Oleh: museumku | 27 Agustus 2014

Perpustakaan, Arsip, dan Museum

Perhatian terhadap museum di Nusantara, dalam bentuknya yang paling sederhana, kemungkinan dipelopori oleh Rumphius (1628-1702). Ia seorang naturalis asal Jerman yang menetap di Ambon. Selain berbagai jenis flora, Rumphius mengumpulkan berbagai jenis benda kuno. Koleksi-koleksi tersebut ia lestarikan di dalam rumahnya. Sayang museum milik Rumphius tidak tersisa karena kena musibah kebakaran.

Di Batavia upaya pengumpulan koleksi juga dilakukan oleh sejumlah ilmuwan Barat. Mereka mendirikan Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen pada 24 April 1778. Lembaga ini merupakan pelopor di bidang penelitian, observasi, pemeliharaan, pengamanan, pendokumentasian, inventarisasi, penggambaran, ekskavasi, dan pemugaran terhadap bangunan dan artefak kuno. Kini lembaga tersebut menjadi Museum Nasional.

Jika dihitung sejak pendirian lembaga tersebut, usia Museum Nasional sudah memasuki 236 tahun. Usia yang tentunya cukup tua untuk sebuah lembaga ilmiah. Sayang perhatian pemerintah terhadap museum masih kecil. Padahal museum ini terletak di kawasan yang strategis, Medan Merdeka Barat. Lokasinya pun tidak jauh dari Monumen Nasional atau Monas, sebuah ikon kota Jakarta.

Presiden Soekarno pernah mencanangkan kawasan Medan Merdeka menjadi poros utama Jakarta dengan titik sentral Monas. Di utara ada Istana Presiden, di barat ada Museum Nasional, di timur ada Galeri Nasional, dan di selatan ada Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Nasional kemudian pindah ke kawasan Salemba, namun ketiga ikon lainnya itu masih ada.

Di antara ketiga institusi—Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, dan Galeri Nasional—rupanya yang kurang perhatian adalah Museum Nasional dan Galeri Nasional. Sebelumnya Perpustakaan Nasional bernama Perpustakaan Museum Pusat, merupakan bagian dari Museum Pusat (nama lama Museum Nasional).

Perpustakaan Nasional berdiri pada 17 Mei 1980. Statusnya kemudian dinaikkan. Saat ini Kepala Perpustakaan Nasional bereselon I. Demikian pula dengan lembaga Arsip Nasional. Jelas perhatian pemerintah sangat tidak berimbang. Bandingkan dengan Kepala Museum Nasional dan Kepala Galeri Nasional yang bereselon 2.

Lembaga perpustakaan, arsip, dan museum sebenarnya sama-sama menyimpan informasi tentang masa lalu. Hanya bedanya, museum menyimpan informasi tidak tertulis berupa artefak, sementara arsip dan perpustakaan menyimpan informasi tertulis dan terekam. Konsep LAM (Library, Archieve, dan Museum) sudah lama dipakai di banyak negara.

Sungguh disayangkan, status Museum Nasional masih rendah. Padahal di banyak negara ketiganya merupakan lembaga yang sejajar. Kedudukan museum pun lebih tinggi karena lebih mudah diakses oleh publik. Museum Nasional telah dikunjungi oleh banyak orang, termasuk para wisatawan mancanegara dan pembesar negara sahabat.

Lebih dari itu, Museum Nasional tidak hanya bergerak di sektor budaya, melainkan juga di sektor ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Bahkan merupakan wahana yang memiliki peran strategis terhadap penguatan jati diri masyarakat.

Dibandingkan Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional, Museum Nasional justru lebih berperan penting dalam diplomasi budaya. Sebagai pelestari sejarah budaya, Museum Nasional menjadi jendela budaya bangsa dan duta budaya bangsa ke beberapa negara. Berbagai pameran internasional telah diselenggarakan di Museum Nasional. Sejumlah koleksi Museum Nasional juga telah dibawa ke berbagai negara untuk pameran sekaligus promosi pariwisata. Karena itu sudah seharusnya status Museum Nasional ditingkatkan. Dengan demikian Museum Nasional bisa menjadi lokomotif bagi museum-museum di seluruh Indonesia. Institusi lain yang harus diperhatikan tentu saja adalah Galeri Nasional.

Saat ini Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional berstatus sebagai lembaga pemerintah non-departemen. Mudah-mudahan dalam kabinet baru mendatang ada kesejajaran antara institusi-institusi yang berstatus nasional. (Djulianto Susantio)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: