Oleh: museumku | 30 Desember 2010

Museum Bukan Sekadar Sumber Informasi

Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber pada 1933. (BOEDIJONO/THE EPOCH TIMES)

Epochtimes.co.id, Minggu, 17 Januari 2010 – Mungkin banyak orang tidak tahu apa itu museum. Dan mungkin juga bila mendengar kata museum yang terbayang adalah tempat dengan tumpukan barang kuno yang berkarat atau penuh jamur yang berbau apek. Tak ubahnya perpustakaan. Orang mungkin juga membayangkan perpustakaan itu sebuah ruang yang berisi tumpukan buku yang kebanyakan jilidannya sudah tercerai berai. Bahkan halaman kertasnya lengket saling tukar tinta dikedua halaman kertasnya.

Lalu apa sebenarnya pengertian museum itu yang sebenarnya. Definisi museum menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 1995 tentang pemeliharaan dan pemanfaatan benda cagar budaya di museum, museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan bukti-bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Dahulu pada zaman Yunani Kuno pada saat mitos Dewa dan Dewi ada di puncaknya dipercaya ada 9 dewi pemelihara kesenian dan ilmu penetahuan, puteri dari Dewa Zeus dan Dewi Mnemosyne, antara lain: Calliope Dewi puisi kepahlawanan, Clio Dewi Sejarah, Erato Dewi puisi cinta, Euterpe Dewi musik dan lirik, Melpomene Dewi Tragedi, Polymhymnia Dewi puisi sakral, Terpsichore Dewi tari, Thalia Dewi komedi, Urania Dewi astronomi. Kuil pemujaan untuk para Dewi disebut Museon, yang berasal dari kata Yunani Klasik yang direduplikasi menjadi kata Museum.

Selain definisi tersebut Museum Indonesia mempunyai tujuan sebagai pusat pendidikan, merupakan salah satu pusat untuk belajar, pusat penelitian, sebagai penyedia jaringan informasi dan pusat rekreasi sebagai salah satu penghayatan nilai-nilai keindahan, konsep tersebut menunjukkan cita-cita Museum Indonesia sebagai pusat kegiatan belajar.

Di Kabupaten Sidoarjo, kira-kira 1 km menjelang masuk kota Sidoarjo dari arah Surabaya (lewat Gedangan, bukan jalan tol), di sebelah kanan/barat jembatan layang, disitulah berdiri megah bertingkat dua gedung museum negeri di atas lahan seluan 3,25 hektar, yang secara resmi dibuka oleh kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur Bapak Drs. H. Rasio Msi pada 14 Mei 2004. Tepatnya di Jl. Raya Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.


Sejarah berdirinya museum

Awalnya lembaga ini hanya memamerkan koleksinya, dalam suatu ruang kecil di Readhuis Ketabang. Atas kemurahan hati seorang janda bernama Han Tjong King, museum dipindahkan ke Jalan Tegal Sari yang memiliki bangunan lebih luas. Seiring perjalanan waktu, masyarakat pemerhati museum berinisiatif untuk memindahkan ke lokasi yang lebih memadai, bertempat di Jalan Pemuda No.3 Surabaya. Diresmikan pada 25 Juni 1937.

Sepeninggal Von Faber, museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum didukung Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum dibuka untuk umum pada 23 Mei 1972 dengan nama Museum Jawa Timur. 13 Februari 1974 museum berubah status menjadi museum negeri, yang diresmikan pada 1 November 1974 dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Timur. Dengan bertambahnya koleksi, museum membutuhkan area yang lebih luas, hingga akhirnya pada 12 Agustus 1977, secara resmi museum menempati lokasi baru, di Jalan Taman Mayangkara No.6 Surabaya.

Godfried Hariowald Von Faber. (BOEDIJONO/THE EPOCH TIMES)


Latar belakang pemberian nama Museum Mpu Tantular

Mpu Tantular adalah seorang Pujangga Jawa Timur yang hidup dalam pertengahan abad XIV dari kerajaaan Majapahit. Yang terkenal dengan karyanya Kitab Arjuna Wiwaha dan Sutasoma. Di dalam Kitab Sutasoma inilah tercantum kata-kata Bhineka Tunggal Ika, yang sampai sekarang dipakai sebagai semboyan bangsa Indonesia.

Nama Mpu Tantular sebagaimana halnya nama-nama Pujangga Kuno masa Jawa Timur pada umumnya, mengandung suatu pengertian yang tersembunyi mendukung suatu cita-cita pandangan hidup maha tinggi sesuai dengan tujuan agama/kepercayaan yang dianut pada zamannya. Dalam hal ini Tantular berarti tak tertulari, tak tergoyahkan, tak menyimpang, tak berubah, tetap khusuk, tetap tekun pada ajaran agama untuk mencapai kehidupan abadi.


Apa yang bisa diperoleh di Museum Mpu Tantular?

Sampai 2005 koleksi museum ini berjumlah sekitar 15.000 buah yang digolongkan menjadi 10 jenis koleksi yaitu koleksi Geologi, Biologi, Etnografi, Arkeologi, Histori, Numismatik dan Heraldik, Filologi, Keramik, Seni Rupa dan Teknologi.

Museum ini juga melengkapi diri dengan perpustakaan, pameran tetap, Galeri Von Faber, yang dapat digunakan untuk kegiatan pameran temporer, seminar dan lain-lain. Tak ketinggalan adalah jasa pemanduan.

Museum dibuka untuk umum 6 hari dalam seminggu, tutup pada Senin. Sebaiknya pembaca mengujungi sendiri untuk melihat evolusi peradaban manusia dari masa ke masa di museum ini. (Boedijono/The Epoch Times)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori