Oleh: museumku | 20 Mei 2011

Hari Museum: Kenangan yang Belum Dirindukan

KOMPAS – Kamis, 19 Mei 2011 – Seorang pengunjung kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, sangat kecewa begitu mendatangi museum-museum di sana pada hari Senin karena semuanya tutup. Rupanya dia tidak tahu bahwa hampir seluruh museum di dunia memang tutup pada hari itu untuk merayakan Hari Museum Internasional.

Ketidaktahuan-ketidaktahuan kecil itu membersitkan pertanyaan: sudahkah museum benar-benar disosialisasikan kepada masyarakat?

Seorang pelajar SMA yang hadir pada Festival Museum Day, Rabu (18/5), di kompleks Taman Fatahillah, juga tidak tahu saat ditanya tentang Museum Tekstil di Tanah Abang yang lokasinya tak jauh dari tempat dia tinggal.

“Memang belum semua orang tahu bahwa ada delapan jenis museum di Jakarta,” kata Deputi Gubernur Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Sukesti Martono saat membuka Festival Museum Day.

Festival Museum Day 2011, yang bertepatan dengan Hari Museum Internasional, diikuti 43 museum yang membuka gerai di pelataran Taman Fatahillah. Mereka memberikan informasi kepada pengunjung, salah satunya tentang koleksi unggulan, dengan maksud agar mereka berminat untuk datang.

Ada 56 museum yang tersebar di Jakarta, 11 museum di antaranya di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Belum menarik

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budiman mengakui, realitas kondisi museum di Jakarta masih sangat jauh dibandingkan dengan museum di kota-kota besar di dunia.

Tak hanya bangunan fisik, koleksi ataupun tata pamernya pun tidak memiliki daya tarik kuat. Tak salah pula jika pengunjung lebih berminat ke mal daripada ke museum saat liburan.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menyatakan, tren kunjungan ke museum naik dari waktu ke waktu. Akan tetapi, dari sekitar 1,2 juta pengunjung museum per tahun, sebanyak 77 persen terkonsentrasi di Museum Monumen Nasional dan sisanya ke museum-museum lain.

“Di Monas, rata-rata bisa 1 juta pengunjung per tahun,” kata Arie.

Untuk pemeliharaan fisik, telah dianggarkan Rp 2 miliar per tahun per museum dari APBD bagi museum yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Masih ada pula dana dekonsentrasi dari Kementerian Budaya dan Pariwisata sebesar Rp 2 miliar untuk pemeliharaan.

Upaya itu pun mulai membuahkan hasil. Dari beberapa kali berkunjung ke museum di Jakarta, Putri (16), siswi SMAN 3 Jakarta, dan Meimei (16), siswi SMKN 41 Jakarta, misalnya, mulai merasakan manfaatnya.

Sudah saatnya para pengelola museum lebih berbenah. Sayang sekali jika minat positif itu hanya disambut deretan benda tua yang sekali dilihat kemudian dilupakan. Inovasi menjadi kata kunci agar tempat kenangan dan sejarah itu dilirik dan dirindukan.(fransisca romana)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: