Oleh: museumku | 18 November 2016

Dari Balik Layar Museum Nasional: Tangan-tangan Terampil Para Konservator

dani-02Para konservator sedang merawat koleksi di depan vitrin

Banyak orang hampir selalu mengagumi koleksi museum, baik dalam ruang pameran tetap maupun dalam ruang pameran temporer. Ada yang menyebutnya luar biasa karena berkilau. Ada yang menyebutnya bagus sekali karena bersih. Entah, sebutan-sebutan apa lagi yang menandakan kekaguman mereka.

Benda-benda koleksi itu mampu “disulap” sedemikian rupa berkat orang-orang di belakang layar museum. Mereka bekerja dalam sunyi, bukan dalam hiruk-pikuk kemewahan. Di Museum Nasional upaya perawatan benda-benda koleksi menjadi tanggung jawab Bidang Konservasi.

Konservasi merupakan istilah teknis, mengacu pada upaya pemeliharaan dan perawatan benda-benda cagar budaya, termasuk koleksi museum. Tujuannya adalah untuk memberi sentuhan pada koleksi agar lebih bagus, lebih tahan lama, atau untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Sebagai bahan alami, memang suatu koleksi tidak mampu bertahan lama, apalagi yang terbuat dari bahan organik. Namun dengan teknik-teknik konservasi, suatu koleksi mampu diperpanjang umurnya melalui tangan-tangan terampil para konservator.


Observasi

Di Museum Nasional benda-benda koleksi yang biasanya dikonservasi adalah benda-benda yang akan dipajang dalam pameran temporer. Memang sesuai prosedur di Museum Nasional, benda-benda yang sudah dipilih oleh kurator, ditangani terlebih dulu oleh konservator.

dani-04

Konservasi kain di Museum Nasional

Di luar itu benda-benda koleksi lainnya tetap diberikan penanganan. Menurut  Kepala Bidang Konservasi Museum Nasional, Dani Wigatna, langkah awal untuk melakukan konservasi adalah observasi. Pada tahap ini kurator memeriksa benda koleksi. Setelah itu dinyatakan tingkat kerusakan suatu koleksi, misalnya utuh, rusak sedikit, hancur, dan lain-lain. Dari sini kurator mengeluarkan rekomendasi, antara lain pembersihan, pengendalian lingkungan, dan restorasi. Untuk koleksi yang sudah amburadul, konservator tidak segan-segan memberikan rekomendasi “tidak layak dipamerkan”.

Dalam tahap observasi, konservator meneliti kerusakan koleksi sekaligus meneliti penyebabnya. Maka tindakan yang dilakukan sesuai dengan hasil observasi tersebut. Perawatan dan pengawetan merupakan upaya utama untuk menangani koleksi.


Organik

Menurut Dani Wigatna, koleksi-koleksi batu dan perunggu relatif lebih mudah perawatannya. Yang lebih sulit adalah benda-benda koleksi yang terbuat dari bahan organik, seperti kayu, kain, kertas, kulit, bambu, dan ijuk. Selain serangga, termasuk rayap, faktor penyebab utama biasanya jamur.

Yang paling repot, kata Dian Novita Lestari, adalah kain yang sudah rusak tapi langka. Karena itu kain tersebut dibuatkan alas khusus dan tidak dipamerkan. Jadi kalau mau diangkat, bukan kainnya secara langsung tetapi alasnya. Dian sendiri berlatar disiplin Kimia.

dani-01

Membersihkan debu pada pada kain dengan vacum cleaner khusus

Konservator lain, Dyah Sulistiyani, mengatakan untuk perawatan kayu dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung tingkat kerusakan koleksi. Ada yang menggunakan vacum cleaner khusus, ada pula menggunakan bahan kimia untuk membersihkan noda. “Kalau penyebabnya serangga, biasanya dilakukan fumigasi,” kata Dyah yang berlatar disiplin Biologi.

Dulu fumigasi dilakukan dengan cara tradisional dengan membakar kayu. Misalnya demikian, orang memasak menggunakan kayu bakar. Karena asap, bagian atap rumah menjadi hitam. Sesungguhnya, pada bagian hitam itu serangga enggan datang. Tapi kini fumigasi menggunakan peralatan modern. Dalam melakukan fumigasi, prinsip yang paling utama adalah aman bagi manusia, benda, dan lingkungan.


Kelembaban

Masalah utama dalam konservasi koleksi adalah kelembaban. Tiap jenis koleksi mengalami kelembaban yang berlainan. Untuk mengurangi uap air, langkah yang sering dilakukan adalah menaruh silika gel. Banyak sedikitnya silika gel tergantung volume vitrin. Jika silika gel sudah penuh uap air, kemudian dikeringkan dengan oven sehingga bisa dipakai kembali.

Menurut Dani, seharusnya pendingin udara atau AC dinyalakan selama 24 jam. Hal itu akan memberikan rasa aman pada koleksi. Saat ini AC nyala sesuai jam kantor. Gonta-ganti suhu seperti ini justru malah merusakkan benda koleksi.

Agar kain lebih panjang umur, Dian menyarankan, kain itu disimpan dengan cara digulung. Dengan demikian lipatan kain tidak akan terbentuk. Saat ini beberapa museum memiliki koleksi kain atau tekstil. Tidak ada salahnya mengikuti petunjuk Dian.

Museum Nasional selalu melakukan perputaran koleksi lebih cepat pada koleksi yang terbuat dari bahan organik. Setiap museum yang memiliki koleksi berlebih memang selalu mengganti koleksi yang dipajang setiap periodik.

Saat ini Museum Nasional agak kewalahan menangani sekitar 140.000 koleksi yang dimiliki. “Target kita dalam setahun mengonservasi 20.000 koleksi. Sementara tenaga yang ada cuma 15 orang,” kata Dani.

Dalam bidang mana pun, perawatan memang jauh lebih sulit daripada pekerjaan apa pun. Padahal merawat koleksi museum, ibarat merawat segudang ilmu pengetahuan atau kearifan-kearifan nenek moyang. Tentu saja perlu peran pemerintah yang lebih arif, ataupun masyarakat, termasuk generasi muda yang peduli.***

Penulis: Djulianto Susantio
Foto-foto: Dok. Museum Nasional


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: