Oleh: museumku | 11 Maret 2012

Museum dalam Persepsi Jurnalistik


Oleh: Djulianto Susantio

Museum sebagai objek pendidikan sekaligus objek wisata bukan hanya terdapat di Jakarta, tetapi juga di kota-kota besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Ada museum yang gedungnya besar dan megah, ada pula yang kecil macam kamar tidur. Sebenarnya besar dan kecilnya museum tidak menjadi masalah. Yang penting adalah bagaimana museum mampu memberikan segudang informasi bagi kita, terutama para pelajar dan mahasiswa.

Umumnya orang awam menganggap museum merupakan gedung atau gudang penyimpanan barang antik. Juga tempat memamerkan barang-barang antik itu. Sesungguhnya definisi museum amat luas, sebagaimana dikemukakan oleh Dewan Museum Internasional atau International Council of Museums (ICOM).

Menurut ICOM, yang disebut museum mencakup lembaga-lembaga konservasi, ruang pamer, atau galeri yang secara tetap diadakan oleh perpustakaan dan pusat kearsipan. Selain itu suaka alam, cagar alam, situs arkeologi, situs etnografi, berikut peninggalan arkeologi atau peninggalan bersejarah.

Kebun binatang atau taman margasatwa juga dimasukkan ke dalam kategori museum. Bahkan istilah museum melingkupi lembaga-lembaga yang memamerkan spesimen-spesimen hidup, seperti suaka margasatwa, kebun raya, taman anggrek, herbarium, akuarium, dan oseanorium.

Museum dalam wujudnya yang lain berupa planetarium dan observatorium. Keduanya adalah tempat untuk melihat benda-benda angkasa. Apapun namanya, pada prinsipnya museum memamerkan segala jenis benda mati dan benda hidup untuk kepentingan masyarakat.

Ditinjau dari ilmu yang menaunginya, museum ditangani oleh bidang pengetahuan alam, pengetahuan sosial, dan pengetahuan budaya. Dengan demikian museum mencakup segala bidang kehidupan. Artinya, benda apa pun bisa dimasukkan ke dalam museum.


Tertutup dan Terbuka

Umumnya museum berupa sebuah gedung atau bangunan, sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi. Ini untuk melindungi seluruh koleksi dari pengaruh panas, hujan, dan yang paling penting dari gangguan tangan-tangan jahil manusia. Museum seperti ini diistilahkan museum tertutup.

Ada juga museum yang berada di luar ruangan. Namanya museum terbuka atau museum lapangan. Nama kerennya open air museum atau site museum. Koleksi dalam museum terbuka atau museum lapangan sangat besar, sehingga tidak bisa dipindahkan. Karena itu tetap dilestarikan di halaman, dalam ujud benda cagar budaya. Museum terbuka yang paling dikenal adalah Taman Wisata Candi Borobudur dan Taman Purbakala Nasional Banten Lama.

Menurut jenis koleksinya museum terbagi dua, yakni museum umum dan museum khusus. Museum umum adalah museum yang koleksinya terdiri atas berbagai jenis objek ilmu pengetahuan dan kesenian. Contoh museum umum adalah Museum Nasional yang koleksinya terdiri atas benda-benda prasejarah, arkeologi, relik sejarah, etnografi, geografi, seni rupa, numismatik, heraldik, dan keramik.

Museum khusus adalah museum yang hanya menyajikan koleksi berupa satu jenis objek ilmu pengetahuan atau kesenian. Contohnya Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Keramik, dan Museum Seni Rupa.

Dari segi pengelolaannya, museum juga terbagi dua, yaitu museum pemerintah atau museum negeri dan museum swasta atau museum pribadi. Museum pemerintah dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga milik pemerintah. Contohnya Museum Nasional (pemerintah pusat), Museum Sejarah Jakarta (pemerintah daerah DKI Jakarta), dan Museum Satria Mandala (TNI).

Museum swasta dikelola oleh yayasan atau keluarga, misalnya Museum Adam Malik (kini sudah tutup), Museum Affandi, Museum Dullah, dan Museum Suteja Neka.

Ada lagi yang disebut museum keliling atau museum mobil. Biasanya museum ini berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menggunakan mobil yang didesain secara khusus. Meskipun koleksi yang dipamerkan tidak banyak, museum mobil dapat memberikan apresiasi kepada warga untuk mencintai peninggalan-peninggalan masa lalu bangsanya.


Edukasi dan Rekreasi

Museum adalah sebuah lembaga yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tugas utama museum adalah di bidang pengadaan, pengawetan, penelitian, dan penyebaran informasi koleksi kepada masyarakat untuk tujuan pendidikan (edukasi) dan kesenangan (rekreasi). Karena itu museum bersifat rekreatif edukatif, dengan catatan faktor rekreatif lebih ditonjolkan namun tetap memperhatikan faktor edukatif.

Meskipun dikatakan tidak mencari keuntungan, namun mengunjungi museum tetap harus membayar. Biaya termurah untuk memasuki sebuah museum sekitar Rp 500. Ada pula museum yang menggratiskan pengunjungnya, misalnya Museum Uang Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri.

Pada dasarnya museum merupakan etalase ilmu pengetahuan dalam barisan depan. Ibarat buku, museum adalah ensiklopedia. Namun bagi masyarakat awam ada berbagai kendala untuk mengunjungi museum. Keadaan ekonomi, tidak pelak, menjadi halangan utama mengapa masyarakat enggan mengunjungi museum.

Keengganan masyarakat, terutama para pelajar/mahasiswa, belum memanfaatkan museum secara maksimal, disebabkan dunia pendidikan kita belum memprioritaskan museum sebagai sarana belajar. Di pihak lain, banyak daerah belum memiliki museum yang representatif, bahkan belum ada sama sekali.

Kalau kota Jakarta menjadi patokan, tampak sekali kota-kota kecil menjadi jauh tertinggal. Boleh dikatakan Jakarta adalah barometer museum. Berbagai jenis museum terdapat di sini. Namun mengunjungi museum masih terabaikan. Kalau tidak ada kegiatan paksaan lewat program “wajib kunjung museum” berdasarkan instruksi Gubernur DKI Jakarta R. Suprapto waktu itu, bisa jadi para pelajar dan guru enggan mengunjungi museum. Keadaan di luar Jakarta, tentu lebih parah.

Banyak orang selalu memperbandingkan museum dengan tempat-tempat rekreasi macam Ancol dan Taman Mini. Memang jumlah pengunjung museum boleh dibilang belum ada apa-apanya. Hal ini mengingat kedua tempat rekreasi itu mampu menyedot jutaan pengunjung per tahun, meskipun harga karcis masuknya jauh di atas harga karcis masuk museum. Selain Museum Nasional yang menyedot pengunjung terbesar, termasuk wisatawan mancanegara, museum-museum lain berada jauh di bawah itu. Bahkan kabarnya ada sejumlah museum yang hanya didatangi belasan hingga puluhan pengunjung per tahun.

Ada berbagai alasan mengapa masyarakat enggan mengunjungi museum dan lebih mementingkan ke taman rekreasi. Pertama, untuk mengunjungi museum masyarakat memerlukan bekal pengetahuan terlebih dulu jadi terasa berat, misalnya harus mencari informasi koleksi. Sebaliknya kunjungan ke taman rekreasi bersifat santai karena memang bersifat hura-hura, jadi terasa ringan.

Kedua, karena kondisi museum itu sendiri masih memprihatinkan. Misalnya saja koleksi yang kotor, informasi label yang terlalu minim, ruangan yang temaram, toilet yang jorok, dan berbagai fasilitas lain yang dianggap kurang memadai.

Sejak lama sejumlah museum di Indonesia dicanangkan berfungsi sebagai Museum Pendidikan. Museum Pendidikan didefinisikan sebagai museum yang tujuan utamanya untuk kepentingan studi atau riset para pelajar/mahasiswa. Juga dimaksudkan sebagai alat peraga atau pembantu utama bagi pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi.

Salah satu museum pendidikan yang berperan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah Museum Anatomi. Museum ini milik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai laboratorium pendidikan bagi para mahasiswanya.

Berbeda dari umumnya museum yang kita kenal, koleksi Museum Anatomi FKUI adalah barang-barang yang tergolong mengerikan dan menjijikan di mata orang awam. Bahkan mungkin dapat membuat kita merinding atau tidak bisa tidur semalaman. Koleksi otak besar, jantung, hati, ginjal, dan janin manusia tersimpan di sini dalam stoples-stoples yang sudah diberi bahan pengawet. Ada lagi foto-foto korban pembunuhan dan mutilasi.

Koleksi lain berupa reproduksi fosil manusia purba, wajah berbagai suku bangsa di Indonesia, dan anatomi bagian-bagian tubuh manusia. Museum Anatomi hanya dibuka untuk umum pada saat-saat tertentu, seperti dies natalis (perayaan ulang tahun) UI atau FKUI saja.

Berbagai perguruan tinggi lain juga memiliki Museum Pendidikan. Misalnya berjenis-jenis batuan bumi ada di Fakultas Geologi ITB, berjenis-jenis tumbuhan ada di Fakultas Biologi IPB, dan berjenis-jenis peta ada di Fakultas Geografi UGM.

Museum tidak harus berbentuk lembaga formal. Siapa saja boleh mendirikan museum, mengingat tujuan utama museum adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk memperkenalkan museum sedini mungkin, tentu harus didirikan museum sekolah.

Kehadiran museum sekolah justru penting karena selama ini boleh dikatakan belum ada sekolah-sekolah di Indonesia yang memiliki museum sendiri. Museum dalam skala kecil merupakan semacam laboratorium pendidikan bagi para guru dan murid.

Seberapa pun luasnya ruangan, keberadaan museum bisa disesuaikan di dalamnya. Banyak hal bisa diisi dalam museum sekolah, misalnya foto kepala sekolah. Bisa pula guru teladan dan pelajar teladan. Foto bersama para murid yang dilakukan setiap tahun, bisa dijadikan koleksi museum dalam bentuk album.

Kalau sekolah tersebut berprestasi, seperti menjadi sekolah terbaik, tentu ada piala atau piagam penghargaan. Nah, ini bisa disimpan di dalam museum sekolah. Begitu juga piala-piala hasil berbagai perlombaan atau kejuaraan serta berbagai jenis seragam sekolah, tentu lengkap dengan topi, dasi, dan badge.

Berbagai alat tulis, seperti pensil, penghapus, serutan, dan penggaris bisa pula menjadi koleksi museum sekolah. Pokoknya segala hal yang berhubungan dengan sekolah dan segala aktivitas belajar-mengajar, bisa mengisi museum sekolah.

Di berbagai negara maju, museum sekolah banyak berdiri untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar, misalnya Jepang. Sebagai perbandingan, murid sekolah dengan bimbingan para guru secara periodik kerap mengunjungi museum-museum lokal. Terbukti mereka menjadi bangsa yang pintar berkat keberadaan museum dengan sarana pendukung guru dan buku. Di Jepang museum benar-benar diprioritaskan sebagai sarana pendidikan. Ini terlihat dari label-label koleksi yang hanya ditulis dalam huruf Kanji, tanpa terjemahan dalam bahasa Inggris. Bahkan beberapa museum mobil dilengkapi dengan kecanggihan teknologi.


Anggaran

Banyak kendala yang dihadapi museum-museum di Indonesia karena sebagian besar museum dikelola oleh instansi pemerintah. Jadi bukan terletak pada alih fungsi bangunan—yang kebanyakan merupakan bangunan-bangunan bergaya kolonial—melainkan sumber daya manusianya. Etos kerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) mungkin menjadi penyebab mengapa museum-museum di Indonesia belum semaju di mancanegara.

Begitu pula peranan kurator-kurator museum. Sampai kini pemerintah belum memperhatikan keberadaan mereka. Akibatnya sampai kini kita belum memiliki kurator yang bertaraf internasional. Padahal di mancanegara berbagai buku ensiklopedia yang tergolong best seller, justru dihasilkan dari tangan dan pemikiran kreatif para kurator museum.

Lagi-lagi kita harus membuat perbandingan, kini dengan British Museum di Inggris. Hasil kebudayaan apa yang paling dikenal di Inggris? Kecuali Stonehenge, Inggris nyaris tidak memiliki peninggalan budaya yang berarti. Namun British Museum menjadi sangat populer karena mengoleksi benda-benda budaya berkelas dunia asal Mesir, Irak, Yunani, Romawi, dan Indonesia.

Museum Sejarah Alam-nya begitu terkenal. Para pembuat film dokumenter seperti Discovery Channel dan National Geographic Channel, hampir selalu mengambil referensi dari British Museum. Bahkan British Museum memiliki anggaran untuk melakukan ekskavasi arkeologi di Mesir, Irak, dan berbagai negara lain.

Berbagai ensiklopedia yang ditulis kurator British Museum sangat dipuji di mana-mana. Manajemen pengelolaannya selalu menjadi inspirasi bagi pengelola museum di negara-negara berkembang.

Pengelolaan British Museum memang sudah benar-benar profesional. Mereka memperlakukan benda-benda budaya milik bangsa lain seperti milik bangsanya sendiri. Mereka merawatnya dengan hati-hati dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Begitu juga Lembaga Smithsonian yang memiliki beberapa museum, selalu menjadi bahan acuan museum-museum di berbagai negara.

Contoh lain adalah Belanda dan Prancis. Di kedua negara itu tradisi mengunjungi museum sudah membudaya hebat. Jangan heran kalau untuk masuk museum saja, orang harus rela antre berpuluh-puluh meter panjangnya. Padahal harga tiket masuk di sana mencapai Rp 100.000 jika dikurskan dengan rupiah. Minat untuk melihat pameran temporer begitu tinggi karena para kurator jeli melihat peluang.

Negara tetangga kita, Singapura, juga sudah lama mengandalkan museum sebagai daya tarik pariwisata. Singapura jelas tidak mempunyai sumber daya alam atau sumber daya budaya yang hebat seperti Indonesia. Namun kelebihannya, mereka memiliki sumber daya manusia yang handal sehingga mampu menjual potensi museum.

Boleh dikatakan Museum Nasional Singapura kalah jauh dibandingkan kualitas dan kuantitas Museum Nasional Indonesia. Namun penataannya mengagumkan, pencahayaan display-nya bagus, promosinya luas, dan penyediaan berbagai fasilitasnya meyakinkan. Selain telepon bersuara, museum dilengkapi komputer layar sentuh dan perangkat audio-visual untuk membantu pengunjung. Dalam setahun jumlah pengunjung Museum Nasional Singapura mencapai tujuh juta orang, berkali-kali lipat dari Museum Nasional Indonesia. Sebagai perbandingan tiket masuk di sana mencapai Rp 30.000, sementara di sini hanya Rp 750 untuk dewasa.

Kita bisa belajar banyak juga dari Museum Etnologi Dahlem (Berlin), Jerman. Dari 50.000 objek yang berasal dari Asia, sekitar tiga per empatnya merupakan benda-benda budaya dari Indonesia.

Sejak lama Museum Berlin sudah menjadi museum bertaraf internasional dan merupakan tujuan kunjungan wisatawan mancanegara. Museum Berlin maju pesat karena ditangani sumber daya manusia yang terampil, dibantu perkembangan teknologi yang modern. Kondisi ruangannya begitu bersih dan terpelihara dengan baik.

Penataan etalase di museum ini juga sangat rapi dan teratur. Koleksi asal Indonesia yang dipamerkan di sini diperoleh dari hampir semua propinsi, pulau, dan daerah. Di antara koleksi-koleksi itu terdapat wayang, seperti wayang golek, wayang kulit, dan wayang klitik, berikut sejumlah besar topeng dan anyaman.

Koleksi-koleksi itu dikumpulkan oleh orang-orang Jerman yang sering berkeliling Indonesia sejak abad ke-19. Karena terpesona akan pertunjukan wayang, mereka banyak membeli boneka wayang dan topeng.


Pengelolaan

Jelas ada yang salah atau kurang dari segi pengelolaan museum di Indonesia. Sepi pengunjung dan tiket murah merupakan kontradiksi yang sulit diterima akal sehat. Namun bila dikaji, akar masalahnya sebenarnya bukan tiket murah. Biaya transportasi, biaya makan, dan biaya-biaya tak terduga sering menjadi bahan pertimbangan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

Kini di seluruh Indonesia terdapat kurang dari 400 museum. Itu pun 11 di antaranya telah tutup tahun 2008 karena masalah dana. Berapa banyak persentasenya dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kekayaan budaya yang kita miliki, tentu kita bisa menerka-nerkanya sendiri. Bandingkan dengan Belanda, misalnya, yang mampu membangun ribuan museum. Bahkan becak yang dikenal sebagai kendaraan tradisional di Indonesia, justru lebih gampang dijumpai di sana daripada di negara asalnya.

Lemahnya mental pegawai museum dan aparat terkait sering disalahkan. Sampai-sampai ketidakcakapan pemerintah tak luput dari gunjingan. Apalagi dana yang dianggarkan tidak pernah sesuai dengan harapan. Alasan dana pemeliharaan yang minim pula yang menyebabkan beberapa museum pernah kecolongan.

Metafora selalu mengatakan bahwa benda-benda arkeologi adalah harta yang tidak ternilai harganya. Artinya, semua benda arkeologi tidak bisa diukur dengan uang karena nilai ilmu pengetahuannya jauh lebih penting dari itu.

Tanpa bermaksud mendukung pencurian yang sering dialami museum itu, kita tentu akan bertanya, “Benarkah benda-benda arkeologis dalam keadaan yang lebih baik dan aman jika berada di tangan museum dan pemerintah?”

Seorang rekan arkeolog pernah merasa jengkel dan rada mengolok. “Kalau Museum Nasional dan Museum Sejarah Jakarta dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi warisan-warisan arkeologi. Betapa banyak koleksi museum berada dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak terawat sama sekali,” katanya.

Jika demikian keadaannya, tentu saja akan lebih baik bila koleksi-koleksi tersebut dicuri lalu dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat koleksi-koleksi itu dengan lebih baik. Pencurian benda-benda masa lampau yang dilindungi hukum memang salah. Namun menelantarkan benda tersebut dengan alasan apapun adalah tindakan yang lebih salah.

Kembali ke soal kualitas museum, mungkin ada benarnya kalau orang mengatakan banyak gedung museum di negeri kita ibarat “kandang ayam”. Selain kondisi bangunannya yang terlihat gampang ambruk, situasi dalamnya pun tak ubahnya peribahasa “mati segan, hidup tak mau”. Pencahayaan selalu redup, lemari pajangan keropos di sana-sini, kotak-kotak informasi masih terlalu jadul, tembok dan lantai sangat kusam. Bahkan ada beberapa museum berdinding gedek, meskipun hanya bersifat sementara dan didirikan atas inisiatif warga yang peduli.

Ironis memang, kehidupan museum hanya tergantung dari karcis masuk yang hanya sebesar ratusan rupiah per pengunjung. Sudah jelas untuk biaya operasional sehari-hari saja tidak cukup.

Kalau kualitas museum di Jakarta saja masih banyak dipertanyakan, tentu kondisi museum di daerah jauh lebih buruk. Padahal justru kekayaan budaya di daerah jauh lebih banyak daripada di Jakarta.

Jadi sudah saatnya pemerintah memperhatikan kondisi museum. Museum harusnya menjadi tempat yang paling aman untuk menyimpan harta karun bangsa. Kondisi fisik harus benar-benar diperhatikan, misalnya melengkapi museum dengan kamera pengintai, alarm, dan pintu otomatis. Kondisi non-fisik pun tidak boleh ditinggalkan. Pegawai museum juga manusia, tentu memerlukan kehidupan yang layak. Tunjangan fungsional sebagai pamong museum perlu ditingkatkan.

Kita harus yakin, museum yang baik pasti akan dicari orang. Karena apa? Museum memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai objek pariwisata dan sebagai objek pendidikan. Yang kini terlihat sungguh membuat hati miris, museum hanya sebagai gudang peninggalan barang-barang kuno sehingga terkesan angker.

Marilah kita mulai membenahi museum. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan sejarahnya, tentu lewat museum. Lewat museum kita bisa berkaca tentang kecemerlangan bangsa Indonesia di masa lampau.

Mudah-mudahan masyarakat dan pemerintah akan segera mampu memperlakukan museum kita, termasuk benda-benda koleksinya, secara lebih “manusiawi”. Jika sudah demikian, itulah saat yang paling pantas untuk mengutuk pencurian dan transaksi ilegal benda-benda cagar budaya milik negara.

Pengelolaan museum tentu saja memerlukan pengetahuan tersendiri. Pengelompokan materi pameran, penataan, pencahayaan, pelabelan, dan sebagainya sudah jelas harus ditangani dengan metode dan teknik tertentu agar menimbulkan daya tarik. Sejak 1980-an di Indonesia mulai berkembang pengetahuan Museologi, yang menjadi bagian dari subdisiplin Arkeologi. Pada awalnya mata kuliah Museologi diajarkan di program S-1. Namun sejak 1990-an dikembangkan menjadi beberapa mata kuliah. Bahkan sejak 2000-an menjadi bagian dari program S-2.

Dari segi ilmu museologi, museum bukan hanya tempat penyimpanan barang kuno, namun juga menjadi laboratorium penelitian sejarah budaya. Karena itu seharusnya pengetahuan para kurator museum perlu ditingkatkan. Selain bagi dirinya sendiri, masyarakat pun bisa memetik manfaat dari kurator yang handal.


Promosi

Salah satu hal yang menyebabkan kurang terkenalnya museum-museum di Indonesia adalah karena kurang promosi. Informasi yang lengkap mengenai permuseuman bisa meniru kaidah-kaidah dalam jurnalistik, yakni mengacu pada 5 W + 1 H (What, Why, Where, When, Who, dan How).

Untuk melakukan hal demikian tentu saja pihak museum harus bekerja sama dengan media massa. Ini termasuk sulit karena museum masih dikategorikan kurang atau belum layak jual. Terbukti tulisan-tulisan mengenai museum dan/atau koleksi museum masih sangat jarang dijumpai. Kecuali kalau ada kasus-kasus tertentu, umumnya pencurian, barulah tulisan mengenai museum gencar terpublikasi. Bahkan sering kali pengelola museum dikejar-kejar pers.

Membuat karcis masuk museum semenarik mungkin, dilengkapi gambar bangunan museum dan koleksi, agaknya perlu dipertimbangkan. Ini mengingat komunitas kolektor sudah banyak bermunculan. Benda-benda memorabilia seperti ini banyak digandrungi kolektor-kolektor di seluruh dunia.

Promosi dapat dilakukan juga lewat penjualan benda-benda cenderamata. Benda-benda ini harus dibuat unik dan khas sehingga mengundang kenangan tersendiri. Tidak tertutup kemungkinan, hal demikian akan mendongkrak popularitas museum.

Menanamkan kesadaran pada masyarakat akan arti dan makna museum, perlu ditingkatkan. Sebenarnya hal ini merupakan bagian dari Arkeologi Publik. Sarana yang paling efektif adalah media massa. Pemanfaatan media massa untuk kepentingan Arkeologi Publik pada prinsipnya dapat dibagi menjadi beberapa hal, terutama sekali melalui tulisan atau siaran dengan maksud memberikan penerangan (informatif), mempengaruhi dengan jalan membujuk (persuasif), mendidik (edukatif), dan hiburan (rekreatif).

Sekadar gambaran, di Italia siaran mengenai museum lewat acara “Museo” selalu ditayangkan televisi Italia RAI secara periodik dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Selain wawancara dengan pejabat museum, juga diketengahkan berbagai koleksi yang tergolong masterpiece.

Selain itu kita perlu meniru promosi gencar yang dilakukan pemerintah Inggris lewat langkah inovatif, yakni dengan membangun museum hidup untuk memperlihatkan pengalaman interaktif tentang masa lampau. Museum terbuka itu mempunyai koleksi 40 bangunan bersejarah yang diselamatkan dari pengrusakan. Masing-masing bangunan adalah bongkaran dari lokasi aslinya, yang diawetkan dan dibangun lagi di museum, sesuai dengan gaya waktu itu. Museum hidup ini dilengkapi kebun-kebun berdasarkan bukti-bukti tertulis dan contoh-contoh tanaman yang berhasil diidentifikasi oleh para arkeolog (Arkeologi, 2003).

Museum hidup itu juga dilengkapi kincir dan peternakan. Pengrajin dan penjual miniatur bangunan tradisional, ikut diperkenalkan di sana. Jadilah ajang itu menjadi promosi gratis sehingga jumlah pengunjung meningkat dari tahun ke tahun.

Zaman terus berubah. Sarana modern, seperti internet, seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin. Di era digital, pembuatan website museum tentu saja mutlak dan perlu. Sebenarnya beberapa website museum pernah ada. Namun, seperti halnya pengelolaan museum, pengelolaan website pun terabaikan. Mungkin karena faktor pekerjaan atau tidak ada yang mengurus.

Museum Nasional, sebagai museum terbesar dan terlengkap, misalnya, pernah memiliki website, yakni museum-nasional.org. Namun karena ditangani pihak ketiga, maka website ini kemudian hilang. Sekarang memang masih ada, yaitu museum-nasional.com. Disayangkan, website ini jalan di tempat, juga karena ditangani pihak ketiga. Kekurangan lain adalah pegawai dan kurator museum memiliki kesibukan sendiri, karenanya tidak pernah menambah atau memperbarui materi atau tulisan pada website.

Yang masih eksis adalah website yang saya tangani sendiri, yakni museum-nasional.blogspot.com dan museum-jakarta.blogspot.com. Kedua website ini dibuat pada Mei 2009. Sebulan terakhir ini jumlah pengunjung masing-masing website berkisar 10-30 orang per hari. Diharapkan untuk masa-masa selanjutnya materi website lebih bervariasi sehingga jumlah pengunjung semakin banyak.

Kita memang masih tertinggal dibandingkan beberapa negara maju yang mempunyai website bagus karena benar-benar ditangani tenaga-tenaga profesional di bidangnya. Tidak dimungkiri, masalah dana selalu menjadi alasan klasik di negara kita. Memang, yang namanya promosi membutuhkan dana relatif besar.

Selain website yang berisi tulisan dan foto, beberapa negara bahkan telah mengembangkan semacam gambar tiga dimensi. Dengan memakai perangkat lunak Computer Aided Design (CAD) pengguna internet dapat melihat-lihat koleksi museum. Museum modern telah diubah oleh sains menjadi lebih hidup. Banyak orang segera terpikat karena dapat langsung menyaksikan koleksi museum dari rumah selama 24 jam terus-menerus. Memang ada kelebihan dan kekurangannya dibandingkan melihat secara langsung. Adanya website seperti ini ikut mendukung promosi museum.

Teknologi dalam bentuk animasi visual yang menampilkan koleksi museum bukan merupakan hal yang mustahil. Teknologi modern khususnya teknologi komputer grafis bisa melakukan hal itu. Di tangan para seniman komputer grafis dan rekaan, gambaran koleksi dan masa lalunya yang dikumpulkan sejarawan, arkeolog, dan arsitek, bisa hidup kembali.

Di Italia teknologi demikian sudah maju. Bukan hanya museum, situs-situs masa Romawi pun bisa dibuatkan programnya. Terlebih dulu para pakar mengumpulkan data, kemudian dibuatkan gambar rekaan. Teknologi ini didukung oleh sebuah perusahaan dengan spesialisasi di bidang pembuatan program interaksi budaya dan rekonstruksi arkeologi maya.

Mengembangkan museum digital di Indonesia tentu bukanlah pekerjaan mudah. Perlu dana yang besar dan tenaga yang handal. Belajar dari keberadaan website, sudah jelas keberadaan museum digital sulit terlaksana dalam waktu dekat.

Ironis, di dunia nyata perhatian kepada museum belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Padahal kalau kita lihat dunia fiksi, betapa dahsyatnya koleksi museum, sehingga mampu menyedot kekaguman masyarakat. Mungkin kita masih ingat film Hollywood berjudul “Night at the Museum”. Dua seri film ini telah menjadi box office di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Memang karya-karya tersebut cukup menaikkan derajat dunia permuseuman kepada masyarakat. Sayang dalam keadaan sesungguhnya, museum bukanlah hal yang populer. Ilmunya sering kali dijauhi, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. Ini terlihat dari anggaran tahunan yang diterima jauh dari mencukupi.

Justru koleksi museum yang semakin gencar diburu karena memiliki nilai komersial atau investasi tinggi. Banyaknya pemalsuan arca di Museum Radya Pustaka beberapa waktu lalu, jelas menunjukkan bahwa nilai benda-benda kuno amat fantastis. Semakin banyaknya barang yang ditawarkan balai-balai lelang internasional, memberi gambaran bahwa bisnis benda-benda kuno selalu menggeliat dan museum hampir selalu menjadi sasaran.

Di negara kita ada berbagai organisasi permuseuman, seperti Paramita Jaya (Perhimpunan Antar Museum Jakarta Raya) dan AMI (Asosiasi Museum Indonesia). Ada juga organisasi Remaja Pencinta Museum, Sahabat Museum, Ganesha Society, dan Komunitas Museum Indonesia. Kita harapkan organisasi seperti ini bisa berperan lebih jauh untuk meningkatkan harkat dan derajat museum di Indonesia.

Di sejumlah negara kemajuan suatu museum tergantung pada keprofesionalan direktur museum. Dia dituntut aktif, inovatif, dan kreatif. Mudah-mudahan di Indonesia ada SDM seperti itu, sehingga museum-museum tidak lagi mengeluh sepi pengunjung. Justru semakin dihargai oleh masyarakat karena perannya sebagai etalase ilmu pengetahuan.***


Daftar Pustaka

Devereux, Paul. Dunia Sains: Arkeologi. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003.

Olofsson, Ulla Keding (Terj. Ign. Widyatmoko). Museum dan Anak-anak. Jakarta: Balai Pustaka, 1991.

Satari, Sri Soejatmi. Pengembangan Museum dalam Pengadaan dan Pengkajian Koleksi Arkeologi. Makalah pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, 1996.

Susantio, Djulianto. Museum, Etalase Ilmu Pengetahuan. Kompas, 2004.

_______. Kemajuan Museum Tergantung Keprofesionalan. Suara Pembaruan, 2005.

_______. Museum Wayang, Membludak di Berlin, Sepi di Jakarta. Sinar Harapan, 2006

_______. Mengapa Museum Sering Kebobolan? Sinar Harapan, 2009.

 

*Dimuat dalam Museografia, Vol. III, No. 4 – Desember 2009


Responses

  1. mas salam kenal saya aris saya sedang mengerjakan skripsi dan saya tertarik dengan kutipan yang mas tulis di artikel ini. yang kalimatnya seperti ini :

    Pada dasarnya museum merupakan etalase ilmu pengetahuan dalam barisan depan. Ibarat buku, museum adalah ensiklopedia. Namun bagi masyarakat awam ada berbagai kendala untuk mengunjungi museum. Keadaan ekonomi, tidak pelak, menjadi halangan utama mengapa masyarakat enggan mengunjungi museum.

    Keengganan masyarakat, terutama para pelajar/mahasiswa, belum memanfaatkan museum secara maksimal, disebabkan dunia pendidikan kita belum memprioritaskan museum sebagai sarana belajar. Di pihak lain, banyak daerah belum memiliki museum yang representatif, bahkan belum ada sama sekali.

    kalo boleh sya tau sumber kutipan ini dari mana ya mas, soalnya sya harus mengutip dari sumber buku dan bukan bersumber dari blog seseorang jika mas berkenan membantu sya, sya minta sumbernya dari buku mana atau dari situs mana. mohon petunjuknya mas trims.

    • Sumbernya Djulianto Susantio, Museum dalam Persepsi Jurnalistik, Buletin Museografia, Vol III No. 4, Des 2009, hal 121-134. Penerbit: Direktorat Museum, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Kalimat di atas ada di hal 123. Demikian info dari saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: