Oleh: museumku | 13 September 2016

Diskusi Tokoh: Douwes Dekker di Museum Kebangkitan Nasional

dekker-01Suasana diskusi tokoh Douwes Dekker

Selama ini kita mengenal dua tokoh sejarah yang memakai nama marga atau klan Douwes Dekker. Pertama, Eduard Douwes Dekker. Ia lahir di Belanda 2 Maret 1820 dan meninggal di Jerman 19 Februari 1887. Profesinya antara lain penulis dengan nama pena Multatuli. Karya fenomenalnya berjudul Max Havelaar.

Kedua, Ernest François Eugène Douwes Dekker. Ia lahir di Pasuruan, 8 Oktober 1879 dan meninggal di Bandung, 28 Agustus 1950. Ia dikenal dengan nama Danudirdja Setiabudi, salah satu dari Tiga Serangkai pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Surjaningrat.

Tokoh kedua inilah yang didiskusikan di Museum Kebangkitan Nasional, Selasa, 13 September 2016. Bertindak sebagai pembicara sejarawan Yuda B. Tangkilisan dan Peter Kasenda, dengan moderator Kurniawati. Acara dibuka oleh Kepala Museum Kebangkitan Nasional R. Tjahjopurnomo, dihadiri sekitar 50 orang guru, mahasiswa, komunitas, dan pemerhati sejarah.


Indische Partij

Ernest Douwes Dekker merupakan pendiri partai politik pertama di Indonesia. Ia bercita-cita memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua ras yang ada di Hindia. Indische Partij dianggap tonggak pergerakan dengan strategi pengerahan massa dalam jumlah besar.

dekker-02

Menurut Peter, Indische Partij jauh lebih radikal daripada Boedi Oetomo. Hal ini karena Douwes Dekker tak cuma menyerukan perombakan di bidang pelayanan administrasi, tapi juga mengusung reformasi politik pertanian dan perpajakan sebagai salah satu program partai. Karena itu tindak-tanduk Douwes Dekker diawasi karena menolak diskriminasi. Bahkan ia dicap agitator berbahaya.


Membela bumiputera

Douwes Dekker memulai karier sebagai pegawai pada perkebunan kopi di kaki Gunung Semeru. Ketika itu ia merasa terusik akan eksploitasi kolonial terhadap para pekerja. Maka ia pun cenderung mengesampingkan status Eropanya dan lebih membela kelompok pekerja bumiputera.

Ketika berpindah menjadi pegawai laboratorium dan ahli kimia di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo, ia pun tidak dapat menahan diri ketika melihat adanya kecurangan pada pembagian air irigasi antara perkebunan tebu dengan sawah milik penduduk. Maka ia memilih mundur demi mempertahankan prinsip dan harga dirinya. Demikian cerita lain Peter.

Sebelumnya Yuda mengatakan, pemikiran dan perjuangan Douwes Dekker terinspirasi oleh buku Max Havelaar. Menurutnya, Bung Karno pernah menganggap Douwes Dekker adalah Bapak Nasionalisme Indonesia. Jasa lain Douwes Dekker adalah penggagas konsep kebangsaan Indie (Hindia untuk Hindia). (Djulianto Susantio)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: