Oleh: museumku | 9 April 2014

Museum-museum di TMII: Museum di Hatiku…Ember di Museumku

Blusukan-tmiiTMII atau Taman Mini Indonesia Indonesia merupakan sebuah kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia. Arealnya mencapai luas sekitar 150 hektar. Taman Mini, begitu sering disingkat, mulai dibangun pada 1972 dan diresmikan pada 20 April 1975.

Kebudayaan bangsa Indonesia di TMII berasal dari seluruh provinsi, ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional. Berbagai aktivitas sering dilakukan di setiap anjungan, antara lain peragaan busana, tarian, dan tradisi daerah.

Berbagai sarana rekreasi dan edukasi tersedia pula di TMII. Ada kereta gantung (sky lift) dan kereta wisata (aeromovel) yang disukai anak-anak. Ada taman burung, taman reptil, dan taman bunga yang menyemarakkan kelengkapan obyek wisata. Ada beberapa teater untuk memanjakan visual pengunjung.

Mungkin banyak yang belum tahu kalau di TMII banyak bertebaran museum. Memang nama museum belum populer, terlebih karena tayangan-tayangan di televisi yang selalu menggunakan museum sebagai lokasi shooting acara-acara yang bernuansa mistis dan horor.

Sesungguhnya museum merupakan obyek yang bersifat edukasi dan rekreasi sekaligus. Ibarat buku, museum merupakan ensiklopedia ilmu pengetahuan. Museum dilihat karena keingintahuan masyarakat, terutama para pelajar. Banyak sekali informasi bisa diperoleh dari museum. Minggu, 6 April 2014 lalu, saya mengajak beberapa kawan untuk mengunjungi museum-museum di TMII. Inilah cerita kami, mungkin bermanfaat buat calon pengunjung.


Museum Minyak dan Gas Bumi

Museum Minyak dan Gas Bumi “Graha Widya Patra” dibangun dalam rangka memperingati 100 tahun usaha pertambangan dan gas bumi Indonesia. Museum ini diresmikan pada 20 April 1989.

Minyak-01Bangunan museum terdiri atas dua gedung utama menyerupai anjungan minyak lepas pantai dan dua buah gedung berbentuk tanki timbun minyak bumi. Pada gedung utama terdapat Teater Minyak yang memutar film-film tentang perminyakan. Sayang ketika itu, mungkin karena pengunjung sedikit atau belum waktunya, kami tidak sempat menyaksikannya.

Segera kami menuju Ruang Peran, untuk mengetahui peranan minyak dan gas bumi dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya ada Ruang Sejarah, menggambarkan sejarah perkembangan perminyakan di Tanah Air.

Minyak-02Pada gedung tanki timbun dipamerkan kegiatan-kegiatan eksplorasi, eksploitasi, produksi, kegiatan pengolahan migas, dan dampak lingkungannya. Di luar gedung, dipamerkan benda-benda yang pernah dipakai oleh perusahaan-perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi zaman dulu.

Secara umum museum ini sudah baik. Hanya kebersihan koleksi yang kurang perhatian pengelola. Pencahayaan juga kurang bagus.


Museum Listrik dan Energi Baru

Museum ini mulai dibangun pada 1992 dan diresmikan pada 20 April 1995. Arsitektur bangunan sangat menarik, terdiri atas Anjungan Listrik dan Anjungan Energi Baru. Namun pembangunan Anjungan Energi Fosil dan Anjungan Energi Konvensional belum terlaksana.

Listrik-01

Museum Listrik dan Energi Baru merupakan museum yang inovatif dan berorientasi ke masa depan. Fungsi rekreatif dan edukatifnya sangat diutamakan. Kesan museum sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda kuno tidak terlihat di sini. Karena merupakan museum sains atau iptek, jelas informasi kelistrikan dan energi cukup banyak tersedia. Bahkan lampu akan menyala secara otomatis apabila pengunjung melewati sebuah areal. Jelas merupakan contoh untuk penghematan listrik.

Koleksi-koleksi peragaan disajikan dengan teknologi mekanik dan elektronik modern (audio-visual) untuk memberi penjelasan yang interaktif. Koleksi terbesar berupa peragaan reaktor nuklir PWR (Pressurized Water Reactor). Karena dibuat sesuai ukuran aslinya, maka koleksi ini menjulang dari lantai I sampai lantai III.

Listrik-02Naik ke lantai II pengunjung dapat menyaksikan berbagai bentuk energi yang tersedia di alam dan penggolongannya. Sejarah pemanfaatan energi sepanjang peradaban manusia sampai kepada informasi sejarah penemuan listrik, ditampilkan dalam bentuk panel replika dari percobaan-percobaan yang pernah dilakukan para penemu listrik. Di sini tersedia beberapa peragaan interaktif. Di lantai III pengunjung bisa mempelajari proses penyaluran listrik hingga sampai ke konsumen.

Anjungan Energi Baru juga terdiri atas tiga lantai. Peragaan di lantai I memungkinkan pengunjung mengetahui daerah mana saja yang memiliki potensi energi baru. Di lantai II dan III pengunjung dapat mengetahui jenis-jenis energi terbarukan, seperti energi matahari, energi samudra, energi angin, energi biomassa, energi panas bumi, dan energi nuklir.

Sudah tahu tenaga matahari bisa digunakan untuk apa saja? Museum ini memamerkan kompor tenaga surya yang bentuknya seperti antena parabola. Juga ada mobil tenaga surya yang disebut Widya Wahana karya para mahasiswa ITS Surabaya. Lalu apa hubungannya matahari dengan surya? Surya adalah Dewa Matahari sebagaimana kepercayaan masyarakat Hindu masa silam.

Disayangkan museum ini pun sepi pengunjung, apalagi ruangannya terkesan gelap. Seorang ibu yang membawa putranya pun buru-buru mengajak anaknya pergi. Kata si ibu, lebih bagus Pusat Peragaan Iptek yang juga terletak di TMII, meskipun harga tiketnya Rp16.500. “Di sana anak-anak bisa bermain dan merasakan gerakan seolah-olah gempa,” katanya. Di museum ini harga tiket Rp5.000.

Museumnya memang lumayan, tapi yang cukup mengganjal adalah lift tidak berfungsi. Ada juga kesan museum kurang diperhatikan. Tampaknya kalau hujan, beberapa bagian atap museum bocor. Beberapa ember terlihat masih tergeletak di lantai. Tak urung seorang rekan nyeletuk, “Museum di hatiku, ember di museumku”. Museum di Hatiku adalah tagline Gerakan Nasional Cinta Museum yang didengungkan pada 2010 lalu.

Ember


Museum Prangko Indonesia

Museum Prangko Indonesia diresmikan pada 29 September 1983. Bangunannya berdiri di atas tanah 9.590 meter persegi.

Prangko-01Menikmati prangko identik mengenal peradaban manusia. Maka pada bagian awal diungkapkan diorama Surat Daun Lontar. Lewat sarana inilah surat mulanya ditulis. Sebuah patung Hanoman terdapat di tengah bangunan pendopo. Dalam dunia pewayangan, Hanoman adalah duta pembawa berita. Sekarang tentu saja merupakan misi PT Pos Indonesia.

Bis surat zaman kolonial Belanda dan masa pasca kemerdekaan menjadi koleksi terdepan museum. Masuk ke museum ini harus dari sebelah kiri. Mula-mula kita menuju Ruang Penyajian 1, yakni tentang sejarah prangko Indonesia. Ruang ini menyajikan hal sekilas tentang budaya menulis surat dan sejarah prangko. Materinya berupa foto, patung, dan lukisan. Boleh dibilang ikon di ruang ini adalah lukisan pembuatan jalan pos dari Anyer ke Panarukan sepanjang 1.000 kilometer tahun 1808 zaman Daendels.

Prangko-02Ruang Penyajian 2 berupa proses pencetakan prangko. Di Indonesia pencetakan prangko dimulai pada 1945, dirancang dengan gambar dan warna sederhana, lalu dicetak dengan kertas merang.

Di sebelahnya adalah Ruang Penyajian 3 dan 4 berupa prangko berdasarkan periode penerbitan. Ternyata prangko digunakan di Nusantara sejak 1864. Selain dari masa pemerintahan Hindia Belanda, penerbitan prangko tetap dilanjutkan pada masa pendudukan Jepang, masa perang kemerdekaan, dan masa setelah perang kemerdekaan.

Prangko-03Ruang Penyajian 5 dan 6 berisi koleksi prangko tematik. Berbagai tema ditampilkan dalam penerbitan prangko, antara lain sosial budaya, pariwisata, flora, fauna, lingkungan hidup, kemanusiaan, dan kebudayaan.

Ruang Penyajian 7 adalah penyajian filateli. Filateli adalah kegiatan mengumpulkan prangko, baik prangko baru maupun prangko bekas. Juga benda-benda pos lain, seperti sampul hari pertama, carik kenangan, kartupos, dan pos wesel.

Menurut informasi penjaga museum, di sini pernah diluncurkan prangko bertema khusus pada 11 November 2011 atau 11-11-11. Di bagian tengah dipamerkan gaun pengantin berhiaskan prangko. Sayang koleksi ini mudah disentuh pengunjung sehingga kondisinya mengkhawatirkan.

Seharusnya museum ini diubah menjadi Museum Filateli, jadi lebih luas dan tidak sekadar prangko. Sayang menurut pegawai PT Pos Indonesia, pihak manajemen kurang memberikan perhatian kepada museum. Saat itu saja beberapa lampu yang mati belum diganti sehingga mengganggu pengunjung untuk mengamati koleksi lebih jelas.


Museum Pusaka

Hari itu museum terakhir yang kami kunjungi adalah Museum Pusaka. Koleksi Museum Pusaka merupakan hibah dari Museum Tosan Aji milik almarhum Masagung. Museum Pusaka diresmikan pada 20 April 1993, sebelumnya dikenal sebagai Museum Keris.

Pusaka-04Bangunan museum terdiri atas dua lantai. Lantai Dasar menampilkan berbagai benda pusaka dari seluruh wilayah Nusantara. Sementara lantai atas menyajikan pengenalan dan bagian-bagian dari pusaka, seperti Ruang Dapur Pusaka, Ruang Tangguh Pusaka, Ruang Pamor Pusaka, dan Ruang Bentuk Bilah Pusaka.

Pusaka yang ditampilkan di museum ini kebanyakan berupa keris dari berbagai daerah. Ada juga tombak dan pedang. Dari Jawa Barat terlihat ada kujang.

Pusaka-06Nah, “ember di museumku” juga ada di museum ini. Sisa-sisa bocor akibat hujan terlihat di beberapa bagian. Jangankan kejatuhan air secara langsung, kondisi tembok yang lembab pun sebenarnya berbahaya bagi koleksi.


Museum Asmat

Minggu-minggu sebelumnya, kami telah mengunjungi beberapa museum, di antaranya Museum Asmat, Museum Transportasi, dan Museum Keprajuritan Indonesia.

Asmat-01Museum Asmat dibangun untuk melestarikan dan mengomunikasikan hasil karya anak bangsa yang mengagumkan agar bisa dinikmati masyarakat dunia. Sebelum ini memang karya seni Asmat telah mampu membius masyarakat.

Bangunan museum memiliki luas 6.500 meter persegi, berbentuk kerucut model bangunan tradisional Irian/Papua “Kariwari”, yakni bangunan pemujaan orang Tobati Enggros, penduduk asli di tepi Danau Sentani, Papua.

Denah bangunan bersegi delapan dengan model berkolong. Bagian atas bangunan terbuat dari bahan GRC (Glass Reserfocis Cement) dan dicat berkesan daun rumbia. Pada beberapa elemen bangunan diukirkan ragam hias khas Asmat dengan warna merah, putih, dan hitam. Pembangunan museum dimulai pada 20 Februari 1986 dan diresmikan pada 20 April 1986 oleh Presiden Soeharto.

Asmat-03

Museum Asmat merupakan museum etnografi yang menceritakan keluhuran suku Asmat, menggambarkan lingkungan tempat tinggal, pandangan hidup, dan bagaimana cara mereka beradaptasi dengan alam liar, hutan rimba, dan sungai berlumpur.

Koleksi yang ditampilkan berupa benda-benda kebudayaan yang mengandung nilai keperkasaan yang dapat mengungkap pandangan hidup orang Asmat

Tata pamer dibuat dalam beberapa tema. Bangunan pertama bertema “Manusia dan Lingkungannya”, memamerkan bermacam-macam pakaian adat dan aksesoris, diorama mata pencarian hidup (menokok sagu), perahu arwah (kendaraan roh nenek moyang), mbis pole (patung nenek moyang), dan bermacam macam ornamen simbol yang menceritakan kehidupan.

Bangunan kedua bertema “Manusia dan Kebudayaannya”. Benda yang disajikan berupa peralatan proses pembuatan sagu, peralatan berburu, senjata, benda-benda budaya, Tifa (alat musik kendang), Fu (alat musik dari bambu), dan kapak batu.

Bangunan ketiga bertema “Manusia dan Hasil Kreativitasnya”, memamerkan seni kontemporer hasil pengembangan pola-pola rancangan seni tradisional. Di sini bisa disaksikan hasil seni karya orang Asmat yang telah modern dan mengacu pada permintaan pasar, tetapi masih berpijak pada pola-pola rancangan tradisional. Pengukir Asmat disebut wow ipits. Mereka menggunakan alat-alat sederhana, seperti kapak batu, gigi binatang, dan cangkang siput untuk berkarya.

Museum Asmat terbilang bagus karena sudah tersentuh revitalisasi museum, semacam program renovasi fisik dan non-fisik. Meskipun begitu tetap masih ada kekurangan dalam tata pamer, misalnya koleksi yang terlalu besar ada yang menutupi gambar latar.

Kami sempat berfoto menggunakan pakaian dan aksesori Asmat. Wow…lumayan buat narsis.


Museum Transportasi

Sejumlah museum yang ada di TMII ternyata milik beberapa institusi. Museum Transportasi, misalnya, adalah lembaga permanen milik Kementerian Perhubungan. Tujuan pendiriannya adalah untuk mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah dan perkembangan transportasi, serta peranannya dalam pembangunan nasional. Maksud dan tujuan lain adalah memberikan informasi dan tambahan pengetahuan kepada masyarakat mengenai sejarah perkembangan teknologi transportasi sekaligus sebagai tempat rekreasi yang edukatif. Sebelumnya museum ini direncanakan hanya untuk Museum Kereta Api.

Perencanaan Museum Transportasi dilaksanakan pada 1984, sementara peresmiannya dilakukan pada 20 April 1991 oleh Presiden Soeharto. Museum Transportasi menempati areal seluas 6,25 hektar.

Pameran diselenggarakan di dalam dan di luar ruang. Pameran di dalam ruang dibagi dalam beberapa ruangan, yang seolah-olah merupakan bangunan tersendiri. Ruangan tersebut disebut modul, terdiri atas modul pusat, modul darat, modul laut, dan modul udara. Disajikan dengan benda asli, tiruan, miniatur, foto, dan diorama.

Modul pusat menggambarkan keberadaan transportasi tradisional masa lampau, mencakup transportasi darat dan laut dari berbagai daerah di Indonesia. Koleksinya berupa alat transportasi sederhana dengan menggunakan tenaga manusia, hewan, atau angin, antara lain cikar, andong, bendi, becak, dan perahu layar.

Modul darat menggambarkan keberadaan dan layanan transportasi darat, mencakup transportasi jalan raya, jalan baja, sungai, danau, dan penyeberangan. Koleksinya berupa alat transportasi yang sudah mulai menggunakan tenaga mesin awal sampai sekarang, antara lain cikar DAMRI yang berperan pada masa kemerdekaan (1946) sebagai alat angkut logistik militer di wilayah Surabaya dan Mojokerto.

Modul laut menggambarkan keberadaan dan layanan jasa transportasi laut yang telah menggunakan mesin, mencakup berbagai kapal penumpang, container, dok terapung, dan peralatan penunjangnya. Dilengkapi paparan teknologi kelautan dengan berbagai jenis kapal laut, prasarana yang ada dewasa ini, dan peralatan penunjang lain.

Modul udara menggambarkan keberadaan dan layanan jasa transportasi udara, perkembangannya, dan teknologi peralatan transportasi udara. Koleksinya mencakup pesawat terbang, peralatan transportasi udara, dan peralatan bandar udara.

Pameran luar statis menampilkan berbagai jenis lokomotif generasi pertama, termasuk rel kereta api dan terowongan, Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden Rl Pertama Soekarno-Hatta pada waktu Pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, bis tingkat yang pernah dioperasikan di Indonesia, serta pesawat udara jenis DC-9 PK-GNT milik Garuda Indonesia yang pernah melayani penerbangan ke negara-negara ASEAN dan Australia.

Museum ini cukup informatif. Hanya beberapa label perlu diperbesar hurufnya dan diubah penempatannya agar lebih mudah dibaca. Pada hari libur pengunjung bisa menaiki pesawat yang ada di halaman. Itu yang membuat museum cukup diminati.


Museum Keprajuritan Indonesia

Museum Keprajuritan Indonesia diresmikan pada 5 Juli 1987 oleh Presiden Soeharto. Museum ini dibangun dalam bentuk benteng bersegi lima, dengan luas bangunan 7.545 meter persegi di atas tanah seluas 4,5 hektar. Bentuk benteng melambangkan pertahanan bangsa Indonesia yang berfungsi sebagai alat penangkal dari segala bentuk ancaman. Segi lima melambangkan kekukuhan falsafah Pancasila.

Lima bastion atau menara pengawas di setiap sudut benteng melambangkan pentingnya kewaspadaan dan Wawasan Nusantara. Pintu gerbang utama, tempat masuk keluar pengunjung, meniru model abad ke-16 mencerminkan sifat terbuka dan ramah tamah rakyat Indonesia.

Danau buatan di depan benteng melukiskan wilayah Indonesia yang terdiri atas berbagai pulau dan lautan. Dua kapal tradisional Banten dan Phinisi Bugis bermakna kekuatan maritim Indonesia. Dermaga di pinggir danau yang dilengkapi perahu, melambangkan kegiatan dan kesibukan perekonomian serta hubungan antarpulau waktu itu.

Koleksi museum disajikan dalam bentuk diorama, fragmen patung, dan relief. Pada garis besarnya ada dua kelompok pameran, yaitu bagian luar dan bagian dalam. Dinding luar bagian bawah benteng diisi dengan peragaan fragmen patung dan relief yang menggambarkan perlawanan bangsa Indonesia menghadapi kekuatan asing. Adegan-adegan yang disajikan berupa cukilan kisah sejarah keprajuritan dan kepahlawanan dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah adegan ada 19.

Pada bagian dalam ada dua ruang, yaitu ruang diorama dan ruang pamer. Kedua ruang ini terletak di lantai dua. Di sini dijumpai benda-benda relik atau replika senjata, pakaian perang, panji, dan boneka peraga pakaian prajurit. Selain itu ada penyajian gelar formasi perang dan miniatur benteng.

Di depan diorama terpasang lemari kaca yang berisi penjelasan dari masing-masing cerita. Semua cerita menggambarkan perlawanan terhadap penjajah untuk mempertahankan tanah air Indonesia. Totalnya ada 14 diorama, mewakili abad ke-7 hingga abad ke-19.

Di halaman bawah bagian dalam dipamerkan 23 patung pahlawan yang dibuat dari perunggu berukuran 1 ¼ besar manusia. Tokoh-tokoh itu antara lain Gajah Mada, Sultan Agung, Sultan Ageng Tirtayasa, Nyi Ageng Serang, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, dan Teuku Umar.

Sayang pencahayaan kurang terang. Beberapa vandalisme terlihat di dinding, pemandangan yang cukup mengganggu.


Museum Serangga

Masih belum puas, sehabis makan siang kami memaksakan ke Museum Serangga. Tujuan pendirian museum ini adalah memperkenalkan keanekaragaman dunia serangga, merangsang keinginan, dan kepedulian masyarakat terhadap peran dan potensinya di alam.

Peresmian Museum Serangga dilakukan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1993. Pada 1998 Museum Serangga menambah fasilitas baru berupa Taman Kupu beserta kebun pakan, kandang penangkaran, dan laboratorium. Hal ini dimaksudkan untuk pelestarian kupu-kupu yang dilindungi dan langka Museum Serangga dan Taman Kupu menempati areal seluas 500 meter persegi dengan mengambil bentuk bangunan tubuh belalang.

Seluruh koleksi berasal dari kepulauan Indonesia, banyaknya sekitar 600 jenis. Koleksi kupu-kupunya sekitar 250 jenis, kumbang sekitar 200 jenis, dan kelompok serangga lain sekitar 150 jenis. Serangga-serangga itu dipamerkan berdasarkan asal daerah dan taksonomi.

Koleksi dipamerkan dalam kotak kaca dan diberi judul Pesona Kumbang Nusantara, Peranan Serangga Tanah dalam Ekosistem dan Pelestarian Ekosistem, Peta Serangga Indonesia, Serangga-serangga Perombak, Peta Kupu-kupu Indonesia, Kupu-kupu Bantimurung, dan Serangga-serangga di Pekarangan. Ada juga koleksi unik berupa kupu-kupu banci, semut raksasa, dan jengkerik raksasa.

Selain koleksi serangga mati, museum juga memiliki koleksi serangga hidup, antara lain kumbang tanduk, kumbang air, lebah madu, belalang ranting, belalang daun, dan kumbang badak.

Di Museum Serangga dan Taman Kupu tersedia layanan bagi masyarakat yang ingin belajar cara membuat awetan serangga berupa bimbingan umum dan bimbingan praktek. Selain itu ada pemutaran film tentang kehidupan serangga di ruang audio-visual dan layanan pustaka.

Sangat menarik bagi anak-anak.


Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal

Menjelang pulang kami mengunjungi Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Soalnya lokasi museum ini dekat pintu I TMII. Gagasan awal pendirian Bayt Al-Qur’an muncul dari Menteri Agama, H. Tarmizi Taher pada 1994. Bayt Al-Qur’an atau Rumah Al-Qur’an merupakan tempat untuk menghimpun, menyimpan, memelihara, dan memamerkan mushaf Al-Qur’an dari berbagai macam bentuk dan jenis, yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.

Pada penyelenggaraan Festival Istiqlal 1995, banyak dihimpun benda koleksi budaya Islam Nusantara yang saat itu belum terpikirkan akan ditempatkan di mana. Sejak itu timbul rencana untuk menggabungkan gagasan pendirian Bayt Al-Qur’an dengan Museum Istiqlal. Pada 20 April 1997 Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal dibuka resmi oleh Presiden Soeharto.

Bayt Al-Qur’an menyimpan materi inti yang merupakan hasil pemahaman, pengkajian, dan apresiasi umat Islam Indonesia terhadap kitab sucinya. Koleksinya meliputi manuskrip Al-Qur’an, Al-Qur’an cetakan, Al-Qur’an produk elektronik dan digital, terjemahan dan tafsir Al-Qur’an, serta karya seni dan tradisi Qur’ani.

Koleksi terunik adalah Al-Qur’an Huruf Arab Braille buatan 1964, Al-Qur’an Terbesar Mushaf Wonosobo ditulis 16 Oktober 1991-7 Desember 1992 dan berukuran 150 sentimeter x 200 sentimeter, Al-Qur’an Tertua La Lino (1815), dan Mushaf Cetakan Mini berukuran 2 sentimeter x 2,5 sentimeter x 0,7 sentimeter.

Museum Istiqlal menyajikan karya seni budaya bangsa Indonesia yang bernapaskan Islam, antara lain manuskrip keagamaan, karya arsitektur, tekstil, nisan, seni rupa tradisional, seni rupa modern, dan benda-benda warisan budaya Islam lain. Tradisi tekstil umumnya berhubungan erat dengan istana-istana kerajaan Islam. Ikut dipamerkan beberapa alat untuk memproduksi tekstil, seperti alat tenun, canting, dan alat batik cap.

Karya arsitektur Islami yang berpadu dengan budaya lokal dari berbagai suku bangsa di Indonesia, disajikan dalam media foto, maket, miniatur, dan denah. Nisan sebagai bukti arkeologis bagi sejarah dan masuknya Islam di Nusantara, melengkapi koleksi Museum Istiqlal. Nisan-nisan tersebut juga merupakan prasasti yang menceritakan riwayat kerajaan dan masyarakat sekitar pada masa lalu.

Disayangkan beberapa koleksi museum dalam kondisi kurang terawat. Pastinya beberapa koleksi perlu upaya konservasi, dalam rangka memperpanjang usia kertas.


Kurang Urus

Beberapa museum belum sempat kami kunjungi. Namun dari sejumlah museum ini tergambar banyak museum belum dihargai oleh masyarakat. Di pihak lain pihak manajemen belum sadar akan arti dan fungsi museum. Tampak beberapa museum masih kurang urus, antara lain Museum Telekomunikasi dan Museum Olahraga. Memang beberapa museum bukan milik TMII tetapi institusi tertentu.

Di banyak negara museum merupakan sumber belajar. Karena itu penataan museum dibuat semenarik, seinteraktif, dan semodern mungkin. Karena itu untuk memasuki museum saja, pengunjung harus antre panjang.

Sebaliknya di sini museum dijauhkan pengunjung karena kesan angker, kuno, kotor, dan gelap. Tentu saja pandangan harus diubah. Hanya kitalah, pengelola museum dan pengunjung, yang mampu mengubahnya.

Sebaiknya museum dibuat seperti galeri dengan pencahayaan lumayan terang. Dengan pencahayaan seperti ini pengunjung akan mudah berfoto ria. Apalagi pengunjung sering kali dengan spontan mengunggah fotonya ke berbagai media sosial secara cepat.

Jelas hal ini merupakan salah satu bentuk promosi yang murah. Tentu saja untuk mendukung hal ini, setiap museum harus punya ikon. Lewat ikon itulah sebuah museum akan lebih dikenal.

Mengingat di kompleks TMII ada sekitar 20 museum, sebaiknya pengelola membuat Kartu Museum. Kartu ini berfungsi sebagai karcis masuk ke semua museum yang ada di TMII. Kartu ini harus berdesain sedemikian rupa dengan masa berlaku tertentu. Setiap enam bulan kartu tersebut diganti dengan gambar lain. Aneka gambar pasti akan menarik perhatian para kolektor. Tentang harga jual kartu tergantung kesepakatan pengelola TMII, yang jelas harus berpihak kepada masyarakat kelas bawah. Untuk mengundang minat, sebaiknya harga kartu termasuk karcis masuk pintu gerbang.

Demikianlah pandangan kami tentang museum-museum di TMII. Selamat ulang tahun ke-39, semoga TMII makin jaya.

Kompetisi Blog dan Jurnalistik Taman Mini Indonesia Indah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: