Oleh: museumku | 9 Maret 2011

Rekontekstualisasi Koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi


Oleh: Gunawan Wahyu Widodo


Pendahuluan

Dalam beberapa dekade terakhir ini perhatian serta minat masyarakat terhadap museum mengalami kenaikan yang cukup berarti. Hal itu tentunya memberikan angin segar serta kesejukkan pada lembaga-lembaga museum untuk lebih terpacu dalam memposisikan perannya sebagai lembaga pewarisan nilai-nilai budaya. Perhatian yang meningkat itu terlihat dari meningkatnya angka kunjungan, lahirnya berbagai macam komunitas-komunitas budaya serta berbagai pendekatan pemikiran yang berasal tidak hanya dari kalangan internal museum, namun dari luar museum. Semua bentuk perhatian itu dengan harapan lembaga museum memiliki peran yang lebih di tengah-tengah masyarakat.

Dinamika masyarakat yang ada itu memberikan wacana baru bagi penyelenggara museum untuk merubah pandangan dari orientasi koleksi kepada orientasi masyarakat/publik. Andrea Hauenschild dalam Claims and Reality of New Museology menyatakan istilah perubahan paradigma dari orientasi koleksi ke orientasi masyarakat dan memberi istilah dengan nama museologi baru. Museologi baru merupakan gagasan tentang museum sebagai alat pendidikan dalam pelayanan pembangunan sosial, museum untuk kita, atau lebih tepatnya harus menjadi salah satu alat yang sempurna bahwa masyarakat telah tersedia untuk mempersiapkan dan mendampingi transformasi sendiri (1988:1). Para museolog tidak merasa puas dalam mereformasi museum tradisional, mereka mencari cara untuk merubah secara radikal metode kerja, isi dan struktur lembaga dan pemikiran yang sudah usang/kuno. Tujuannya adalah untuk membantu museum mencapai arti sosial serta memberikan kontribusi yang kongkrit pada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari (Hauenschild, 1988:5).

Pameran merupakan sebuah media komunikasi yang utama bagi lembaga museum tentunya bukan sekedar proses memamerkan obyek atau koleksi, namun merupakan suatu proses kreatifitas sebuah museum dalam mengkomunikasikan pesan sebagai suatu media atau sarana ekspresi. Museum dapat merancang sebuah pameran yang menekankan pada aspek kreatifitas untuk menciptakan proses komunikasi yang berlangsung menjadi dinamis. Interaksi yang terjadi antara pemeran dan pengujung sangat komunikatif.

Merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut, museum dapat mamerkan koleksi secara kontekstual. Koleksi yang dipamerkan seharusnya ditampilkan dalam konteks yang lebih luas dan tidak terbatas hanya pada informasi tentang koleksi itu sendiri. Koleksi tersebut harus diletakkan dalam situasi yang terkait dengan sesuatu yang lain. Jika koleksi ditampilkan sebagai benda mati dan tidak memberikan informasi apa pun kepada pengunjung, maka sebenarnya fungsi museum sebagai tempat belajar pengetahuan telah mati. Dengan kata lain, kurator museum harus menghidupkan kembali benda-benda tersebut dengan memberikan informasi yang relevan.

Pendirian sebuah lembaga museum memiliki tujuan utama yaitu melestarikan warisan budaya bangsa, meliputi aspek perlindungi, pengembangan dan pemanfaatan benda-benda koleksinya untuk masyarakat. Secara kelembagaan museum memiliki peran sebagai lembaga pelestarian produk budaya bangsa. Mengacu pada definisi ICOM (International Council of Museum), lebih tegas museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya terbuka untuk umum, memiliki fungsi; konservasi, penelitian tentang benda-benda bukti material manusia dan lingkungannya baik yang memiliki bentuk (tangible) maupun yang tak bentuk (intangible) serta memamerkannya untuk tujuan-tujuan atau kepentingan pendidikan dan hiburan (ICOM , 2008). Museum seharusnya lebih mendatangkan manfaat bagi masyarakat, dan bukan sekadar menjadi tempat penyimpanan benda-benda langka dan mahal, bukan merupakan benteng yang memamerkan koleksi benda langka, melainkan sebuah lembaga kebudayaan yang melayani masyarakat (Magetsari, 2008:8). Museum harus dapat memberikan manfaat untuk masyarakat. Masyarakat menjadi pertimbangan utama oleh lembaga museum dalam menentukan tema pameran. Begitu juga metode atau tehnik penyampaian informasi serta pemilihan model pameran yang kontekstual, yang didukung oleh fasilitas yang cukup kotekstual atau modern. Pelayanan kepada masyarakat akan dapat terlaksana dan tercapai jika sebuah museum menjalankan fungsinya dengan baik yaitu preservasi, penelitian dan komunikasi.


Museum Purna Bhakti Pertiwi

Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) merupakan sebuah museum yang relatif muda usianya. Pembangun dan pemrakarsa MPBP adalah Ibu Tien Soeharto (Ibu Negara). Bentuk bangunan dengan konsep tumpeng memiliki makna sebagai manifestasi rasa syukur Bapak Soeharto (Presiden RI ke 2) dan Ibu Tien Soeharto kepada Tuhan YME. MPBP diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1993. Museum didirikan dengan mengemban misi “Melestarikan sejarah perjalanan hidup dan pengabdian Bapak dan Ibu Soeharto sebagai ajang penelitian, penerangan (informasi), rekreasi serta sebagai obyek wisata bagi masyarakat luas”.

Dari aspek koleksi, Museum Purna Bhakti Pertiwi memiliki koleksi sebanyak 17.000-an item. Jumlah koleksi yang cukup banyak tersebut dikelola selama masa pengabdian Bapak dan Ibu Soeharto pada bangsa dan negara. Koleksi yang cukup banyak tersebut pada hakekatnya merupakan sumber informasi dan pengetahuan yang memiliki potensi yang besar untuk dapat dikemas sebagai inspirasi bagi masyarakat dan dalam membangun masyarakat.

Aspek kurasi, yaitu seluruh aspek yang dilakukan oleh pengelola museum dalam memperlakukan koleksi. Diantara kegiatan kurasi adalah klasifikasi koleksi. Klasifikasi yang dilakukan oleh pengelola museum menggunakan pengelompokkan yang didasarkan pada jenis materi dasar koleksi. Dari jumlah koleksi itu dikelompokkan menjadi 13 macam. Klasifikasi tersebut dijadikan sebagai panduan dalam melakukan tata pamer. Tata pamer dengan mengelompokkan atas dasar materi koleksi lebih menekankan pada aspek konservasi semata.

Beberapa catatan tentang keberadaan Museum Purna Bhakti Pertiwi tersebut di atas dapat memberikan gambaran bahwa orientasi managemen dalam melakukan pengelolaan museum masih menggunakan orientasi koleksi (tradisional). Oleh karena itu perlu kiranya sebuah lembaga untuk merubah orientasi dalam pengelolaan museum yang berbasis pada kepentingan masyarakat. Peran museum dituntut untuk hadir di tengah masyarakat, kehadiran museum tersebut dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat dan tentunya untuk sesuatu yang lebih baik. Mikke Susanto menyatakan bahwa museum abad ke-21 perlu melakukan tiga hal, yaitu:

(1) preservasi atau pemeliharaan masa lalu
(2) Revelation atau pembukaan rahasia (penyusunan elemen masa kini)
(3) Regeneration atau kelahiran kembali melalui edukasi dan penyebaran (masa yang akan datang).


Rekontekstualisasi Koleksi

Rekontekstualisasi koleksi pada prinisipnya memiliki arti pemaknaan kembali koleksi dengan menggunakan penafsiran ulang atau interpretasi ulang terhadap koleksi. Interpretasi dapat dilakukan dengan melalui sebuah riset terhadap koleksi. Kegiatan riset dilakukan untuk mendapatkan data-data baru yang disesuaikan dengan visi dan misi museum. Penelitian dalam sebuah museum menurut Mark S. Graham dalam Museum Management and Curatorship: Assessing priorities: Research at museum, penelitian adalah; penyelidikkan diarahkan pada penemuan fakta beberapa melalui studi yang cermat dari subjek; suatu program penyelidikan kritis atau ilmiah. Dalam konteks museum, penyelidikan bertujuan untuk semua usaha, termasuk masyarakat perilaku dan kemampuan belajar mereka, teknik pengiriman untuk layanan, tanggapan terhadap iklan, semua aspek koleksi, utilitas bangunan dan masalah keamanan (2005: 288).

Pengertian interpretasi dimaksud adalah sebagai sebuah penjelasan atau pembentukan makna atau signifikansi dari sesuatu. Timothy Ambrose dan Crispin Paine dalam Museum Basic menyatakan bahwa ;
‘Interpretation’ usually means translating from one language to another. In the museum world, though, it has a special meaning: explaining an object and its significance. Interpretation may not only explain an object and its significance, it may also provide a conservation message about the object and its context (Timothy, 2006:78).

Timothy juga menjelaskan tentang maksud dan tujuan sebuah objek diinterpretasikan atau diberi makna; to interpret something, you have to have someone to interpret it to. That person will of course come with his or her own interests, assumptions, beliefs, knowledge and curiosity. Mengacu pendapat yang dikemukakan oleh David Dean dalam Museum Exhibition menyatakan bahwa “Interpretation is the act or process of explaining or clarifying, translating, or presenting personal understanding about subject or object (Dean, 1994:6).

Beberapa pengertian interpretasi di atas mempertegas tentang fungsi lembaga museum sebagai agen pencipta/produksi makna. Museum diharapkan memiliki kepekaan sosial yang tinggi, pemahaman akan kondisi masyarakat sangatlah penting. Kepahaman akan kondisi sosial bagi seorang museolog memegang peranan penting dan dengan tepat dapat memilih dan menetukan tema-tema yang cocok bagi masyarakat, Makna yang diciptakan dikomunikasikan dan diinformasikan kepada pengunjung atau masyarakat, sebagai bentuk usaha dalam melibatkan masyarakat terhadap isu atau beberapa hal yang memiliki hubungan permasalahan mereka.

Bary Lord dan Gail Dexter Lord dalam buku The Manual of Museum Management menyatakan “Interpretasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan cara-cara yang museum berkomunikasi dengan publik mengenai kegiatan penelitian koleksi”. Lord and Lord dalam pernyataan tersebut secara khusus menyatakan bahwa konsep komunikasi yang dilakukan museum melalui aktivitas penelitian, konsep komunikasi antara museum dengan masyarakat melalui koleksi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa komunikasi lembaga museum dengan masyarakat idiealnya adalah komukasi dua arah, sebagai bagian dari perkembangan zaman. Sebagai koreksi tentang konsep “interpretasi” sebagai konsep komunikasi satu arah. Sehingga pengunjung perlu menerjemahkan kembali ’bahasa’ dari objek yang dipamerkan. Interpretasi adalah istilah yang sangat familiar bagi para professional museum yang mencakup orientasi, label dan teks serta penyajian informasi (Lord dan Lord, 1997:238).

Beberapa difinisi dan pengertian interpretasi terhadap koleksi museum di atas pada prinsipnya interpretasi dilakukan dalam konteks tangible dan intangible. Tangible adalah wujud atau bentuk koleksi meliputi nama koleksi, ukuran, fungsi, asal koleksi dan nama pemberi. Interpretasi koleksi dari aspek nilai intangible adalah melakukan pemaknaan dengan mengungkap informasi dibalik koleksi, meliputi; konteks peristiwa; siapa nama dan jabatan pemberi, dalam rangka atau peristiwa apa koleksi diberikan, manfaat dan pengaruh adanya peristiwa tersebut dan segala informasi yang berkaitan dengan koleksi tersebut.

Rekontekstualisasi koleksi MPBP dapat dilakukan dengan mengawalinya melalui klasifikasi koleksi. Klasifikasi koleksi menjadi 13 macam tersebut dengan menggunakan bahan dasar, disederhanakan dalam 3 kategori, yaitu; koleksi cenderamata, koleksi penghargaan, dan koleksi non cenderamata. Penyederhanaan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa nilai intengible dari koleksi jauh memiliki aspek penting. Pembagian 3 kelompok dapat dirinci sebagai berikut;

1. Koleksi Penghargaan
Koleksi ini meliputi penghargaan yang berasal dari pemerintah Republik Indonesia, pemerintah luar negeri atau lembaga swadaya masyarakat baik yang bersifat nasional maupun internasional. Koleksi penghargaan tersebut berasal dari berbagai bidang meliputi; militer, pemerintahan, sosial, dan budaya. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan yang diberikan kepada bangsa Indonesia melalui Presiden Soeharto.

2. Koleksi Cenderamata
Koleksi cenderamata tersebut berasal dari berbagai macam kalangan seperti; masyarakat biasa, petani, lembaga sosial, pejabat daerah, menteri, duta besar, perdana menteri, presiden, raja/ratu, dan lembaga sosial taraf nasional dan internasional.

3. Koleksi non cenderamata
Koleksi non cenderamata ini meliputi koleksi yang merupakan benda koleksi pribadi Bp. Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.

Pertimbangan yang menjadi alasan dengan membagi koleksi menjadi 3 kelompok baik secara idialis maupun praktis adalah;
– Secara administrasi akan lebih memudahkan dalam pengelompokkan jenis koleksi;
– Secara kontekstual pengelompokkan koleksi didasarkan pada nilai informasi akan membantu dalam aspek tata pamer, mempermudah dalam membuat tema-tema pameran serta lebih komunikatif;
– Mempermudah dalam membuat bentuk pameran, baik yang bersifat pameran tetap maupu pameran temporer.

Pada makalah ini rekontekstualisasi akan dilakukan pada kelompok koleksi penghargaan (khusus penghargaan dai PBB) dan koleksi cenderamata. Penelitian koleksi ini lebih menitik beratkan pada aspek intengible. Interpretasi secara intangible lebih diprioritaskan dengan beberapa alasan;
– Koleksi merupakan cenderamata dan penghargaan, informasi peristiwa di balik koleksi lebih memiliki nilai informasi yang sangat penting dalam kerangka menyampaikan visi dan misi MPBP.
– Koleksi lebih banyak menyimpan data intangeble, data yang dapat merekontruski sebuah peristiwa atau konsep dan kebijakan yang dilakukan.


Bagaimana Rekontekstualisasi Dilakukan ?

Museum Purna Bhakti Pertiwi merupakan museum tokoh, museum yang memiliki misi yang mengacu pada ketokohan seseorang, yaitu Bp. serta Ibu Soeharto. Sebagai presiden RI ke 2 sangat memungkinkan setiap aspek kegiatannya merupakan rangkaian sejarah bangsa Indonesia. Banyaknya penghargaan dan cenderamata yang diterima oleh Bp. Soeharto baik dari pemerintahan, organisasi dunia serta LSM, serta dari masyarakat luas hal itu merupakan sebuah bentuk apresisasi atas prestasi kerja nyata dengan penuh rasa tanggung jawab yang tinggi dari kedua tokoh tersebut.

Pada makalah ini rekontekstualisasi dilakukan pada dua jenis koleksi yaitu kelompok koleksi penghargaan (khusus penghargaan dari PBB) dan koleksi cenderamata (para kepala negara dan kepala pemerintahan).

Beberapa koleksi penghargaan dari PBB yang diterima Bp. Soeharto adalah sbb;
(1) Medali ”From Rice to Self Sufficiency” dari FAO, diberikan kepada Presiden Soeharto, pada tanggal 22 Juli 1986;
(2) Piagam dan medali “The Health for All” ; penghargaan dari WHO diberikan pada tanggal 18 Februari 1991, diberikan kepada bangsa Indonesia atas kepeloporan Presiden Soeharto dalam bidang kesehatan;
(3) Piagam UN Population Award, diberikan kepada Presiden Soeharto dalam keberhasilannya mengontrol pertumbuhan jumlah penduduk. Penghargaan diberikan pada 8 Juni 1989;
(4) Piagam UNDP, diberikan kepada Presiden Soeharto atas komitmen, peranan dan jasanya dalam upaya pengentasan kemiskinan. Penghargaan diberikan pada tanggal 29 Agustus 1997;
(5) Medali “The Avicenna”; diberikan kepada Presiden Soeharto oleh UNESCO atas komitmennya dalam pembangunan pendidikan untuk rakyat, diberikan pada tanggal 19 Juni 1993.

Koleksi cenderamata yang berasal dari para kepala negara diantaranya adalah sebagai berikut;

(1) Seperangkat tempat sirih
Tiga buah koleksi cenderamata MPBP berupa seperangkat tempat sirih merupakan pemberian dari Perdana Menteri Malaysia, yaitu Datuk Hussein Onn dan Dr. Mahathir Muhammad.

Koleksi tempat sirih dari negara Malaysia; memiliki makna sebagai media penghormatan kepada tamu. Tamu diperlakukan tidak sebagai orang lain tetapi sebagai sahabat. Perlakuan tersebut juga melambangkan bahwa Negara pemberi memiliki sifat rendah hati, memberi, serta senantiasa memuliakan orang lain.

(2) Mate
Mate adalah sebuah gelas berbentuk bulat dan berkaki dilengkapi dengan sedotan, digunakan sebagail alat minum teh yerba. Terdapat Dua buah koleksi Mate merupakan cenderamata dari Presiden Argentina, Carlos Saul Menem, dan cenderamata dari Presiden Chili, Augusto Pinochet Ugarte.

Pada awalnya alat minum tersebut terbuat dari buah labu sedangkan sedotan dibuat dari jerami. alat minum teh tradisional Amerika Selatan. Teh yang dihidangkan dinamakan yerba.

”Mate”, cenderamata dari Chili, Argentina, dan Mexico, merupakan tradisi minum teh masyarakat Amerika Selatan, tradisi minum teh ini memiliki makna sebagai bentuk penghargaan kepada tamu yang diperlakukan sebagai sahabat.

(3) “Wakahuia”
Wakahuia, cenderamata dari Jim Bolger, Perdana Menteri Selandia Baru. Wakahuia (treasure box) semacam kotak bertutup berbentuk oval terbuat dari kayu dan berukir. Wakahuia bagi masyarakat suku Maori, penduduk asli Selandia Baru, merupakan kotak yang sangat berharga dan memiliki fungsi untuk menyimpan benda-banda berharga seperti hei tiki atau bulu burung sebagai hiasan atau penghias rambut kaum wanita.

Wakahuia, cenderamata dari Selandia Baru memiliki makna bahwa Indonesia memiliki makna penting bagi negara Selandia Baru. Memberikan benda yang berharga berupa wakahuia merepresentasikan dari perasaan penghormatan serta ingin menjadikan hubungan dua negara tersebut dalam hubungan yang sangat erat.

Proses pemberian konteks baru dilakukan dengan menggunakan teori museologi. Mengacu pada kajian museologi, bahwa museum memiliki fungsi sebagai lembaga atau agen pencipta/produksi makna, “museums are key agents in the creation of meaning” (Janes, 2007:135). Interpretasi pada hakekatnya adalah hasil sebuah riset koleksi. Riset koleksi yang dilakukan oleh kurator museum. Museolog memiliki peran dan fungsi untuk memilih informasi apa yang akan disampaikan kepada masyarakat. Pemilihan informasi dengan mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Kepentingan dan kebutuhan tersebut berorientasi pada ilmu pengetahuan. Pada akhirnya konsep mediasi dengan masyarakat melalui pameran akan merangsang masyarakat/pengunjung membangun sendiri pengetahuanya dan secara psikologis menimbulkan rasa nyaman bagi mereka selama kunjungan berlangsung (Magetsari, 2008:3). Visi dan misi museum dijadikan sebagai acuannya dalam pemilihan makna. Koleksi MPBP kelompok cenderamata dilakukan analisis dengan menggunakan metode Furst. Furst memberikan kerangka kerja bagi kurator dalam melakukan proses kurasi sebuah koleksi didalam museum. Konsep helix pada prinsipnya memiliki cara kerja seperti konsep musiality. Metode Furst ini menjelaskan proses penelitian koleksi yang dilakukan untuk koleksi yang sudah berada atau menjadi koleksi museum. Koleksi sudah memiliki label, Furst menyebutnya dengan istilah object in context. Untuk melakukan penelitian lanjutan koleksi tersebut mengalami decontextualized, hal ini kurator lakukan untuk dilakukan analisis lanjutan yang disebut analisa komparatif. Analisis komparatif dilakukan yaitu membandingkan data penelitian satu dengan yang lain yang sifatnya sebanding. Membandingkan data dalam museological context adalah data yang berupa makna koleksi. Analisis perbandingan makna tersebut akan digunakan untuk menginterpretasikan ulang atau mendapatkan pemaknaan baru terhadap koleksi yang disesuaikan dengan visi dan misi museum. Analisis komparatif Furst Method ini akan digunakan dalam penelitian koleksi cenderamata para kepala negara dan pemerintahan. Sementara itu untuk koleksi penghargaan dari PBB tidak dapat analisis yang dilakukan tidak menggunakan comparative analisys, hal tersebut dikarenakan koleksi penghargaan yang diberikan oleh PBB merupakan penghargaan yang pertama kali diberikan. Maka dari itu rekontekstualisasi makna yang dapat dilakukan adalah menciptakan makna baru melalui interpretasi.


Konsep helix pada prinsipnya memiliki cara kerja seperti konsep museality

Analisis perbandingan yaitu memperbandingkan makna cenderamata yang diterima dan yang diberikan Presiden Soeharto. Presiden Soeharto, memilih keris sebagai cenderamata. Keris sebagai benda budaya dijadikan sebagai cenderamata oleh kepala negara tentunya memiliki nilai filosofi. Makna fislosifis tersebut dijadikan sebagai dasar dalam interpretasi, sehingga akan dapat kita lihat bangsa Indonesia memandang negara lain sebagai apa dalam konteks diplomasi tersebut. Sementara itu negara lain juga memberikan cenderamata kepada Presiden Soeharto dan cenderamata tersebut juga merepresentasikan cara pandang bangsa lain terhadap bangsa Indonesia.

Sementara proses pemaknaan baru terhadap koleksi penghargaan PBB menggunakan teori museologi. Teori museologi ini memberikan ruang gerak seorang kurator melakuan kajian data-data yang mendukung penghargaan dari PBB. Berawal dari pertanyaan mengapa Presiden Soeharto menerima penghargaan dari PBB? Data-data yang mendukung tersebut dijadikan kurator untuk memberikan pemaknaan baru terhadap koleksi penghargaan. Makna penghargaan adalah prestasi bangsa, namun ketika penghargaan PBB menjadi koleksi museum, bagaimana prestasi bangsa Indonesia disampaikan kepada pengunjung.

Koleksi penghargaan berjumlah 5 macam, merupakan penghargaan dari PBB. Pemilihan terhadap penghargaan dari PBB mempertimbangkan bahwa, lembaga ini merupakan lembaga dunia, setiap kebijakan dijadikan ukuran dan acuan bagi dunia. Sebagai lembaga internasional PBB memiliki kewenangan dalam melakukan penilaian prestasi sebuah negara dalam berbagai aspek.

Koleksi penghargaan dari PBB berupa; (1) ”From Rice to Self Sufficiency” dari FAO tentang keberhasilan bangsa Indonesia dalam swasembada pangan, (2) medali “The Health for All” dari WHO, diberikan kepada Presiden Soeharto atas kepeloporannya dalam bidang kesehatan, (3)) Piagam UN Population Award, diberikan kepada Presiden Soeharto dalam keberhasilannya mengontrol pertumbuhan jumlah penduduk, (4) Piagam UNDP, diberikan kepada Presiden Soeharto atas komitmen, peranan dan jasanya dalam upaya pengentasan kemiskinan (5) Medali “The Avicenna”; diberikan kepada Presiden Soeharto oleh UNESCO atas komitmennya dalam pembangunan pendidikan untuk rakyat.

Interpretasi terhadap koleksi penghargaan dari PBB, misalnya tentang swasembada pangan, seorang museolog dapat memberikan makna serta menyajikan dalam konsep pameran sebagai berikut;
1. Konsep pameran yang menginspirasi bangsa Indonesia bahwa sebagai bangsa agraris, memeiliki potensi dalam pengadaan kebutuhan pangan, sehingga mampu membawa bangsa Indonesia menajadi bangsa yang memiliki ketahanan pangan. Pencapaian sebagai negara yang pernah swasembada beras merupakan bukti bahwa kita mampu.
2. Konsep pameran yang mampu menginspirasi para petani Indonesai bagaimana cara mengalola sistem pertanian yang baik. Panca Usaha Tani, dapat disampaikan khususnya para petani.; pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, pengairan, pemupukan, penyiangan, pemberantasan hama.
3. Konsep pameran yang menyajikan tentang varitas-varitas padi yang unggul, dapat disajikan kepada para peneliti perttanian, dengan harapan mampu meninspirasi para peneliti pertanian untuk lebih giat melakukan riset dan menghasilkan varitas unggul yang cocok untuk iklim Indonesia.
4. Konsep pameran yang mengetengahkan jenis jenis hama padi dan cara penenggulangannya. Pameran ini dapat disampaikan kepada para petani-petani untuk lebih pintar mengenal dan menangani beberapa hama padi.

Interpretasi secara terus menerus tentunya dapat dilakukan oleh seorang museolog melalui hasil penelitian para kurator/peneliti koleksi. Interpretasi dengan mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat.


Penutup

Museum merupakan sebuah institusi museologi mencakup seluruh aspek teoretis dari seluruh kegiatan permuseuman, dan museologi menjadi fungsi dasar sebuah museum yang meliputi; penelitian konservasi atau pelestarian dan komunikasi. Rekontekstualisasi pada prinsipnya sebuah upaya yang meski dilakukan oleh seorang museolog dalam upayanya memposisikan lembaga museum memiliki peran dalam masyarakat. Rekontekstualisasi akan memberikan energi baru bagi kurator untuk selalu melakukan.

Sementara itu, peran mendasar menciptakan makna melalui koleksi. Proses menciptakan makna atau interpretasi sebuah koleksi dapat menjadi sebuah kekuatan yang mampu menjadi media antara institusi museum dengan sebuah masyarakat. Pesan yang disampaikan melalui konsep pameran adalah bentuk komunikasi dalam menyampaikan pesan yang berupa visi atau misi lembaga museum. Pada akhirnya konsep mediasi dengan masyarakat melalui pameran akan merangsang pengunjung membangun sendiri pengetahuanya dan secara psikologis menimbulkan rasa nyaman bagi mereka selama kunjungan berlangsung.


Daftar Pustaka

Abdulgani-Knapp Retnowati. Soeharto : The Life and Legacy of Indonesia’s Second President. Jakarta : Kata Hasta Pustaka, 2007.

Ambrose, Thimothy dan Chrispin Paine : Musuem Basic, New York: Routledge, 2005

Antara, Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam Berita , Antara Pustaka Utama, 2009.

Asiarto, Luthfi, et.al., Pedoman Museum Indonesia, Jakarta, Direktorat Museum Dirjen Sejarah Purbakala Depbudpar, 2008.

Direktorat Permuseuman, Pembakuan Rencana Induk Permuseuman Di Indonesia. Jakarta : Proyek Pembinaan Permuseuman 1986.

Dean, David. Museum Exhibition: Theory and Practice. USA, 1994.

Knell, Simon J., Museum Revolution, Routledge; London and New York, 2007

Lord, Barry & Gail Dexter Lord. The Manual of Museum Management. London Stationary Office Books, 1997

M. Pearce, Susan, Museum Studies in Material Culture, Smithsonian Institute Press, Washington DC, 1991.

Mundarjito, Museum Etnografi : Ruang Pelestarian dan Pemanfaatan Budaya, 2005.

Magetsari, Noerhadi, ”Filsafat Museologi” Makalah Seminar dalam rangka peringatan seratus tahun kebangkitan Nasional, Jakarta 29 Mei 2008.

Singgih, Wibisono Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta, Penerbit Museum Purna Bhakti Pertiwi, 1993.

Sumadio, Bambang, Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta : Dirjenbud Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, 1996/1997.

Sutaarga, Moh. Amir, Pedoman Penyelenggaraan Dan Pengelolaan Museum. Jakarta : Dirjenbud Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, 1989.
Studi Museologia.

———- Capita Selekta Museografi dan Museologi, Jakarta, Direktorat Permuseuman Depdiknas, 2000.

Van Mensch, Peter, Toward a Methodology of Museology, PhD thesis, University of Zagreb, 1992.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: