Oleh: museumku | 11 Maret 2011

Hati Nurani Berkata di Tuol Sleng

KOMPAS – Jumat, 4 Mar 2011 – Mungkin hanya kata “mengerikan” untuk menggambarkan perasaan setelah berkeliling di Museum Tuol Sleng di kota Phnom Penh, Kamboja. Barang-barang yang dipamerkan tidak didramatisasi, malah dibiarkan seperti apa adanya.

Dunia mengenal museum ini sebagai Genocide Museum. Sebuah bangunan sekolah menengah atas Chao Ponhea Yat yang digunakan oleh rezim Khmer Merah untuk menahan, menginterogasi, dan menyiksa warga yang dianggap bertentangan dengan paham mereka selama tahun 1975-1979.

Tak kurang dari 14.000 orang tewas setelah ditahan dan disiksa di bekas bangunan sekolah yang disebut sebagai penjara S-21 atau Tuol Sleng. Dalam bahasa Khmer, Tuol Sleng berarti ‘bukit pepohonan beracun’.

Selama masa kekuasaan rezim Khmer Merah, di luar kasus Tuol Sleng, diperkirakan lebih dari 1,4 juta jiwa warga Kamboja yang dibunuh oleh tentara Khmer Merah. Beberapa di antaranya dibunuh di lahan pembantaian di Choeung Ek atau dikenal sebagai “Killing Fields”, sekitar 15 kilometer luar kota Phnom Penh.

Untuk mencapai museum ini, pengunjung bisa menumpang tuk-tuk. Jika menginap di tengah kota Phnom Penh, ongkos tuk-tuk menuju Tuol Sleng cukup 2 dollar AS sampai 3 dollar AS. Satu tuk-tuk bisa ditumpangi tiga sampai empat orang karena kendaraan ini berupa kereta yang ditarik motor.

Di Kamboja, dollar AS merupakan mata uang kedua setelah mata uang riel yang biasa digunakan warga setempat sebagai alat tukar. Hanya memang kita perlu menukarkan uang 100 dollar AS yang dibawa dalam pecahan lebih kecil karena tak semua penarik tuk-tuk memiliki uang dollar AS cukup banyak.

Tiba di depan bangunan museum, pengunjung yang belum pernah ke museum ini akan dibuat heran karena bangunan ini hanya dipagari tembok kusam setinggi satu meter dan ditambah satu meter lagi berupa pagar kawat berduri yang dilapisi seng. Dari luar tampak seperti bangunan tak terurus.

Cukup 2 dollar AS untuk tiket masuk ke museum, tapi itu belum termasuk biaya pemandu wisata. Namun, jika tak ingin menggunakan pemandu, seluruh cerita museum ini juga terpapar pada papan informasi yang dipasang di setiap ruangan museum.


Masih terluka

Sebagian besar pengunjung museum ini adalah wisatawan asing, seperti dari Jerman dan Perancis. Nyaris tak ditemukan warga lokal mengunjungi situs sejarah ini. Lain halnya di Kerajaan Royal Palace Cambodia yang banyak dikunjungi siswa sekolah, seperti juga dijumpai di banyak museum di Indonesia.

Menurut salah seorang warga setempat, Sophet Chea (35), pembunuhan massal yang terjadi selama rezim Khmer Merah telah meninggalkan luka mendalam bagi warga Kamboja. Oleh karena itu, mereka enggan mengunjungi tempat-tempat terjadinya pembantaian oleh tentara Khmer Merah itu.

“Kami masih terluka. Tapi biar saja ini menjadi tempat bersejarah. Dan sekarang kami hanya mau aman,” kata lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai penarik tuk-tuk di dekat Museum Tuol Sleng.

Setidaknya ada lima bangunan di museum ini. Empat bangunan berupa bangunan kelas bertingkat tiga yang masing-masing berisi lebih dari 21 ruang kelas, yang berada di sayap kanan dan kiri. Di halaman depan terdapat bangunan kecil yang digunakan sebagai pos penjagaan sekaligus tempat membeli tiket masuk museum.

Di sayap kiri terdapat dua bangunan yang tampak seperti bangunan sekolah pada umumnya. Hanya bangunannya tampak tak terurus karena dibiarkan tak dicat dan disemen seadanya pada beberapa bagian sehingga tampak kusam.

Salah satu dari bangunan itu berisi foto-foto korban yang ditangkap tentara Khmer Merah untuk diinterogasi dan biasanya akan berlanjut dengan penyiksaan. Warga yang ditangkap memang sengaja difoto dan setiap korban yang difoto memasang nomor di dadanya untuk membedakan satu sama lain.

Pada deretan foto korban itu, selain tampak orang dewasa, tak sedikit pula dijumpai anak-anak. Bahkan ada pula seorang perempuan yang sedang menggendong bayinya yang berusia sekitar tiga bulan.

Selain foto, dipamerkan pula lukisan para korban yang disiksa tentara Khmer Merah. Lukisan itu hasil karya salah seorang korban yang selamat dari Tuol Sleng, yakni Vann Nath. Menurut pengelola museum, hingga saat ini Vann Nath masih hidup.

Beberapa lukisannya menampilkan penyiksaan yang dilakukan tentara Khmer Merah terhadap para korban. Salah satunya lukisan tentang sekitar 100 anak laki-laki dan dewasa yang dikumpulkan tidur berimpitan di satu ruangan tanpa alas apa pun.

Lukisan lainnya menampilkan seorang ibu yang berusaha merebut bayinya dari tentara Khmer Merah. Di belakang ibu itu tampak seorang tentara mencambuk punggungnya. Ada dua anak duduk terpaku di sudut ruangan menyaksikan kejadian itu.


Tragedi kemanusiaan

Pada buku A Cambodian Prison Portrait; One Year in The Khmer Rouge’s S-21, Nath menuturkan, pada mulanya dia dipaksa melukis kembali foto Pol Pot, pemimpin Khmer Merah, selama ditahan di penjara Tuol Sleng, kendati dia tak mengenal figur yang dilukisnya dan bahkan dia tak mengetahui alasannya ditahan.

Kemudian dia ditugaskan melukis kondisi para korban selama di dalam penjara. Jika tak mematuhi tugas itu, dia diancam kerja paksa dan disiksa. Beruntung dia dapat melaluinya hingga akhirnya rezim Khmer Merah dapat dipatahkan oleh tentara Vietnam tahun 1979.

Di bangunan lainnya di sayap kiri, dipamerkan alat-alat yang digunakan tentara Khmer Merah untuk menyiksa para korban. Alat-alat yang digunakan antara lain balok kayu, pacul, linggis, dan peralatan pertanian lainnya.

Sementara di sayap kanan, dua bangunan kelas yang ada dikelilingi kawat berduri berlapis-lapis dari lantai satu sampai lantai tiga. Sangat mencekam dan menyeramkan. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada para korban di ruangan itu.

Saya memutuskan tidak masuk ke ruangan itu. Namun, seorang kawan membujuk dan bersedia menemani masuk ke dalamnya dan saya pun memberanikan diri. Setiap ruangan di dalam bangunan itu disekat menjadi beberapa ruangan kecil dengan susunan batu bata. Di ruangan-ruangan sempit itulah korban disiksa. Saya segera keluar dari ruang itu karena ada aura yang mengerikan.

Wisatawan lainnya juga merasakan hal serupa. Henry (50), wisatawan dari Perancis, hanya mengatakan satu kata, “mengerikan”, setelah berkeliling dan menyaksikan kondisi seluruh bangunan Museum Tuol Sleng. “Ini sangat menyentuh hati nurani. Ini sangat memilukan bagi kemanusiaan,” katanya.

Mukhlis (35), wisatawan asal Manado yang juga peserta ASEAN Tourism Forum 2011 di Kamboja, mengungkapkan hal serupa. “Tak bisa dibayangkan apa yang dialami para korban selama di penjara ini. Tentu sangat mengerikan,” katanya.

Meski tak banyak berkata-kata, bangunan Museum Tuol Sleng ini membuat hati nurani kita berbicara. Betapa masalah kemanusiaan itu berada lebih tinggi di atas kekuasaan atas dasar politik atau kepentingan apa pun. Dan hanya satu harapan yang ada, jangan sampai tragedi kemanusiaan itu terjadi kembali.

“Tak bisa dibayangkan apa yang dialami para korban selama di penjara ini. Tentu sangat mengerikan.” (Madina Nusrat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: