Oleh: museumku | 9 Maret 2011

Peran Edukasi Museum Batik Pekalongan

Zahir Widadi, M.Hum
Program kekhususan Museologi
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
Email: zahirwidadi@hotmail.com


1. Pengantar

Sekarang ini kebutuhan sumber daya pendidikan di kabupaten/kota melalui pelayanan museum mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan dengan banyaknya program pendidikan nasional terhadap sekolah sekolah di daerah yang memiliki pendidikan berbasis keunggulan lokal sehingga museum menjadi salah satu sumber daya pendidikan yang tepat untuk mendukung kegiatan belajar di luar sekolah.

Hal tersebut di atas dijelaskan juga oleh Ambrose dan Paine (2007:48) bahwa secara umum museum mempunyai tiga peranan dalam masyarakat. Pertama, memastikan perawatan dan konservasi warisan budaya. Kedua, memberikan dukungan kepada institusi pendidikan, memberikan fasilitas kegiatan belajar, kegiatan budaya dan ketiga, membangun identitas di lokasi tempat mereka berada.


2. Museum Batik di Pekalongan dan Penggunanya

Museum Batik di Pekalongan merupakan museum swasta yang didirikan oleh Yayasan Kadin Indonesia dan diresmikan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 12 Juli 2006. Museum ini menempati salah satu gedung milik Pemerintah Kota Pekalongan yang merupakan eks Balai Kota Pekalongan dengan luas tanah 3.675 M2 dan luas bangunan 2.500 m².

Tujuan pendirian Museum Batik di Pekalongan agar dapat menjadi tempat referensi, dokumentasi, koleksi batik dan peralatan batik, kepustakaan, pusat data dan kegiatan penelitian, pengkajian dan pendidikan termasuk pengembangan teknologi batik dan juga mampu mendorong kegiatan ekonomi untuk lebih tumbuh dan berkembang. Museum ini menyimpan khusus koleksi kain batik. Batik adalah bahan kain tekstil dengan pewarnaan menurut corak khas Indonesia dengan menggunakan lilin batik sebagai zat perintang warna. Seni batik merupakan kreasi yang mempunyai arti tersendiri, yang dihubungkan dengan tradisi, kepercayaan dan sumber-sumber kehidupan yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Dewasa ini batik telah dijadikan salah satu pakaian nasional Indonesia. Bahkan batik telah menjadi ciri khas identitas bangsa Indonesia. (Kardi, 2005).

Koleksi kain batik berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Jenis kain panjang dan kain sarung batik dengan berbagai motif batik dan makna simboliknya dari berbagai daerah sehingga pengunjung akan lebih mudah untuk mengenal batik dari berbagai daerah di Museum Batik di Pekalongan tanpa harus berkunjung ke daerah asalnya.

Selain keunggulan tersebut, museum ini berada di tengah tengah sebagian besar masyarakat yang hingga kini aktifitas sehari harinya terkait dengan usaha membatik sebagai mata pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitar museum, meliputi pedagang bahan-bahan material batik, pembuat alat batik, perajin batik, pedagang batik, pemerhati batik hingga konsumen batik, dan museum juga berada dalam lingkungan sekolah yang memberikan pelajaran muatan lokal membatik kepada pelajar.

Selama ini pengunjung Museum Batik di Pekalongan berasal dari dua kelompok. Pertama, pengunjung dari kalangan pelajar/mahasiswa yang terdiri dari pelajar tingkat TK/SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Kelompok kedua berasal dari masyarakat umum yang berasal dari masyarakat lokal, nasional dan internasional.

Berdasarkan data pengunjung Museum Batik di Pekalongan pengunjung yang berasal dari kalangan masyarakat lokal memiliki persentase tertinggi yaitu 31,91%, di urutan kedua adalah dari kalangan pelajar, TK/SD dengan persentase yaitu 28,53%, di urutan ketiga adalah pelajar tingkat SLTP dengan persentase 14,06% dan urutan keempat adalah siswa tingkat SLTA dengan persentase 9,39%, di urutan kelima dari kelompok pengunjung dari kalangan masyarakat nasional dengan persentase 7,41%. Sementara itu pengunjung dari kalangan Perguruan Tinggi total jumlahnya sangat kecil 1.02% dan pengunjung dari kalangan manca negara memilki jumlah terendah dengan persentase 0,41%. (Laporan Museum Batik, 2010)

Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan kelompok pengunjung kalangan pelajar dan mahasiswa memiliki jumlah lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok kalangan umum sehingga jumlah tersebut mendapat perhatian khusus dari pihak museum. Oleh karenanya itu tidak mengherankan jika Museum Batik di Pekalongan telah menjadi tempat tujuan belajar mengenai batik di luar lingkungan sekolah.

Selain peluang sebagai tempat belajar batik terhadap pelajar, Museum Batik di Pekalongan juga memiliki peluang memberi edukasi batik kepada masyarakat umum. Jumlah penduduk Kota Pekalongan sebanyak 261.745 jiwa. Kota ini memiliki luas daerah lebih kurang 45, 25 km2 dengan sistim administrasi terdiri dari 4 Kecamatan dan 47 Kelurahan. Masyarakat yang terkait dengan usaha membatik terdiri dari perajin alat batik canting tulis, cap, pedagang bahan baku batik, pedagang batik berasal dari tiga kecamatan yaitu kecamatan Timur, Utara dan Selatan. Jumlah unit usaha tersebut meliputi 1.719 pengusaha atau pengrajin, sehingga sektor industri dan perdagangan batik ini mampu menyerap 17.438 orang tenaga kerja atau sekitar 75% dari 24.755 jumlah tenaga kerja yang ada di Kota Pekalongan (Deprerindag Pekalongan, 2008).


3. Sumber Pembelajaran Batik

Dalam rangka memposisikan Museum Batik sebagai sumber pembelajaran maka museum tersebut perlu memiliki kebijakan edukasi. Seperti yang dijelaskan oleh Bruninghasus dan Knubel (2004: 119) bahwa setiap museum perlu memiliki kebijakan untuk menentukan edukasi di museum. Kebijakan tersebut mempertimbangkan hubungan yang sesuai antara edukasi yang relevan dengan koleksi, kebijakan edukasi yang mendorong kesadaran akan warisan budaya, kebijakan mengembangkan kemampuan pengelola edukasi dan kebijakan edukasi yang dapat melibatkan masyarakat setempat.

3.1 Kebijakan Edukasi di Museum
Kebijakan edukasi dan warisan budaya Museum Batik di Pekalongan untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya takbenda yang melekat pada batik melalui edukasi. Museum ini berupaya menyajikan pengetahuan mengenai aspek budaya takbenda yang melekat pada batik, mengingat Batik Indonesia sudah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda.

Penyampaian makna dan pengetahuan sebagai budaya takbenda kedalam bentuk pameran perlu terlebih dahulu diinterpretasikan. Oleh karena interpretasi dapat membantu meluruskan intepretasi pengunjung yang dapat saja keliru. Hal ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya secara fisik melalui display dan menggugah minat publik terhadap warisan budaya (Magetsari, 2008:8).

Kebijakan Museum Batik bagi pengelola edukasi atau Sumber daya manusia salah satu yang ikut menentukan keberhasilan museum dalam menyampaikan edukasi. Sebagian karyawan museum ini sudah mendapatkan pelatihan-pelatihan teknis yang dapat menunjang pekerjaan. Sedangkan karyawan yang memiliki keahlian mengenai pengetahuan batik terutama sejarah dan makna motif museum ini masih menghadapi tantangan berat untuk mempersiapkan karyawan yang memiliki bidang keahlian sesuai dengan ragam hias koleksi batik di museum.

Dalam upaya mengatasi kelemahan tersebut diatas maka museum ini memiliki kebijakan edukasi bersama dengan komunitasnya. Hal ini disebabkan secara nyata edukasi mengenai batik sudah ada di masyarakat Pekalongan sebelum museum ini didirikan. Kenyataan yang kedua, koleksi kain batik yang ada di museum ini diantaranya memiliki kesamaan dalam sejarah dan budaya terhadap masyarakat yang berada sekitar lingkungan museum. Salah satunya karena secara geografis Museum Batik di Pekalongan berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga timbul hubungan timbal baik antara museum dan komunitas setempat yang saling menguntungkan.

Komunitas Museum ini berasal dari kelompok masyarakat Pekalongan yang mempunyai kegiatan mata pencaharian terkait dengan produksi membatik. Hubungan timbal balik ini bagi perajin batik mempunyai daya tarik sebagai tempat referensi dan inspirasi dalam berkarya membuat motif dan warna batik, bagi pengusaha batik menjadikan museum tempat berbagi pengetahuan ketika merekan diminta sebagai narusumber dalam kegiatan belajar di museum.

Bagi Musem Batik di Pekalongan selama ini kegiatan yang berhubungan dengan pengetahuan batik dan pelatihan membatik di museum telah melibatkan komunitas batik setempat sebagai instruktur.

3.2 Metode Pembelajaran Museum Batik di Pekalongan
Berdasarkan pendapat Bruninghaus dan Knuble (2004:122) dalam memberikan edukasi di museum dapat menggunakan 18 metode edukasi yang terdiri dari metode edukasi menggunakan metode Display tactile, metode belajar dengan permainan, metode edukasi demonstrasi, metode Tabelau Vivant, metode pengajaran kits., metode belajar eksibisi, pemanduan dan dialog keterangan koleksi, praktik di bengkel batik, metode media audiovisual, belajar di ruang koleksi, media komputer, media belajar di perjalanan, media publikasi, metode edukasi ke luar museum dan metode kerja lapangan.

Sementara itu Museum Batik di Pekalongan sudah melaksanakan beberapa metode edukasi yang lebih relevan dengan jenis koleksi batik dan lebih dibutuhkan oleh pengunjung dan masyarakat di lingkungan museum antra lain, Metode edukasi menggunakan eksibisi, Pemanduan dan dialog, Keterangan koleksi, Praktik di benkel batik. Berdasarkan urutan kebutuhan dari pengunjung Museum Batik maka dapat ditentukan skala prioritas metode yang lebih banyak diminati oleh pengunjung sebagai berikut.

3.2.1 Metode Edukasi Menggunakan Eksibisi (Didaktik)
Pameran koleksi Museum Batik Pekalongan merupakan kekuatan utama untuk menentukan edukasi. Daya tarik eksibisi museum memberikan kesan dan pengalaman bagi pengunjung untuk menentukan sikap rencana belajar di museum jika pameran museum mampu berbicara dengan efektif. Suasana ruang koleksi dapat membangkitkan rasa ingin tahu bagi pengunjung. Dengan demikian melalui proses mengamati dan melihat lihat benda koleksi akan mendapatkan pemikiran tersendiri sesuai dengan kebutuhan setiap pengunjung yang berbeda beda. Hal ini sesuai dengan pendapat Black (2005:131) sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk diperhatikan berulang ulang yaitu apakah memang benar sudah terdapat bahan pelajaran yang akan dipelajari dari display koleksi. Tantangan utama dari ekshibisi adalah peran pemahaman koleksi dalam mendukung pembelajaran di museum (Falk dan Dierking, 2007).

3.2.2 Pemanduan dan Dialog (Didaktik)
Pelayanan edukasi dengan pemanduan dan dialog sebagian besar tergantung pada medium pembicaraan. Museum Batik di Pekalongan menyampaikan informasi mengenai asal usul batik, sejarah, makna motif, proses dan bahan pembuatan pada saat pengunjung melihat koleksi.

Sebagai salah satu contoh penerapan metode pemanduan dan dialog edukasi di museum yakni menanyakan pendapat pengunjung yang sedang melihat lihat pameran koleksi kain batik. Petugas edukasi dapat memulai untuk berdialog mengenai corak dan motif yang terdapat pada salah satu koleksi kain batik menurut interpretasi dari pengunjung sendiri. Apakah batik tersebut memiliki nilai budaya dan seni menurut pendapatnya, sehingga pengunjung akan mencoba untuk memberikan komentar dan bertanya setelah mendengarkan informasi yang tidak sesuai menurut pemahaman mereka.

3.2.3 Metode Keterangan Koleksi (Didaktik)
Keterangan koleksi dibuat dengan tujuan untuk membantu pengunjung mengerti tentang pengetahuan yang terdapat pada koleksi. Keterangan koleksi merupakan hasil dari penelitian dari kurator Museum Batik di Pekalongan dengan cara mendapatkan informasi tambahan dari para narasumber yang menyumbangkan koleksi kain batik tersebut.

Informasi yang di buat dalam keterangan koleksi terdiri dari jenis koleksi kain, jenis kain, proses pembuat, tahun motif dibuat, klasisifkasi asal daerah kolesi kain batik, ragam hias dan makna motif dan ragam hias. Tujuannya untuk membatu mudahkan pengunjung mendapatkan informasi mengenai sejarah, dan teknik pembuatan.

3.2.4 Metode Pratik di Laboraturium Batik (Diskoveri)
Pada mulanya masyarakat mengalami kesulitan untuk mengetahui proses membatik karena hampir setiap pengrajin batik tidak membuka pintu untuk orang umum melihat proses pembuatan di tempat produksi batik mereka. Hal ini dapat dirasakan bagi para pelajar yang mengikuti pelajaran membatik disekolah secara teori saja tetapi di museum dapat melihat dan praktek untuk mencoba membatik di laboraturium batik.

Program pelatihan membatik di laboraturium Museum Batik di Pekalongan bertujuan meningkatkan kesadaran dan apresiasi generasi muda pada jajaran pendidikan TK/SD, SMP, SMU, SMK dan membangkitkan kesadaran para kepala sekolah dan guru, orang tua murid, dan masyarakat batik di Pekalongan mengenai pentingnya mentransmisikan budaya batik kepada generasi muda.

Bentuk edukasi di bengkel batik yaitu belajar membatik bagi peserta yang belum mengerti membatik yang dimulai dengan membuat desain pada kertas yang transparan kemudian dipindahkan pada kain katun putih. Menutupi desain dengan lilin batik pada kedua sisi dengan canting tulis atau cap dilanjutkan dengan membuat desain ornament dengan titik titik (isen isen) untuk latar motif. Setelah itu dilanjutkan dengan proses mewarnai dengan cara mencelupkan kain yang sudah dibatik kedalam pewarna untuk mendapatkan warna yang pertama dan kemudian menutupi bagian khusus yang dikehendaki, kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan berikutnya untuk mendapatkan warna yang kedua dan seterusnya. Menghilangkan malam yang melekat pada kain dengan cara direbus.

Setelah peserta mendapatkan pengarahan dari karyawan museum, langsung melakukan praktek membatik sendiri. Peserta dapat menggunakan canting tulis untuk batik tulis dan juga cap untuk batik cap. Museum menyediakan peralatan dan bahan untuk membatik seperti kain mori putih dan bahan perwarna. Peserta dapat membuat motif sendiri yang dikehendaki atau menggunakan pola pola yang sudah disiapkan oleh petugas museum. Semua tahapan proses membatik dilakukan sendiri oleh peserta, petugas museum hanya menyampaikan cara penggunaan alat dan bahan. Pengaturan posisi ini menyatakan pengetahuan dibangun oleh mereka sendiri. Pembelajar datang untuk merealisasikan konsep dan ide yang mereka bangun sendiri (Hein, 1999:75)

Program pelatihan membatik bersama pelajar dan mahasiswa ini sudah berlangsung selama 4 tahun dan program ini telah dikukuhkan oleh Badan Organisasi Dunia yang mengurusi Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) dalam kategori Best Pratice di Museum Batik Pekalongan

Best practise adalah program upaya perlindungan warisan budaya takbenda dengan meneruskan warisan budaya kepada generasi penerus. Menjamin rasa hormat terhadap warisan budaya dengan memberikan tempat terhormat bagi budaya batik Indonesia sebagai muatan local/mata pelajaran/bidang studi dalam kurikulum berbagai jenjang pendidikan formal, mulai dari SD/TK, SMP, SMA/SMK sampai Politeknik, dan meningkatkan kesadaran, baik pada tingkat lokal, nasional maupun internasional, akan pentingnya warisan budaya takbenda. Kegiatan pendidikan dan pelatihan budaya batik di sekolah dan perguruan tinggi di Kota Pekalongan selaras dengan Pasal 14 dan 15 Konvensi Perlindungan Warisan Budaya takbenda 2003 (Berkas Nominasi Best Practice referensi, 00318, 2009)


4. Program Edukasi di Museum

Museum Batik di Pekalongan dalam menentukan program edukasi mencoba untuk disesuaikan terlebih dahulu dengan prinsip prinsip dasar program edukasi (Bruninghaus dan Knubel, 2004: 123). Kerangka kerja rencana tersebut akan membantu untuk menentukan langkah langkah proses, tujuan dan sasaran dari program edukasi tersebut. Salah satu program kerja di Museum Batik Pekalongan yaitu program edukasi praktik membatik di laboraturium batik museum. Langkah pertama yang dilakukan program tersebut dengan menentukan jawaban dari setiap pertanyaan dari kerangka kerja yang telah disediakan. Hasil dari perolehan jawaban secara keseluruhan akan saling terkait dan berhubungan sebagai sebuah program edukasi di museum. Tahapan pertanyaan dan pilihan jawaban tersebut seperti diuraikan berikut ini.

1. Siapa yang akan menerima edukasi membatik? (Who for)

Kegiatan membatik dapat dilakukan oleh siswa mulai kelas 4 SD ke atas dan juga pengunjung umum. Lembaga yang membutuhkan adalah sekolah sekolah yang memiliki pelajaran membatik. Materi membatik perlu disesuaikan dengan kegiatan di sekolah. Selama ini Museum Batik di Pekalongan memposisikan diri sebagai tempat ujian praktik membatik.

2. Koleksi yang mana atau tema apa (Which Object / which Themes)

MBP memberikan tema membuat batik sesuai dengan ketentuan sekolah. Pelajar dapat membuat taplak meja atau shawl batik.

3. Bagaimana (How)

Pelaksanaan program edukasi membatik dengan cara pelajar langsung praktik membuat batik sesuai yang ditugaskan oleh pihak sekolah masing masing. Museum mempersiapkan bahan dan instruktur batik. Proses membatik mulai dari menggambar desain pada kertas, kemudian dipindahkan pada kain, desain ditutupi dengan lilin batik dan diberi warna pertama kemudian membersihkan lilin yang melekat pada kain. Proses ini dapat diulangi untuk mendapatkan warna yang kedua dan seterusnya.

4. Dengan apa atau tanpa apa (What With / What Without)

Program edukasi praktik membuat batik menggunakan bahan baku kain, lilin batik, obat pewarna, canting tulis atau cap, tempat mewarnai dan tempat melepaskan malam. Kegiatan ini memerlukan ruangan khusus tempat membatik, mewarnai dan mencuci kain.

5. Kapan (When)

Kegiatan praktik mambatik ini membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk satu kelas siswa atau siswi yang berjumlah 40 sampai 50 orang setiap kelas. Kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya dilakukan pada waktu ujian praktik sekolah sekolah berlangsung.

6. Apa lagi yang dapat mendukung (What Else)

Kegiatan belajar membatik dapat didukung dengan petunjuk membatik, contoh-contoh pola atau motif batik dan tugas sekolah.

Berdasarkan hasil perolehan jawaban tersebut di atas, maka dapat digambarkan melalui jawaban yang tercetak miring pada bagan perancangan program edukasi museum berikut.

Bagan Program Edukasi Praktik Membatik


Dari hasil analisis program praktik membatik pada bagan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa program membatik di museum memiliki sasaran kepada pelajar dengan media pembelajaran membuat taplak atau shawl batik. Kegiatan ini membutuhkan bahan material seperti lilin, pewarna dan kain katun, alat batik. Kegiatan praktik membatik ini membutuhkan waktu dua jam dan dapat dilaksanakan pada waktu jam pelajaran sekolah. Alat bantu lain bisa yang diperlukan untuk mendukung kegiatan ini yaitu dengan pameran koleksi dan pentunjuk membatik.

Dengan demikian kerangka acuan rencana program edukasi praktik membatik tersebut dapat membantu museum untuk mengetahui kelemahan dan keterbatasnya sebelum diterapkan di museum. Museum Batik akan lebih cepat mengetahui kebutuhan terhadap tenaga pengajar, peralatan dan ruangan. Museum juga dapat menentukan materi edukasi sesuai dengan sasaran peserta, sehingga museum dapat mengetahui tujuan, sasaran dan hasil dari program edukasi tersebut.


5. Penutup

Sebagai penutup dapat disampaikan peran edukasi Museum Batik Pekalongan memiliki fungsi utama menyampaikan edukasi mengenai pengetahuan dan keterampilan batik kepada masyarakat luas. Pengunjung mendapatkan pengalaman belajar secara langsung melalui melihat lihat eksibis koleksi, mendengarkan pemandu, membaca keterangan koleksi dan praktik membuat batik

Proses pembelajaran di Museum Batik Pekalongan adalah menggunakan teori belajar didaktik untuk program edukasi eksibisi, pemaduan dan dialog dan keterangan koleksi. Sementara itu teori belajar diskoveri digunakan untuk program edukasi praktik membatik di bengkel batik museum.

Sebuah tantangan berat yang dihadapi Museum Batik Pekalongan untuk menyediakan tenaga ahli yang sesuai untuk menyajikan koleksi kain batik yang sesuai dengan makna, simbol, nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam benda koleksinya dan juga menyediakan para guru khusus sebagai edukator yang memiliki bidang pengetahuan koleksi batik


Daftar Pustaka:

Asa, Kusnin, Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah, Batik Pekalongan on History, Cahaya Timur Offset Yogyakarta, 2006

Ambrose, Timothy dan Crispin Paine, Museum Basics. Edisi I. USA dan Canada: Routledge, 1993

Brüninghaus, Cornelia and Knubel, Museum Education in the Context of Museum Functions, Running a Museum, A Practical Handbook, ICOM – International Council of Museums, 2004

Djoemena, Nian s, Ungkapan Sehelai Batik its mystery and meaning, Djambatan, 1990

Edson, Gary dan David Dean, The Handbook for Museum, Routledge, London and New York : 1996.

Format Nominasi Batik Indonesia, 2008

Hein, George E. Learning in the Museum, London: Routledge, 2002

Hooper, Eilean, Greenhill, Museum and Education, Purposes, Pedagogy, Performance, Routledge, London: 2007.

Harmen C Veldhuises, Batik Belanda, 2007, Gaya Favorit Press, Jakarta

Susanto, Sewan, Seni Kerajian Batik Indonesia, Balai Besar Batik dan Kerajinan, Departement perindustrian. Jakarta, 1980

Kardi, Marsam, “Sejarah Perbatikan Indonesia”, Makalah Seminar Jejak Telusur dan Perkembangan Batik Pekalongan, Pekalongan, 18- 19 Maret 2005

Magetsari, Nurhadi, “Filsafat Museologi”, Makalah Seminar Dalam Rangka Peringatan Seratus Tahun, Jakarta 20 Mei 2008

van Mensch, Peter, Museology and Management: Enemies of Friends? Reinwardt Academie, Amsterdam, 2004

Museum Batik Pekalongan, Komunitas Batik Pekalongan, Pekalongan, 2008

UNESCO, Nomination for Inscription on the Representative List in 2009, (reference No. 00170), Intergovernmental Committee For The Safeguardingof the Intangible Culture Heritage, United Arab Emirates, 28 September to 2 October 2009

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

UNESCO, Convention For The Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage, 2003

Watson, Sheila, Museum and Their Comunity, Routledge, 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: