Oleh: museumku | 20 Maret 2016

Gambaran Proses Pengambilan Keputusan Keluarga untuk Mengapresiasi Peninggalan Budaya di Museum Nasional

Religi-05Pengunjung Museum Nasional (ilustrasi)


I. PENDAHULUAN

Museum adalah institusi permanen nirlaba yang memberi layanan pada masyarakat melalui kajian dan edukasi terhadap bukti-bukti material manusia dan lingkungannya (Hakiwai, 2005). Apabila dikaitkan dengan kehidupan kota, museum merupakan reservoir dari akumulasi lapisan demi lapisan sejarah yang merangkum berbagai kualitas yang dianggap penting bagi lingkungan urban (Giebelhausen, 2003) Museum memiliki peran manajemen peninggalan budaya (heritage management) yakni merawat dan mengembangkan peninggalan budaya secara berkala dengan merawat dan mempertahankannya demi generasi mendatang (Ndoro & Pwiti, 2005). Peninggalan budaya (cultural heritage) sendiri mencakup artefak, karya seni dan barang-barang lain yang penting secara historis atau kultural (Gilmour, 2007).

Pengelolaan peninggalan budaya bertujuan memelihara identitas bangsa, menghormati keberagaman kebudayaan dan menghargai kreativitas (Corsane, 2005). Selain itu, masyarakat mendapatkan rasa aman (sense of security) di tengah dunia yang serba tak pasti ini karena peninggalan budaya memberi persepsi keabadian yang tak lekang oleh zaman (Prentice, 2005). Peninggalan budaya dan aktivasi kenangan akan sejarah (historical memory) yang dilakukan museum berdampak pada pikiran, perasaan dan perilaku manusia (Weiten, 2010). Oleh karena itu, museum mengambil posisi sebagai ruang yang memfasilitasi komunikasi, diskusi, pertukaran dan interaksi (Mason, 2005). Museum dapat menjadi akselerator budaya (cultural accelerator) dengan menjadi pusat berbagai upaya penciptaan masyarakat madani (civil society) demi mewujudkan toleransi, penghormatan terhadap hak asasi manusia dan diskusi terbuka antara berbagai elemen masyarakat (Lord, 2007). Museum juga berperan membangun sumber daya manusia (human capital) melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan sikap individu yang memfasilitasi tercapainya kesejahteraan pribadi, sosial dan ekonomi (Newman, 2005).

Terhadap pendidikan, museum memberikan kontribusi berupa pembelajaran informal (informal learning). Pembelajaran informal dipahami sebagai pengalaman pembelajaran yang menekankan pada interaksi dengan pengalaman yang sebelumnya sudah dimiliki individu (Newman, 2005). Pembelajaran di museum (museum learning) merupakan pengalaman transformatif dimana individu mengembangkan sikap, minat, keyakinan atau nilai secara informal dan sukarela dan fokus pada konteks tertentu yakni obyek koleksi museum (Lord, 2007). Psikolog, guru, pemerhati pendidikan dan penggiat museum sepakat museum memberi pengalaman belajar yang penting untuk anak. Beberapa bahkan meyakini belajar di museum lebih efektif dibandingkan belajar di sekolah dan berdampak positif pada pembelajaran seumur hidup (lifelong learning), kecerdasan sosial (social intelligence) dan berpikir kreatif (creative thinking) (Haas, 2007). Pembelajaran di museum memberikan beragam pengalaman, momen kontemplasi terhadap berbagai obyek yang ditata berdasarkan sistem yang mendorong pengunjung mengekspresikan reaksi kekaguman (amazement), mistifikasi (mystification), penyadaran (realization) dan keterikatan personal (personal connection) (Leibhardt & Crowley, 2009).

Dalam melindungi, mempromosikan dan menafsirkan sumber daya budaya (cultural resources) yang menjadi koleksi milik museum, partisipasi publik terbilang penting (Hoffman, 1997). Dalam melibatkan publik, museum berupaya menjangkau keluarga dan sekolah sebagai konsumen utama (Haas, 2007). Tantangan yang dihadapi museum di Indonesia terkait partisipasi publik adalah kesulitan menyusun program-program yang bisa melibatkan para pengunjung dan menjawab kebutuhan mereka (Munandar, 2011).

Hal inilah yang dilakukan Museum Nasional Jakarta melalui program AkhirPekan @MuseumNasional bekerjasama dengan @Museum dan Teater Koma. Museum Nasional, dikenal sebagai Museum Gajah, adalah museum yang mengkoleksi artefak arkeologis, historis, etnografis dan budaya dari berbagai wilayah di Indonesia dan sepanjang periode dua abad (Rosi, 1998). Sekalipun biaya tiket terjangkau (Rp 7.000 untuk dewasa dan Rp. 5.000 untuk anak), pengunjung museum ini hanya 235.000 ribu berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2008 (Mariana, 2013). Program AkhirPekan@MuseumNasional bertujuan menciptakan interaksi museum-pengunjung (Soerjoatmodjo, 2015). Berbekal informasi dari halaman Facebook (Facebook page) “Akhir Pekan di Museum” dan akun Twitter @museum_weekend, keluarga datang pada hari Minggu untuk menikmati 3 (tiga) kali pertunjukkan menonton Teater Koma mementaskan penuturan cerita (storytelling) untuk anak selama 15-20 menit. Cerita tersebut mengambil inspirasi dari artefak museum yaitu “Keris Puputan Klungkung” (Teater Koma, 2013, 11 September), “Samurai Bersepeda” (Teater Koma, 2013, 26 September), “Karamnya Kapal Tek Sing” (Teater Koma, 2013, 11 Oktober), “Raibnya Celengan Majapahit” (Teater Koma, 2014b, 24 Januari), “Kuda Perang Pangeran Diponegoro” dan “Raksasa Bhairawa Pengasah Parang” (Teater Koma, 2014a, 24 Januari).

Berdasarkan kajian survei program, keluarga merupakan pengunjung terbanyak selain komunitas. Temuan ini menarik dikaji lebih lanjut demi mendapatkan gambaran di tingkat keluarga tentang proses pengambilan keputusan yang mereka lakukan. Hal ini karena kegiatan keluarga berkunjung ke museum mengapresiasi peninggalan budaya khususnya di Jakarta dan sekitarnya, berkompetisi dengan berbagai alternatif aktivitas waktu luang lainnya misalnya ke mall atau bercengkerama di rumah.

Penelitian ini diharapkan dapat menjawab masalah tentang bagaimana keluarga yang menjadi partisipan program AkhirPekan@MuseumNasional mengambil keputusan untuk berkunjung dan mengapresiasi peninggalan budaya.


II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1. Keluarga, Museum dan Pembelajaran Informal

Keluarga adalah kelompok individu yang saling terkait satu sama lainnya secara emosional, kognitif dan perilaku melalui komitmen bersama tanpa memandang keterikatan aspek legal, orientasi seksual, gender maupun fisik (Crosbie-Burnett & Klein, 2013). Keluarga terdiri sedikitnya 2 (dua) orang: pengelola rumah tangga (householder) dan orang lain yang terkait dengan pengelola rumah tangga berdasarkan hubungan darah, perkawinan, atau adopsi (Peter & Olson, 2010). Karena keluarga merupakan kelompok utama pengunjung museum, museum perlu memosisikan dirinya terhadap keluarga. Museum sebaiknya mengenali dan mengakomodasi agenda, gaya hidup dan sumber daya yang dimiliki keluarga dalam berperan sebagai sumber daya (resources) keluarga untuk belajar (Ellenbogen, 2002). Dengan mengkaji hal ini, museum dapat menciptakan berbagai situasi dan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Keluarga merupakan unit yang unik karena terdiri dari anggota-anggota yang berasal dari generasi berbeda dengan kebutuhan berbeda pula. Keluarga diketahui memiliki daya adaptasi dan respon yang baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan museum sehingga menumbuhkan aktivitas pembelajaran yang fleksibel (Hike, 1989). Berkunjung ke museum mengapresiasi peninggalan budaya pun diyakini memiliki dampak positif, khususnya pada anak yang merupakan anggota penting dalam keluarga. Eksplorasi keluarga menjadi pola pembelajaran yang berlangsung di museum (Falk & Dierking, 2000).Pembelajaran informal ini dilakukan berdasarkan interaksi dengan orang dewasa, sebagaimana dijelaskan Jensen (1999) berikut ini. Dalam interaksinya, anak butuh orang dewasa untuk memahami apa itu museum dan bagaimana museum memiliki koleksi peninggalan budaya yang datang dari periode waktu yang berbeda. Oleh karena itu, pengalaman pembelajaran museum anak perlu fokus pada artefak yang menarik dan relevan saja.

Fokus selektif dan terbatas membantu anak membangun penguasaan (sense of mastery) dalam lingkungan yang mungkin asing bagi dirinya. Untuk remaja, kebutuhan mereka adalah kesempatan belajar yang mendukung kemandirian. Bagi remaja, mempelajari latar belakang sebuah artefak dari aspek kekuasaan, konflik, peran, perjuangan demi keadilan maupun kehidupan asmara membantu mereka memahami isu-isu yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sendiri.

II.2. Pengambilan Keputusan Keluarga tentang Waktu Luang

Dalam melakukan proses di atas, keluarga melakukan pengambilan keputusan. Keputusan (decision) merupakan perilaku memilih antara dua atau lebih alternatif tindakan (Peter & Olson, 2010). Keputusan selalu membutuhkan pilihan-pilihan perilaku yang berbeda. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen (consumer decision making) merupakan proses integrasi dimana berbagai pengetahuan (knowledge) digunakan untuk mengevaluasi dua atau lebih alternatif perilaku untuk memilih salah satu. Apabila konsumen bermaksud guna mencapai tujuan tertentu, maka konsumen melakukan proses pengambilan keputusan dengan tujuan menyelesaikan masalah (problem solving), sehingga perilaku yang dipilih adalah yang bisa membawa mereka pada pencapaian tujuan. Dengan kata lain, pengambilan keputusan konsumen adalah proses pemecahan masalah yang diarahkan oleh tujuan (goal-directed) yang ingin dicapai (Peter & Olson, 2010).

Pengambilan keputusan keluarga (family decision making) merupakan proses yang kompleks, situasional dan dinamis sehingga perlu dipahami sebagai kesatuan utuh (Butler, Robinson & Scanlan, 2005). Hal ini karena pengambilan keputusan keluarga mencakup bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi dan mempengaruhi satu dengan lainnya saat mengambil keputusan terkait dengan kehidupan keluarga (Peter & Olson, 2010). Oleh karena itu, pengambilan keputusan terkait pemanfaatan waktu luang (leisure time) – yaitu waktu luang merupakan waktu yang dicurahkan tidak untuk melakukan tugas-tugas demi mencari nafkah – pun terbilang kompleks. Hal ini termasuk menentukan menentukan ‘apa’ yang keluarga lakukan di waktu luang dan ‘kemana’ keluarga pergi untuk mengisi waktu luang (Jenkins & Pigram, 2004).

Hal ini karena anggota keluarga punya peran-peran yang berbeda (Peter & Olson, 2010). Mengkaji pengambilan keputusan keluarga membutuhkan telaah terhadap interaksi sosial di antara anggota keluarga dan pola resiprokal dari pengaruh antara satu anggota keluarga dengan lainnya. Dalam proses pengambilan keputusan keluarga, peran-peran tersebut adalah:

  1. Influencer yaitu peran penyedia informasi untuk anggota keluarga lain terkait produk atau jasa tertentu
  2. Gate-keeper yaitu peran pengendali arus informasi kepada keluarga terkait produk atau jasa
  3. Decider yaitu peran penentu produk atau jasa yang dipilih keluarga
  4. Buyer yaitu peran pembeli produk atau jasa yang dipilih keluarga
  5. User yaitu peran pengguna produk atau jasa yang dipilih keluarga
  6. Disposer yaitu peran penghentian penggunaan produk dan jasa yang dipilih keluarga

Dalam proses pengambilan keputusan yang bersifat generik pada keluarga tradisional yang terdiri dari orang tua dan anak, orang tua hampir selalu dipandang menjadi penentu akhir (the final say) dalam menimbang keputusan yang diambil, aturan yang digunakan dalam mengambil keputusan (Butler, Robinson & Scanlan, 2005). Khususnya untuk perilaku konsumen, orang tua dan anak berada dalam posisi interaksi dua arah dimana orang tua dan anak sama-sama saling mempengaruhi (Marshall, 2010).

Terkait dengan pilihan aktivitas waktu luang termasuk berlibur dan berkunjung ke museum, diketahui bahwa ibu memainkan peran utama dalam mengidentifikasi alternatif pilihan dan berperan sebagai penjaga pintu gerbang (gate-keeper) dalam memulai diskusi, mengumpulkan informasi serta mengerjakan proses-proses yang bersifat teknis seperti memesan transportasi dan sebagainya. (Mottiar & Quinn, 2003). Terkait dengan keputusan seputar liburan dan waktu luang, keluarga cenderung membuat keputusan secara bersama-sama (Solomon, 2013). Analisis mendalam terhadap pengambilan keputusan keluarga mengkaji identitas keluarga (family identity), yang terkait dengan ritual, naratif (cerita yang disampaikan oleh anggota keluarga tentang keluarga mereka) serta interaksi setiap hari yang mempertahankan struktur dan karakter keluarga serta memperjelas hubungan anggota keluarga yang satu dengan yang lain (Solomon, 2011). Identitas keluarga inilah yang diperkuat oleh produk dan jasa tertentu, termasuk aktivitas keluarga untuk mengisi waktu luang.

II.3. Keluarga dan Pengalaman Budaya

Salah satu di antara aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh keluarga di waktu luang adalah pengalaman budaya (cultural experience) – termasuk di dalamnya berkunjung ke museum untuk mengapresiasi peninggalan budaya. Dalam hal konsumsi budaya (cultural consumption) atau transaksi finansial untuk membeli, berlangganan atau menyewa perangkat maupun konten budaya, termasuk di dalamnya pengalaman, keluarga memainkan peran penting (Rizzo & Mignosa, 2013).

Faktor kelas sosial juga mempengaruhi pengambilan keputusan keluarga yang memilih pengalaman budaya (cultural experience). Tren pada keluarga kelas menengah ke atas adalah mengkonsumsi pengalaman (misalnya liburan dan aktivitas waktu luang keluarga) dibandingkan mengkonsumsi barang (Shiffman, Kanuk & Wisenblit, 2010). Hal ini termasuk aktivitas budaya seperti menonton teater yang menjadi pilihan kegiatan di waktu luang pada keluarga kelas menengah ke atas.

Terkait keputusan memilih pengalaman budaya, keluarga sebagai konsumen mempertimbangkan faktor-faktor seperti lokasi, kenyaman serta partisipasi dalam pengalaman tersebut. Keputusan ini juga dipengaruhi oleh rekomendasi teman dan komunitas melalui media sosial yang lebih kuat dibandingkan rekomendasi media. Menurut Kolb (2013), proses yang terjadi terdiri dari tahap-tahap yang membentuk sebuah siklus, yakni sebagai berikut:

  1. mengenali kebutuhan (need recognition), misalnya apa yang akan keluarga lakukan di akhir pekan mendatang
  2. mencari informasi (information search) yang dibutuhkan, salah satunya melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter, agar keluarga tidak perlu menghadapi risko berpartisipasi dalam aktivitas yang tidak mereka butuhkan
  3. mengevaluasi alternatif (evaluation of alternatives), mulai dari harapan terhadap pengalaman budaya sampai kemudahan tempat parkir di lokasi, sebelum akhirnya keluarga membuat keputusan
  4. mengambil keputusan (decision making), contohnya keluarga memutuskan untuk membeli tiket
  5. mengevaluasi pasca pengambilan keputusan (post-decision making evaluation) saat keluarga memutuskan apakah harapan mereka terpenuhi atau justru mereka kecewa.

Terkait dengan keputusan mengapresiasi peninggalan budaya di museum, keluarga berhadapan dengan berbagai pilihan aktivitas waktu luang seperti berkunjung ke mall atau bercengkerama di rumah. Hal-hal yang penting bagi keluarga pengunjung museum adalah interaksi sosial (social interaction), partisipasi aktif (active participation) dan nilai-nilai hiburan (entertainment values) (Hood, 2008). Hal-hal tersebut yang menjadi pertimbangan keluarga dalam mengambil keputusan.

II.4. Program AkhirPekan@MuseumNasional

Bagian ini bertujuan untuk menggambarkan program AkhirPekan@ MuseumNasional. Museum Nasional atau lazim dikenal dengan Museum Gajah adalah museum dengan koleksi lebih dari 140.000 artefak dari berbagai daerah di Indonesia selama kurun waktu dua abad (Rosi, 1998). Sekalipun koleksinya terbilang luar biasa, harga tiket terjangkau yaitu Rp. 7.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak, serta lokasi di jantung ibukota yaitu di Jakarta Pusat, Museum Nasional yang sudah berusia 237 tahun ini hanya dikunjungi oleh 208.000 orang di tahun 2011 – sebuah angka yang tergolong kecil dibandingkan dengan 847.000 pengunjung National Museum of Singapore per tahun maupun 10 juta pengunjung per tahun untuk Louvre Museum di Perancis (Mariani, 2013).

Program AkhirPekan@MuseumNasional adalah program percontohan (pilot project) yang dikelola oleh konsultan @Museum dari bulan September sampai Desember 2013, yang dilanjutkan di tahun 2014 dari bulan Mei sampai Oktober 2014. Tujuan dari program ini adalah membangun interaksi antara museum dan pengunjung dengan cara menciptakan pengalaman. Mengutip Siregar (2013), hal ini dilakukan oleh @Museum dengan cara memproduksi sesi pentas dongeng berdurasi 15-20 menit yang diinspirasi dari koleksi museum dan diperankan oleh Teater Koma.

Menurut Soerjoatmodjo (2015), cerita dikembangkan oleh produser @Museum yang menyusun plot berdasarkan materi yang disediakan oleh tim dari Museum Nasional dalam bentuk kajian dan laporan penelitian. Sumber-sumber informasi ini mencakup informati faktual tentang artefak koleksi museum, konteks sejarah, bagaimana artefak ini ditemukan pertama kali, bahan baku artefak itu sendiri dan detil-detil teknis dan/atau kronologis lainnya. Produser @Museum kemudian membangun plot cerita fiksi dengan menggunakan informasi faktual tersebut sebagai jangkar. Plot kemudian dikembangkan berdasarkan situasi dan peristiwa imajiner yang dibayangkan mungkin terjadi di konteks dan kurun waktu tersebut. Untuk memastikan bahwa cerita fiksi ini masuk akal, maka plot dikonsultasikan dengan tim riset Museum Nasional.

Masih mengutip Soerjoatmodjo (2015), setelah plot selesai dikembangkan, sinopsis cerita singkat kemudian diberikan kepada tim Teater Koma. Tim ini kemudian menyusun skenario berupa serangkaian monolog atau dialog untuk diperankan oleh para narator. Cerita-cerita yang dibangun mengikuti struktur narasi sebagai berikut: pemaparan situasi, diikuti oleh peristiwa yang membuat narator memunculkan aksi tertentu, kemudian terjadi titik balik ketika narator mengatasi peristiwa tersebut sampai akhirnya peristiwa tersebut berhasil diselesaikan dan situasi kembali memasuki kondisi harmonis.

Soerjoatmodjo (2015) menjelaskan bahwa proses ini bersifat kolaboratif dan partisipatif. Tim @Museum dan Teater Koma sama-sama terlibat memilih dan memilah kata dalam naskah yang didiskusikan baik lewat pertemuan maupun via email. Untuk menambahkan muatan hiburan, naskah ini dibubuhi guyonan populer yang jadi tren saat itu – misalnya diambil dari berita infotainment maupun talkshow dengan melibatkan penonton untuk diajak bersahut-sahutan, metode yang juga dapat ditemukan di teater tradisional Betawi.

Program AkhirPekan@MuseumNasional ini dilakukan di hari Minggu pagi pukul 09:00, 10:00 dan 11:00 bertepatan dengan momen Car Free Day. Setiap program dipertunjukkan di lokasi tak jauh dari artefak yang menjadi sumber inspirasi. Setelah pertunjukkan selesai, semua anggota tim mulai dari produser sampai manajer panggung mengajak para penonton untuk menyerukan yel “Museum Nasional Hebat” agar dapat didokumentasikan di akhir sesi. Kemudian penonton diarahkan untuk mengikuti pemandu wisata yang bertugas untuk menyampaikan informasi terkait dengan artefak yang menjadi sumber inspirasi.

Di akhir pertunjukkan, penonton kemudian dapat mengisi kuesioner yang ditukar dengan pin. Informasi terkait program ini dikelola melalui halaman Facebook dan Twitter juga YouTube – di antaranya jadwal pertunjukan, lokasi sampai informasi yang terkait dengan konteks artefak seperti informasi tentang legenda seputar artefak, bagaimana artefak ditemukan dan dirawat dan sebagainya.

Perlu dicatat bahwa program AkhirPekan@MuseumNasional di tahun 2013 mencakup 6 (enam) pentas dongeng yaitu “Keris Puputan Klungkung,” “Samurai Bersepeda,” “Karamnya Kapal Tek Sing,” “Raibnya Celengan Majapahit,” “Kuda Perang Pangeran Diponegoro” dan “Raksasa Bhairawa Pengasah Parang.” Keenam pentas dongeng ini telah diulas dalam penelitian Soerjoatmodjo (2015).

Sebagai penelitian lanjutan, maka penelitian ini fokus pada pentas dongeng yang dilakukan di Mei-November 2014 yaitu “Raksasa Bhairawa Pengasah Parang” (Teater Koma, 2014a, 24 Januari), “Monalisa dari Singhasari” (Teater Koma, 2014a, 4 November), “Semerbak Penggoda Raja Kelana” (Teater Koma, 2014b, 4 November) “Tenggelamnya Kapal Tek Sing” (Teater Koma, 2013, 11 Oktober) “Kuda Perang Pangeran Diponegoro”, “Wayang Kalijaga, si Brandal Lokajaya” (Teater Koma, 2014c, 4 November), “Nenek Moyangku Orang Pelaut” (Teater Koma, 2014e, 4 November), “Ribut-Ribut si Bumbung dan Si Coak” (Teater Koma, 2014c, 4 November) dan “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Teater Koma, 2014e, 4 November).

Sebagai tambahan, di tahun 2014, program AkhirPekan@MuseumNasional berkesempatan mempertunjukkan pentas dongeng di luar Museum Nasional yakni di Museum Sejarah Jakarta atau lazim dikenal sebagai Museum Fatahillah, hal yang dimungkinkan karena adanya konteks yang terkait: Kapal Tek Sing dalam pentas dongeng “Tenggelamnya Kapal Tek Sing” mengarah ke Batavia yang disimbolisasikan dengan Museum Sejarah Jakarta dan Pangeran Diponegoro dalam pentas dongeng “Kuda Perang Pangeran Diponegoro” pernah ditahan di penjara bawah tanah yang ada di Museum Sejarah Jakarta. Tentang sinopsis, lihat Tabel 1 di bawah ini.


Tabel 1 Pentas Dongeng AkhirPekan@MuseumNasional tahun 2014
(Soerjoatmodjo, 2014)

Gita-01

Gita-02


III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini didesain sebagai penelitian deskriptif kualitatif karena bertujuan untuk memahami dan mendapatkan gambaran mengenai pengalaman subyektif manusia (subjective human experience) (Gilgun, 2005). Fokus penelitian kualitatif adalah pada makna yang diberikan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang kehidupan, termasuk interpretasi yang dibuat oleh individu atas diri mereka (Gilgun, 2013).  Merriams (2009) menjelaskan bahwa metode kualitatif ini memiliki keterbatasan karena temuan-temuannya tidak dapat digeneralisasikan pada populasi umum, akan tetapi sampai derajat tertentu hasil-hasil penelitian kualitatif dapat ditransfer ke lingkup lain yang serupa.

Strategi penggalian (strategy of inquiry) yang digunakan untuk penelitian ini adalah studi kasus (case studies) karena memiliki kekuatan dari segi kedalaman (depth), pemahaman terhadap konteks dan proses, pemahaman tentang hal-hal apa yang menyebabkan terjadinya fenomena melalui keterkaitan antara sebab dan akibat, serta mendorong terbentuknya hipotesis dan pertanyaan riset baru (Flyvbjerg, 2011). Kumar (2011) juga menambahkan bahwa studi kasus berguna untuk mengeksplorasi area-area dimana peneliti bermaksud mendapatkan pemahaman yang holistik terhadap suatu kasus, proses dan dinamika interaksional dalam sebuah unit kajian. Metode yang digunakan adalah interpretative phenomenology analysis yang fokus pada pengalaman yang dijalani (livedexperience) serta pemahaman terhadap individu yang berada di dalam konteks keluarga, komunitas dan institusi (Gilgun, 2005). Pada saat individu melibatkan diri dengan ‘sebuah pengalaman’ tentang hal tertentu dalam hidupnya, maka individu tersebut mulai berrefleksi atas makna pengalaman tersebut – dan inilah yang menjadi fokus dari interpretative phenomenology analysis (Smith, Flowers & Larkin, 2009) Tujuan metode ini adalah eksplorasi mendetil tentang bagaimana individu memberi makna pada dunia pribadi dan sosial dalam konteks tertentu dengan cara mengkaji makna dari pengalaman, peristiwa, obyek, persepsi atau kondisi tertentu (Smith & Osborn, 2008). Pendekatan ini sesuai dengan perspektif yang memandang museum sebagai institusi kenangan (a memory institution) dimana masa lalu diingat menurut periode waktu, berdasarkan lokasi, serta dengan cara mengaitkan gagasan atau gambaran pola pikir dengan kelompok sosial tertentu. Memori akan hanya jadi sejarah apabila tidak dikaitkan dengan pengalaman yang dijalani (lived experience) (Russo, 2013).

Selama bulan Mei-Desember 2014, terdapat 9 (sembilan) pentas dongeng AkhirPekan@MuseumNasional (lihat Tabel 2 pada bab sebelumnya). Penelitian ini memilih untuk fokus pada 7 (tujuh) pementasan dongeng yang berlangsung di Museum Nasional saja (2 (dua) lainnya berlangsung di Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah). Hal ini dilakukan demi menjaga fokus konteks penelitian. Dengan demikian, maka pentas dongeng diteliti adalah sebagai berikut: (1) Raksasa Bhairawa Pengasah Parang, (2) Monalisa dari Singhasari, (3) Semerbak Penggoda Raja Kelana, (4) Wayang Kalijaga, Si Brandal Lokajaya, (5) Ribut-ribut si Bumbung dan si Coak (6) Nenek Moyangku Orang Pelaut dan (7) Habis Gelap Terbitlah Terang. Adapun tiap pentas dongeng disajikan masing-masing sebanyak 3 (tiga) kali dalam satu hari pementasan. Dengan demikian, total jumlah pentas dalam penelitian adalah 21 (dua puluh satu) pentas dongeng. Partisipan yang diwawancara dan diobservasi adalah mereka berpartisipasi dalam program AkhirPekan@MuseumNasional. Definisi operasional untuk keluarga yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelompok individu yang terdiri dari minimal 2 (dua) orang; terdiri dari anggota yang kelompok usia anak (mulai dari usia sekolah sampai usia remaja atau adolescence maksimal 20 tahun) dan kelompok usia dewasa (adult atau 20 tahun ke atas) dan memiliki hubungan darah di antara keduanya. Dengan demikian, hal ini berlaku untuk relasi ayah-ibu-anak, paman-tante-keponakan dan kombinasi relasional marital lainnya yang sesuai, termasuk juga keluarga non tradisional. Identifikasi terhadap relasi keluarga dilakukan oleh peneliti pada saat reservasi dan pembelian tiket program.

Pengambilan sampel secara purposif seperti ini memenuhi kaidah dari interpretative phenomenology analysis yang mensyaratkan sampel relatif homogen dengan karakteristik dan pengalaman yang sama dalam jumlah kecil demi memungkinkan peneliti memotret pemaknaan secara mendetil (Smith & Osborn, 2009). Hal ini karena interpretative phenomenology analysis memungkinkan fokus idiografis (idiographic focus) dalam mengeksplorasi bagaimana seseorang tertentu, dalam konteks tertentu, memaknai (make sense) fenomena tertentu dan membuka pintu pada peneliti untuk melakukan kajian yang mendetil atas pengalaman dan aktivitas pemakaan tersebut (Smith, Flowers & Larkins, 2009). Adapun prosedur pengambilan sampel dilakukan sebagai berikut. Berdasarkan data yang diberikan oleh tim @Museum, keluarga-keluarga yang mendaftar untuk menonton pentas dongeng dapat diidentifikasi. Pada hari pelaksanaan pentas dongeng, peneliti bersama-sama dengan tim @Museum menyambut keluarga yang telah mendaftar sebelumnya. Peneliti membangun hubungan saling percaya (rapport) dengan memperkenalkan diri dan melakukan percakapan pembuka (ice-breaking) terkait dengan pentas dongeng dan manfaat untuk anak-anak.

Peneliti kemudian melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keluarga. Keluarga yang memiliki anak pada usia sekolah (6-12 tahun) menjadi prioritas dari penelitian ini, mengingat penelitian ini memiliki keterkaitan dengan pembelajaran informal melalui museum (museum learning). Peneliti kemudian menjelaskan tujuan penelitian dan menanyakan apakah keluarga tersebut tidak berkeberatan untuk menjadi subyek penelitian ini. Keluarga yang bersedia kemudian mengisi lembar kesediaan (informed consent) untuk diisi dengan tanda kesediaan dan biodata singkat serta kontak seperti nomor telpon genggam, alamat email dan lain-lain. Peneliti melakukan wawancara dengan 1 (satu) keluarga untuk total 21 pementasan. Dengan demikian, peneliti mendapatkan 21 keluarga sebagai narasumber. Pengumpulan data untuk penelitian ini menggunakan wawancara semi-terstruktur (semi-structured interview) yang dilakukan secara tatap muka (face-to-face) dengan orang tua sebagai pihak dewasa utama yang berbicara mewakili kepentingan keluarga.

Wawancara semi-terstruktur ini terdiri dari sejumlah pertanyaan yang disusun berdasarkan urutan tertentu sehingga jawaban satu orang dapat diperbandingkan dengan orang lain, akan tetapi tetap ada ruang fleksibilitas untuk melakukan penggalian informasi lebih lanjut misalnya dengan melakukan pertanyaan penggalian (probing) maupun menambahkan pertanyaan-pertanyaan baru ke dalam daftar (Kothari, 2004 dan Stewart & Cash, 2006).

Pengumpulan data dilakukan guna menemukan jawaban terhadap pertanyaan penelitian yaitu:

Bagaimana proses pengambilan keputusan oleh keluarga untuk mengapresiasi peninggalan budaya di Museum Nasional melalui program AkhirPekan @MuseumNasional?           

Pertanyaan penelitian tersebut diturunkan ke dalam beberapa topik yang akan digali dalam wawancara. Topik-topik ini nantinya dirumuskan menjadi daftar pertanyaan wawancara untuk memandu proses pengumpulan data. Topik-topik yang akan dieksplorasi adalah:

  • Data-data seputar keluarga seperti jumlah anggota keluarga, latar belakang pendidikan profesi, dll.
  • Pengalaman keluarga ke museum, mengapresiasi peninggalan budaya dan mengikuti program apresiasi budaya seperti storytelling dan teater.
  • Kebutuhan, aspirasi, pembelajaran yang ingin dicapai oleh keluarga melalui aktivitas tersebut dan alternatif yang dipertimbangkan oleh keluarga dibandingkan dengan aktivitas tersebut
  • Sumber informasi yang dijadikan referensi keluarga untuk mengambil keputusan dan pihak yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan keluarga terkait dengan aktivitas tersebut

Wawancara semi terstruktur tatap muka dalam durasi sekitar 30-60 menit. Hasil wawancara ini direkam menggunakan perekam audio (audio recorder). Dokumen audio (audio file) tersebut kemudian dibuat transkripsinya. Transkripsi ini kemudian dibaca secara cermat dengan peneliti seraya melakukan tahap-tahap sebagaimana disarankan oleh Smith (2009) yaitu:

  1. Membaca transkrip untuk menemukan makna dan tema utama
  2. Mengidentifikasi dan memberi catatan terhadap tema
  3. Mengaitkan tema satu dengan lainnya
  4. Mengambil kesimpulan

Berdasarkan pembacaan kritis dan pengkajian kembali, peneliti kemudian melakukan seleksi subyek penelitian. Hal ini dimungkinkan dalam penelitian kualitatif dimana subyek-subyek yang akhirnya dipilih dari kelompok sampel adalah mereka yang paling merepresentasikan konstruk yang diteliti. Hal ini dilakukan dengan menelaah hasil transkripsi dan melakukan refleksi terhadap pengalaman wawancara dengan keluarga-keluarga tersebut. Dalam wawancara, terdapat sejumlah keluarga yang mampu mengartikulasikan pengalaman yang mereka alami, menguraikan proses secara rinci dan deskriptif, melakukan refleksi terhadap pengalaman tersebut kemudian mengelaborasikan proses pemberian makna yang mereka lakukan atas pengalaman tersebut. Peneliti kemudian memilih keluarga-keluarga tersebut atas pertimbangan di atas, selaras dengan prinsip sampel yang homogen berdasarkan pendekatan interpretative phenomenology analysis. Dari proses tersebut, diperolehlah 7 keluarga dengan gambaran yang dirangkum dalam Tabel 3 di bawah ini. Adapun keseluruhan ayah dan ibu yang diwawancara berusia minimal 40 tahun.

Gita-03

Refleksi dan pengkajian kembali dilakukan secara terus menerus terhadap transkripsi demi memastikan hubungan antara tema yang berhasil diidentifikasi. Demi menghindari bias maka proses pengolahan data dilakukan secara bersama-sama dalam tim. Tahap-tahap pengambilan keputusan yang dilakukan di sepanjang penelitian juga dikonsultasikan dengan teman sejawat demi mendapatkan perspektif yang lebih luas. Hal ini dilakukan demi memastikan validitas dan reliabilitas data-data kualitatif yang terkumpul.

  1. URAIAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan oleh keluarga untuk mengapresiasi peninggalan budaya di Museum Nasional melalui program AkhirPekan@MuseumNasional. Proses pengambilan keputusan ini nantinya dibuat sebagai model proses bagaimana keluarga-keluarga ini mengambil keputusan, yang memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan tersebut. Analisis terhadap hasil wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini menemukan tahap-tahap yang dipertimbangkan oleh keluarga-keluarga yang menjadi subyek penelitian. Tahap-tahap ini disebutkan secara eksplisit dalam wawancara serta mendapatkan penekanan pemaknaan oleh subyek-subyek wawancara sehingga penting untuk dipertimbangkan secara tersendiri. Hal tersebut adalah aspirasi keluarga (family aspiration) dan pengalaman keluarga sebelumnya (family prior experience). Ketujuh keluarga semuanya mengungkapkan dalam refleksi mereka atas proses pengambilan keputusan yang mereka jalani bahwa aspirasi merupakan tahap yang terbilang penting. Dalam tahap ini, orang tua memiliki aspirasi keluarga bahwa anak-anak mereka dapat memiliki kecintaan terhadap budaya. Aspirasi keluarga ini tercermin paling tegas dalam kutipan berikut ini, sebagaimana diungkapkan oleh ibu dari keluarga kedua pada saat ia melakukan napak tilas pada proses pemaknaan yang ia lakukan:

“Kami ingin anak-anak kami mengetahui akar diri mereka. Sejarah tidak hanya penting di bangku sekolah. Sejarah adalah bagian dari identitas saya, suami saya dan anak-anak kami. Artefak-artefak peninggalan budaya ini merupakan jejak langkah perjalanan kita semua. Koleksi museum ini merupakan bagian dari siapa kita. Kami punya cita-cita bahwa anak-anak kami dapat menghargai peninggalan budaya Indonesia.”

Berdasarkan analisa terhadap hasil wawancara yang dilakukan terhadap ketujuh keluarga yang menjadi subyek penelitian, terdapat tahap berikut yang juga menjadi kunci dalam proses pembuatan keputusan keluarga. Tahap tersebut adalah pengalaman sebelumnya yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Sebelum berpartisipasi dalam program AkhirPekan@MuseumNasional, keluarga-keluarga yang diwawancarai telah memiliki eksposur pada program-program yang kurang lebih serupa, baik terkait dengan peninggalan budaya, teater maupun museum. Bentuk-bentuk eksposur pengalaman ini dapat berupa pengalaman menonton teater di masa lalu atau sebelumnya pernah terlibat di program edukasi yang diselenggarakan oleh museum, atau pengalaman serupa lainnya seperti berkunjung ke galeri seni. Pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh ayah dan/atau ibu dari keluarga inilah yang berperan dalam pengambilan keputusan untuk mengajak seisi keluarga ke museum. Dalam kesempatan ini, orang tua bermaksud untuk memberikan eksposur pengalaman yang sama kepada anak-anak mereka. Hal ini tercermin dengan jelas dalam penuturan ayah dari keluarga ketujuh. Dalam upayanya menarik hikmah (insights) terhadap proses pengambilan keputusan yang berlangsung dalam keluarga, subyek ini melakukan konstruksi makna yaitu sebagai berikut:

“Ketika kami sekeluarga pindah ke luar negeri karena saya dan istri saya melanjutkan pendidikan S2 kami di Wina, kami sering pergi ke museum-museum yang ada di kota itu di akhir pekan untuk menyaksikan program-program untuk anak-anak seperti pertunjukkan boneka dan pementasan dongeng. Ketika kami berdua sama-sama masih duduk di bangku kuliah S1, kami berdua juga aktif dalam berbagai kegiatan seni dan budaya. Jadi begitu kami mengetahui tentang program AkhirPekan@MuseumNasional dari teman-teman kami, apa yang pernah kami alami di masa lalu membantu kami memutuskan untuk datang ke sini.”

Tampak bahwa aspirasi dan pengalaman sebelumnya yang dimiliki oleh keluarga sama-sama berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan yang mereka lakukan untuk berpartisipasi dalam program apresiasi peninggalan budaya. Hal ini menyiratkan bahwa hal-hal yang ada di masa depan, dalam bentuk aspirasi, dan hal-hal yang ada di masa lalu, dalam bentuk pengalaman sebelumnya, sama-sama memiliki daya yang berkontribusi pada bagaimana mereka memutuskan untuk melewatkan waktu luang mereka di museum.

Setelah melewati kedua tahap di atas, yaitu berrefleksi tentang aspirasi di masa depan dan pengalaman di masa lalu, keluarga mengungkapkan adanya kebutuhan untuk melewatkan waktu luang di akhir pekan secara bersama-sama dalam bentuk apresiasi peninggalan budaya di museum. Hal ini terungkap secara gamblang terutama pada keluarga keempat, baik ayah maupun ibu sama-sama mengungkapkan hal-hal berikut yang mencerminkan bagaimana keluarga mereka butuh aktivitas waktu senggang sebagai satu keluarga, yaitu sebagai berikut:

Waktu luang adalah hal yang penting bagi keluarga kami. [Waktu luang tersebut] kesempatan bagi kami semua untuk mengisi “baterei” [penekanan dengan pemberian “ “ (tanda petik) diberikan oleh penulis] kami dan sama-sama kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, kami ingin melewatkan waktu luang di akhir pekan ini dengan melakukan hal-hal yang sebisa mungkin bermakna bagi kami.” [ayah]


“Sebagai satu keluarga, kami membutuhkan satu hal yang bisa dinikmati bersama-sama. Pergi ke museum sebagai satu keluarga untuk menikmati peninggalan budaya adalah hal yang menyenangkan bagi kami serta punya nilai pendidikan buat semua.”
[ibu]

Dari telaah reflektif terhadap temuan ini, maka terdapat kemungkinan untuk menarik hal-hal tersebut ke atribut-atribut seperti latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan maupun latar belakang sosial budaya dari keluarga tersebut. Latar belakang keluarga tersebut membuat mereka mampu mengkonstruksikan makna terhadap aspirasi keluarga dan pengalaman keluarga sebelumnya, serta berrefleksi secara kritis atas kontribusi dari kedua hal tersebut pada bagaimana mereka mengambil keputusan.

Tahap berikutnya adalah mencari informasi yang dibutuhkan. Dari hasil wawancara dengan keluarga-keluarga subyek penelitian, maka diketahui bahwa mereka mendapatkan informasi melalui jejaring media sosial. Mereka memanfaatkan jejaring ini untuk menggali informasi terkait aspek-aspek teknis dari pentas yang akan mereka tonton, seperti durasi pentas dan narasi apa yang disampaikan dalam pentas dongeng. Jejaring media sosial ini juga mereka gunakan untuk mencari informasi tentang latar belakang sejarah dari artefak yang menjadi sumber informasi pentas dongeng. Tampak bahwa keluarga-keluarga yang bersedia menjadi subyek penelitian ini merupakan pengguna jejaring media sosial untuk berbagi informasi sekaligus mencari informasi. Hal tersebut secara jernih dan eksplisit diutarakan oleh ibu dari keluarga kelima sebagaimana dikutip dalam uraian berikut ini:

“Pertama-tama, saya mengetahui tentang AkhirPekan@MuseumNasional dari pesan Whatsapp yang dikirim teman. Saya cari informasi tambahan di Facebook – tentang jadwal pentas dongeng, foto-foto dari pentas dongeng sebelumnya sekaligus tentang latar belakang sejarah dari peninggalan yang dipentaskan. Saya menunjukkan informasi ini ke seluruh keluarga saat kami makan malam bersama lalu kita berdiskusi. Saya menghubungi penyelenggara pentas dongeng melalui Twitter untuk cari tahu hal-hal teknis seperti rute menuju Museum karena jalan yang ditutup karena Car Free Day di hari Minggu.”

Jejaring media sosial yang disebutkan oleh subyek tersebut, antara lain Whatsapp, Facebook dan Twitter, mencerminkan bahwa jejaring media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan subyek sehari-hari. Hal yang sama ditemukan juga pada ketujuh keluarga. Tahap berikutnya yang dilalui oleh keluarga adalah mengevaluasi berbagai alternatif kegiatan waktu senggang yang tersedia dengan mempertimbangkan lokasi dan jadwal keluarga. Hal-hal ini dilakukan oleh tiap-tiap keluarga, masing-masing dengan kekhasan sendiri yang mencerminkan kompleksitas pengambilan keputusan keluarga, dimana anggota-anggotanya punya kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Kesamaan dari seluruh keluarga yang diwawancara adalah proses tersebut dilakukan melalui diskusi.

Tahap selanjutnya adalah pembuatan keputusan, dimana tindakan menelpon atau mengirimkan email dilakukan oleh ayah dan/atau ibu dari keluarga-keluarga ini, demi memastikan agar keluarga mendapatkan tempat – mengingat program ini bersifat bebas biaya. Ibu dari keluarga pertama menjelaskan pertimbangan-pertimbangan yang ia jadikan bahan pemikiran sebelum mengambil tindakan. Berikut paparan yang ia sampaikan kepada peneliti dalam kesempatan wawancara, dimana ia merekonstruksi dan memaknai kembali langkah-langkah yang ia lalui dalam mengambil keputusan untuk kepentingan keluarga, yaitu sebagai berikut:

“Kami memilih pergi ke museum karena berbagai pertimbangan. Program ini punya nilai edukasi dan budaya serta dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Tambahan lagi, pergi ke museum murah, berbeda dengan pergi ke mall. Ke museum di hari Minggu juga menyenangkan – tidak ada kemacetan yang menyiksa karena waktunya bersamaan dengan Car Free Day. Kami juga bisa menggabungkan kunjungan ini dengan kegiatan-kegiatan lain yang juga menyenangkan, misalnya naik tur bis tingkat keliling pusat kota. Kesimpulannya, aktivitas ini merupakan alternatif yang win-win buat semua orang.”

Tahap terakhir adalah mengevaluasi pasca pengambilan keputusan. Tahap ini adalah tahap ketika keluarga memutuskan apakah harapan mereka terpenuhi atau justru mereka kecewa. Proses refleksi yang kritis semacam ini tercermin secara jernih dalam kutipan yang diungkapkan oleh ibu dari keluarga ketiga yang menjadi subyek penelitian ini. Adapun ungkapan berikut mencerminkan bagaimana ia memberi nilai atas pengalaman yang diperoleh bersama sebagai satu keluarga. Kutipan tersebut adalah sebagai berikut:

Setelah pentas dongeng selesai, kami akan makan siang bersama dan ngobrol tentang acara hari ini sambil lihat-lihat foto-foto pentas dongeng juga foto-foto koleksi museum. Kami akan saling bertukar pendapat tentang apa-apa yang menarik dari pentas tadi. Kami merasa sangat senang – anak-anak terhibur dan kami bisa punya pengetahuan baru tentang peninggalan budaya. Kami juga senang bahwa ternyata banyak juga keluarga lain yang punya minat sama seperti kami. Seru melihat bahwa orang-orang lain datang juga ke acara seperti ini.”

Dapat dilihat bahwa nukilan-nukilan kutipan berbagai pendapat yang terungkap dalam wawancara merupakan potret dari langkah-langkah yang diambil oleh keluarga saat mengambil keputusan. Apabila dibandingkan dengan pemaparan pada bab teori di bagian sebelumnya, maka ada beberapa persamaan tetapi ada juga beberapa perbedaan. Hal ini dirangkum dalam Gambar 1 di bawah ini yang mencakup keseluruhan tahap dalam siklus pembuatan keputusan keluarga dalam berpartisipasi dalam program apresiasi peninggalan budaya, sebagai berikut:


Gambar 1. Tahap-tahap dalam Siklus Proses Pembuatan Keputusan

Gita-1

Dapat dilihat bahwa ada dua tambahan tahap yang diketahui dari temuan penelitian ini yakni aspirasi keluarga dan pengalaman keluarga sebelumnya. Telaah lebih jauh khusus untuk dua tahap tambahan ini memunculkan hal-hal yang menjadi harapan dan cita-cita keluarga sebagaimana dirangkum dalam aspirasi; juga hal-hal yang pernah menjadi kenangan atas pengalaman di masa lalu. Kedua tahap tersebut dirangkum dalam Tabel 3 berikut ini

Gita-04

Selanjutnya, penelitian ini juga mengungkapkan temuan-temuan berikut. Berdasarkan telaah kritis dari hasil wawancara, diketahui bahwa proses pengambilan keputusan keluarga memiliki dinamika tersendiri antara pihak ayah dan pihak ibu. Baik ayah dan ibu sama-sama terlibat dalam proses pengambilan keputusan keluarga terkait partisipasi dalam kegiatan apresiasi peninggalan budaya. Akan tetapi perlu untuk dicermati bahwa pihak ibulah yang memainkan peran dominan.

Hal ini dapat dilihat pada tahap pengambilan keputusan. Pada tahap-tahap seperti pencarian informasi, evaluasi terhadap berbagai alternatif juga melakukan tindakan dimana keputusan diambil, pihak ibu memainkan peran kunci.  Pihak ayah memainkan peran pendukung. Bentuk dukungan yang diberikan oleh pihak ayah adalah memberikan ruang dan waktu kepada pihak ibu untuk untuk melakukan tahap-tahap tersebut di atas. Temuan ini memunculkan bahwa dalam pengambilan keputusan keluarga, pihak ibu punya peran penting. Sementara hal ini selaras dengan teori tentang kegiatan keluarga di waktu luang yang dijelaskan sebelumnya, penelitian ini memberikan afirmasi tentang peran ibu. Penelitian ini memberikan rincian bahwa untuk kegiatan apresiasi peninggalan budaya yang dilakukan oleh keluarga di waktu luang, pihak ibu memegang peran penting dalam siklus pengambilan keputusan.Dalam pengambilan keputusan tersebut, hal-hal yang menjadi pertimbangan ibu adalah sebagai berikut. Manfaat bagi anak adalah hal utama, dimana dirinci lebih jauh pada manfaat dari segi pendidikan dan nilai-nilai budaya. Hal ini juga memiliki kaitan dengan temuan sebelumnya tentang aspirasi dan pengalaman keluarga sebelumnya – dimana ada hubungan antara keduanya.

Dapat dilihat bahwa aspirasi masa depan dan kenangan akan pengalaman keluarga di masa lalu menjadi faktor-faktor kognitif dan afektif, pihak ibulah yang melanjutkan ke dalam faktor perilaku dengan mengambil peran dominan. Ibu yang menjadi pihak yang mengubah intensi menjadi aksi dengan cara mengambil porsi kunci dalam proses pembuatan keputusan keluaga. Untuk lebih jauhnya, lihat pada Tabel 4 di bawah ini dimana perbedaan peran antara pihak ayah dan ibu diuraikan secara lebih detil.

Gita-05

Tabel di atas memperlihatkan bahwa pihak ayah dan ibu sama-sama berperan dalam proses pengambilan keputusan. Hanya saja pada tahap-tahap tertentu, pihak ibulah yang berperan dominan, dengan dukungan dari pihak ayah.

Kajian lebih mendalam terhadap peran ibu memunculkan hal-hal berikut. Dalam berperan kunci saat mengambil keputusan keluarga, maka peran yang diambil oleh ibu adalah sebagai influencer, gatekeeper juga sebagai decider dan buyer. Peran influencer dan gatekeeper dilakukan ibu pada tahap pencarian informasi dan evaluasi berbagai alternatif. Sedangkan peran sebagai decider dan buyer juga dilakukan oleh ibu pada tahap berikut yakni pembuatan keputusan. Dalam menjalankan peran-peran tersebut, keluarga melalui proses diskusi dimana pihak ibu menjadi fasilitator yang memungkinkan keseluruhan tahap dari siklus pengambilan keputusan berjalan. Dengan demikian, sekalipun basis pengambilan keputusan adalah konsensus, pihak ibu punya kontribusi penting dengan memainkan peran-peran tersebut di atas pada tahap-tahap dimana pihak ayah memilih mengambil posisi sebagai pendukung. Untuk jelasnya, lihat Gambar 2 yang memvisualisasikan ibu dalam siklus pembuatan keputusan keluarga.

Gita-06

Gambar di atas merangkum bagaimana pihak ibu dalam keluarga berperan dalam proses pengambilan keputusan keluarga terkait dengan partisipasinya mengapresiasi peninggalan budaya yang menjadi koleksi museum nasional melalui program AkhirPekan@MuseumNasional.


VII. KESIMPULAN DAN SARAN

Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana proses pengambilan keputusan oleh keluarga untuk mengapresiasi peninggalan budaya di Museum Nasional melalui program AkhirPekan@MuseumNasional? Penelitian ini mengungkapkan bahwa menurut tujuh keluarga yang menjadi subyek penelitian ini, proses tersebut diawali dari adanya aspirasi keluarga dan pengalaman keluarga di masa lalu, dilanjutkan dengan adanya pengakuan terhadap kebutuhan keluarga, kemudian keluarga melakukan pencarian informasi yang kemudian membawa ke langkah berikutnya yaitu evaluasi terhadap berbagai alternatif. Tahap berikutnya adalah pembuatan keputusan dan akhirnya ditutup dengan evaluasi pasca pembuatan keputusan. Dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap di atas adalah tahap-tahap pengambilan keputusan yang diambil oleh keluarga. Dari temuan tersebut, penelitian ini mengidentifikasi adanya tambahan tahap yakni aspirasi keluarga dan pengalaman keluarga. Kedua tambahan tahap ini merupakan tambahan dari pengambilan keputusan yang biasanya berlaku pada transaksi barang dan jasa.

Dikaitkan dengan peran ibu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dalam proses pembuatan keputusan keluarga untuk mengapresiasi peninggalan budaya, terdapat perbedaan peran antara pihak ayah dan pihak ibu. Dengan demikian, terdapat relasi kait mengait antara makna-makna yang diidentifikasi. Ibu, dalam penelitian ini, berperan dalam setiap tahap proses pembuatan keputusan keluarga – kemudian secara khusus memainkan peran dominan pada tahap-tahap tertentu yaitu pencarian informasi, evaluasi berbagai alternatif dan pembuatan keputusan dengan mengambil peran sebagai influencer, gate-keeper, decider dan buyer. Latar belakang dari peran ibu ini adalah demi kepentingan pengasuhan atas anak yang merupakan generasi mendatang.

Kesimpulan-kesimpulan di atas diperoleh dari analisis atas temuan-temuan dalam penelitian. Hal-hal tersebut dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi pada tatanan praktis. Mengingat ibu punya peran dominan dalam proses pengambilan keputusan keluarga terkait apresiasi peninggalan budaya, maka sebaiknya museum menyusun program-program yang menarik bagi ibu. Nantinya ibulah yang kemudian membawa keluarga untuk berkunjung ke museum demi mengapresiasi peninggalan budaya. Dalam menyusun program tersebut, museum dapat memberikan penegasan pada manfaat-manfaat yang dapat dipetik oleh anak. Selain itu, museum dapat juga menyentuh pengalaman-pengalaman keluarga sebelumnya terutama berupa eksposur pengalaman budaya – misalnya dengan membuat program yang memadukan bentuk-bentuk ekspresi budaya antara lain pertunjukan tari atau pameran lukisan dengan koleksi artefak museum. Penggambaran tentang museum sendiri juga dapat disampaikan dengan bentuk-bentuk pencitraan yang dekat dengan figur ibu, mengingat adanya jukstaposisi makna antara ibu dengan museum. Hal ini dapat meningkatkan keakraban (familiarity) pihak ibu dengan museum, dimana nantinya pihak ibu akan datang membawa seisi keluarga.

Selain rekomendasi pada tatanan praktis, penelitian ini juga membuahkan sejumlah saran dalam bentuk usulan penelitian lanjutan di masa mendatang. Penelitian-penelitian yang dapat dilakukan dengan berpijak pada temuan-temuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Penelitian tentang aspirasi keluarga dan pengalaman keluarga sebelumnya penting untuk digali dalam kesempatan lain di masa mendatang. Perbandingan antara peran pihak ibu dan pihak ayah juga dapat dijadikan penelitian terpisah yang berkontribusi pada pengembangan psikologi keluarga. Selain orang tua, penelitian-penelitian berikut juga dapat mengembangkan fokus pada bentuk-bentuk keluarga dan peran orang dewasa yang lain. Penelitian yang bersifat membandingkan antara museum dengan galeri juga dapat dilakukan, dimana keduanya berpijak pada peninggalan budaya. Selain itu, penelitian-penelitian lainnya dapat melihat bagaimana peninggalan budaya dibandingkan dengan pameran yang bersifat lebih kontemporer – apa persamaan dan perbedaan di antaranya dalam hal pengambilan keputusan keluarga untuk mengapresiasi bentuk-bentuk budaya tersebut. Selain itu, penelitian-penelitian lain juga dapat dikembangkan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok lain yang juga menjadi konsumen museum, antara lain siswa dan guru sekolah. Selain itu, area-area yang dapat dikembangkan dalam penelitian selanjutnya adalah penggunaan bentuk-bentuk kreatif untuk membangun apresiasi. Penelitian ini melihat penggunaan teater, hal ini dapat dilanjutkan dengan bentuk-bentuk lain misalnya seni poster, musik sampai tari dan lainnya. Perbandingan efektivitas dapat dilakukan dengan menelaah perbedaan-perbedaan ekspresi penyajian. Selain itu, apresiasi peninggalan budaya ini dapat dikaitkan dengan kualitas kehidupan, terutama di dalam ruang lingkup urban.Terakhir, penelitian ini bersifat kualitatif dan temuan-temuannya dapat diterjemahkan ke dalam indikator-indikator yang bersifat kuantitatif. Penelitian lanjutan dengan metode tersebut dapat dilakukan demi menghasilkan temuan-temuan yang dapat digeneralisasikan, sehingga manfaat dan dampak dapat membidik cakupan yang lebih besar.


VIII. DAFTAR PUSTAKA

Butler, I., Robinson, M. & Scanlan, L. (2005) Children and Decision Making London: National Children’s Bureau for the Joseph Rowntree Foundation.

Corsane, G. (2005) “Issues in Heritage, Museums and Galleries” dalam Corsane, G. (editor) Heritage, Museums and Galleries: An Introductory Reader London Routledge.

Crosbie-Burnett, M. & Klein, D.M. (2013) “The Fascinating Story of Family Theories” dalam Bray, J.H., Stanton, M. The Wiley-Blackwell Handbook of Family Psychology Oxford: Blackwell Publishing Ltd.

Ellenbogen, K.M. (2011) “Museums in Family Life: An Ethnographic Case Study” dalam Leinhardt, Crowley & Knutson (editor) Learning Conversation in Museums New Jersey: Taylor & Francis e-Library.

Falk, J.H. & Dierking, L.D. (2000) Visitor Experiences and the Making of Meaning California: AltaMira Press.

Flyvbjerg, B. (2011) “Case Study” dalam Denzin, N.K & Lincoln, Y.S. (eds) The SAGE Handbook of Qualitative Research edisi ke-4 London: SAGE Publication.

Giebelhausen, M. (2003) Introduction: the Architecture of the Museum – Symbolic Structures, Urban Contexts New York: Palgrave.

Gilgun, J.F. (2013) in “Qualitative Family Research: Enduring Themes and Contemporary Variations” dalam Peterson, G.W. & Bush, K.R. (editor) Handbook of Marriage and the Family 3rd edition New York Spinger Science+Business Media.

Gilgun, J.F. (2005) “Qualitative Research and Family Psychology” dalam Journal of Family Psychology Vol. 19, No. 1, hal 40-50.

Gilmour, T. (2007) Sustaining Heritage: Giving the Past a Future Sydney: Sydney University Press.

Haas, C. (2007) “Families and Children Challenging Museums” dalam Lord, B. (editor) The Manual of Museum Learning Lanham: AltaMira Press.

Hakiwai, A.T. (2005) “The Search for Legitimacy: Museums in Aotearoa, New Zaeland – a Maori Viewpoint” dalam Corsane, G.(editor) Heritage, Museums and Galleries: An Introductory Reader London Routledge.

Hike, D.D. (1989) “The Family as a Learning System: An Observational Study of Families in Museums” dalam Marriage and Family Review Vol. 13 Issue 3-4, 1989, hal 101-129.

Hoffman, T.L. (1997) ‘The Role of Public Participation: Arizona’s Public Archaeology Program” dalam Jameson, J.H. (editor)Presenting Archaeology to the Public: Digging for Truths California: AltaMira Press.

Hood, M.G. (1989) “Leisure Criteria of Family Participation and Nonparticipation in Museums” dalam Marriage and Family Review Vol. 13 Issue 3-4, 1989, hal 151-169.

Jenkins, J. & Pigram, J. (2004) Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation London: Routledge.

Jensen, N. (1999) “Children, Teenagers and Adults in Museums: a Developmental Perspective” dalam Hooper-Greenhill, E. (editor) The Educational Role of the Museum London: Routledge.

Kothari, J. (2004) Research Methodology: Methods and Techniques New York: New Age International.

Kolb, B.M. (2013) Marketing for Cultural Organizations: New Strategies for Attracting and Engaging Audiences 3rd edition New York Taylor & Francis

Kumar, R. (2011) Research Methodology: a Step-by-Step Guide for Beginners London:Sage.

Leinhardt, G. & Crowley, K. (2009) “Objects of Learning, Objects of Talk: Changing Minds in Museums” dalam Paris, S.G. (editor) Perspectives of Object-Centered Learning in Museums New Jersey: Taylor & Francis e-Library.

Lord, B. (2007) ‘Introduction’ dalam Lord, B. (editor) The Manual of Museum Learning Lanham: AltaMira Press.

Mariani, E. (2013) Telling Tales at the National Museum terbit di The Jakarta Post 11 Oktober 2013 dan diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2013/10/11/telling-tales-national-museum.html pada tanggal 20 Februari 2014.

Marshall, D. (2010) Understanding Children as Consumers London: Sage Publication.

Merriam, S.B. (2009) Qualitative Research: a Guide to Design and Implementation 2nd edition San Francisco: John Wiley & Sons.

Mottiar, Z. & Quinn, D. (2003) “Couple Dynamic in Household Tourism Decision Making: Women as the Gatekeepers?” dalam Journal of Vacation Marketing April 2004 Vol. 10 No. 2 halaman 149-160.

Munandar, A.A. et al (2011) Sejarah Permuseuman di Indonesia Jakarta: Direktorat Permuseuman

Newman, A. (2005) “Understanding the Social Impact of Museums, Galleries and Heritage through the Concept of Capital” dalam Corsane, G. (editor) Heritage, Museums and Galleries: An Introductory Reader London Routledge.

Prentice, R. (2005) “Heritage: the Key Sector in the ‘New’ Tourism” dalam Corsane, G. (editor) Heritage, Museums and Galleries: An Introductory Reader London Routledge.

Peter, J.P. & Olson, J.C. (2010) Consumer Behavior and Marketing Strategy 9th edition New York: McGraw-Hill International Edition

Rizo, I. & Mignosa, A. (2013) Handbook on the Economics of Cultural Heritage Massachusetts: Edward Elgar Publishing Limited.

Rosi, A. (1998). Museum Nasional Guide Book. Jakarta: PT Indo Multi Media,Museum Nasional and Indonesian Heritage Society.

Russo, A. (2012) “The Rise of the ‘Media Museum: Creating Interactive Cultural Experiences through Social Media” dalam Giaccardi, E. (editor) Heritage and Social Media: Understanding Heritage in a Participatory Culture New York: Routledge.

Shiffman, L.G., Kanuk, L.L & Wisenblit, J. (2010) Consumer Behavior 10th edition New York: Pearson Prentice Hall.

Smith, J.A., Flowers, P. & Larkin, M. (2009) Interpretative Phenomenological Analysis: Theory, Method and Research London: Sage Publications.

Smith, J.A. & Osborn, M. (2008) “Interpretative Phenomenological Analysis” dalam Smith, J.A. (editor) Qualitative Psychology: A Practical Guide to Research Methods London: Sage Publications.

Siregar, L. (2013) ‘Ibu’ Asks Questions of Who We Serve dipublikasikan 30 Oktober 2013 dan diakses
http://www.thejakartaglobe.com/features/ibu-asks-questions-of-who-we-serve/ pada tanggal 20 Februari 2014.

Soerjoatmodjo, G.W.L (2015) Storytelling, Cultural Heritage and Public Engagement in AkhirPekan@MuseumNasional Procedia Social and Behavioral Science Vol. 184, pp. 87-94 doi: 10.1016/j.sbspro.2015.05.057

Soerjoatmodjo, Y. (2014) Presentasi Laporan Museum Nasional manuskrip tidak diterbitkan.

Steward, C.J. & Cash, W.B. (2006) Interviewing: Principles and Practices 11thedition New York: McGraw-Hill International Edition

Solomon, M.R. (2011) Consumer Behavior: Buying, Having and Being edisi ke-9 New York: Pearson Prentice Hall.

Teater Koma (2013, 11 September) AkhirPekan@MuseumNasional – Keris Puputan Klungkung [Dokumen Video] diakses dari http://www.youtube.com/watch?v=_ZSCi4dYRqI

Teater Koma (2013, 26 September) AkhirPekan@MuseumNasional – Samurai Bersepeda [Dokumen Video] diakses dari http://www.youtube.com/watch?v=Ve6aq1EXrws

Teater Koma (2013, 11 Oktober) AkhirPekan@MuseumNasional – Tenggelamnya Kapal Tek Sing [Dokumen Video] diakses dari http://www.youtube.com/watch?v=DwnpjQVmeck

Teater Koma (2014a, 24 Januari) AkhirPekan@MuseumNasional – Raksasa Bhairawa Pengasah Parang [Dokumen Video] diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=D5L2yd_mQ8s

Teater Koma (2014b, 24 Januari) AkhirPekan@MuseumNasional – Raibnya Celengan Majapahit [Dokumen Video] diakses dari http://www.youtube.com/embed/h-Mz98lT168

Teater Koma (2014a, 4 November) AkhirPekan@MuseumNasional – Monalisa dari Singhasari [Dokumen Video] diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=B5RA2RnA3BY

Teater Koma (2014b, 4 November) Akhir Pekan@Museum Nasional – SemerbakPenggoda Raja Kelana [Dokumen Video] diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=yeRfzsFXhUU

Teater Koma (2014c, 4 November) AkhirPekan@MuseumNasional – Wayang Kalijaga Parang [Dokumen Video] diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=2xf0mtChXRE

Teater Koma (2014d, 4 November) AkhirPekan@MuseumNasional – Ribut-Ribut si Bumbung dan si Coak [Dokumen Video] diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=cbllGz7Td-E

Teater Koma (2014e, 4 November) AkhirPekan@MuseumNasional – Nenek Moyangku Orang Pelaut [Dokumen Video] diakses dari

Makalah disampaikan dalam Diskusi Museum

di Museum Kebangkitan Nasional, Senin, 29 Februari 2016

 

Penulis: Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo & Veronica AM, Psikolog

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: