Oleh: museumku | 20 Oktober 2010

Museum Anak Kolong Tangga Gelar Pameran Celengan

Gambar arsip tertanggal ( 5 Januari 2010) yang memperlihatkan sejumlah anak dari Play Group Milas mengamati berbagai macam mainan anak koleksi Museum Anak Kolong Tangga, di Yogyakarta. (ANTARA/ Wahyu Putro A)

Antaranews.com, Kamis, 14 Oktober 2010 – Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta akan menggelar pameran bertajuk “Celengan, Simpan Satu Rupiah” di Benteng Vredeburg Yogyakarta pada 23 Oktober hingga 10 November 2010.

“Pameran akan menampilkan 500 koleksi celengan yang dimiliki museum anak pertama di Indonesia itu,” kata Koordinator Humas Museum Anak Kolong Tangga Marisa Latifa, di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, ratusan koleksi celengan yang sebagian besar adalah artefak asli masa Majapahit. Salah satu koleksi yang ada merupakan celengan sejak zaman Majapahit berbentuk babi.

“Celengan lain yang akan ditampilkan adalah kelinci terracota jawa, ayam, dan katak. Bentuk yang beragam dari celengan tradisional dan kuno itu memiliki nilai budaya masyarakat Indonesia, khususnya jawa,” katanya.

Ia mengatakan celengan bagi masyarakat tempo dulu merupakan suatu simbol seni masyarakat jawa, kepercayaan pada mitos, dan kekuatan dari imajinasi manusia di beberapa daerah Indonesia.

“Pameran juga akan menampilkan benda, artikel, dan dokumen yang ada kaitannya dengan celengan. Celengan bukan hanya sekadar salah satu kegiatan ekonomi semata, tetapi ada aspek lain yang belum banyak kita ketahui,” katanya.

Menurut dia, pameran diselenggarakan sebagai wujud kepedulian Yayasan Dunia Damai sebagai pihak pengelola Museum Anak Kolong Tangga terhadap kebiasaan menabung anak-anak Indonesia.

Selain itu, juga bertujuan untuk melestarikan fungsi celengan tradisional yang terbuat dari tanah liat dan memiliki sejarah yang begitu panjang sejak zaman Majapahit.

Ia mengatakan pameran celengan itu didukung Badan Musyawarah Musea (Barahmus), Museum Benteng Vredeburg, Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Bank Indonesia, dan Sekolah Tinggi Pemberdayaan Masyarakat Desa (STPMD) Yogyakarta.

“Selain itu, juga didukung individu dan seniman yang memiliki kepedulian terhadap anak-anak dan pelestarian budaya, seperti Ian Glinski, Djoko Pekik, Samuel Indratma, Teddy S, Theresa, Kartika Affandi, Conny, dan Ristianto,” katanya.(*)

Iklan

Responses

  1. Saya tinggal di Jogjakarta, lho, di Kentungan, Sleman yogyakarta. Kalo sempet, aku pergi kesana, aahh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori