Oleh: museumku | 5 Februari 2012

Konsep Penyajian Museum (Bagian 4)

Tim Penulis:

• Yunus Arbi
• Kresno Yulianto
• R. Tjahjopurnomo
• M Ridwan Abdulroni Kosim
• Osrifoel Oesman
• Sukasno


Bab IV Konsep Penyajian Pameran

Pameran dan penyajian informasi merupakan cara yang paling visible bagi museum untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Suatu pameran yang terencana dengan baik patut menjamin keselamatan dan keterawatan lingkungan baik keselamatan dan keterawatan koleksi maupun pengunjungnya.

Hal ini sesuai dengan pengertian museum yang termuat dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 18 ayat 2, yaitu:
“Museum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan, dan/atau struktur yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat”.

Pameran merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan sekelompok masyarakat guna menyampaikan informasi, ide, dan emosi berkaitan dengan bukti materi kebudayaan manusia dan lingkungannya melalui bantuan metode visual dan dimensi. Di dalam menyajikan informasi koleksi tersebut, kebijakan pada setiap museum akan mengacu pada jenis museum dan koleksi yang dihimpunnya. Kebijakan yang dimaksud pada umumnya tertuang pada visi dan misi museum (museum mission statement). Dalam perkembangannya, museum bergerak maju dengan memperluas cakupan kebijakan penyelenggaraan pameran. Di samping menguraikan pameran tetap dan temporer, informasi yang akurat, dan menjaga keterawatan koleksi, museum juga mulai mengantisipasi berbagai tanggapan atas kebutuhan pengunjung dan masyarakat melalui kajian yang intensif, rancangan desain pameran, dan beragam strategi komunikasi.

Jika kita lihat pada tabel di atas, maka konsep penyajian pameran menurut pembagian pada empat jenis museum memiliki tipe, gaya dan karakteristik yang berbeda. Hal ini mempengaruhi pada cara menyajikan informasi yang letak kekuatan pada teks, gambar dan foto atau pada kekuatan estetika koleksi ataupun juga keduanya ditampilkan secara seimbang.

Pada mulanya, konsep dan pendekatan penyajian di masa lalu (traditional museum) banyak dilandasi dari hasil penelitian ilmiah terhadap ‘benda” koleksi. Pemaknaan terhadap benda banyak dipengaruhi oleh para peneliti, akibatnya pemaknaan tersebut kurang dipahami oleh masyarakat umum dan sering kali tidak sesuai dengan kondisi kekinian. Di era 1980an, Para ahli dibidang permuseuman mengembangkan konsep “museum baru” (new museum) yang subjeknya diambil dari kehidupan masyarakat, bersifat interdisipliner, dan pemaknaan benda koleksi pun didasarkan pada penggunaannya di masyarakat. Selanjutnya pemaknaan tersebut dikaji relevansinya dengan masa kini dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu orientasi komunikasi pada museum masa kini menekankan pada penyajian pameran yang berorientasi pada informasi dibandingkan koleksi. Informasi ini ditujukan untuk merekonstruksi memori kolektif dan disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Apabila dicermati secara luas, maka fokus pada konsep “museum baru” ini adalah museum yang berperan dalam menyelamatkan, menyimpan, dan meneruskan ingatan bersama (memory collective). Oleh sebab itu dalam melaksanakan aktifitasnya, museum bekerja secara dekat dengan komunitas sekitarnya hingga pada akhirnya mampu memperkuat identitas budaya. Pemaknaan identitas yang disajikan oleh museum diupayakan memiliki relevansi pemaknaan dengan masyarakat masa kini. Bagaimana pun pemaknaan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat untuk merumuskan dan menemukan kembali sejarahnya sendiri melalui pencarian relevansi antara masa lalu dengan masa kini.

Konsep yang sarat dengan muatan gagasan inilah yang dirumuskan di museum. Dalam hal ini tentu museum memiliki keterbatasan untuk menampilkan keseluruhan konsep tersebut, sehingga diperlukan penentuan tema yang selanjutnya diwujudkan menjadi pesan museum dan diwujudkan pada pameran serta program museum lainnya.


4.1. Museum dan Kurator

Apabila ditempatkan dalam konteks organisasi kerja museum, maka pekerjaan yang terkait dengan penyusunan konsep penyajian di museum merupakan pekerjaan yang biasa disebut kurasi. Kata ‘kurasi’ berasal dari bahasa Inggris ‘curation’, yang kemudian berkembang menjadi curate, curator, dan curatorial dan dalam bahasa Indonesia istilah ini dipadankan dengan kurasi, kurator, dan kuratorial. Di dalam kamus umum Merriam-Webster, kata curator dalam Bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin ‘curare’. Curator berarti seseorang yang menjaga atau memelihara, memperhatikan, dan mengawasi segala sesuatu di museum, galeri, kebun binatang, sea world dan tempat-tempat pameran lainnya.

Seniman muda Indonesia, Mikke Susanto menyatakan bahwa pekerjaan kuratorial adalah pekerjaan ‘menimbang ruang’, yaitu menyatukan benda hasil karya dengan pasar – media- publik dalam suatu wacana-suasana-tempat-pameran. Pekerjaan tersebut mencakup penelitian atas teks objek (koleksi), konseptualisasi, interpretasi, perencanaan, dan promosi pameran atau koleksi. Oleh karena itu, tugas kurator adalah menerangkan, membuat katalogisasi, menganalisis, memamerkan, dan memelihara koleksi atau dokumentasi penting yang bermanfaat bagi penelitian dan publik.

Proses kuratorial dalam perencanaan pameran difokuskan pada peranan interpretasi. Semula, pameran hanya menyajikan informasi benda yang jarang sekali mengkaitkan dengan pengetahuan maupun pengalaman masyarakat sekarang. Oleh sebab itu, kemahiran kurator melakukan interpretasi benda yang dipamerkan dengan konteks pengunjung masa kini merupakan bagian penting. Interpretasi terhadap materi yang akan dipamerkan merupakan cara museum merancang gagasan agar orang lain dapat mengerti maksud atau pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, pengertian interpretasi disini berguna untuk proses meaning making atau menjadikan pameran itu mempunyai makna bagi pengunjung yang diperoleh dari memori kolektifnya dan interpretasi oleh museum.

Dalam mengimplementasikan konsepsi dan sudut pandangan museologis seperti yang dijelaskan di atas, maka pendekatan dan metodenya akan tampak pada tahapan kerja sebagaimana tertera pada model yang umum digunakan, yaitu:

Tahapan kerja penyelenggaraan pameran ini terbagi atas empat fase atau tahapan. Fase konseptual, merupakan tahapan awal yang harus dilakukan sebelum menyusun rencana penyelenggaraan pameran. Tahap ini, lebih menitikberatkan pada aktifitas mengumpulkan gagasan dan pemikiran, selanjutnya gagasan ini diolah, dikaji dan disesuaikan dengan kebutuhan informasi bagi calon pengunjung pameran, namun hal yang lebih penting tahap ini harus mengacu pada visi dan misi museum. Gagasan atau ide pameran ini melahirkan tema besar yang selanjutnya disusun alur cerita (dapat dikelompokkan dalam sub-sub tema) yang akan menggambarkan isi keseluruhan pameran.


4.2. Langkah-langkah penyusunan gagasan Tata Ruang Pameran Tetap di Museum

1. Alur cerita (Storyline)
Storyline yang dimaksud disini adalah alur cerita atau sistematika pameran merupakan sekumpulan dokumen atau blueprint tertulis mengenai apa yang akan dipamerkan. Dokumen ini tidak diartikan secara sempit sebagai outline linear yang sederhana tetapi merupakan acuan utama dalam perancangan dan produksi pameran yang didalamnya mengandung muatan pembelajaran dan pewarisan nilai. Alur cerita ini disusun sebagai kerangka kerja untuk menyampaikan hasil interpretasi mengenai suatu topik yang akan disampaikan dalam pameran. Narasi yang menjadi menjadi sumber dari alur cerita diperoleh melalui hasil penelitian, baik di lapangan maupun hasil studi koleksi. Narasi ini juga penting karena dapat dijadikan topik pameran yang pada umumnya dilakukan oleh kurator atau bagian koleksi. Selanjutnya, perlu disusun juga sebuah garis besar pameran yang meliputi judul, topik, sub topik, dan poin penting dalam pameran. Garis besar ini mencakup deskripsi, gambar-gambar, dan koleksi pendukung cerita. Proses penyusunan alur cerita dan pengembangan narasi dimulai dari gagasan yang akan disampaikan. Konsepsi dari gagasan yang akan dituangkan ini harus mampu membangkitkan rasa keingintahuan para pengunjung terhadap pesan apa yang akan disampaikan. Pendekatan yang lazim digunakan dalam pengembangan gagasan adalah pada koleksi yang akan ditampilkan. Namun, pengembangan gagasan pun tidak selalu harus bertumpu pada koleksi, akan tetapi pada informasi secara tekstual atau ilustrasi gambar atau foto seperti nampak di bawah ini.

Storyline untuk penataan pameran tetap pada museum-museum negeri provinsi di Indonesia adalah alam, manusia, aktivitas, keluarga, seni, religi, dan sejarah (Direktorat Pemuseuman, 1998 : 11-2). Storyline tersebut telah dibakukan sejak tahun 1979 dalam sebuah pedoman pembakuan museum umum tingkat provinsi. Pembakuan yang sudah ini hendaknya dapat disesuaikan dengan kondisi kebijakan masing-masing daerah sekarang akan tetapi tetap memperlihatkan semangat persatuan dan konsepsi wawasan nusantara.

Semua unsur cerita ini merupakan penggambaran yang utuh dari daerah setempat yang menggambarkan identitas budaya daerah setempat. Oleh sebab itu, penggunaan unsur-unsur ini disetiap museum akan berbeda bergantung dari tujuan penyajian yang akan disampaikan.

2. Alur Penyajian dan Alur Pengunjung
Alur pengunjung dan penanda arah adalah proses kerja perencanaan pada fase konseptual. Disamping untuk ruang pamer dalam (interior) alur ini juga berlaku untuk penataan luar (exterior) yang dalam perencanaannya harus dikaji secara holistik atau terpadu. Ada beberapa hal utama yang harus diperhatikan dalam penyusunan gagasan pola alur penyajian dan alur pengunjung, yaitu:

  • Alur Sirkulasi, mulai dari pintu masuk hingga pintu keluar
  • Konsep dan Besaran ruang
  • Material (bahan bangunan), tekstur dan warna yang digunakan (textual dan visual concept)

Pada mulanya, pameran tetap museum ditata dan disajikan dengan menggunakan pendekatan;

  1. Pendekatan open storage yaitu objek dikumpulkan, lalu dipamerkan seketika tanpa pengorganisasian, penempatan objek berdasarkan kesamaan bentuk, asal daerah, waktu atau masa, dan beberapa kombinasi kesamaan lainnya. Pada umumnya tidak menggunakan label, kalaupun ada informasi yang sangat sederhana.
  2. Pendekatan objek yaitu objek dikumpulkan terlebih dahulu sebelum mengumpulkan informasinya. Objek dipilih, dibagi, diteliti, dilabel, dan diberikan pencahayaan yang bagus. Pada akhirnya, jenis pendekatan ini tidak menghasilkan ide intelektual, bahkan hanya menghasilkan objek yang disajikan tanpa informasi didalamnya.
  3. Pendekatan ide yang tujuan utamanya adalah edukasi. Museum memutuskan ide/cerita yang akan disampaikan, merumuskan dimana cerita tersebut digunakan, memilih objek yang dibutuhkan dari koleksi dan mengumpulkannya untuk pameran.
  4. Pendekatan kombinasi (combined) yaitu museum memilih objek dan ide dalam waktu yang bersamaan berdasarkan signifikansi koleksi dan ide dalam mencapai tujuan museum.

Empat Pendekatan untuk konsep alur penyajian yang digunakan dalam mengarahkan isi pameran, yaitu:

  1. Pendekatan kronologi, lebih menekankan pada penyajian koleksi secara kronologi dari waktu ke waktu dengan menempatkan benda koleksi dan informasi pendukungnya secara berurut dan linear dari fase awal hingga akhir mengikuti alur bergerak pengunjung pada ruang pamer.
  2. Pendekatan taksonomik, lebih menekankan pada penyajian koleksi yang memiliki kesamaan jenis serta berdasarkan kualitas, kegunaan, gaya, periode, dan pembuat.
  3. Pendekatan tematik, lebih menekankan pada cerita dengan tema tertentu dibandingkan dengan objek yang disajikan.
  4. Pendekatan gabungan, model penyajian materi untuk ruang pameran tetap, diupayakan agar pengunjung tidak selalu digiring untuk bergerak secara linear, misalnya menurut kurun waktu, tetapi pameran tetap disajikan secara tematik. Dalam hal ini pengunjung dapat secara bebas menentukan tema-tema pameran yang diinginkan, misalnya hewan purba, pithecantropus, homo erectus, dan sebagainya. Penyajian secara linear ditempatkan dalam satu kelompok yang alurnya tidak harus terlalu panjang.

Konsep penyajian “Walk through history” dapat dipakai dalam perencanaan penyajian informasinya. Dalam hal ini perlu dikaji kembali pendekatan analisis sejarah, yang seringkali mengalami kesalahan (fallacy) dalam interpretasi peristiwa sejarah, dengan anggapan “History is Simple”, sehingga dalam penciptaan informasi hanya menyajikan sejarah secara sederhana sebagai satu peristiwa (singular story), padahal terdapat beragam versi lain dan isu-isu politis kontemporer yang dapat ditarik hubungannya ke masa lalu.

Model penyajian materi untuk ruang pameran tetap, diupayakan agar pengunjung tidak selalu digiring untuk bergerak secara linear, misalnya menurut kurun waktu, tetapi pameran tetap disajikan secara tematik, yaitu pengunjung dapat secara bebas menentukan tema-tema pameran yang diinginkan, misalnya perkampungan tradisional, perkembangan tekstil, homo erectus, dan sebagainya. Penyajian secara linear ditempatkan dalam satu kelompok yang alurnya tidak harus terlalu panjang.


4.3. Pemilihan dan Pemilahan Koleksi

Alur dan konsep penyajian yang sudah tersusun oleh kurator atau bagian koleksi, dilanjutkan dengan penyusunan detil materi koleksi yang akan dipamerkan. Pemilihan dan pemilahan koleksi dapat bersumber dari koleksi yang telah dimiliki museum atau dengan pengadaan baru. Pemilihan koleksi ini juga harus mempertimbangkan segi estetika, konservasi, nilai dan makna koleksi dalam konteks pameran secara menyeluruh.

Dalam menuangkan gagasan pameran, maka pertimbangan konservasi harus mulai dipikirkan sejak awal mengingat koleksi yang disajikan perlu dijaga kelestariannya.

Faktor yang perlu diperhatikan adalah:

  • Pemantauan terhadap kelembaban dan suhu udara.
  • Pemantauan dari bahaya serangga yang dapat menyerang koleksi maupun media penyimpanan koleksi
  • Memberi batas agar koleksi tidak tersentuh oleh tangan manusia
  • Penggunaan bahan/ material yang bebas dari zat asam (acid free) sebagai media untuk menempatkan atau menempelkan koleksi
  • Kedudukan koleksi harus selalu dalam keadaan ajeg terhadap getaran maupun benturan.


4.4. Konsep tata pamer yang komunikatif

Sebagaimana diketahui, fungsi dasar museum adalah melalukan penelitian, konservasi atau pelestarian dan komunikasi sebagai aspek mediasi dengan masyarakat. Komunikasi mencakup kegiatan penyebaran hasil penelitian berupa pengetahuan (knowledge) misalnya melalui pameran, events, roadshow, dan publikasi. Berkaitan dengan aspek komunikasi, akan tampak jelas bagaimana pentingnya komunikasi yang baik dalam suatu sistem tata pameran di museum. Hal ini harus dipahami secara mendalam agar tidak terjadi kesalahan pada saat menyajikan sebuah materi informasi. Sejak awal pihak museum sudah harus memikirkan pesan yang ingin disampaikan kepada pengunjung.

Maka selanjutnya dapat menentukan materi-materi apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang agar pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan baik. Sebesar apapun bobot materi informasi yang ingin disampaikan, atau sepenting apapun nilai informasi yang ingin diberikan, hal itu tidak akan memberikan makna apapun kepada pengunjung apabila pihak museum salah dalam menyajikannya. Artinya pihak museum harus memahami benar sejauh mana bobot materi informasi yang akan disajikan, media apa yang akan digunakan, dan unsur pendukung apa saja yang dibutuhkan untuk menyajikan informasi tersebut. Komunikasi bukan hanya sekedar tukar menukar pikiran atau pendapat saja, tetapi komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain.

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekuatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, yang timbul dari lubuk hati. Komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna antara pihak yang terlibat dalam proses komunikasi.

Kedudukan koleksi harus selalu dalam keadaan ajeg terhadap getaran maupun benturan, sebagaimana diketahui fungsi dasar museum adalah melalukan penelitian, konservasi atau pelestarian dan komunikasi sebagai aspek mediasi dengan masyarakat. Komunikasi mencakup kegiatan penyebaran hasil penelitian berupa pengetahuan (knowledge) misalnya melalui pameran, events, roadshow, dan publikasi. Berkaitan dengan aspek komunikasi, akan tampak jelas bagaimana pentingnya komunikasi yang baik dalam suatu sistem tata pameran di museum. Hal ini harus dipahami secara mendalam agar tidak terjadi kesalahan pada saat menyajikan sebuah materi informasi. Sejak awal pihak museum sudah


4.5. Konsep Rancangan Desain

Keselamatan kenyamanan dan keamanan ruang, untuk pengunjung dan koleksi (buku exhibition coservation guideline). Sistem penyajian koleksi pada pameran tetap museum berbasis pada konservasi.

Pembagian Zona di Museum


4.6. Konsep Tata Ruang Pamer Museum

• Alur Sirkulasi, mulai dari pintu masuk hingga pintu keluar
• Konsep dan besaran ruang
• Material (bahan bangunan), tekstur dan warna yang digunakan (textual and visual concept)Alur pengunjung dan penanda arah adalah proses kerja perencanaan pada fase konseptual. Disamping untuk dalam ruang pamer (interior) alur ini juga berlaku untuk penataan luar (exterior) yang dalam perencanaannya harus dikaji secara holistik atau terpadu.


4.7. Konsep Tata Pamer yang Komunikatif

Sebagaimana diketahui, fungsi dasar museum adalah melalukan penelitian, konservasi atau pelestarian dan komunikasi sebagai aspek mediasi dengan masyarakat. Komunikasi mencakup kegiatan penyebaran hasil penelitian berupa knowledge misalnya melalui pameran, events, roadshow, dan publikasi. Berkaitan dengan aspek komunikasi, akan tampak jelas bagaimana pentingnya komunikasi yang baik dalam suatu sistem tata pameran di museum. Hal ini harus dipahami secara mendalam agar tidak terjadi kesalahan pada saat menyajikan sebuah materi informasi. Sejak awal pihak museum sudah harus memikirkan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan kepada pengunjung. Maka selanjutnya dapat ditentukan materi-materi yang dibutuhkan untuk menunjang pesan yang ingin disampaikan agar dapat dipahami dengan baik. Sebesar apapun bobot materi informasi yang ingin disampaikan, atau sepenting apapun nilai informasi yang ingin diberikan, hal itu tidak akan memberikan makna apapun kepada pengunjung apabila pihak museum salah dalam menyajikannya. Artinya pihak museum harus memahami benar sejauh mana bobot materi informasi yang akan disajikan, media apa yang akan digunakan, dan unsur pendukung apa saja yang dibutuhkan untuk menyajikan informasi tersebut. Komunikasi bukan hanya sekedar tukar-menukar pikiran atau pendapat saja, tetapi komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain.

(Lihat Bagian 5)

About these ads

Responses

  1. mohon maap, ini daftar pustaka dari materi ini ada dimana ya? mohon balasan nya terima kasih

    • Ada di bagian terakhir (bagian 6).

  2. maaf dimana saya bisa mendapatkan buku ini? saya sngat membutuhkannya untuk pedoman skripsi saya.. terima kasih sebelumnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.572 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: