Oleh: museumku | 24 Juni 2014

Museum Sejarah Melayu Buru Koleksi

Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, mulai memburu koleksi untuk Museum Sejarah Melayu. Koleksi dari dalam negeri menjadi prioritas.

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan menuturkan, Batam ingin melengkapi identitasnya sebagai ”Bandar Madani”. Selama ini, Batam belum punya penanda khusus untuk identitas yang digaungkan bertahun-tahun itu. ”Kami berharap nantinya orang cukup ke Batam jika ingin mengetahui perkembangan dunia Melayu,” ujarnya, Senin (23/6), di Batam.

Museum itu akan menempati bangunan panggung utama MTQ ke-25 di Lapangan Engku Putri. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menghibahkan gedung itu kepada Pemerintah Kota Batam agar bisa dijadikan museum. ”Di Batam saja banyak koleksi terkait sejarah Melayu disimpan warga. Pemkot akan memberikan tali asih bagi penyimpan yang mau menyerahkan koleksinya untuk museum,” ujar Dahlan.

Selain itu, Batam juga mengharapkan realisasi janji pemerintah pusat. Mei lalu, Direktorat Jenderal Kebudayaan menyatakan siap menghibahkan koleksi dari enam museum yang dikelola pemerintah pusat serta menjanjikan membantu museum tematik di daerah.

Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani menuturkan, wajar jika koleksi kebudayaan Melayu mendapat prioritas.
”Kepri dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu,” ujarnya.

Kepri pernah menjadi ibu kota Kerajaan Melayu selama berabad-abad. Daerah yang pernah menjadi ibu kota itu ialah Lingga, Bintan, Tanjung Pinang, dan Natuna.


Museum pusaka Cirebon

Di Cirebon, Komunitas Kendi Pertula, sebuah komunitas pencinta sejarah, seni, dan budaya Cirebon, menginisiasi pembangunan Museum Pendidikan Pusaka Cirebon di Situs Petilasan Pangeran Pesarean, Desa Gegunung, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Anggota komunitas mengumpulkan bahan dan data sebagai koleksi museum.

”Kami mendapatkan 140 kaset tentang wayang gaya Cirebon. Kaset-kaset itu adalah rekaman asli bagaimana suluk wayang dan gending-gending gamelan yang mengiringi wayang gaya Cirebon dibawakan. Ada juga rekaman wayang gaya Indramayu dan Kuningan,” kata Koordinator Kendi Pertula Mustaqim Asteja, Senin (16/6), di Cirebon. Mustaqim menuturkan, situs petilasan Pangeran Pesarean dipilih karena merupakan akar keturunan raja-raja Cirebon.

Biaya pengembangan museum pun digalang mandiri kendati mereka juga berharap kepedulian dari pemerintah daerah dan pusat. (RAZ/REK)

(Sumber: Kompas, Selasa, 24 Juni 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: