Oleh: museumku | 16 Juli 2012

Museum Sebagai Media Komunikasi

Oleh: Annissa Maulina Gultom, S.Hum, M.A


Pendahuluan

Perubahan paradigma museum dari sebuah gudang budaya menjadi ruang publik menuntut museum untuk bisa berkomunikasi. Museum tidak bisa lagi menjadi lembaga pasif yang hanya menyediakan ruang bagi koleksi, museum juga harus menyediakan ruang bagi publik untuk “berinteraksi” dengan koleksi.

Tuntutan dan konsep penerapan ilmu komunikasi dalam museum Indonesia sudah disadari sejak lama, tapi masih belum terealisasi. Hal ini mungkin karena perangkat yang belum memadai atau mungkin penerapan yang kurang tepat. Kedua kendala tersebut sebenarnya bisa ditangani atau dihindari jika museum bisa menyempatkan untuk memahami target yang dituju. Dengan memahami keinginan dan kebutuhan pengunjung (sebagai target utama biasanya), museum dapat mengetahui cara yang paling strategis dalam memahami cara komunikasi yang mana yang paling tepat.

Teori dan tehnik disiplin ilmu komunikasi yang berkembang kini bisa diaplikasikan pada museum, tergantung siapa yang akan diajak berkomunikasi oleh museum. Pengaplikasian teori dan tehnik yang tepat guna sangat krusial untuk menjamin terjalinnya komunikasi. Dari bobot informasi yang disesuaikan dengan daya tangkap target sampai pemilihan kata-kata yang familiar dan lebih mudah dimengerti.


Visi Komunikasi Bambang Sumadio

Bambang Sumadio, salah satu empu permuseuman di Indonesia, menyampaikan sebuah ceramah tentang komunikasi museum pada tahun 1987 di Museum Nasional. Beliau menekankan bahwa tugas komunikasi adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh museum. Bahwa koleksi museum tidak hanya untuk ditampung, tapi harus diolah informasi yang didapat untuk dikomunikasikan kepada masyarakat. Lebih jauh lagi, beliau menekankan bahwa:

“…setiap petugas kuratorial, dari pelaksanaan hingga pengelola, harus benar-benar memahami bahwa pengelolaan koleksi mempunyai dua segi. Segi pertama adalah segi administrasi benda koleksi sebagai milik museum, di dalamnya termasuk pengelolaan pelestariannya. Segi kedua adalah pengelolaannya sebagai sumber informasi.”

Komunikasi dalam museum dimaksud oleh pak Bambang adalah usaha menyampaikan pesan bermakna yang dapat memicu suatu situasi baru pada penerima pesan. Entah akan memicu dialog, rasa penasaran, ketertarikan yang mendalam dan lain sebagainya.

Bambang Sumadio menjabarkan bahwa komunikasi adalah suatu proses yang berangkat dari suatu filosofi dasar. Setiap fase dalam proses itu harus digarap dengan sesempurna mungkin, yaitu mulai dari konsep pesan, penyajian, serta evaluasi keberhasilan proses itu. Proses tersebut harus berjalan dengan filsafat dasar yang berfungsi untuk memberi arah dalam merumuskan komunikasi museum. Filsafat dasar ini adalah filsafat pendirian suatu museum, yang tanpanya tidak banyak berbeda dengan tempat memajang benda antik.

Kemudian, Bambang Sumadio lebih mendetail dalam menjelaskan proses komunikasi. Proses komunikasi oleh museum selalu mempunyai tema tertentu. Tema itu merupakan penyebaran pesan dari akumulasi data studi koleksi bertanggung jawab yang merupakan bahan untuk menyusun berbagai pesan. Pesan yang bersumber pada filsafat dasar museum kemudian dijabarkan dalam tema. Dengan demikian dapat disusun formulasi komunikasi yang tepat dan dikendalikan oleh batasan-batasan yang jelas. Ia tidak sekedar berupa penampilan koleksi yang mengambang tanpa arah.

Lalu siapakah yang mestinya mempersiapkan sistem dan struktur komunikasi dalam museum? Bambang Sumadio menyarankan adanya bagian yang khusus untuk berkomunikasi. Tetapi baru 19 tahun kemudian sebelum akhirnya Museum Nasional memiliki bagian Humas pada tahun 2006. Kemudian beliau menambahkan bahwa walaupun akan ada bagian khusus yang mengurusi kegiatan komunikasi, filosofi dasar museum dalam berkomunikasi haruslah dipahami oleh seluruh bagian dari museum. Karena, walaupun dalam kenyataannya hanya sebagian yang langsung terlibat, namun yang berkomunikasi adalah museum sebagai unit.


Bagaimana Museum Indonesia Kini Berkomunikasi?

Pameran adalah arena dimana koleksi bertemu dengan publik, museum menjadi perantara dalam proses mengkomunikasikan keduanya. Pameran adalah langkah awal untuk membuka jalur komunikasi yang bisa menjadi batu loncatan bagi museum. Tapi sayangnya, belum banyak yang meloncat dari ruang lingkup “memamerkan”.

Konsep pameran koleksi masih didominasi oleh gaya pamer collection based dan masih belum berkembang kearah people based. Collection based berarti pameran yang berpaku pada koleksi dan informasi yang dikandungnya, biasanya pameran semacam ini memiliki panil-panil yang panjang, dan memuat informasi yang lengkap mengenai koleksi tersebut. Sedangkan People based berarti pameran yang disusun tidak hanya berdasarkan apa yang koleksi bisa ceritakan, tetapi lebih kepada apa yang calon pengunjung sudah tahu, belum tahu dan mungkin ingin tahu. Tentunya museum wajib memberitahukan semua informasi yang dimiliki dalam sebuah koleksi, tapi museum juga wajib memberikan pemahaman dengan cara yang benar. Tipe pameran kedua belum banyak bisa dilakukan, karena berbeda dengan tipe yang pertama, people based style menuntut museum untuk mengenal siapa calon pengunjung mereka. Kurang lebih seperti mengenali calon atau target pelanggan, sama seperti studi pasar yang dilakukan oleh pelaku studi marketing.

Komunikasi dalam pameran di museum-museum Indonesia tidak mencapai hasil yang maksimal pada saat aktivitas pameran berhenti pada memamerkan display saja. Yaitu ketika mereka tidak dilengkapi perangkat yang memicu interaksi antara pengunjung dan koleksi, atau memicu dialog antar pengunjung, atau lebih jauh lagi memicu pengunjung untuk mengajak orang lain untuk mengunjungi kembali pameran tersebut.


Potensi Komunikasi Museum Indonesia

Pemikiran yang melihat bahwa memamerkan koleksi dengan label yang cukup jelas dan panil text yang padat dengan informasi hendaknya direvisi dan diperbaharui. Bagus sekali jika museum bisa mendapat bantuan pemikiran dari ahli komunikasi yang mengerti museum, jika tidak museum bisa bertanya pada yang paling kenal dengan masyarakat, yaitu masyarakat itu sendiri. Bertanya langsung ini bisa dilakukan oleh museum secara mandiri melalui survey kualitatif ataupun kuantitatif (tergantung tujuan penelitian) yang terkontrol.

Setelah “berkenalan” dengan pengunjung dan calon pengunjung, baru museum bisa mengetahui pameran yang bagaimana dan tentang apa yang masyarakat butuhkan. Disini adaptasi studi pasar dalam disiplin ilmu marketing bisa diterapkan. Data pasar ini yang akan menjadi bahan komparasi dengan ragam informasi yang didapatkan dari koleksi. Ibaratnya ragam informasi itu adalah ragam produk yang museum miliki, dan museum tinggal memilih “produk” mana yang akan diluncurkan terlebih dahulu. Tentunya dengan konsep dan pengemasan yang sesuai dengan spesifikasi masyarakat yang akan menjadi target pasar. Sekali lagi, untuk memahami target pasar itu mudah sekali, bisa kita mulai dengan bertanya langsung dengan mereka melalui wawancara, survey, diskusi dan observasi perilaku mereka dalam museum.

Satu hal detail dalam pameran yang juga bisa menjadi penunjang keberhasilan pameran adalah pemilihan kata-kata dan tata bahasa yang tepat. Jika target pengunjung adalah masyarakat awam atau anak SD misalnya, tentu penjelasan yang dipakai dalam text informasi bukan tata bahasa ilmiah yang menggunakan kata-kata berat. Pada bagian ini dari pameran adalah saat museum membutuhkan seorang penulis popular yang dapat mengartikan maksud kurator pada pengunjung.


Strategi Komunikasi Yang Dapat Diterapkan di Museum

Terdapat dua proses kerja dalam strategi komunikasi yang dapat diterapkan di museum, yaitu manajemen koleksi dan manajemen informasi. Manajemen koleksi lebih kepada registrasi, inventarisasi, pengaturan storage dan kemudian penelitian koleksi. Hal ini sudah dilakukan oleh sebagian besar museum di Indonesia walaupun sisi penelitian koleksi masih lebih banyak dilakukan oleh peneliti dari luar museum. Manajeman informasi adalah manajemen data yang didapat dari analisa atribut yang menyertai koleksi. Data yang ada tidak seluruhnya bisa ditelan bulat-bulat oleh pengunjung atau bisa menarik calon pengunjung. Jadi tergantung target calon pengunjung, kurator harus menyiasati pengemasan informasi, memilah informasi yang akan disampaikan, serta penyiaran informasi. Penyiasatan berdasarkan target calon pengunjung menjadi penting karena tidak semua kelompok masyarakat bisa menangkap jenis informasi yang disampaikan ataupun siap untuk menerima bobot informasi tertentu. Pemilahan informasi ini bukan dimaksudkan sebagai sensorship, tapi lebih kepada usaha menjamin efektifitasnya transfer knowledge yang akan dilakukan. Sebagai contoh adalah penyampaian tema pameran untuk anak-anak sekolah di Amerika Serikat, kurator dan edukator mengacu pada kurikulum yang dikeluarkan oleh departemen pendidikan dalam pemilahan informasi yang akan disampaikan. Selain itu, isu-isu sensitive juga harus dikemas sedemikian rupa agar masyarakat tidak kaget dan berujung pada penolakan kepada seluruh pesan yang ingin disampaikan.

Museum memiliki empat media untuk melakukan komunikasi, yaitu melalui koleksi; melalui program kegiatan publik; ikut serta dalam ruang dan kegiatan publik; dan melalui kegiatan kebijakan kehumasan dalam aktivitas sehari-hari.

Melalui koleksi, kurator dan perancang pameran bekerjasama membentuk sebuah pameran yang komunikatif. Melalui koleksi juga, kurator dan edukator dapat bekerjasama membentuk program pengenalan koleksi dalam bentuk aktivitas hands on atau praktik workshop dalam proses pemahaman koleksi, latihan pembuatan absklatch pada prasasti misalnya. Melalui koleksi, museum juga bisa berkomunikasi dengan museum lain yang memiliki koleksi sejenis. Peminjaman koleksi antar museum menjadi salah satu upaya komunikasi yang efektif antar institusi.

Melalui program kegiatan publik, museum berkomunikasi dengan modal data dari koleksi saja tanpa harus melibatkan koleksi secara fisik. Bentuk komunikasi yang bisa diadakan bisa berupa temu wicara, diskusi, ceramah ilmiah atau kerjasama antar institusi untuk menyusun suatu penelitian yang nantinya bisa disebarluaskan dalam media cetak atau membentuk pameran yang didasarkan pada hasil penelitian tersebut.

Museum juga bisa berkomunikasi dengan ikut serta dalam ruang dan kegiatan publik yang bisa dimulai dari lokasi sekitar museum. Keterlibatan museum dalam kegiatan masyarakat sekitar museum akan menjadikan museum sebagai bagian dari masyarakat, dan sebaliknya masyarakat pun akan merasa memiliki museum. Hasil jangka panjang dari aktivitas ini adalah terciptanya “humas-humas” di luar museum yang bisa menginformasikan isi museum. Dengan pendekatan yang humanis dan edukasi yang terselip dalam pendekatan tersebut, masyarakat sekitar museum bisa menjadi duta museum yang informatif dan bangga akan hubungannya dengan museum. Pendekatan ini bisa dimulai dari tukang ojek atau pedagang yang mencari nafkah di sekitar gedung museum; sekolah lokal terdekat dengan museum; institusi pemerintahan terdekat di sekitar museum atau institusi lain yang merupakan “tetangga” di sekitar museum. Contoh keikut sertaan dalam ruang dan kegiatan publik bisa berupa partisipasi dalam perayaan hari-hari besar ataupun ikut bergotong royong dalam pemebersihan lingkungan, atau bekerja sama erat dengan sekolah-sekolah terdekat.

Kebijakan kehumasan museum dalam aktivitas sehari-hari menjadi satu langkah penting untuk memelihara hubungan dengan masyarakat. Karena setiap hari masyarakat dari berbagai lapisan dan dari berbagai latar belakang datang ke museum membawa tantangan yang berbeda-beda pula. Dalam usaha ini, seluruh bagian dari museum menjadi satu unit besar yang komunikatif. Mulai dari gerbang, resepsionis, tempat penitipan barang, bagian keamananan, pemandu, sampai petugas kebersihan dan toilet. Museum mengkondisikan diri sebagai tuan rumah yang membuka pintu lebar-lebar dengan keramahan yang tulus. Pada usaha yang terakhir ini, museum sebagai institusi harus mendidik sumber daya manusianya menjadi piawai dalam bidang kehumasan, piawai dalam berkomunikasi dengan masyarakat yang datang dan dapat terus menjaga agar senyum tidak hilang dari wajah siapapun. Latihan dan workshop kehumasan bisa disediakan oleh pihak lain yang dipercaya oleh museum, atau mengacu pada referensi pelatihan kehumasan yang bisa didapat dengan mudah. Penanaman pemahaman tingkat pelayanan yang diinginkan dalam bentuk lain juga menjadi penunjang dalam membangun lingkungan yang mendukung. Bentuk lain tersebut bisa berupa slogan pelayanan seperti “selamat datang, kami hadir untuk anda” atau “kami sambut anda dengan senyuman”. Penetapan slogan semacam itu sudah biasa dipakai untuk membentuk kultur suatu perusahaan atau institusi.

Kemudian kembali pada aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh satu unit dalam museum. Keberadaan satu unit khusus ini penting sekali karena tidak bisa kurator, registrar atau konservator mengurusi masalah komunikasi, sebagian besar pelaku museum berfokus pada koleksi atau bendanya, jadi mesti ada satu bagian yang berfokus pada manusianya. Hal ini karena paradigma berkomunikasi dua arah atau multi arah dengan berbagai lapisan masyarakat tentunya sangat berbeda dengan paradigma komunikasi satu arah dengan artefak. Agak sedikit sulit untuk membentuk bagian ini di museum, karena tidak banyak ahli komunikasi yang mengerti museum. Bahkan untuk saat ini di dunia, baru satu program pendidikan museum yang mengkhususkan dalam pembahasan komunikasi dalam museum, yaitu program paska sarjana Master Museum Communication, Museum Studies Department, University of The Arts, yang berlokasi di Philadelphia, Pennsylvania. Akan tetapi tentunya direktorat Permuseuman dapat menyediakan modul-modul training untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan staff kehumasan yang kini sudah ada di Museum Indonesia. Museum juga dapat mengadapatasi aktivitas-aktivitas komunikasi yang sudah dilakukan oleh museum-museum lain atau mungkin kegiatan komunikasi publik yang sudah pernah dilakukan oleh institusi lain yang memperlihatkan keberhasilan yang signifikan.


Penutup

Perubahan paradigm museum menjadi sebuah institusi yang bertanggung jawab untuk menjalin komunikasi antara koleksi dan pengunjung menjadi sebuah motivasi untuk museum membuka pintunya lebih lebar. Museum harus mengkondisikan diri sebagai tuan rumah yang membuka kedua tangannya dengan penuh keramahan kepada para tamunya. Serta yang paling penting adalah disertai dengan senyuman yang membuat pengunjung merasa betah dan mendukung terciptanya atmosfer yang nyaman yang dapat mendukung proses komunikasi anatara pengunjung dan koleksi. Hanya berkat museum lah koleksi dan pengunjung bisa mulai ngobrol dan berkomunikasi atau dengan lain kata, hanya museum lah yang bisa menjadi penyampung lidah generasi yang lebih tua dengan generasi kini dan masa depan.

*Pernah dimuat dalam Museografia, edisi Desember 2011


Responses

  1. Mbak Annisa, saya putra Pak Bambang Sumadio dan saya menggeluti strategi komunikasi sejak lama, namun saya tidak pernah tahu Almarhum Ayah saya pernah membahas pemikiran soal komunikasi sedemikian rupa.
    Senang sekali membaca tulisan Mbak, bila berkenan, Mbak bisa mengkontak saya, dengan senang hati saya akan membantu kegiatan komunikasi yang dilakukan museum.
    Terima kasih.

    Salam hormat,
    Widyasena Sumadio

    • Baik Mas, nanti saya hubungi Mbak Annissa…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: