Oleh: museumku | 2 Maret 2011

Hukum Linus untuk Museum

Solopos, Kamis, 24 Februari 2011 – Malam pertama sangat menegangkan bagi Larry Daley. Sebagai pegawai baru penjaga malam museum ilmu pengetahuan, ia terkejut ketika koleksi museum menjadi hidup ketika malam hari tiba.

Ia mendapati dirinya diuber-uber kerangka Tyrannosaurus rex, singa, jadi bulan-bulanan kera, terjepit perseteruan boneka koboi melawan jenderal Romawi.

Di akhir cerita, selain diselamatkan oleh arahan patung lilin Presiden ke-26 AS, Theodore Roosevelt, Larry Daley pun mampu membongkar rencana jahat trio pensiunan penjaga museum bersangkutan yang berencana mencuri tablet kuno Mesir dan menjadikan Larry sebagai kambing hitamnya.

Itulah seulas cerita dari film laris Night at the Museum (2006), yang dibintangi Ben Stiller sampai Robin Williams. Film ini dilanjutkan sekuelnya Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009). Kata “malam” dalam judul menunjukkan metafora mengenai kegelapan, misteri, rahasia dan bahkan kemudian semua hal itu erat terkait dengan tindak kejahatan. Itulah pula kiranya yang pernah terjadi ketika malam-malam misteri menyelimuti Museum Radya Pustaka Solo, sampai akhirnya meledakkan kehebohan yang mengagetkan. Di museum yang didirikan pada masa Paku Buwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada 28 Oktober 1890, rupanya diam-diam telah terjadi tindak kejahatan besar dan terencana terhadap koleksinya, juga oleh orang dalam sendiri.

Kepala Museum Radya Pustaka, KRH Darmodipuro (Mbah Hadi almarhum) ditahan karena terlibat dalam kasus hilangnya sejumlah koleksi museum. Antara lain lima arca batu buatan abad ke-4 dan 9 yang dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 80 juta-Rp 270 juta per arca. Penyelidikan menunjukkan bahwa koleksi museum yang hilang diganti dengan barang palsu. Kehebohan mencuat lagi hari-hari ini terkait dugaan keras dipalsukannya koleksi wayang kulit dari museum bersangkutan.

Skandal menyedihkan dan memalukan itu merupakan cerminan sekaligus tamparan pahit terkait pandangan sampai pengelolaan kita terhadap lembaga museum selama ini. Bukti itu juga menunjukkan betapa sangat lemahnya pengamanan museum-museum kita sehingga membuat khasanah langka museum-museum kita terancam mudah raib untuk dicuri dan dimiliki oleh mereka yang tidak berhak.

Problematika dalam pengelolaan museum-museum kita memang kompleks. Dari minimnya dana operasi, apresiasi pengunjung yang belum berkembang, tak ada promosi, sampai masalah internal museum sendiri yang menyangkut pengamanan. Untuk mampu keluar dari lilitan beragam masalah kronis tersebut boleh jadi dapat ditempuh dengan pendekatan baru, dengan antara lain berikhtiar mencangkokkan apa yang terjadi dalam dunia peranti lunak komputer dalam kiprah pengelolaan museum kita. Kita kiranya dapat belajar dari seorang Linus Torvald, penemu peranti lunak open source Linux yang ternama.

Linus Torvald dalam merancang Linux sengaja membuka kode-kode peranti lunak temuannya itu kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, menurutnya, banyak kalangan mampu menemukan cacat, kekurangan dan kemudian memperbaikinya. Kolaborasi yang melibatkan banyak pihak tersebut membuat peranti lunak Linux semakin berguna bagi banyak kalangan. Fenomena ini kemudian memunculkan Hukum Linus Pertama yang berbunyi “Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan secara mudah”.


Orang tua angkat

Aplikasi Hukum Linus dalam museum adalah dengan membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menjadi orangtua angkat bagi tiap-tiap koleksi museum. Jadi tiap koleksi dapat diadopsi oleh banyak orang, yang diwujudkan dalam bentuk sertifikat yang memajang foto (asli) dan data koleksi, yang dapat mereka peroleh bila yang bersangkutan memberikan donasi tertentu.

Agar lebih kental misi pendidikan dan pelestariannya, sesuatu koleksi museum dapat diadopsi oleh sekolah-sekolah sampai perusahaan. Tidak hanya sekolah kota bersangkutan tetapi juga bagi sekolah-sekolah yang berada di luar kota, bahkan di luar negeri.

Dengan meluncurkan situs jaringan sosial di internet, pengelola museum dapat memfasilitasi para pemangku kepentingan terhadap koleksi museum bersangkutan untuk tergabung dalam komunitas dan mampu saling berinteraksi di dunia maya. Termasuk sebagai media untuk memberikan pertanggungjawaban pengelolaan dana secara transparan dan akuntabel.

Dengan cara ini, yang dalam kajian ekonomi dunia digital lazim disebut sebagai crowdsourcing, diharapkan tiap-tiap koleksi museum mampu dijaga dan diawasi oleh lebih banyak mata. Juga didanai pemeliharaannya oleh lebih banyak pihak dan terutama mampu membuat museum semakin lebih menarik untuk dicintai oleh masyarakat secara lebih luas.

Media jaringan sosial terbukti mampu menjadi pemersatu rakyat Mesir dalam menumbangkan diktator Hosni Mubarak, kini saatnya juga bisa kita gunakan secara kreatif untuk menyelamatkan museum-museum kita. – Bambang Haryanto Blogger, alumnus Universitas Indonesia, tinggal di Wonogiri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: