Oleh: museumku | 28 Mei 2014

Dari Bandung untuk Dunia

Geo-kompasKOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

MUSEUM Geologi Bandung, Jawa Barat, memoles wajah mempercantik diri. Berharap terus menjadi inspirasi bagi dunia penelitian Indonesia dan dunia melalui ratusan ribuan koleksinya. Tanggal 16 Mei 2014, museum itu berusia 85 tahun.

Datang bersama anak dan istrinya, Dodi Suwarja (35), mendongak ke koleksi terbaru Museum Geologi, fosil gajah purba (Elephas hysudrindicus), Sabtu (26/5) malam. Fosil gajah dari tepi Sungai Bengawan Solo setinggi empat meter atau 3 kali lipat tinggi tubuhnya itu menarik Dodi datang ke Museum Geologi untuk pertama kalinya. ”Setiap hari lewat depan museum karena tempat kerja tak jauh dari sini. Tapi, selalu belum sempat mampir. Saat ada informasi fosil gajah baru akan dipamerkan, saya niatkan datang,” kata warga Ujungberung, Kota Bandung, 12 kilometer dari museum.

Sejak 16 Mei 2014 bertepatan dengan ulang tahun ke-85 Museum Geologi, Elephas hysudrindicus resmi menjadi penghuni tetap. Diangkat dari tanah lempung tepi Bengawan Solo pada 2009, tubuh besarnya baru bisa dilihat lima tahun kemudian.

Dibandingkan replika dinosaurus jenis Tyrannosaorus rex dari Amerika Utara yang lebih dulu dipamerkan, ukuran gajah purba dari Blora ini jauh lebih kecil dan berusia lebih muda. Ia berasal dari era 250.000– 200.000 tahun silam dan belum pernah difilmkan seperti T-rex.

Akan tetapi, hal itu tidak mengubah keyakinan bahwa gajah purba dari Desa Sunggun, Kecamatan Kradenan, Blora, Jawa Tengah, ini adalah temuan spektakuler Museum Geologi. Fosilnya ditemukan hampir 90 persen atau yang terlengkap sejak penelitian paleontologi dan ekskavasi fosil dilakukan pada 1850-an. Jauh lebih lengkap daripada koleksi Eugene Dubois di Universitas Leiden, Belanda, yang dideskripsikan Hooijer sebagai kepala Elephas hysudrindicus pada 1955. Fosil itu ditemukan di Desa Tinggang berjarak 13 kilometer dari Desa Sunggun.

Profesor Riset Bidang Palaentologi Fachroel Azis yakin, penemuan ini akan menarik banyak peneliti evolusi dan mata rantai gajah purba datang ke Museum Geologi. Banyak disiplin ilmu berpotensi tersingkap. Mulai dari kehidupan manusia, kondisi alam ribuan tahun lalu, hingga kondisi geologi di lokasi penemuan. Lokasi penemuannya juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.


Inspirasi

Potensi keilmuan dan kesejahteraan masyarakat inilah yang ingin disasar Museum Geologi. Saat ini, baru 2.000 koleksi yang dipamerkan. Ratusan ribu koleksi lainnya belum bisa tampil akibat keterbatasan ruang pamer. Lewat koleksi batuan mineral, fosil, hingga peta potensi tambang, museum ini jelas punya potensi menjadi inspirasi dunia.

Jauh sebelumnya, saat masih bernama Dienst van het Minjbouw, kemampuan peneliti Museum Geologi menerapkan klasifikasi huruf tersier pernah menjadi acuan dunia. Fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus, gajah endemik Jawa lainnya berusia 1,2 juta tahun, dan beragam batok kepala manusia prasejarah, terus menjadi inspirasi penelitian internasional.

Sejarah juga menyebutkan Belanda, yang datang membonceng Sekutu pada 1949, tahu benar potensi itu. Mereka yakin koleksi Museum Geologi harus dimiliki jika ingin kembali menguasai Nusantara. Niat itu gagal saat Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Arie Frederik Lasut menyelamatkan data penting itu.

Pada buku Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja yang ditulis Her Suganda, dokumen-dokumen penting itu dibawa dari Bandung ke Solo, Magelang, hingga Yogyakarta. Bujuk rayu dan iming-iming Belanda ditolak, membuat nyawa Arie terenggut di ujung senapan. Saat itu, Arie baru berusia 31 tahun.

Dua puluh tahun kemudian, Arie diangkat menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional bersama Christina Martha Tiahahu dan Maria Walanda Maramis.

”Koleksi Museum Geologi pernah dipertahankan dengan nyawa. Kini, jangan sampai Museum ini kesepian. Cari hal baru kreatif agar perannya terus dirasakan penerus bangsa ini,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik.


Kreatif

Mata Mutiara Amanah (21) tidak lepas dari batok kepala manusia prasejarah dalam kotak kaca di ruang Sejarah Kehidupan di sayap timur Museum Geologi, Sabtu (24/5) malam. Mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran itu sesekali mendengarkan penjelasan kekasihnya, Rinaldi Ikhram, mahasiswa Jurusan Geologi di perguruan tinggi yang sama, tentang sejarah geologi Indonesia.

”Baru kali ini saya datang ke Museum Geologi, tertarik program Night at The Museum. Sekalian cari suasana malam mingguan baru. Mungkin enggak, ya, fosilnya hidup seperti di film,” kata Mutiara tertawa kecil, merujuk film Hollywood Night at The Museum yang dibintangi Ben Stiller.

Program baru Night at The Museum adalah satu dari kreativitas yang ditawarkan Museum Geologi. Didukung lampu terang benderang di semua sudutnya, program ini mencoba mengusir stigma museum yang kusam dan menakutkan, menjadi tempat menarik dan menyenangkan untuk dikunjungi.

Museum yang selesai dibangun pada 1928 ini pun mulai bersolek. Lemari kayu jati setinggi 2 meter diganti kaca pamer berukuran lebih pendek, memudahkan pengunjung melihat koleksi museum. Tampilan digital hingga wahana simulasi gempa bumi ditampilkan guna menarik minat pengunjung.

Kepala Museum Geologi Sinung Baskoro mengatakan, Penelitian pun terus dilakukan dan dipublikasikan. Museum Geologi giat meneliti fosil moluska dan sudah menerbitkan dua katalog tentang holotype molusca. Demi melengkapi koleksi vertebrata, pihaknya tengah mempersiapkan Atlas Fosil Vertebrata Indonesia.

”Kami juga giat melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia yang memiliki potensi geodiversity dan geoheritage yang nantinya akan direkomendasikan sebagai kawasan lindung geologi (geoconservation),” katanya.

Hasilnya tidak sia-sia. Tingkat kunjungan ke Museum Geologi terus meningkat. Pada 2010, jumlah kunjungan hanya 375.000 orang. Tiga tahun kemudian, menurut Sinung Baskoro, jumlah kunjungan melonjak hingga 500.000 orang per tahun. Penerapan tiket masuk Rp 2.000-Rp 10.000 per orang sejak September 2013 tidak memengaruhi minat pengunjung.

”Kami selalu berusaha dan berharap agar beragam Museum Geologi dan segala jenis koleksinya akan terus menjadi inspirasi Indonesia dan dunia,” kata Sinung. Begitulah seharusnya Indonesia, negara dengan kekayaan geologi dan gunung api aktif yang letusannya pernah menggemparkan dunia. (Cornelius Helmy)

(Sumber: Kompas, Rabu, 28 Mei 2014)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: