Oleh: museumku | 9 Februari 2012

Sejarah Permuseuman di Indonesia (Bagian 4)

Judul: Sejarah Permuseuman di Indonesia

Tim Penulis: Agus Aris Munandar, Andini Perdana, Andriyati Rahayu, Annissa Maulina Gultom, Djulianto Susantio, Luthfi Asiarto, Nunus Supardi, R. Tjahjopurnomo, dan Yunus Arbi

Penata Letak: Sukasno

Penerbit: Direktorat Permuseuman

Cetakan: I

Tahun: 2011

Akhir Desember 2011, Direktorat Permuseuman menerbitkan buku Sejarah Permuseuman di Indonesia. Diharapkan buku ini bermanfaat untuk kalangan museum, mahasiswa, dan masyarakat awam. Selain dalam bentuk cetak, seluruh materi buku akan dimuat dalam blog ini. Selamat membaca.

Bab IV
Museum Indonesia Ke Depan

4.1 Perubahan Paradigma Museum

Semula, museum dipandang sebagai kuil dan hanya diminati oleh kalangan terbatas, sehingga populer dengan sebutan cabinet of curiousities. Sejak abad ke-19 hingga sekarang, museum merupakan ritual space yang semula ruang untuk kaum bangsawan ditransformasi menjadi museum seni untuk umum, suatu transformasi untuk kebutuhan ideologis yang muncul dari negara borjuis dengan memberikan semacam bentuk baru dari ritual masyarakat madani. Carol Duncan, pakar museum berpendapat, museum diartikan sebagai excellent fields untuk mempelajari hubungan interseksi antara kekuataan (power) dan sejarah pembentukan budaya. Bella Dick, pakar museum lainnya mempertegas bahwa museum dan pameran memainkan peran penting dalam memproduksi jati diri budaya dan representasi budaya. Untuk itu, bagaimana sekarang menjadikan tempat tersebut dapat dikunjungi dengan atraksi yang menarik.

Di era 1980-an, telah terjadi pergeseran paradigma museum. Keberadaan museum tidak lagi dipandang sebagai rumah barang-barang kuno yang ekslusif, tetapi sebagai sebuah forum dimana dialog, interaksi, dan kontroversi terjadi di dalamnya. Dalam hal penyajian pameran, pendekatan menggunakan model transaction-driven , yaitu menggabungkan visi yang dibangun kurator museum dengan harapan masyarakat. Model pendekatan ini juga dikenal dengan dialogue-driven, yaitu melibatkan masyarakat secara bersama untuk mereka kembali fakta dan makna sejarah masa lalu.

Pergeseran paradigma ini seiring dengan perubahan definisi resmi museum sebagai sebuah institusi yang sebenarnya telah mengalami perubahan sejak 1946. Definisi resmi ini ditetapkan oleh International Council of Museums (ICOM) menjadi patokan museum seluruh dunia dalam membangun struktur kelembagaannya. Definisi museum yang tadinya hanya mendeskripsikan lembaga tersebut sebagai pengoleksi dan perawat benda budaya untuk pendidikan -yang dibedakan dengan perpustakaan-, berubah drastis pada 1974. Revisi definisi museum menurut ICOM pada 1974 menjadi tonggak perubahan yang mengarahkan lembaga museum menjadi unik dalam struktur keuangan dan perancangan aktivitasnya. Selain itu, revisi ini juga menambahkan beberapa lembaga yang termasuk dalam kategori lembaga permuseuman. Uraiannya adalah sebagai berikut:

A museum is a non-profit making, permanent institution in the service of the society and its development, and open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates, and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, material evidence of man and his environment.

In addition to museums designated as such, ICOM recognizes that the following comply with the above definition:

Conservation institutes and exhibition galleries permanently maintained by libraries and archive centres.

Natural, archaeological, and ethnographic monuments and sites and historical monuments and sites of a museum nature, for their acquisition, conservation and communication activities.

Institutions displaying live specimens, such as botanical and zoological gardens, aquaria, vivaria, etc.

Nature reserves.

Science centers and planetariums.
(ICOM Statutes, Section II – Definitions, Article 3-4, adopted by the 11st General Assembly (Copenhagen, Denmark, 14 June 1974)

Definisi ini menekankan bahwa museum adalah lembaga nirlaba yang tidak hanya berfungsi mengoleksi dan merawat, tetapi juga meneliti dan mengkomunikasikan informasi yang dikandung koleksinya. Museum bukan lagi menjadi “gudang budaya”, tetapi merupakan pusat pengetahuan budaya yang menjadi pemancar ilmu pengetahuan yang diperoleh dari koleksi dan menjadikannya informasi bagi masyarakat banyak. Informasi adalah elemen dasar dari pengetahuan. Keberadaan dan aktualisasinya adalah hasil dari proses komunikasi antara individu dengan dunia di sekitarnya (Maroevic, 1995: 23). Dalam konteks museum, informasi yang dihasilkan adalah proses komunikasi antara pengetahuan yang didapat dari koleksi, diolah oleh pengelola museum dan kemudian disajikan di ruang publik dalam kemasan yang beragam. Pengolahan ini menjadi suatu proses yang selalu harus mengalami tinjauan ulang, karena untuk menjaga kesegaran dan relevansi informasi yang dihasilkan. Hal tersebut karena dengan berjalannya waktu, publik juga terus berubah.


4.1.1 Museum sebagai Forum

Dalam suatu diskusi permuseuman di University of Colorado – Amerika Serikat pada 1971, seorang museolog dari Kanada, Duncan F Cameron, mengajukan pendapat bahwa museum harus melakukan suatu pergeseran paradigma. Keberadaan museum tidak lagi dipandang sebagai rumah barang-barang kuno yang eksklusif atau kuil (temple), akan tetapi dikembangkan sebagai sebuah “forum”. Dia mengumpamakannya pada masa Romawi Kuno dimana dialog, interaksi, eksperimen, debat, dan kontroversi dapat terjadi di museum. Kuil dalam pandangan modern adalah sebagai tempat penyimpanan benda-benda budaya yang bernilai kekal dan bersifat universal, melindungi benda-benda bermakna spiritual sebagaimana fungsi sebuah kuil. Forum adalah tempat terjadinya pertempuran dan kuil sebagai tempat kemenangan itu tersimpan. Museum sebagai forum publik adalah tempat terjadinya diskusi masalah-masalah sosial dan budaya yang diwujudkan dalam bentuk visual atau forum lainnya. Atas dasar inilah maka museum perlu mengembangkan fungsinya sebagai kuil dan sebagai forum. Dua puluh tahun kemudian, Cameron kembali mengajukan kritik analisis tentang museum dan profesi museum. Ia menganggap bahwa profesi museum dapat menjadi bagian dari barisan depan untuk perubahan sosial secara positif. Salah satu masalah terbesar adalah, ia menemukan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam setiap individu yang bekerja di museum serta di antara institusi-institusi itu sendiri. Profesi di museum harus dikaji kembali dan siap menghadapi tantangan akademis dan intelektual.


4.1.2 Museum sebagai “Contact Zones”

James Clifford, seorang sosiolog dari Universitas Terbuka di Inggris mengungkapkan bahwa museum harus mempertimbangkan perannya sebagai “contact zones” , dengan tujuan untuk memfasilitasi dialog lintas budaya di antara berbagai lapisan masyarakat dalam lingkup museum. Pernyataan ini untuk membandingkan dengan peran museum yang secara tradisional cenderung menyajikan informasi berdasarkan kualitas benda itu sendiri. Oleh sebab itu, menurut Clifford, para profesional museum harus mengakui bahwa benda dan interpretasi yang disajikan dalam pameran adalah milik suatu kebudayaan yang “lain” yang bukan milik mereka atau museum. Museum harus merasa bahwa koleksi dan display sebagai “unfinished historical process of travel”. Argumentasi ini diajukan karena sering kali penyajian pameran museum itu hanya didekati oleh hasil kerja kurator dan otoritas kaum elitis terbatas, sementara “suara “ pemilik budaya diabaikan. Seharusnya museum menekankan agar koleksi itu dapat “speak for themselves”.

Pernyataan Clifford ini juga memunculkan isu repatriasi dan representasi di dunia permuseuman. Repatriasi ini berkaitan dengan pengembalian koleksi yang dihimpun di museum ke tempat asalnya, berkembang di Amerika khususnya koleksi “benda keramat” dan tengkorak kepala milik suku Indian yang pada abad ke-19 diambil untuk kepentingan penelitian medis. Representasi adalah museum mengadakan reinventarisasi kembali materi dan informasi yang disajikan dalam ruang pameran tetapnya. Paradigma dulu bersifat object oriented dan hanya mengkaji benda melalui persepsi kurator saja, misalnya bangsa Barat menganggap benda seni bangsa non Barat sebagai primitive-art.


4.1.3 Museum sebagai Institusi Nirlaba

Perubahan-perubahan yang terjadi di dunia permuseuman dalam konteks pandangan kepentingan publik ini, mendorong museum untuk melakukan berbagai kegiatan yang intinya adalah menarik perhatian dan meningkatkan jumlah pengunjung. Hal ini menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli permuseuman, karena banyak museum dalam penyelenggaraannya lebih ke arah consumer-oriented. Salah satu isu yang menarik adalah fenomena blockbuster dalam penyelenggaraan pameran di museum. Jenis pameran ini umumnya adalah pameran temporer atau pameran keliling yang ditawarkan ke museum-museum lain dengan biaya tertentu, dibuat penyelenggara pameran baik dari museum maupun kelompok swasta yang bergerak di bidang exhibit organizer. Di Amerika, Kanada, Inggris, dan Australia, jenis pameran ini dianggap kurang ilmiah, non-elistis, dan popularis. Pameran ini lebih mengarah pada segi komersialisme dan museum sendiri tidak melakukan pengembangan programnya, tetapi mengandalkan pada pameran yang ditawarkan oleh pihak luar. Museum pun hanya menyediakan fasilitas ruang pamernya. Para ahli di bidang permuseuman khawatir pameran di museum itu tidak lebih dari global department store of culture.

Dalam mengantisipasi perkembangan yang berorientasi ke arah komersialisme ini, Asosiasi Museum Amerika mengeluarkan pedoman bagi museum dalam mengembangkan dan mengelola dukungan bisnis . Pedoman tersebut menekankan pada segi etika, khususnya upaya bisnis ini tidak untuk mencari keuntungan pribadi, memanfaatkan museum untuk kepentingan yang lain, dan tidak sejalan dengan misi museum.

Mengacu pada definisi museum yang diterbitkan oleh ICOM, akan ditemukan pengertian museum sebagai lembaga yang “non-profit making“ dan seterusnya. Peter van Mensch (1992), ahli permuseuman Belanda mengemukakan bahwa pengertian non-profit making, permanent institution hendaknya dilihat sebagai sebuah istilah yang lebih luas, yaitu sebuah institusi.Hal ini akan mengandung makna bahwa museum tidak boleh berupaya untuk mencari keuntungan. Asosiasi Museum di Australia juga mempertanyakan makna non-profit making, permanent institution, in the service of society and its development, and open to the public…. dapat berarti sebagai institusi yang sama dengan rumah sakit, kantor polisi dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan definisi museum yang dirumuskan oleh Asosiasi Museum Amerika, maka akan tampak perbedaannya. Di Amerika, museum merupakan organisasi yang nirlaba. Organisasi sejenis ini mendapat banyak kemudahan, karena didukung oleh perundangan di negara tersebut, terutama yang berkaitan dengan keringanan dalam pembayaran pajak serta banyaknya perusahaan profit yang mendukung museum secara finansial. Selain keuntungan dari pajak memang museum adalah tempat yang cukup bergengsi sebagai tempat promosi.

Perubahan paradigma ini selayaknya dapat dijadikan landasan pijak dalam pengembangan museum di Indonesia. Perubahan cara pandang ini tentunya diperoleh melalui berbagai kajian dan pengalaman yang dilakukan oleh praktisi dan akademisi di bidang permuseuman.

Persoalan museum di Indonesia masih bergulat pada stigma bahwa museum masih dianggap sebagai tempat barang kuno, berkesan angker dan kurang terawat. Sementara dari sisi masyarakat, museum masih belum menjadi destinasi bagi publik secara umum, baik untuk belajar maupun berekreasi.

Studi dan kajian pengunjung memang belum banyak dilakukan di museum. Meskipun sudah ada, tetapi esensi kajian belum menyentuh pada esensi museum dan masyarakat. Penelitian aspirasi masyarakat terhadap museum telah dilakukan oleh peneliti permuseuman, divisi penelitian dan pengembangan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Penelitian-penelitian tersebut telah mencakup museum di daerah, di kota-kota besar, dan di daerah urban (Jakarta). Di tahun 2004 beberapa peneliti dari Universitas Indonesia meneliti aspirasi masyarakat terhadap Museum Nasional; Museum Bali; Museum Kalimantan Barat, dan Museum Sonobudoyo. Penelitian museum regional juga dilakukan di tahun 2005 di sepuluh museum di Jakarta dengan tema museum dan kemitraan. Kemudian di tahun 2007, Litbang Budpar menganalisis apresiasi masyarakat terhadap empat museum daerah, yakni Museum Daerah Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung; Museum Daerah Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur; Museum Daerah Nusa Tenggara Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur; dan Museum Ledelero, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam studi lapangan di empat museum tersebut (2004), apresiasi masyarakat yang baik adalah di Museum Nasional dan di Museum Bali. Hal tersebut karena masterpiece-nya banyak, penataan bagus, dan gedung museumnya representatif. Sedangkan Museum Kalimantan Barat adalah museum yang baru menempati bangunan baru, sementara Museum Sonobudoyo memiliki kesan sumpek. Penelitian juga menghasilkan pemaknaan yang disimpulkan oleh masyarakat terhadap museum-museum tersebut. Penelitian ini memberi hasil pemaknaan masyarakat terhadap keempat museum tersebut. Masyarakat memaknai Museum Nasional sebagai sumber pengetahuan budaya; Museum Bali sebagai museum tingkat provinsi yang mengandung banyak sejarah; Museum Sonobudoyo memiliki potensi untuk berkembang jika saja bisa menjadi lebih dinamis; Museum Kalimantan Barat belum memiliki masterpiece yang bisa dibanggakan secara internasional. Dalam penelitian ini target masyarakat belum secara spesifik dirumuskan.

Studi permuseuman regional di Jakarta pada 2005 menunjukkan bahwa museum sudah banyak dikunjungi, tetapi permasalahan perhatian terhadap koleksinya itu justru banyak tidak diperhatikan. Museum-museum di Jakarta bekerja sama dengan komunitas yang intinya membangun jaringan dan membentuk program-program bersama untuk publik. Penelitian menunjukkan bahwa hasil kerja sama tersebut menggembirakan, namun sebaliknya pihak museum sendiri banyak yang tidak memperhatikan tugas utamanya dalam menjaga kelestarian koleksi. Akan tetapi kemudian program lebih cenderung hanya untuk memanfaatkan museum sebagai space tempat komunitas bertemu dan menjalankan berbagai aktivitas budaya seperti tur atau jelajah budaya. Target penelitian ini berupa masyarakat yang heterogen, berupa bentuk masyarakat baru yang merupakan paduan dari masayarakat lokal dan para pendatang.

Penelitian tahun 2007 lebih menjabarkan bahwa apresiasi masyarakat terhadap museum masih rendah karena banyak faktor. Faktor-faktor tersebut adalah minimnya pengetahuan akan museum serta karena kondisi museum yang terbatas dalam fisik dan pengelolaan. Lebih jauh, penelitian ini memperlihatkan pengetahuan yang lebih dalam permasalahan yang dihadapi oleh museum Indonesia. Permasalahan museum Indonesia melingkupi permasalahan fisik, manajemen, dan juga masih terbatasnya kemampuan museum untuk mengembangkan diri. Target penelitian ini adalah masyarakat lokal yang lebih bersifat homogen, untuk melihat museum sebagai tempat collective memory untuk mengingatkan “ingatan bersama”.

Studi-studi pengunjung tersebut di atas membantu memahami permasalahan museum Indonesia sebagai titik awal untuk menuju perbaikan. Pentingnya studi pengunjung adalah untuk melihat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam melakukan kunjungannya ke museum. Kemudian bagaimana mereka berinteraksi dengan koleksi museum dengan tingkat pengetahuan yang mereka miliki, melalui informasi penunjang yang tersedia (pameran, program pendidikan, dan dalam bentuk lain). Studi tersebut juga menunjukkan apa yang masyarakat lihat dalam kunjungannya secara komprehensif, bagaimana mereka melihat museum sebagai tempat yang memberikan pengaruh, tambahan pengetahuan, kesejarahan, kebudayaan, dan bahkan nilai-nilai keindahan. Proses penambahan pengetahuan dan pengalaman yang terjadi di museum tentunya harus ditunjang oleh informasi yang memperhatikan bagaimana proses komunikasi tersebut terjadi secara efektif.


4.1.4 Pendidikan Museum

Sejak era 1980-an, pendidikan museum baru terbatas pada pelatihan dan workshop, mulai tingkat dasar hingga lanjutan. Direktorat Permuseuman pada waktu itu, dalam pembinaan tenaga teknis museum-museum telah merintis kerja sama dengan Belanda, salah satunya dengan Reinwardt Academy. Institusi yang berdiri tahun 1976 di Leiden, Belanda, merupakan institusi pendidikan yang dapat disebut sebagai “a new style museum training program”. Kurikulum berbasis subject matter (sejarah seni rupa, arkeologi, antropologi, dsb) dirancang untuk mereka yang akan bekerja di museum, terutama bidang konservasi, dokumentasi, perancangan pameran, edukasi, dan manajemen museum. Pada awalnya, belum sepenuhnya diterima sebagai kerangka pemikiran teoretis. Akan tetapi, penyelenggaraan pendidikan ini sudah mendekati acuan pengertian museologi yang dirumuskan oleh George Ellis Burcaw pada konferensi tahunan The International Committee for Museology (1983). Menurut Burcaw, museologi adalah “how museums came to be what they are today, prescribes what museums ought to be in regards to society, and defines the particular organizational and procedural structures”.

Kebutuhan pengetahuan akademik yang semestinya dibarengi dengan pengalaman bekerja di museum, sudah saatnya memang digiatkan di tanah air. Di Prancis, pendidikan ini sudah berkembang sejak lama. Akademi Seni Rupa “Ecole de Louvre” bertempat di Musee de Louvre memberikan materi perkuliahan yang terkait dengan museologi. Gagasan yang pernah dilontarkan oleh alm. Bambang Sumadio, mantan Direktur Museum Nasional dan Direkorat Permuseuman pada 1990-an untuk mendirikan bidang studi spesialis museum yang dikembangkan melalui program kerja sama Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) telah melahirkan tenaga-tenaga handal di bidang permuseuman, khususnya konservasi, manajemen koleksi, desain pameran, serta bimbingan dan edukasi. Gagasan ini didasari pada pemikiran untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan akademis, disamping pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman bekerja di museum.

Satu dekade kemudian, memasuki era Otonomi Daerah, beberapa tenaga yang sudah memiliki pengalaman dan kepakaran di bidang museum ini beralih profesi, tapi sebagian masih bertahan dan bahkan menduduki jabatan kepala. Memenuhi tuntutan kebutuhan untuk regenerasi ke depan, maka gagasan pendidikan museum di tingkat perguruan tinggi baru terwujud di tahun 2006 di tiga universitas, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Gajah Mada. Kebutuhan ini memang sangat didorong oleh tuntutan paradigma museum yang berorientasi pada publik. Maka pendekatan interdisiplin antara museologi dan disiplin lainnya, perlu dikembangkan untuk evaluasi museum melalui kajian pengunjung (visitors studies). Hal ini juga tentunya diharapkan dapat menjadi agen perubahan ke depan. Museum yang bukan produk cabinet of curiosities bergaya pemikiran barat, tetapi mengarah pada konsep post kolonial yang lebih mengkaji dalam pemikiran bangsa kita sendiri. ICOFOM (International Committee for Museology) tahun 2009 lalu telah merumuskan kembali konsep fundamental museologi meliputi arsitektur, koleksi (material/immaterial), komunikasi, edukasi, etika, pameran, warisan budaya, kelembagaan, manajemen, musealisasi, museografi (museum practice/applied museology), pelestarian, profesi, publik dan masyarakat. Idealnya pengajaran permuseuman mencakup tiga garis besar dalam museologi, yaitu Museum Education; Museum Exhibit & Museum Communication. Akan tetapi dalam penyesuaiannya di dunia permuseuman Indonesia, pendidikan permuseuman bisa dimulai dari dua topik besar: manajemen koleksi dan manajemen informasi.


4.2 Tiga Pilar Permuseuman Indonesia

Saat ini museum cenderung kurang diminati masyarakat sebagai pilihan tempat rekreasi karena dianggap statis. Seiring menjamurnya mal di kota-kota besar, banyak orang justru lebih memilih mal karena dipandang dinamis. Taman hiburan seperti Ancol dan Taman Mini juga banyak didatangi pengunjung karena beragamnya pilihan alat permainan.

Jarang sekali orang berkunjung ke museum, padahal tiketnya murah dan banyak informasi terdapat di sana. Adanya kesan kumuh karena tempatnya tidak terawat dengan baik serta suasana yang membosankan, mungkin menyebabkan orang enggan untuk pergi ke museum. Museum biasanya hanya dikunjungi oleh rombongan sekolah yang tengah mengadakan studi wisata. Itu pun tidak serta merta membuat para anak didik menjadi tertarik pada museum.

Museum merupakan sarana dalam pengembangan budaya dan peradaban manusia. Secara luas museum tidak hanya bergerak di sektor budaya, melainkan juga di sektor ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Di samping itu, museum merupakan wahana yang memiliki peran strategis terhadap penguatan jati diri masyarakat. Para ahli kebudayaan meletakkan museum sebagai bagian dari pranata sosial dan sebagai media edukasi untuk memberikan gambaran tentang perkembangan alam dan budaya manusia kepada publik.

Museum sebagai media yang universal untuk pelestarian warisan budaya, wahana pembelajaran masyarakat, dan objek wisata yang edukatif, perlu didorong agar menjadi dinamis serta dapat melayani masyarakat dengan memadai. Negara kita dikenal memiliki keragaman aset budaya dan tradisi yang sangat menarik serta bervariasi. Diharapkan juga program Tahun Kunjung Museum (TKM) dapat mengubah citra dan wajah museum Indonesia menjadi lebih menarik dan lebih prima sehingga dapat turut meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Sejak lama museum dicanangkan menjadi objek yang rekreatif edukatif. Guna meningkatkan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara, pada 2010 pemerintah mencanangkan program TKM. Program TKM yang didukung dengan berbagai kegiatan di museum seluruh Indonesia, bertujuan untuk memperbesar jumlah pengunjung museum, juga meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa. Adanya program TKM yang dibarengi dengan mereposisi museum, diharapkan akan menggairahkan masyarakat untuk berkunjung ke museum, sehingga pengelolaan museum menjadi lebih semarak dan hidup.

TKM merupakan sebuah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang berlangsung 2010-2014. Salah satu kegiatan dalam program GNCM tersebut adalah Revitalisasi Museum yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. TKM dan GNCM berlandaskan pada tiga pilar utama permuseuman di Indonesia, yakni 1) mencerdaskan kehidupan bangsa, 2) membentuk kepribadian (karakter) bangsa, dan 3) menanamkan konsep ketahanan nasional dan wawasan nusantara.

Ketiga pilar tersebut merupakan landasan kegiatan operasional museum yang dibutuhkan di era globalisasi ini. Pada saat masyarakat mulai kehilangan orientasi akar budaya atau jati dirinya, maka museum dapat memberi inspirasi tentang hal-hal penting dari masa lalu yang harus diketahui untuk menuju ke masa depan. Oleh karena itu, untuk menempatkan museum pada posisi sebenarnya yang strategis, diperlukan gerakan bersama untuk penguatan, pemahaman, apresiasi dan kepedulian akan jati diri dan perkembangan budaya bangsa yang harus terbangun pada semua tataran komponen masyarakat bangsa Indonesia, baik dalam skala lokal, regional maupun nasional.

GNCM adalah upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum, guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan kebudayaan. Gerakan ini bertujuan untuk membenahi peran dan posisi museum yang difokuskan pada aspek internal maupun eksternal. Aspek internal tertuju pada revitalisasi fungsi museum dalam rangka penguatan citra melalui pendekatan konsep manajemen yang terkait dengan fisik dan nonfisik. Aspek eksternal lebih kepada konsep kemasan program, yaitu sosialisasi dan kampanye kepada masyarakat.

Sudah saatnya mengubah citra museum dari tempat kumuh dan membosankan menjadi tempat yang menyenangkan. Bahkan sebagai tempat bermain sambil belajar. Banyak pengetahuan dan keterampilan yang dapat diperoleh masyarakat dari museum-museum yang ada di seluruh Indonesia. Berkunjung ke museum sama menyenangkannya seperti berwisata ke objek-objek lain.

Berbagai informasi dan aktivitas di museum tengah dikembangkan dalam rangka membangun kepribadian bangsa. Sebagai contoh, kini banyak museum sudah memiliki beberapa program pelatihan. Masyarakat terutama anak-anak, dapat bermain sambil belajar melalui pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan di museum.

Di Museum Layang-layang, misalnya, masyarakat dapat melihat beraneka ragam bentuk dan jenis layang-layang. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu diselenggarakan praktek pembuatan layang-layang. Demikian juga di Museum Tekstil, Museum Wayang, dan Museum Keramik, diajarkan cara-cara membatik, membuat wayang, dan membentuk wadah tanah liat. Pengalaman berinteraksi langsung tentu memiliki nilai edukasi yang bermanfaat, daripada sekadar melihat koleksi yang dipamerkan.

Museum adalah suatu lembaga yang mempunyai ciri khas, yakni rekreatif. Meskipun begitu, museum menjalankan peran sebagai lembaga yang menyandang fungsi edukatif. Sumber-sumber informasi untuk berbagai ragam pengunjung, dari anak-anak hingga orang dewasa, disediakan oleh museum. Demikian pula berbagai aspek kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan, semuanya ada di sana.

Pencerdasan bangsa melalui program edukatif kultural yang dilakukan oleh museum akan berhasil baik jika melibatkan media. Selama ini media merupakan sumber informasi bagi masyarakat dalam memperoleh tambahan pengetahuan. Karena itu publikasi kreatif harus benar-benar digalang oleh pihak permuseuman dengan media.

Pembangunan kepribadian atau karakter bangsa, selalu terkait dengan kebudayaan dan pendidikan. Karakter bangsa berarti akhlak, budi pekerti, watak, dan kepribadian yang menjadi ciri-ciri bangsa Indonesia. Ciri-ciri itu didasarkan pada nilai, norma, falsafah, dan budaya bangsa Indonesia. Tujuan pembangunan karakter bangsa dan pembinaan bangsa adalah untuk membangun bangsa yang beradab. (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2010). Kebudayaan umumnya mencakup nilai-nilai luhur yang secara tradisional menjadi panutan bagi masyarakat. Menurut Azra (2011) pendidikan mencakup proses transfer dan transmisi ilmu pengetahuan, merupakan proses yang sangat strategis untuk menanamkan nilai dalam rangka pembudayaan masyarakat.

Cara yang strategis untuk pembangunan karakter adalah melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter harus melibatkan banyak pihak, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peranan museum juga sangat penting, terlebih untuk membentuk kepribadian bangsa. Museum harus mengambil inisiatif dan peran untuk revitalisasi berbagai aspek penting dalam kehidupan kebangsaan-kenegaraan tersebut.

Lebih jauh menurut Azra, di tingkat internasional telah berkembang wacana museum sebagai agen perubahan sosial dan peranan museum dalam membangun jati diri nasional. Dengan demikian museum bukan hanya tempat pelestarian, penyimpanan, dan penyajian warisan masa lampau, tetapi sekaligus dapat memainkan peran ke arah peningkatan kehidupan bangsa-negara yang lebih cerdas, dengan kepribadian dan karakter lebih tangguh, sehingga dapat memiliki ketahanan nasional dan pandangan komprehensif tentang wawasan nusantara.

Museum-museum di Indonesia harus mampu meneruskan ’kenangan bersama’ (memory collective) perjalanan dan perjuangan bangsa. Sayangnya tidak banyak museum yang mengulas sejarah bangsa sendiri. Sekadar gambaran, tempat dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan 1945 dihancurkan untuk kepentingan lain. Meskipun sebagai gantinya berdiri Monumen Proklamator tetap saja tidak dapat menggantikan peranan bangunan asli yang pernah terdapat di sana. Seharusnya museum khusus dibangun di tempat itu sehingga proses kesejarahan bangsa Indonesia dapat menjadi cerminan untuk meningkatkan karakter bangsa dan keutuhan wawasan nusantara. Melalui koleksi-koleksi museum akan terlihat bahwa peristiwa-peristiwa tersebut merupakan simbol-simbol penting dalam wawasan nusantara. Simbolisme yang ada di museum sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa-bernegara dalam usaha mewujudkan kehidupan lebih baik pada hari ini dan di masa depan.

Pemerintah sudah dari awal kemerdekaan telah menempatkan museum sebagai salah satu institusi penting dalam pembangunan kebudayaan bangsa. Museum didirikan untuk kepentingan pelestarian warisan budaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan bangsa, dan juga sebagai sarana pendidikan nonformal. Oleh karena itu, pemerintah menganggap bahwa museum menjadi urusan yang perlu ditangani pembinaan, pengarahan, dan pengembangannya dalam rangka pelaksanaan kebijakan politik di bidang kebudayaan.

Dimaksud dengan pelestarian bukan hanya secara fisik, tetapi juga arti benda itu dalam sistem nilai dan norma. Bukan berarti pelestarian mempertahankan sesuatu dari masa lampau tanpa memandang kegunaannya untuk masa kini atau masa yang akan datang. Tujuan pelestarian adalah agar kekayaan budaya yang telah tercipta selama berabad-abad di masa yang lalu, tidak dilupakan begitu saja sehingga kita tidak mengenal lagi akar budaya kita. Lebih-lebih dalam usaha kita untuk menyusun kebudayaan nasional yang sesuai dengan tuntutan zaman. Kalau kita tidak melestarikan warisan budaya kita, maka kita akan kehilangan hubungan dengan masa lampau kita (Sumadio, 1986: 8).

Cita-cita permuseuman dalam mengabdikan dirinya kepada masyarakat, tidak dapat dipisahkan dari cita-cita pembangunan nasional. Dalam pembangunan kebudayaan antara lain disebutkan bahwa pembangunan kebudayaan yang bertujuan mewujudkan wawasan nusantara memungkinkan pengembangan berbagai corak ragam budaya yang menjadi modal dan landasan pengembangan seluruh budaya bangsa. Menurut Sumadio, kebudayaan nasional yang kita kembangkan memerlukan kreativitas masyarakat. Pembangunan kebudayaan adalah suatu usaha untuk mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang maju dan berbudaya, kuat dan terhormat, serta bersatu.

Berkunjung ke museum tergantung dari sifat rajin dan malas seseorang. Sudah saatnya berkunjung ke museum dimulai dan ditumbuhkan sejak dini.


4.3 Museum Ideal Indonesia

4.3.1 Pelestarian dan Penelitian dalam Museum
Museum ideal adalah museum yang tanpa henti memperhatikan dan terus berusaha memahami koleksi dan pengunjungnya. Pemahaman terhadap koleksi dan pengunjungnya menjadi arah dan dasar visi museum untuk berkembang. Bentuk ideal museum sebagai sebuah institusi adalah adanya kesinambungan antara aktivitas pelestarian, penelitian serta komunikasi yang saling menunjang. Pelestarian sebagai fungsi awal museum menjadi jiwa dari aktivitas penelitian dan komunikasi. Sebaliknya, penelitian koleksi dan pengkomunikasian akan pentingnya sebuah koleksi menjadi dasar argumentasi pentingnya pelestarian berkelanjutan.

Pelestarian koleksi bukanlah tanggung jawab museum saja, tapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, dan adalah tugas museum menanamkan pemahaman ini. Museum semestinya menyebarluaskan pemahaman tentang kenapa dan bagaimana menjaga koleksi. Pengunjung dapat dibimbing dengan label atau panel informasi pelestarian ataupun dengan penyampaian yang informatif dari staf museum.

Penelitian secara berkala oleh museum adalah bukti yang mencerminkan aktifnya proses analisis intelektualitas dalam museum. Posisi museum sebagai penjaga dan pelestari koleksi memberikan suatu keuntungan dalam melihat konteks dan asosiasi antarkoleksi. Hasil penelitian yang menyeluruh tersebut akan menjadi modal museum untuk melakukan pameran yang dapat menjawab pertanyaan masyarakat, juga untuk menyediakan referensi yang terpercaya, baik dalam bentuk terbitan ataupun dalam bentuk media informasi lainnya.

Penelitian museum yang ideal tidak berfokus pada koleksinya saja, tapi juga pada masyarakat yang menjadi target program museum. Hal ini penting untuk dilakukan dalam rangka mencapai hasil komunikasi yang tepat guna dan tepat sasaran. Kelompok-kelompok masyarakat ini bisa beragam dan bisa tak terbatas variannya, tergantung dari tujuan komunikasi yang ingin dicapai. Kelompok masyarakat ini juga tidak terbatas pada pengunjung yang sudah biasa mengunjungi museum, tapi juga melingkupi para calon pengunjung serta masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan museum. Data pasar ini yang akan menjadi bahan perbandingan dengan ragam informasi yang didapatkan dari koleksi. Ibaratnya ragam informasi itu adalah ragam produk yang museum miliki, dan museum tinggal memilih “produk” mana yang akan diluncurkan terlebih dahulu. Tentunya dengan konsep dan pengemasan yang sesuai dengan spesifikasi masyarakat yang akan menjadi target pasar. Sekali lagi, memahami target pasar itu mudah sekali, bisa kita mulai dengan bertanya langsung kepada mereka melalui wawancara, survei, diskusi dan observasi perilaku mereka dalam museum.

4.3.2 Museum dan Komunikasi
Kedua aspek tersebut di atas tidak akan lengkap tanpa upaya aktif dari museum untuk berkomunikasi. Museum bukanlah gudang yang hanya berfungsi menjaga inventory koleksi, museum adalah lembaga yang bertanggung jawab dalam mengalihbahasakan informasi yang dikandung oleh koleksi ke dalam bahasa yang dimengerti oleh masyarakat. Pemahaman dan penerapan konsep komunikasi penting bagi museum yang ingin terus berkembang dan berupaya untuk terus tetap relevan dengan kekinian.

Museum yang ideal adalah museum yang komunikatif dalam menyampaikan amanah informasi budaya yang diembannya. Penyajian informasi berdasarkan koleksi yang mereka miliki bukan hanya memberikan karakter pada kelembagaan museum tapi juga menentukan tujuan dari keberadaannya (Genoways & Ireland, 2003: 175). Dalam mencapai museum yang ideal dalam komunikasi diperlukan adanya manajemen informasi.

Manajemen informasi adalah manajemen data yang didapat dari analisis atribut yang menyertai koleksi. Data yang ada tidak seluruhnya bisa ditelan bulat-bulat oleh pengunjung atau bisa menarik calon pengunjung. Jadi tergantung target calon pengunjung, kurator harus menyiasati pengemasan informasi, memilah informasi yang akan disampaikan, serta penyiaran informasi. Penyiasatan berdasarkan target calon pengunjung menjadi penting karena tidak semua kelompok masyarakat bisa menangkap jenis informasi yang disampaikan ataupun siap untuk menerima bobot informasi tertentu. Pemilahan informasi ini bukan dimaksudkan sebagai sensorship, tapi lebih kepada usaha menjamin efektifitasnya transfer knowledge yang akan dilakukan. Sebagai contoh adalah penyampaian tema pameran untuk anak-anak sekolah di Amerika Serikat, kurator dan edukator mengacu pada kurikulum yang dikeluarkan oleh departemen pendidikan dalam pemilahan informasi yang akan disampaikan. Selain itu, isu-isu sensitif juga harus dikemas sedemikian rupa agar masyarakat tidak kaget dan berujung pada penolakan kepada seluruh pesan yang ingin disampaikan.

4.3.3 Media Komunikasi Bagi Museum
Museum memiliki empat media untuk melakukan komunikasi, yaitu melalui koleksi; melalui program kegiatan publik; ikut serta dalam ruang dan kegiatan publik; dan melalui kegiatan kebijakan kehumasan dalam aktivitas sehari-hari.

Melalui koleksi, kurator dan perancang pameran bekerja sama membentuk sebuah pameran yang komunikatif. Melalui koleksi juga, kurator dan edukator dapat bekerja sama membentuk program pengenalan koleksi dalam bentuk aktivitas hands on atau praktik workshop dalam proses pemahaman koleksi, latihan pembuatan abklats pada prasasti misalnya. Objek museum juga sebagai sebuah dokumentasi, seharusnya memainkan peran dalam penyampaian pesan, baik dalam bentuk kumulatif atau bentuk pembawa informasi individual. Objek museum akan menjadi lambang ekspresi pengetahuan yang menjadi sumber dari tema pameran (Maroevic 32-33). Melalui koleksi, museum juga bisa berkomunikasi dengan museum lain yang memiliki koleksi sejenis. Peminjaman koleksi antarmuseum menjadi salah satu upaya komunikasi yang efektif antarinstitusi.

Penyampaian informasi dari pengetahuan yang didapat dari koleksi harus melalui proses interpretasi yang komunikatif. Proses ini dilakukan dengan diskusi berkelanjutan antara museum dengan masyarakat dalam proses interpretasi. Proses interpretasi dalam museum adalah suatu proses yang berkelanjutan dan terus ditinjau ulang relevansinya. Dalam proses ini, museum sebagai sender (pengirim) menyampaikan interpretasi mereka dalam bentuk message (pesan) mengenai suatu subjek atau objek dengan melalui channel berupa pameran dan program lain. Di ujung proses terdapat pengunjung yang menjadi receiver (penerima) pesan. Proses tidak berhenti di sini, karena pengunjung kemudian menyampaikan respons mereka akan pesan yang disampaikan dalam pameran kepada pihak sender, yaitu museum. Respon dari pengunjung ini yang akan menjadi alat untuk meninjau ulang dan menyegarkan interpretasi mereka.

Pameran menjadi bagian utama dalam presentasi informasi di museum yang dilengkapi dengan bentuk-bentuk penyajian tertulis dalam berbagai bentuk media. Penyajian pameran, tentunya berbeda dengan penulisan buku yang dapat menguraikan seluruh subjek dalam detail, tim penyaji harus memiliki dan mengemas informasi yang paling tanggap dengan kebutuhan atau ketertarikan masyarakat. Hal ini penting untuk menarik masyarakat datang ke museum dengan semangat belajar dan rekreasi dan memaksimalkan proses penyaluran informasi.

Informasi yang dipresentasikan dalam cara-cara yang dapat memicu rasa penasaran dan menstimulasi keinginan untuk belajar menghasilkan respon positif dari pengunjung dalam proses pembelajaran. Ketika seorang pengunjung meninggalkan sebuah pameran dengan rasa bahwa ia secara pribadi telah diperkaya, maka target individu dari pameran sudah tercapai (Dean, 7). Museum adalah institusi yang menjadi tempat pencerahan secara akademis. Museum menjadi tempat yang ideal untuk mengekspresikan beragam ide karena sifat institusinya yang tidak kontroversial dan eklektik (mencakup semua kalangan), walaupun ide-ide yang disajikan terkadang kontroversial. Tidak seperti pendidikan formal publik, museum selalu tersedia bagi siapa saja. Siapa saja bisa datang mengakses informasi museum yang dipresentasikan dalam bentuk luaran berupa pameran.

Museum adalah media untuk mengkomunikasikan informasi, ide, perasaan dan nilai antara museum dan pengunjung. Komunikasi dalam pameran terjadi dalam setiap aspek pameran. Dari bagaimana pameran tersebut memiliki aroma, warna, suasana menjadi sama pentingnya dengan apa yang ditampilkan, apa yang divisualkan. Pameran museum yang ideal adalah yang dapat berinteraksi dengan semua indera yang dimiliki (McClean, 2005: 17).

Maksud dan tujuan sebuah pameran tergantung dari pengembang pameran. Pameran dapat dibentuk dari hanya sebuah pameran yang object-oriented di satu titik ekstrem, hingga ke dalam bentuk concept-oriented di titik ekstrem yang lain. Object-oriented adalah pameran yang didominasi pembahasan mengenai objeknya, pameran semacam ini masih hanya membahas fakta fisik dari objek koleksi. Concept-oriented adalah pameran yang didominasi pembahasan mengenai konsep abstrak atau pesan yang melatarbelakangi satu atau kumpulan objek koleksi. Berikut penggambarannya, diadaptasi dari diagram 9 dalam Project Model Exhibitions, oleh Verhaar dan Meeter (Dean, 1996: 4).

Bagan 2 Skala Isi yang Membentuk Pameran

Media komunikasi dalam pameran akan tergantung dari jenis koleksi yang akan ditampilkan dan karakteristik kelompok masyarakat yang dituju. Berbeda dengan pameran tentang teknologi pangan misalnya, pameran tentang karya seni pahat tentunya memerlukan media dan strategi yang berbeda. Pameran tentang teknologi pangan yang notabene mengenai suatu sistem, tentunya memerlukan penjelasan tertulis dan contoh bagaimana mengaktifkan struktur sistem tersebut. Lain halnya dengan pameran karya seni pahat yang tidak memerlukan banyak teks penjelasan sehingga memberikan keleluasan pengunjung untuk berapresiasi sekehendaknya.

Melalui program kegiatan publik, museum berkomunikasi dengan modal data dari koleksi saja tanpa harus melibatkan koleksi secara fisik. Bentuk komunikasi yang bisa diadakan bisa berupa temu wicara, diskusi, ceramah ilmiah atau kerja sama antarinstitusi untuk menyusun suatu penelitian yang nantinya bisa disebarluaskan dalam media cetak atau membentuk pameran yang didasarkan pada hasil penelitian tersebut.

Museum juga bisa berkomunikasi dengan ikut dalam ruang dan kegiatan publik yang bisa dimulai dari lokasi sekitar museum. Keterlibatan museum dalam kegiatan masyarakat sekitar museum akan menjadikan museum sebagai bagian dari masyarakat, dan sebaliknya masyarakat pun akan merasa memiliki museum. Hasil jangka panjang dari aktivitas ini adalah terciptanya “humas-humas” di luar museum yang bisa menginformasikan isi museum. Dengan pendekatan yang humanis dan edukasi yang terselip dalam pendekatan tersebut, masyarakat sekitar museum bisa menjadi duta museum yang informatif dan bangga akan hubungannya dengan museum. Pendekatan ini bisa dimulai dari tukang ojek atau pedagang yang mencari nafkah di sekitar gedung museum; sekolah lokal terdekat dengan museum; institusi pemerintahan terdekat di sekitar museum atau institusi lain yang merupakan “tetangga” di sekitar museum. Contoh keikutsertaan dalam ruang dan kegiatan publik bisa berupa partisipasi dalam perayaan hari-hari besar ataupun ikut bergotong royong dalam pembersihan lingkungan, atau bekerja sama erat dengan sekolah-sekolah terdekat.

Kebijakan kehumasan museum dalam aktivitas sehari-hari menjadi satu langkah penting untuk memelihara hubungan dengan masyarakat. Karena setiap hari masyarakat dari berbagai lapisan dan dari berbagai latar belakang datang ke museum membawa tantangan yang berbeda-beda pula. Dalam usaha ini, seluruh bagian dari museum menjadi satu unit besar yang komunikatif. Mulai dari gerbang, resepsionis, tempat penitipan barang, bagian keamanan, pemandu, sampai petugas kebersihan dan toilet. Museum mengkondisikan diri sebagai tuan rumah yang membuka pintu lebar-lebar dengan keramahan yang tulus. Pada usaha yang terakhir ini, museum sebagai institusi harus mendidik sumber daya manusianya menjadi piawai dalam bidang kehumasan, piawai dalam berkomunikasi dengan masyarakat yang datang, dan dapat terus menjaga agar senyum tidak hilang dari wajah siapapun. Latihan dan workshop kehumasan bisa disediakan oleh pihak lain yang dipercaya oleh museum, atau mengacu pada referensi pelatihan kehumasan yang bisa didapat dengan mudah. Penanaman pemahaman tingkat pelayanan yang diinginkan dalam bentuk lain juga menjadi penunjang dalam membangun lingkungan yang mendukung.

Begitu penting dan kompleks tugas komunikasi yang harus dilakukan oleh museum, maka hendaknya dibentuk suatu bagian yang khusus mengurusi area komunikasi museum. Hal ini karena bukan hanya kurator, registrar atau konservator yang mengurusi masalah komunikasi. Paradigma berkomunikasi dua arah atau multi arah dengan berbagai lapisan masyarakat, tentunya sangat berbeda dengan paradigma komunikasi satu arah dengan artefak. Agak sedikit sulit untuk membentuk bagian ini di museum, karena tidak banyak ahli komunikasi yang mengerti museum. Direktorat Permuseuman dapat menyediakan modul-modul latihan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan staf kehumasan yang kini sudah ada di Museum Indonesia. Museum juga dapat mengadapatasi aktivitas-aktivitas komunikasi yang sudah dilakukan oleh museum-museum lain atau mungkin kegiatan komunikasi publik yang sudah pernah dilakukan oleh institusi lain yang memperlihatkan keberhasilan yang signifikan.

Setelah mengenal pengunjungnya, museum hendaknya terus memelihara relevansi institusi dengan perkembangan global. Dengan perkembangan komunikasi dan teknologi yang terus tanpa henti, museum juga harus terus mengembangkan metode komunikasi yang dipakai. Jika dahulu cukup dengan poster dan flyer, museum harus tidak segan-segan menggunakan jejaring sosial terbaru dan populer untuk tetap berhubungan dengan masyarakat.

4.3.4 Museum dan Kualitas Kunjungan
Idealnya, museum sebagai ruang publik, memperhatikan pentingnya kualitas kunjungan. Tidak seperti museum yang melihat sebuah pameran sebagai produk, pengunjung melihat pameran sebagai sebuah pengalaman. Pengalaman ini dimulai sejak pengunjung mencoba mencapai lokasi museum. Pengalaman yang berkesan secara positif dimulai dari kenyamanan yang disediakan oleh lingkungan di sekitarnya.

Kenyamaan seseorang menjadi titik tolak berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran dan dalam hal kunjungan museum, kenyamanan disediakan oleh lingkungan fisik dan keramahan museum dalam pelayanan. Kenyamanan dalam mengunjungi museum dimulai dari saat pengunjung mencari lokasi museum sampai pengunjung keluar dari kompleks museum. Kenyamanan lingkungan fisik melingkupi aspek seperti: ketersediaan arah lokasi museum yang jelas; parkir yang memadai; keramahan front office; kemudahan akses dalam museum; ruangan yang bersuhu nyaman; pameran komunikatif yang memicu proses pembelajaran; ketersediaan fasilitas yang memadai (toilet, tempat istirahat, kafe, dan sebagainya); serta akses yang mudah untuk keluar dari museum.

Kenyamanan dari segi visitor service atau pelayanan pengunjung juga menjadi satu kunci untuk menaikkelaskan “pengunjung” menjadi “pelanggan”. Ibaratnya sebuah hotel yang memiliki pelayanan pengunjung berkualitas tinggi, museum bisa mengembangkan sebuahbasis penggemar. Penggemar ini adalah yang berhasil membawa pulang kesan positif dari pengalaman kunjung museumnya dan dengan senang hati menyebarluaskan kesan positif dari museum. Di dunia bisnis, kualitas tinggi dalam pelayanan menjadi satu kunci keberhasilan. Ketika kompetisi semakin ketat dan kualitas produk tidak berbeda jauh, dunia komersial terlebih dahulu menawarkan pelayanan lebih sebagai nilai tambah bisnis mereka. Customer service centre pun menjadi satu bagian yang tidak terlepas dari keberhasilan suatu perusahaan komersial. Museum nantinya pun harus memiliki bagian yang mengurusi hal ini, yaitu bagian yang juga akan mengurusi kebijakan kehumasan museum tersebut.

4.3.5 Peran Museum dalam Diplomasi Budaya
Museum menjadi salah satu lembaga yang berperan penting dalam diplomasi budaya baik ke luar ataupun ke dalam. Sebagai pelestari sejarah budaya, museum menjadi jendela budaya bangsa dan menjadi duta budaya bangsa di muka dunia. Kesan pertama bangsa lain terhadap bangsa kita terjadi dalam museum, begitu juga sebaliknya, pengenalan kita terhadap bangsa lain adalah melalui museumnya. Museum sama saja seperti biografi tiga dimensi tentang suatu bangsa. Diplomasi budaya ke dalam yang dilakukan oleh museum lebih dalam bentuk komunikasi dan pendidikan budaya kepada generasi selanjutnya.

Diplomasi budaya keluar negeri oleh museum sudah mulai dilakukan oleh museum Indonesia sejak Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) di tahun 1989. Pameran tersebut memamerkan seni klasik Indonesia, seni tradisional, dan seni keraton. Pameran seni klasik Indonesia di National Gallery of Art, Washington DC; Metropolitan Museum of Art, New York; Houston Museum of Art, Houston; Asian Art Museum, San Fransisco. Seni tradisional Indonesia dipamerkan di Museum of Natural History, Washington DC; Museum of Natural Science, Houston dan M.H. de Young Memorial Museum, San Fransisco. Seni Kraton Indonesia dipamerkan di Arthur M. Sackler Gallery, bagian dari Smithsonian Institution, Washington DC; Asia Society Gallery, New York; dan History Museum of Los Angeles County, Los Angeles. Pameran-pameran ini melanjutkan perjalanan ke Belanda. Kegiatan pameran internasional kemudian dilanjutkan oleh Museum Nasional Indonesia dengan pameran yang paling mutakhir adalah Color of Uniqueness (2011) yang merupakan kerja sama dengan pemerintah Cina, pameran dilaksanakan di Jakarta dan di Nanning. Sebelumnya pada 2010, diselenggarakan pameran koleksi Sumatera di Jakarta, Leiden (Belanda), dan Singapura. Di tahun-tahun sebelumnya juga banyak pameran internasional yang diadakan secara kerja sama pelaksanaan pameran ataupun peminjaman koleksi.

Diplomasi budaya ke dalam adalah diplomasi yang memusatkan pada pendidikan budaya bangsa bagi generasi muda dan selanjutnya. Museum dapat memberikan gambaran secara kasat mata yang mendukung pemahaman tersebut. Koleksi museum dapat saling memperkenalkan antarkelompok budaya yang ada di ranah tanah air. Dengan saling mengenal dan menumbuhkan rasa persatuan dalam keragaman, tentunya generasi muda tidak akan lepas dari jati diri bangsa mereka.

Selain budaya, museum Indonesia juga menjadi salah satu media untuk menanamkan nasionalisme sejak dini. Museum yang baik akan menyebarkan falsafah yang dianut bangsa yang memilikinya. museum di negara liberal tentu mengedepankan liberalisme, sama dengan museum di Cina yang tentu berfaham sosialisme. Museum Indonesia seharusnya memancarkan Pancasila.

(Lihat Bagian 5)


Responses

  1. Top dah kalo bisa dilaksanakan.

  2. min di BAB IV ini adanya di halaman berapa ya ,, trims


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: