Oleh: museumku | 26 Agustus 2010

Museum Butuh Peran Serta Warga

* Masyarakat Bisa Usulkan Kegiatan Positif untuk Pengembangan

Kompas Jawa Barat, Selasa, 24 Agustus 2010 – Museum membutuhkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan potensi dan fungsi utamanya. Sikap eksklusif dan merasa benar sendiri hanya akan membuat museum tidak diminati masyarakat.

“Pengelola museum harus mengetahui dan bisa memfasilitasi keinginan masyarakat. Museum tidak hanya memamerkan benda koleksi, tapi juga berfungsi sebagai tempat penelitian, ruang publik, dan pendidikan masyarakat,” ujar Ketua Forum Peduli Museum Setiawan Sabana, Senin (23/8). Forum Peduli Museum adalah wahana di Museum Geologi untuk menampung usulan dan keterlibatan masyarakat terkait pengembangan museum.

Setiawan menjelaskan, keberadaan museum di Kota Bandung cenderung menjadi tempat asing bagi masyarakat. Museum sebagai tempat penyimpanan benda alam dan budaya bersejarah menjadi gudang tak bermakna dan tersingkir sebagai salah satu identitas kota. Masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan terkait hal ini. Pengelola museum juga harus bertanggung jawab karena upaya promosi dan pengelolaan yang baik juga kerap ditinggalkan.

“Seharusnya pengelola museum di Kota Bandung bisa memanfaatkan peran beragam pihak yang peduli pada pembangunan museum. Di antaranya perguruan tinggi yang memiliki program studi khusus mengkaji masalah museum,” ujar Setiawan.

Arsitek dan perancang tata kota dari Institut Teknologi Bandung, Woerjantari Soedarsono, mengatakan, peran serta masyarakat mutlak diperlukan. Masyarakat bisa mengusulkan kegiatan positif yang bisa dilakukan pengelola museum, seperti usulan penambahan informasi dan alternatif tata letak koleksi.

“Kerja sama dengan pelaku bisnis swasta juga bisa dilakukan. Di luar negeri bentuk kerja sama pengelola museum dengan pusat perbelanjaan untuk memamerkan koleksinya sering dilakukan,” katanya.


Kerja sama

Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan ITB Budi Brahmantyo membenarkan kerja sama pengelola museum, pemerintah, dan masyarakat adalah hal vital. Contoh kerja sama itu terlihat di Museum Istana Kubota dan Tambang Geologi di Jepang. Meskipun pengunjung yang datang tidak terlalu banyak, bentuk promosi kepada wisatawan dan penataan apik terus menjadi perhatian utama. Keberadaan museum bahkan diberdayagunakan sebagai infrastruktur dan identitas khas suatu daerah.

“Beberapa koleksi yang dimiliki tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Pembedanya adalah keterlibatan masyarakat dalam memaksimalkan fungsi museum,” kata Ketua Kelompok Riset Cekungan Bandung ini.

Penggiat Common Room, komunitas kreatif di Bandung, Gustaff Iskandar, mengatakan, sudah saatnya keberadaan museum di Bandung difokuskan pada pengembangan diri. Bila hanya mengandalkan figur tertentu atau puas dengan apa yang dimilikinya, lama kelamaan fungsi museum sebagai tempat pendidikan dan penelitian akan terhambat. Kepala Museum Geologi Yunus Kusumabrata mengatakan tidak bisa berjalan sendiri mengatasi hal ini. Sudah saatnya keberadaan museum terbuka terhadap usulan masyarakat yang ingin mengangkat citra museum menjadi lebih baik.

“Kami harapkan Forum Peduli Museum bisa memberikan masukan dan perubahan signifikan pada perkembangan museum,” ujarnya. (CHE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: