Oleh: museumku | 16 Agustus 2010

Strategi Pemasaran: Kuncinya Kreativitas

Kompas, Jumat, 13 Agustus 2010 – Tak semua museum kondisinya mengenaskan: pengap, kusam, dan sepi pengunjung. Cukup banyak museum yang menjadi obyek favorit masyarakat karena tempatnya nyaman, penataan koleksinya bagus, dan dikelola secara profesional.

Museum Ullen Sentalu di Yogyakarta, misalnya, menjadi tempat favorit kunjungan wisatawan mancanegara karena tak sekadar menyajikan obyek, tetapi memberi informasi dan makna yang lengkap pada setiap obyek yang ditampilkan. Ditambah dengan tata ruang, tata pamer, dan visualisasi yang unik, apa yang disebut sebagai living heritage ditampilkan secara optimal. “Kami secara rutin mengajak berbagai kalangan seniman untuk datang ke museum. Komentar mereka menjadi masukan yang sangat berharga,” kata Daniel Haryono.

Di Medan, ada Rahmat International Wildlife Museum and Gallery yang menyimpan seribu spesies hewan dalam 3.000 koleksi. Ruangan museum bersih, dingin, dan wangi. Pengunjung tak segan merogoh kocek Rp 25.000 per orang untuk melihat koleksi yang ada. Kunjungan ke museum rata-rata 1.000 orang per minggu.

Museum yang dikelola Yayasan Rahmat Syah juga menyediakan aneka suvenir mulai dari t-shirt hingga cangkir, juga foto studio untuk memotret pengunjung dengan hewan kering koleksi museum hingga kafe untuk pengunjung. “Saat ini pemasukan dari tiket sudah bisa menutupi biaya operasional museum,” tutur Nelly R, staf di Rahmat International Wildlife Museum and Gallery. Museum juga menjalin kerja sama dengan agen perjalanan untuk menjaring pengunjung.

Di Jakarta, ada Museum Bank Mandiri yang memanfaatkan bangunan tua bekas Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) NV, yang dibangun 27 Februari 1826. Meski baru berdiri tahun 2005, jumlah pengunjung terus meningkat. Tahun ini, hingga Juli, sudah 120.000 orang yang menyaksikan koleksi museum.

Untuk menjaring pengunjung, museum ini menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas yang bisa memanfaatkan fasilitas museum secara cuma-cuma. “Untuk nasabah Bank Mandiri, misalnya, tidak dipungut tiket masuk,” kata Hirman Setiawan, Manager Procurement & Fixed Asset Group Museum Bank Mandiri.

Di Bandung, ada Museum Geologi yang sangat tersohor. Museum yang beroperasi sejak 16 Mei 1928 ini dikunjungi lebih dari 300.000 orang per tahun. Sampai Juli 2010, sudah 290.000 orang yang datang ke museum ini.

Keunikan koleksi, mulai dari gajah purba hingga replika Tyranosaurus serta 60.000 koleksi lainnya, seperti fosil, batuan, dan berbagai mineral bumi lainnya yang dikumpulkan sejak tahun 1850, menjadi salah satu daya tariknya. Penataan koleksi yang sangat rapi serta dikelola tenaga-tenaga profesional juga jadi daya tarik lain.

Soal dana bagi museum ini tidak menjadi masalah karena kucuran dana dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang merupakan induk Museum Geologi, sangat mencukupi. Pada 2010, sebagai contoh, museum mendapat dana sekitar Rp 17 miliar. “Sekitar 45 persen dari anggaran digunakan untuk membangun wahana baru sehingga lebih menarik pengunjung,” kata Kepala Museum Geologi Yunus Kusumabrata.

Kreativitas dalam mencari dan memanfaatkan dana serta kreativitas dalam menata koleksi memang jadi kunci museum-museum yang sukses menjaring pengunjung. “Harus ada tema-tema baru yang ditampilkan sehingga pengunjung selalu memperoleh sesuatu yang baru saat mengunjungi museum,” tutur Daud Aris Tanudirjo.

Kreativitas inilah yang harus ditumbuhkan di kalangan pengelola museum. (CHE/WSI/NAL/THY)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: