Oleh: museumku | 9 April 2012

Diorama Benteng Vredeburg: Sejarah Bukan Sekadar Fakta-fakta

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X (terlihat melalui pantulan kaca, kanan) mengamati diorama kedatangan Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta di Yogyakarta pada ruang Diorama II Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Sultan meresmikan revitalisasi museum tersebut,

KOMPAS, Kamis, 5 April 2012 – Pelajaran sejarah sampai saat ini hanya sebagai fakta-fakta hafalan tanpa ketertarikan dan minat untuk memaknainya. Pemahaman sejarah membutuhkan ingatan emosional agar menumbuhkan kesadaran bahwa sejarah adalah pelajaran manusia untuk menapak hari depan.

Hal itu diungkapkan Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X saat meresmikan Ruang Pameran dan Diorama I dan II di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Rabu (4/4).

Diorama Benteng Vredeburg dibenahi dengan pembaruan penampilan yang lebih tertata dan lebih mendekati peristiwa-peristiwa yang terjadi seputar Indonesia sebelum dan sesudah merdeka.

Sultan menyatakan, agar pembelajaran sejarah berhasil baik, metodenya harus bisa mengonstruksi ingatan sejarah. Renungan demi renungan sejarah masa silam mengingatkan bahwa bangsa yang besar seharusnya melihat ke belakang, menjadikan modal perjalanan sebagai sebuah hikmah agar hidup di zaman ini selalu terjaga oleh pengalaman masa silam. ”Agar kemewahan, kenyamanan, dan kemajuan saat ini tidak melupakan darah dan air mata masa lalu.” katanya.

Menurut Sultan, dibatasinya jam pelajaran sejarah mungkin saja karena ketidaktahuan atau motif politik untuk membuat orang Indonesia lupa pada sejarahnya sendiri. Motif politik itu bisa karena ingin mengganti dengan sejarah versi lain atau juga karena ketakutan terbongkarnya kejahatan sejarah masa lalu.

Sultan menyatakan, pengajaran sejarah menghendaki pemahaman masalah dengan memberi peluang kepada siswa untuk menganalisis dan melahirkan berbagai alternatif gagasan.

”Tidak cukup sekadar menanyakan siapa penggali Pancasila, melainkan harus dilanjutkan bagaimana prosesnya sehingga Pancasila menjadi konsensus sebagai dasar negara Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, menurut Sultan, diorama bisa menjadi sumber inspirasi karena sesungguhnya cita-cita para pendiri negeri ini sangatlah luhur. Diorama bisa menjadi sumber inspirasi karena sesungguhnya cita-cita para pendiri negeri ini sangatlah luhur.

”Hal ini mengharuskan kita tidak mundur dalam memperjuangkan aspirasi kemerdekaan, hak asasi manusia, melepaskan diri dari kemiskinan, dan kemusyrikan yang melahirkan korupsi sangat akut. Untuk apa menyaksikan diorama perjuangan bangsa jika para pengunjung tidak menjadikan diorama sebagai bekal perjalanan hidup bangsanya ke depan?” tanya Sultan. (TOP)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori