Oleh: museumku | 27 Mei 2011

Zurich, Trem dan Museum

KOMPAS – Jumat, 27 Mei 2011 – Zurich, Swiss, kota seluas sekitar 92 kilometer persegi dengan populasi sekitar 385.000 jiwa itu jauh dari kesan semrawut. Selain karena penduduk kotanya relatif sedikit, sarana transportasi umumnya sangat memadai. Kereta api dan trem menjadi urat nadi transportasi umum yang menghubungkan warga Zurich dari satu tempat ke tempat lain.

Pilihan pada kereta sebagai sarana utama transportasi umum telah membuat orang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Zurich pun tak kesulitan bepergian ke banyak tempat. Tiket trem dengan mudah didapatkan lewat mesin tiket di halte-halte trem.

Papan petunjuk nomor-nomor trem dan tempat kita bisa berganti trem sesuai lokasi yang hendak dituju tersedia dalam peta yang juga mudah dipahami. Selain menggunakan angka, penampilan berbagai warna pada garis-garis rute trem mempercepat calon penumpang bisa memilih trem sesuai tujuannya.

Bila di dalam kota Zurich orang bisa memilih trem, maka untuk bepergian ke sejumlah kota lain di Swiss, orang bisa mengandalkan kereta api. Stasiun kereta api utama kota ini, Hauptbahnhof (Zurich HB), terletak di pusat kota. Selain lewat mesin tiket, calon penumpang kereta juga bisa mendapatkan tiket di loket penjualan tiket yang tersedia di beberapa tempat di areal stasiun.

Dibuka tahun 1847, Hauptbahnhof, seperti tertulis dalam Zurich in your pocket, mengalami pemugaran pada 1990 meski tanpa perubahan berarti pada tampak bagian depannya. Zurich HB juga terhubung dengan jalur trem dalam kota. Lewat stasiun ini, orang bisa bepergian dengan kereta ke sejumlah tempat di negara tetangga Swiss, seperti Jerman, Italia, Austria, dan Perancis.

Selain beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 01.00 dini hari, penumpang kereta juga bisa berbelanja di sekitar 200 toko di dalam areal stasiun ini. Di samping restoran, di sini juga terdapat banyak toko makanan dan minuman. Ada pula swalayan, toko pakaian, tas dan koper, cinderamata, sampai toko khusus yang menjual rokok, cerutu dan tembakau. Jika umumnya toko di Zurich tutup pada hari Minggu, Anda bisa melangkahkan kaki ke Zurich HB yang tetap buka.


Terjangkau dan nyaman

Dari stasiun Zurich HB, orang bisa berjalan kaki dengan nyaman menuju salah satu dari 50 lebih museum di Zurich, kota yang dibelah Sungai Limmat itu. Schweizerisches Landesmuseum, misalnya, menampilkan sejarah bangsa Swiss mulai tahun 1400-an, saat orang yang diyakini sebagai penyihir dibakar hidup-hidup, hingga masa modern: era perbankan.

Salah satu yang menarik dari museum ini, meski memakai bangunan lama, penataan interiornya modern. Dinding dalam museum, misalnya, memakai warna oranye terang di beberapa bagiannya. Beberapa dinding lainnya dicat warna putih dan difungsikan sebagai layar bagi pengunjung yang ingin menikmati kisah peperangan sampai revolusi industri, lewat film yang tersedia hanya dengan menyentuhkan tangan di monitor.

Segenap sektor yang mendukung Swiss tampil di museum ini. Tak hanya mereka yang berperan di bidang politik seperti Ulrich Zwingli (1484-1531) dalam reformasi Swiss, tetapi juga gambar para pengusaha terpajang di museum ini. Misalnya, Henri Nestle (1814-1890) dan Julius Maggi (1846-1912), sampai kiprah petenis masa kini, Roger Federer.

Produk-produk negeri ini pun tampil di salah satu ruang Landesmuseum. Di sini pengunjung bisa melihat, antara lain, bagaimana transformasi produk cokelat Ovomaltine (sejak tahun 1865) sampai sekarang, Nestle (1867), dengan berbagai perkembangan jenis produknya dan tentang cokelat Tobler (1899).

Dipajang pula berbagai produk tekstil, industri kimia, sampai desain produk interior dari tahun 1895. Sejarah media pun dipamerkan, seperti salah satu koran berpengaruh di Eropa, Neue Zurcher Zeitung, yang diterbitkan di Zurich oleh Salomon Gessner tahun 1780. Semua itu dilengkapi dengan informasi tertulis dalam empat bahasa, yakni Jerman, Perancis, Italia, dan Inggris.

Ruang lainnya menampilkan mulai dari dokumen tentang peraturan dan sistem perbankan Swiss sampai perkembangan bentuk dan bahan lemari besi sebagai kelengkapannya. Sayang, dengan alasan keamanan, pengunjung tak diizinkan memotret ruang-ruang di museum ini.

Sebuah ruangan lagi “bercerita” tentang perjalanan agama Katolik hingga Kristen Protestan, dilengkapi kaca-kaca patri dan suara seakan pengunjung tengah berada di gereja. Bahkan posisi perempuan dalam sejarah Swiss pun ditampilkan di salah satu ruang Landesmuseum, lengkap dengan manekin berpakaian sesuai masanya.

Masih dalam jangkauan yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Zurich HB adalah kawasan Bahnhofstrasse. Di antara deretan toko yang menawarkan berbagai produk bermerek seperti Hermes, Mango, dan Louis Vitton, di kawasan ini antara lain terdapat museum jam, The Clock and Watch Museum Beyer.

Selain sebagai kota bisnis, Zurich juga menjadi salah satu kota tujuan wisata di Swiss. Setiap tahun sekitar satu juta turis menikmati kota ini. Informasi tentang kota ini pun dengan mudah kita dapatkan, antara lain, lewat buklet Zurich Guide di hotel, stasiun, dan kafe, gratis pula! (Chris Pudjiastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: