanjang 10 meter yang diisi diorama kondisi jalan setelah gempa. Di hall, pengunjung kembali menikmati tayangan berdurasi 15 menit yang menggambarkan proses rekonstruksi dan geliat ekonomi-sosial warga Kobe.

Di lantai-lantai bawah dipamerkan barang-barang peninggalan, foto-foto, serta rekaman suara dan memo yang dikumpulkan 450 relawan dan ahli, juga penerapan teknologi pengurangan dampak bencana.

Tiap tahun tempat itu dikunjungi sekitar 500.000 wisatawan dan ahli bencana, baik dari Jepang maupun dari negara lain. (ICHWAN SUSANTO)


Responses

  1. Luar biasa, peduli, telaten, dan kreatif. Sangat baik utk diteladani oleh kurator


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori