Oleh: museumku | 29 Juni 2012

Pentingnya ‘Guide’ di Museum Lampung

lampungpost.com, Rabu, 27 Juni 2012 – Museum merupakan institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka dan cara usaha pengoleksian. Kemudian mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.

Museum bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademisi dan dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu. Sehingga, tugas dari guide atau pendamping untuk menjelaskan apa yang ada dalam museum itu sangat penting.

“Kami mengharapkan kedatangan pengunjung, tapi cagar budaya yang ada di museum itu tidak akan berguna tanpa ceritera (informasi) dan itu dilakukan guide,” kata Antropolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Heddy Ahimsa, Selasa (26-6).

Pernyataannya tersebut disampaikan saat dirinya menjadi pemateri dalam Pertemuan Nasional Pengelola Museum Se-Indonesia di Ball Room II Hotel Novotel, Bandar Lampung.

Acara yang bertajuk Museum dan Pendidikan ini juga dihadiri Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Surya Helmi, Arkeolog UGM Inajati Adrisijanti, Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI Agi Ginanjar, dan delapan pemateri lainnya yang dibagi beberapa sesi dalam tiap harinya.

Agenda ini diadakan oleh Kemendikbud yang bekerja sama dengan Pemprov Lampung sejak Senin (25-6) hingga Kamis (28-6). Heddy mengatakan guide yang dimiliki sejumlah museum itu juga harus memperhatikan kebutuhan pengunjung. Hal ini dikarenakan ada pengunjung yang tidak ingin ditemani oleh guide tersebut.

“Demi kenyamanannya sendiri, pengunjung juga ada yang tidak ingin ditemani oleh guide. Sehingga, informasi yang tertera di cagar budaya itu harus lengkap yang disediakan pihak museum,” kata sang profesor ini.

Selain itu, pengelolaan pemasaran di museum juga harus diperhatikan. Agi Ginanjar mengatakan proses atau pengelolaan pendapatan dari pengunjung harus dilakukan dengan baik.

Kemudian strategi mengumpulkan koleksi cagar budaya harus kreatif agar bisa memengaruhi pengunjung. “Contohnya, telah ditemukan emas dari Kerajaan Majapahit, orang-orang (pengunjung) akan berlomba-lomba berdatangan ke museum, tapi harus dilakukan dengan cara yang kreatif,” ujarnya. (MG5/K-1)

*Tulisan ini telah dikoreksi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori