Oleh: museumku | 13 November 2014

Pemaknaan Kurang, Terjebak Fungsi

Sejak didirikan pada 1778 hingga sekarang, Museum Nasional di Jakarta memiliki koleksi 142.000 benda. Akan tetapi, pemaknaannya melalui kegiatan riset masih sangat kurang dan penyajian informasi kepada publik masih terjebak pada fungsi benda, tidak dikaitkan dengan makna sistem nilai yang melingkupinya.

”Kita masih sering terhenti pada fungsi artefak. Makna dari artefak tidak tahu, padahal setiap artefak merefleksikan nilai tertentu,” tutur Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan, Selasa (11/11), dalam Seminar Hasil Kajian Museum Nasional, di Jakarta.

Dalam seminar dibahas empat hasil kajian yang dimulai tahun 2012. Sebanyak 12 pegawai menjadi anggota Tim Kajian Koleksi Museum Nasional dengan narasumber Ratnaesih Maulana untuk kajian makara di Jawa dan Djulianto Susantio menjadi narasumber uang kampua dari Kerajaan Buton.

Adapun Heriyanti Untoro Drajat menjadi narasumber tempayan Singkawang. Terakhir, Herwick Zahorka menjadi narasumber seraung Kalimantan Timur.

Salah satu tugas pengelola museum, menurut Kacung, adalah memberi makna setiap koleksinya. Untuk mengungkap setiap makna koleksi itu diperlukan penelitian. ”Di museum, tidak ada pegawai fungsional sebagai peneliti. Namun, di situ ada tugas pokok meneliti,” kata Kacung.

”Museum Nasional mempunyai banyak koleksi. Namun, saya yakin, pengelola museum tidak memahami betul setiap koleksi yang dimiliki,” ujar Kacung.

Dari 142.000 benda koleksi, menurut Kepala Museum Nasional Intan Mardiana, 70 persennya selama ini selalu tersimpan di gudang. Sementara sebanyak 30 persen sudah tersaji dalam pameran tetap.

”Museum tidak akan berfungsi dengan baik tanpa adanya penelitian. Pembahasan hasil kajian koleksi museum sebagai salah satu cara untuk memperluas informasi,” tutur Intan.

Sejumlah koleksi Museum Nasional kini dibagi menjadi tujuh jenis koleksi, meliputi benda prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik dan heraldik, sejarah, etnografi, dan geografi. Penyebab masih banyaknya koleksi yang tersimpan di gudang karena informasi koleksi terbatas. (NAW)

(Sumber: Kompas, Rabu, 12 November 2014)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: