Oleh: museumku | 5 Desember 2011

Museum, Tak Kenal maka Tak Sayang

MUSEUM SUMPAH PEMUDA-Sejumlah siswa dari SD 01 Cikokol, Pancoran mengamati diorama peristiwa Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Jumat (28/10).(foto:SH/Edy Wahyudi)

Sinar Harapan, Sabtu, 3 Desember 2011 – Orang-orang pun mungkin sudah lupa kapan saat terakhir mereka mengunjungi sebuah museum. Namun ada beberapa orang yang menggemari, menikmati bahkan menyadari pentingnya sebuah museum.

Bagi mereka, museum memiliki esensi luhur yang membawa penikmatnya bertualang menyusuri waktu dari zaman ke zaman. Bagi mereka, semua koleksi di museum sarat akan nilai sejarah dan budaya.

Hal inilah yang dirasakan Yulia Adtyana (29). Yulia mengakui telah mengunjungi sejumlah museum di Indonesia, terutama yang ada di Pulau Jawa. Menurutnya, dengan mengunjungi berbagai museum ia menjadi banyak tahu mengenai sejarah dari para leluhur di zaman dahulu.

“Misalnya dulu waktu aku ke museum Radya Pustaka Solo, di sana tuh ada mata uang logam kuno dari ’tahun jebot’ yang berasal dari berbagai negara. Atau pas di Museum Keraton Solo dan Yogya, di sana aku bisa lihat bentuk-bentuk gamelan dan keris-keris lama gitu,” tutur wanita yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris tersebut.

Yulia mengakui dirinya tidak serta merta menyukai museum. Pada awalnya, sama dengan sebagian orang awam yang tak mengenal museum, ia pun membayangkan museum adalah tempat yang membosankan. “Tapi karena kuliah jurusan travel dan sering jalan ke museum, akhirnya jadi tahu dan jadi suka deh,” katanya.

Senada dengannya, Elka Hendra Puspita (27) juga menyukai museum. Bedanya, jika pada awalnya Yulia pergi ke museum hanya karena tuntutan pendidikan yang ditempuhnya, Elka justru sejak awal memilih museum sebagai sarana yang dapat membantunya dalam pelajaran sejarah.

“Karena kalau di sekolah kan cuma teori, malah membosankan. Jadi lebih enak sambil jalan, lihat langsung, dan dengarkan guide-nya ngasih penjelasan,” katanya. Dengan cara seperti itulah karyawati swasta tersebut bisa menyerap mata pelajaran sejarah.

Tak hanya sebagai penghantar sejarah, museum ternyata juga sangat menarik untuk dijadikan objek fotografi.

Inilah yang dilakukan Ayumi Chintiami (24) yang kerap memburu foto di museum bersama teman-temannya, karena terdapat banyak barang antik dan spot yang menarik. Ditambah lagi, pencahayaan yang remang-remang di dalam museum dapat menghasilkan efek dramatis pada hasil fotonya.


Angker

Terlepas dari kecintaan mereka pada museum, mereka menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada di museum-museum Indonesia, mulai dari kurangnya perawatan sampai penerangan yang terkesan apa adanya, sehingga menimbulkan nuansa angker.

“Yang paling serem itu itu pas aku ke Museum Monjali di Yogya. Penerangannya minim jadi gelap banget,” kata Yulia. Sementara itu, perawatan yang kurang terdilihat dari banyaknya artefak ataupun benda bersejarah yang dibiarkan rusak.

Hal ini menyebabkan kurangnya minat dan animo masyarakat untuk mengunjungi museum, padahal di negara lain museum bukan hanya menjadi tempat rekreasi atau melakukan penelitian semata, tetapi juga menjadi arena publik tempat pengunjung melakukan aktivitas lain, termasuk aktivitas kreatif.


Cinta Museum

Menjawab hal tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia mengadakan sebuah program revitalisasi museum, yang termasuk program Tahun Kunjungan Museum dan kampanye bertajuk ”Gerakan Nasional Cinta Museum” (GNCM) di penghujung tahun ini.

Program tersebut diharapkan dapat membangun kembali citra museum yang sesesungguhnya, yaitu menjadi sarana untuk mencerdaskan bangsa, hiburan, dan merangsang ide kreativitas, dengan suasana yang lebih nyaman dan bersahabat serta interaktif.

“Kami juga nanti akan membuat standar akreditasi museum (A, B, C) dan akan disusun kriteria-kriteria yang membuat suatu tempat layak disebut museum. Jadi yang menyandang nama museum harus memenuhi kriteria ini,” kata Intan Mardiana selaku Direktur Permuseuman, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Program revitalisasi yang dimulai sejak 2010 tersebut diawali dengan menitikberatkan pada pembangunan fisik museum serta orang-orang yang terlibat (sumber daya manusia) di dalamnya. Hal ini merupakan sebuah langkah awal untuk mengubah citra museum yang selama ini dianggap menakutkan, gelap, dan suram.

Demi menyelaraskan kampanye pada 2011 ini, dinobatkan pula Sigi Wimala sebagai Duta Museum 2011 melalui sejumlah seleksi ketat, sehingga dari sekitar enam kandidat public figure yang masuk, dewan juri memutuskan memilih Sigi karena dianggap memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup tinggi tentang museum.

Ke depannya, Duta Museum segera menjalankan tugasnya untuk menyebarkan kepedulian dan kesadaran untuk mencintai museum. “Ini saat yang tepat untuk membawa masyarakat jatuh cinta pada museum, karena dengan begitu masyarakat akan jatuh cinta lagi pada Indonesia,” kata Sigi dengan mantap. (CR-17)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori