Oleh: museumku | 10 Maret 2011

Museum di Era Pascamodern

Noerhadi Magetsari


Pengantar

Istilah pascamodern mencakup pengertian yang sangat luas. Pengertian itu dapat mengacu pada sebuah aliran, sebuah fenomena, filsafat, gaya seni, atau sebuah perspektif. Sebagai akibatnya maka bidang ilmu yang mengkaitkan dirinya dengan konsep pascamodern mengembangkannya secara berbeda satu dari lainnya, seperti misalnya arsitektur, susastra, teori sosial, misalnya.

Dalam konteks pengertian aliran, awalan pasca mengacu pada penyempurnaan aliran yang mendahuluinya dan tidak menggantikannya. Dengan demikian maka aliran pascamodern tidak menggantikan aliran yang mendahuluinya yaitu aliran modern, melainkan melengkapinya. Atas dasar itu maka pengkajian terhadapnya dalam kaitan dengan museum akan dilakukan dalam perspektif historis. Mengingat bahwa masalah ini belum dikaji di Indonesia, maka apa yang selanjutnya akan dibahas adalah apa yang telah dilakukan di luar Indonesia, khususnya keadaan di negara-negara Barat.


Museum Tradisional

Pada mulanya museum didirikan dengan tujuan untuk keperluan museum itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena museum dikembangkan dari koleksi yang dimiliki oleh para bangsawan atau kelompok ilmuwan. Koleksi yang pada awalnya hanya dikumpulkan atas dasar keunikan, keklasikannya atau keanehannya dikumpulkan dengan tujuan untuk menaikkan citra pemiliknya dan dengan sendirinya hanya terbuka bagi kalangan tertentu dari lingkungan pemilik, namun setelah menjadi museum koleksi ini menjadi terbuka untuk kalangan yang lebih luas.

Sebagai akibatnya maka museum ini didirikan dengan maksud untuk melestarikan koleksi yang ada, dan dengan sendirinya juga untuk menyenangkan pemilik koleksi. Guna dapat memenuhi tujuan ini maka museum lalu mendayagunakan para ilmuwan yang berkenaan dengan koleksi yang ada. Demikianlah koleksi yang pada awalnya dipilih atas dasar keanehannya dan oleh karena itu dikumpulkan dari ‘tanah jajahan’ menjadi koleksi ethnografi sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada seorang kurator yang merupakan ahli antropologi. Demikian pula halnya dengan koleksi benda-benda antik, dijadikan koleksi arkeologi dan pengelolaannya pun diserahkan kepada para ahli arkeologi pula. Hal yang sama terjadi pula dengan jenis-jenis koleksi yang lain umtuk kemudian dijadikan koleksi bidang ilmu tertentu dengan pengelolaan oleh ahli bidang ilmu bersangkutan sebagai kurator.

Dalam keadaan yang demikian ini maka tidaklah mengherankan bahwa walaupun koleksi itu tidak lagi menrupakan koleksi milik dan untuk kepentingan pribadi dan telah menjadi koleksi sebuah museum yang telah disajikan kepada lingkungan yang lebih luas, namun hakekatnya tetaplah sama. Koleksi tetap merupakan obyek pameran yang bertujuan untuk dikagumi. Perbedaan yang terjadi hanya terletak pada tata pamernya. Apabila sebagai koleksi pribadi obyek dipamerkan sesuai dengan selera pemiliknya, maka obyek koleksi museum dipamerkan menurut bidang ilmu para kuratornya. Koleksi arkeologi misalnya, dipamerkan menurut urutan kronologinya, sedangkan koleksi ethnografi ditata menurut kebudayaan atau daerah asalnya, dan demikian seterusnya.

Ditinjau dari sudut permuseuman sendiri, keadaan yang demikian ini menjadikan museum sebuah semacam encyclopaedi yang menyajikan berbagai pengetahuan dari mana masyarakat dapat memperolehnya. Adapun pengetahuan yang disampaikan adalah pengetahuan tentang koleksi itu sendiri, yang diungkapkan melalui pengetahuan kuratornya, sesuai dengan bidang ilmu mereka. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa para kurator dan dengan sendirinya juga museum memiliki kewenangan dan legitimasi penuh dalam memilih dan kemudian menyajikan, serta memberi uraian tentang koleksi yang dipamerkan. Di dalam mereka menyampaikan pengetahuan tentang koleksi, masalah apakah penyajian itu akan dimengerti atau apakah akan membuat pengunjung tertarik tidaklah diperhatikan.

Sebagai akibatnya maka museum yang menjadi sebuah organisasi besar yang memiliki status dan otoritas mutlak terhadap pengunjung, sehingga memerlukan pengelolaan koleksi secara profesional dan tidak dapat lagi ditangani sebagaimana sebelum menjadi museum.

Tuntutan akan keprofesionalan pengelolaan museum ini pada gilirannya melahirkan sebuah bidang ilmu baru yaitu museologi. Museologi sendiri berkembang menjadi sebuah ilmu yang bersifat interdisiplin dan secara garis besar mencakup disiplin bidang ilmu murni dan disiplin bidang ilmu terapan. Disiplin bidang ilmu murni terdiri dari antropopologi, arkeologi, sejarah, numismatik dan seterusnya yang berkenaan dengan manajemen koleksi. Adapun bidang ilmu terapan seperti misalnya ilmu kimia dan ilmu fisika berkenaan dengan perwatan, perawatan dan restorasi koleksi.

Secara diagram apa yang telah diuraikan di atas akan terlihat sebagaimana yang tertera di bawah ini. Terlihat bahwa bagian edukasi yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pameran berada langsung di bawah para kurator, sehingga kedudukannya hanyalah pelaksana. Menjadi jelas kiranya bahwa kewenangan yang mereka miliki hanyalah melaksanakan apa yang telah digariskan kurator.


Ditinjau dari sudut pengunjung, dalam menghadapi tata pamer yang demikian ini, maka nereka tidak memiliki pilihan dan harus menelan saja apa yang disajikan. Sebagai akibatnya, maka hanya pengunjung yang menguasai atau mengerti bidang-bidang ilmu tertentu saja seperti arekeologi, ethnorafi atau bidang ilmu lainnya yang dapat menikmati koleksi yang dipamerkan para kurator. Sebaliknya masyarakat pada umumnya yang tidak menguasai ilmu yang diperlukan justru akan merasa dirinya dibodohkan akibat tidak mampu menangkap makna apa yang dipamerkan atau merasakan relevansinya dengan kehidupan mereka sehari-hari.


Museum Modern

Perubahan keadaan dunia di mana bekas negara-negara jajahan telah memerdekakan diri menjadi negara-negara baru yang berdaulat, telah melahirkan bentuk museum baru yang dikenal sebagai museum modern. Museum modern lahir sebagai akibat dari kebutuhan masyarakat sebagai warga negara baru akan identitas, dalam hal ini identitas budaya. Museum tradisional yang telah memberikan pengetahuan kepada publik melalui koleksinya rupa-rupanya dianggap mampu untuk memenuhi kebutuhan ini dengan cara mengubah misinya. Fungsi baru ini dapat terlaksana oleh karena, sebagaimana telah disinggung di atas, museum telah memiliki otoritas dan legitimasi untuk itu.

Berkat museologi para profesional dari museum modern mampu mengolah koleksinya menjadi warisan budaya yang selanjutnya disampaikan kepada masyarakat sebagai identitas budaya mereka. Demikianlah maka museum modern beralih fungsi menjadi ikon budaya dengan misi khusus membekali masyarakat dengan identitas, mensejahterakan mereka melalui stabilitas budaya. Museum mampu mengemban misi ini berkat koleksinya yang otentik dan permanen, sehingga dapat diinterpretasikan menjadi narasi budaya maupun sejarah bangsa, yang kemudian disajikan sebagai nilai simbolik. Dengan demikian makan berbeda dengan museum tradisional yang hanya berfungsi membuka koleksinya kepada publik, maka museum modern memberi makna baru dalam membangun hubungan dengan publiknya.

Dari uraian di atas menjadi jelas kiranya bahwa museum tidak lagi menyajikan koleksi sebagai obyek yang dipamerkan melainkan narasi, bukan lagi pengetahuan atau informasi tentang koleksi sebagaimana yang terjadi pada museum tradisional, melainkan identitas.

Guna dapat mengemban misi yang demikian ini, maka museum modern harus menambah kegiatan komunikasinya dengan menyelenggarakan program-progam pendidikan, di samping penyajian pameran. Di antara penyelenggaraan program-program pendidikan ini, dikembangkan pula sebuah program pendidikan khusus dengan sasaran komunitas tertentu, yaitu terutama golongan minoritas atau komunitas yang terpinggirkan.

Sementara itu fenomena globalisasi yang melanda dunia, telah mengakibatkan terjadinya ledakan jumlah museum yang didirikan di negara-negara industri maju. Berbeda dari museum yang pendiriannya terkait dengan kelahiran negara baru, pendirian museum di negara maju lebih bersifat lokal. Dengan sendirinya museum yang demikian ini pun menjadi ikon budaya lokal yang didirikan untuk kepentingan komunitasnya. Museum komunitas yang demikian inilah yang banyak sekali didirikan. Sebagai contoh dapat disampaikan bahwa di Jerman, misalnya, dalam kurun waktu 1991-1996 saja jumlah museum baru yang didirikan bertambah dengan 30%.


Dari bagan di atas, terlihat bahwa museum dikelola berdasarkan fungsi pokoknya, yaitu koleksi, penelitian dan komunikasi, dan tidak lagi didasarkan atas pembagian bidang ilmu sebagaimana museum tradisional melakukannya. Walaupun peran koleksi masih tetap dominan, namun koleksi tidaklah disajikan tanpa interpretasi, tanpa narasi. Dalam menjalankan fungsi ini maka peran penelitian menjadi menonjol, karena hanya melalui penelitianlah dengan menerapkan metode interpretasi narasi tentang makna yang ada di belakang koleksi itu dapat diungkapkan. Dengan sendirinya hasil penelitian inilah yang dikomunikasikan kepada pengunjung, baik itu melalui penyajian pameran maupun melalui penyelenggaraan program-program pendidikan. Dari proses ini menjadi jelas kiranya bahwa museum dalam mengemban misinya masih menerapkan modus museum tradisional bahw mseumlah yang memiliki otoritas untuk mencerdaskan masyarakat, meningkatkan selera atau memperhalus kepekaan mereka.

Dalam mengemban misi museum yang demikian ini, berkembang pula sebuah pengkhususan dalam Museologi, yaitu Museologi Baru. Pengkhususan ini lahir sebagai akibat dari kebutuhan masyarakat, dalam menghadapi lingkungan global, akan identitas dan akar budaya mereka. Identitas maupun akar budaya itu merasa perlu untuk dimiliki oleh masyarakat agar mereka dapat terhindar dari kehilangan jati diri serta tidak hanyut terseret arus globalisasi. Kebutuhan ini pun secara tidak langsung ikut menjadikan masyarakat terdorong untuk peduli terhadap kebudayaan yang diperlukan pelestariannya sebagai warisan budaya mereka. Hal ini disebabkan oleh karena sesungguhnya warisan budaya inilah yang menjadi identitas budaya mereka. Baik segi pelestarian warisan budaya, maupun penyampaiannya sebagai identitas budaya, keduanya merupakan fungsi dasar sebuah museum.

Ditinjau dari sudut pengelolaan museum maka sebuah museum modern yang dikenal sebagai komunitas atau eco museum menjadi terbentuk. Walaupun dalam cara bekerja museum ini masih mengikuti cara bekerja museum tradisional, dalam arti masih mengutamakan koleksi, namun yang membedakannya adalah cara pengambilan keputusan. Apabila dalam museum tradisional, penentuan tentang apa yang harus dikoleksi serta apa dan bagaimana memamerkannya tidak lagi diserahkan kepada tenaga profesional, maka dalam dalam museum komunitas kewenangan itu diambil alih oleh pengguna yang sekaligus juga pemilik, yaitu komunitas itu sendiri. Tata kelola museum yang demikian ini ditujukan agar identitas budaya komunitas dapat ditentukan, dikelola untuk kemudian disampaikan oleh komunitas dan kepada komunitas dalam kedudukan mereka sebagai pemilik yang sekaligus juga pengunjung. Kesemuanya itu dilaksanakan dalam sebuah museum yang terintegrasi. Perbedaan lain yang dapat dikenali adalah tentang pengertian koleksi. Dalam museum komunitas, koleksi dapat saja berupa barang pinjaman yang keberadaannya di museum bersifat sementara. Setelah koleksi pinjaman ini selesai dipergunakan museum untuk menyelenggatakan kegiatannya, seperti misalnya pameran, maka barang-barang itu dikembalikan kepada pemiliknya, dalam hal ini masyarakat. Dengan lain perkataan, maka museum komunitas dapat saja didirikan walaupun tidak memiliki koleksi sendiri.

Pada waktu museum hendak menyelenggarakan pameran, maka komunitaslah yang menentukan topik apa atau peristiwa apa yang akan dijadikan tema. Baik topik maupun peristiwa keduanya merupakan masalah atau kepentingan komunitas itu sendiri, yang dirasakan perlu untuk dikomunikasikan kepada sesama warganya. Adapun obyek yang diperlukan untuk itu dipinjamkan komunitas kepada museum, dan setelah pameran selesai diselenggarakan, dengan sendirinya dikembalikan lagi kepada pemiliknya masing-masing. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebuah museum komunitas adalah museum yang didirikan, dikelola dan difungsikan bagi kepentingan komunitas dalam membangun dan kemudian menampilkan identitas budaya mereka.

Perlu kiranya ditambahkan bahwa kekhususan New Museology memberi peluang kepada komunitas yang terpinggirkan, komunitas di luar komunitas budaya yang telah disebutkan di atas. Museum bagi komunitas yang terpinggirkan itu merupakan wahana bagi mereka untuk menggalakkan pengembangan diri warganya, meningkatkan harga diri, serta sarana pengaktualisasian eksistensi.


Sumber: Davis, 2005:371

Diagram di atas menunjukkan struktur organisasi sebuah museum komunitas yang sama sekali berbeda dengan struktur organisasi museum modern. Dalam museum komunitas tidak tidak dikenali adanya perbedaan antara pengelola dengan pengunjung museum, koleksi milik museum atau obyek milik pengunjung, oleh karena kesemuanya berada dalam manajemen museum. Museum didirikan guna kepentingan komunitas, dan dengan demikian maka komunitas tidak hanya berposisi sebagai pengunjung, melainkan sekaligus juga berwewenang untuk bertindak sebagai “kurator komunitas” menggantikan kedudukan maupun peran kurator profesional dalam museum modern.


Museum Pascamodern

Era modern berakhir pada menjelang akhir abad xx dan memasuki abad xxi, dan yang untuk selanjutnya diikuti oleh era pasca modern. Perubahan era ini pun sangat berdampak, sebagaimana yang terjadi pada era-era sebelumnya, terhadap dunia permuseuman, baik yang menyangkut teori maupun praktek. Sebagaimana yang telah diutarakan di atas, sejak museum pada era modernisme mengubah orientasinya dari koleksi ke orientasi pengunjung, maka peran dan fungsi museum di masyarakat mengalami perubahan-perubahan yang berlangsung dengan sangat cepat. Perubahan-perubahan itu terjadi karena masyarakat, kepada siapa kegiatan museum ditujukan, juga sedang mengalami perubahan yang berlangsung dengan cepat pula. Namun demikian, apa yang menjadi penyebab utama dari perubahan itu pada hakekatnya adalah perkembangan teknologi komuniksi dan teknologi informasi. Pada awalnya perkembangan ini sangat berpengaruh pada konsep ruang dan waktu, dalam arti bahwa batas ruang dan waktu yang selama ini dikenal menjadi pupus. Berkat kemajuan yang dicapai teknologi ini, yang sementara itu terus melakukan pengembangan untuk menjadikannya di satu sisi makin canggih namun di sisi lain juga makin murah. Kesemuanya itu membentuk dunia seolah-olah menjadi sebuah kesatuan ruang maupun waktu. Orang dapat berhubungan atau bertransaksi dengan siapa saja, di mana saja, dan dari mana saja. Demikian juga dapat mengikuti langsung peristiwa apa pun, walaupun peristiwa-peristiwa itu terjadi di balik dunia sekali pun.

Keadaan dunia yang demikian ini mendorong masyarakat untuk berperi laku konsumtif. Perusahaan-perusahaan besar multinasional membuka usahanya di berbagai negara. Usaha retail mereka mampu menyediakan barang-barang model mutakhir buatan mana pun kepada masyarakat di tempat-tempat pembelanjaan yang sangat megah dan nyaman. Sementara itu barang-barang ini ditawarkan pula melalui berbagai media iklan secara sangat canggih sehingga terlihat menggiurkan. Sementara itu aneka bentuk penawaran itu disertai pula dengan berbagai kemudahan cara pembayaran dengan didukung perbankan melalui fasilitas kreditnya.

Kemajuan teknologi ini tidak hanya menyerbu masyarakat di tempat pembelanjaan, namun juga telah menerobos masuk ke dalam rumah-rumah pribadi mereka. Kemajuan teknologi telah mampu menghasilkan sarana hiburan berskala rumah tangga berkelas profesional. Oleh karena itu, apabila dahulu untuk dapat menyimak tata suara yang sesuai dengan aslinya orang harus pergi ke teater, maka kini ia dapat menikmatinya di rumah saja. Tambahan pula alat-alat hiburan berskala rumah tangga lain yang tidak kalah canggih pun telah tersedia. Mudah difahami bahwa berbagai kemudahan itu berdampak pada perilaku masyarakat dalam mengisi waktu luangnya.

Adapun yang menjadi pertanyaan adalah apa hubungan semua itu dengan museum? Sebagaimana telah dikemukakan di atas, jumlah penambahan museum telah menunjukkan angka yang signifikan. Sebaliknya, penelitian yang telah dilakukan justru mengungkapkan hasil yang memprihatinkan, oleh karena jumlah penambahan museum tidak berbanding lurus dengan angka penambahan jumlah pengunjung museum. Bahkan pada era pasca modern ini jumlah pengunjung museum justru mengalami angka penurunan yang signifikan pula. Secara sepintas dapat ditengarai bahwa hal ini disebabkan oleh karena orang tidak lagi merasa perlu untuk keluar rumah guna mengisi waktu luangnya, berkat ketersediaan berbagai sarana hiburan berskala rumah tangga namun berkualitas profesional. Apalagi hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang harus disediakan untuk mengisi waktu luang pun menjadi makin mahal.

Sementara itu museum sendiri telah tersaingi oleh berbagai pusat pembelanjaan yang mampu menawarkan sarana yang jauh lebih menarik dan nyaman sebagai tempat meluangkan waktu. Persaingan ini diperparah dengan kenyataan bahwa di satu sisi jumlah museum bertambah banyak, namun di sisi lain jumlah pengunjung justru berkurang. Keadaan yang demikian ini memaksa terjadinya persaingan antar museum, sehingga mengakibatkan banyak di antara museum kecil yang tidak mampu mempertahankan eksistensinya.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana tindakan yang seyogyanya diambil sebuah museum di era pasca modern ini dalam menyikapi kondisi sosial maupun sikap kultural masyarakat dewasa ini. Kondisi sosial yang membuat masyarakat memerlukan tempat, baik secara pribadi maupun bersama keluarga, bagi mereka untuk mengisi waktu luang. Kondisi sosial yang demikian membuat masyarakat secara kultural bersikap konsumtif. Guna dapat menentukan sikap, maka perlu terlebih dahulu dilakukan penelitian terhadap pola perilaku masyarakat dan mengetahui apa sesungguhya yang mereka perlukan. Setelah mengetahui semua ini, maka barulah dapat direncanakan bagaimana seyogyanya museum di era pasca modern ini dikembangkan. Tekanan sosio-kultural yang demikianlah yang menyebabkan museum di era pasca modern ini mengalihkan kegiatan penelitiannya ke arah peri laku masyarakat dan bukan ke arah koleksi sebagaimana yang biasa dilakukan oleh museum pada era modern.


Profil pengunjung museum

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung museum pada umumnya adalah kaum terpelajar, yaitu mereka yang berpendidikan sehingga dapat menangkap makna dari pameran yang disajikan. Jumlah kaum terpelajar ini meningkat dengan pesat setelah perang dunia kedua, bahkan dewasa ini pemegang gelar doktor pun sudah tidak terhitung jumlahnya. Selanjutnya dari komunitas cendekiawan ini terbentuk sebuah kelompok sosial menengah baru dalam masyarakat perkotaan. Pada gilirannya, kelompok sosial ini, dalam mengisi waktu luang mereka, menciptakan kebutuhan baru pula, yaitu kebutuhan akan jasa hiburan yang berbasis budaya. Dalam hal ini museum dapat menawarkan salah satu jasa yang dapat memenuhi kebutuhan itu. Namun patut disayangkan bahwa dalam kenyataannya apa yang terjadi tidaklah sebagaimana yang diharapkan. Ternyata bahwa jumlah kelas menengah yang diharapkan akan memenuhi kebutuhan budayanya melalui kunjungan ke museum ternyata tidaklah bertambah. Diperkirakan bahwa fenomena ini disebabkan oleh ketersediaan dan dengan sendirinya juga penggunaan teknologi sarana hiburan seperti compactdisk dan komputer berskala rumah tangga, sebagaimana yang telah disinggung di atas.


Pola perilaku konsumen

Setelah mengetahui siapa kelompok sosial yang diharapkan sebagai pengunjung museum di masa mendatang, maka perlu pula dikaji bagaimana pola perilaku mereka, khususnya yang berkenaan dengan penggunaan waktu luang mereka. Dalam dunia pascamodern, manusia merasa lebih dikejar-kejar waktu dari pada pada masa modern. Sebagai dampak dari tekanan waktu kerja yang mereka rasakan, maka mereka merasa memiliki waktu luang yang lebih singkat pula. Tekanan waktu ini membentuk pola perilaku yang berbeda-beda. Pertama tentang bagaimana mereka menyikapi kekurangan waktu. Guna mengatasi tekanan ini mereka berupaya untuk mempercepat cara kerja guna menambah waktu luang. Cara lain yang ditempuh adalah dengan manajemen waktu yang mereka miliki melalui perencanaan dan pengorganisasian. Kedua cara ini ditempuh demi memperoleh waktu luang yang lebih lama.

Di samping masalah waktu, dipermasalahkan pula tempat untuk mengisinya. Dalam masalah tempat, mereka cenderung untuk memilih tempat yang dapat menyajikan dua kegiatan sekaligus, seperti misalnya klub di mana mereka sekaligus dapat menikmati hidangan musik sambil bersantai bersama rekan atau keluarga mereka. Pilihan lain adalah menikmati pertunjukan budaya yang gedungnya dekat dengan rumah makan. Kelompok lain adalah mereka yang tidak ingin direpotkan dengan banyak pilihan. Kelompok yang demikian ini cenderung untuk menerima saja tempat atau suasana yang dipilihkan fihak lain, apakah itu rekan, keluarga atau penjual jasa hiburan.


Profil museum pascamodern

Setelah mengetahui sasaran yang dapat diharapkan untuk menjadi pengunjung, maka perlu pula dikaji tentang bagaimana profil museum itu sendiri. Dalam banyak hal museum dewasa ini menghadapi banyak kontradiksi. Di satu sisi museum tetap menjalankan fungsi dan perannya terhadap masyarakat secara tradisional, seperti misalnya sebagai simbol komunitas, penyampaian misinya secara non-verbal melalui kebudayaan materi, serta pelestarian koleksinya. Di sisi lain museum ditantang oleh ketersediaan teknologi informasi, dituntut untuk memproduksi dan kemudian menyelenggarakan program-program yang teruji kegunaannya serta relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta melayani masyarakat sebagai pelanggan yang makin heterogin dan dinamis.

Dalam menghadapi lingkungan yang penuh tantangan dan yang senantiasa berubah ini museum dengan sendirinya harus mengubah pula cara mereka dalam menghadapi masyarakatnya. Dari fungsi pendidikan untuk mengembangkan masyarakat serta meningkatkan selera dan kepekaannya secara pembelajaran, menjadi lebih demokratis dengan prinsip kesetaraan. Berbeda dari museum modern di mana pengunjung cukup menjadi penonton, museum pasca modern justru merangsang mereka untuknjuga ikut bermain, serta ikut aktif memberikan interpretasi terhadap apa yang dilihatnya. Perubahan sikap ini mutlak diperlukan oleh karena beberapa faktor: pengunjung yang berpendidikan lebih tinggi; masyarakat yang telah terbiasa dilayani sebagai pelanggan; pengunjung yang mengharapkan bahwa dirinya akan memperoleh pengalaman tertentu dalam kunjungannya ke museum; dan manajemen yang secara finansial akuntabel. Faktor-faktor inilah yang perlu diperhatikan oleh museum dalam era pascamodern ini. Menyikapi perubahan sikap ini dikemukakan beberapa tanggapan. Elaine Gurian berpendapat bahwa museum harus melengkapi dirinya dengan menambah peran sebagai tempat pertemuan, di mana komunitas dapat bertemu, berdebat serta bertukar pikiran. Sementara itu Weil lebih melihat pada peran museum sebagai pusat dari komunitas pendukungnya yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan mereka.

Secara diagram, maka operasional museum di era pasca modern akan tampak sebagai berikut. Sebagai akibat dari kegiatannya yang semakin kompleks, maka terpaksa dibedakan antara kegiatan museum murni, yang dalam diagram di sebut the experience of the museum, dan yang terdiri dari manajemen koleksi, penyelenggaraan pameran dan program, serta bangunan museum. Di samping itu terdapat kegiatan yang bersifat penunjang, yang pada gilirannya dibedakan pula ke dalam dua tempat, yaitu di dalam dan di luar museum. Kegiatan di dalam museum mencakup masalah pengunjung dan pengaturan alur yang seyogyanya mereka lalui pada waktu mengunjungi museum (proxemic). Kegiatan di luar museum mecakup penyediaan sarana cafe, toko suvenir dan yang tidak kalah pentingnya adalah toilet. Kegiatan di luar museum ini bila perlu dapat dikontrakkan kepada fihak luar (outsourcing). Apa yang ingin ditunjukkan diagram ini adalah bahwa aspek-aspek yang termuat di dalamnya menentukan citra museum di mata pengunjung. Sebagaimana diketahui pencitraan merupakan unsur penting dalam dunia yang penuh dengan persaingan.


Sumber: Greenhill, 1994:40

Guna dapat melaksanakan hal-hal di atas, maka diperlukan perubahan mendasar dalam sruktur organisasinya. Dengan sendirinya keanekaan kegiatan yang harus dilaksanakan maupun kekompleksan masalah yang dihadapi, tercermin pula dalam struktur organisasinya.


Diagram di atas menunjukkan adanya perbedaan besar dengan struktur organisasi yang sudah dikenal. Apabila struktur organisasi museum modern disusun secara fungsional, maka museum pasca modern ditata secara manajerial, sehingga menitik beratkan masalah manajemen dan marketing. Namun demikian, walaupun menunjukkan perbedaan, baik museum modern maupun pascamodern keduanya sama-sama menekankan keprofesionalan. karena struktur di atas.

Pencantuman marketing sebagai salah satu aspek unsur terpenting dalam struktur di samping manajemen merupakan sesuatu yang baru dalam tata kelola permuseuman. Sesungguhnya pencantumannya dalam struktur tidaklah mengherankan mengingat bahwa dalam dunia yang penuh dengan persaingan yang ketat museum perlu melakukan positioning agar dapat menentukan strategi yang tepat dalam menghadapi para pesaingnya. Atas dasar itu pula tidak mengherankan bahwa kegiatan research yang dilakukan museum pasca modern lebih mengutamakan research terhadap pengunjung yang dengan sendirinya diperlakukan sebagai pasar (market). Namun perlu kiranya diingatkan, bahwa walaupun museum pascamodern dikelola dengan berorientasi bisnis, namun sebagaimana dikemukakan di atas, kegiatan museum murni tetap diutamakan sebagaimana yang telah dilakukan museum tradisional maupun modern. Apa yang berbeda hanyalah dalam hubungannya dengan masyarakat.


Penutup

Sebagai penutup dapat disampaikan beberapa tindakan yang dapat dilakukan museum dalam menghadapi saingan sebagai tempat meluangkan waktu, menyikapi tingkat penpendidikan pengunjung yang makin tinggi, serta memperlakukan pengunjung sebagai pelanggan:

• Berpikir kreatif

Mengingat bahwa biaya yang diperlukan untuk mengisi waktu luang diperkirakan akan menjadi makin mahal, maka museum perlu untuk menawarkan program atau pameran yang lebih bernilai daripada apa yang dapat ditawarkan oleh tempat hiburan atau tempat rekreasi lain yang untuk menikmatinya pengunjung harus mengeluarkan biaya dalam jumlah tertentu.

Dalam hal ini, museum dapat pula memanfaatkan teknologi informasi dalam menyelenggarakan program-program pendidikan maupun dalam menyajikan pamerannya. Pemanfaatan teknologi ini di samping akan menjadi lebih menarik akan tetapi juga dapat memberi kesempatan kepada pengunjung untuk berinteraksi dengan program atau pameran yang dilihatnya. Hal ini disebabkan oleh karena pendayagunaan teknologi informasi tidak hanya dapat merangsang pengunjung secara audio-visual, melainkan juga secara fisik dan proxemik, sehingga seolah-seolah mengundang mereka untuk berhadapan langsung dan ikut serta dalam narasi yang ditampilkan. Melalui cara ini maka museum dapat melaksanakan misinya di bidang pendidikan dalam meningkatkan kognisi pengunjung secara empiris.

• Menjadikan museum sebagai tempat keluarga

Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial, demikian pula halnya dengan perilaku pengunjung pada waktu menikmati museum. Pengunjung perlu diberi kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan petugas museum, sesama pengunjung atau yang tidak kalah penting adalah bersama keluarga. Dengan demikian maka museum harus mampu menjadikan museum sebagai tempat yang lebih berharga dari pada tempat lain. Museum dapat dijadikan tempat oleh orang tua dalam menambah kognisi anak atau cucu mereka sekalipun hal itu dikerjakannya dalam waktu luang. Berkenaan dengan hal ini museum dapat saja menyewakan salah satu fasilitas yang dimilkinya.

• Menciptakan produk

Dalam dunia yang serba cepat, pengunjung cenderung untuk melakukan bebarapa kegiatan sekaligus dalam waktu yang tidak terlalu lama. Menghadapi fenomena yang demikian, maka museum perlu menciptakan produk berupa program-program yang memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dengan sendirinya museum perlu menyediakan tempat demi terselenggaranya program yang direncanakannya. Untuk itulah museum perlu menyediakan cafe atau toko suvenir, sehingga kata dasar Bahasa Latin musé yang berarti menyenangkan dapat terpenuhi. Dengan demikian maka museum pun sekaligus dapat mengubah citranya menjadi tempat bersosialisasi yang menyenangkan dan bermanfaat, dan bukan gudang tempat penyimpanan benda-benda kuno belaka.

• Marketing

Sebagai akibat museum harus beradaptasi terhadap lingkungan yang penuh persaingan serta perilaku masyarakat yang konsumtif, maka diperlukan pula manajemen yang memadai dalam pengelolaannya. Atas dasar itu mala apabila perubahan citra ataupun penciptaan produk dalam bentuk berbagai program lengkap dengan sarana maupun prasarananya tidak disosialisaikan atau dipasarkan, maka kesemuanya itu akan menjadi sia-sia atau bahkan mubasir.

Namun demikian dalam upaya menjualnya perlu pula diperhatikan bahwa masyarakat memiliki pola konsumsi yang beragam. Atas dasar inilah maka museum perlu memperbanyak melakukan penelitian terhadap masyarakat sebagai sasaran marketingnya.

Depok, 3 Maret 2011


Kepustakaan

Burton, Christine and Carol Scott
“Museums. Challenges for the 21st century”, dalam Museum Management and Marketing. London dan New York: Routledge, 2007.

Davis, Peter
“Places, ‘cultural touchstones’ and the eco museum”, dalam Gerard Corsane (ed.), Heritage, Museums and Galleries. London dan New York: Routledge, 2005.

Hooper-Greenhill, Eileen
“Communication in Theory and Practice”, dalam Eileen Hooper-Greenhill (ed.),The Educational Role of the Museum. London: Routledge, 1994.

van Mensch, Peter
“Towards museums for a new century”, dalam Museums, space and power. ICOFOM Study Series 22 (Athens 1993).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: