Oleh: museumku | 16 Januari 2012

Aspek Budaya: Apresiasi Masyarakat Terhadap Museum

Oleh: Siti Khoirnafiya
Direktorat Permuseuman

Menancapkan kata masyarakat berapresiasi terhadap museum ibarat memang tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Perkembangan zaman dan ranah demokrasi yang membawa Indonesia memasuki masa otonomi daerah berdasarkan pada Undang-undang 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 membuat kita harus tetap dan justru tidak boleh lengah untuk menggunakan kesempatan itu dalam meningkatkan potensi aspek kebudayaan termasuk museum. Memasuki perubahan masa tersebut perlu sikap positif penuh harapan tidak sekedar apatis dengan pandangan dan pikiran ataupun paradigma baru menuju suatu pencerahan yang membanggakan. Tulisan ini saya harapkan dapat menggugah pembaca, baik seseorang maupun community untuk peningkatan apresiasi terhadap aspek budaya, termasuk permuseuman.


Kebudayaan dan Globalisasi

Tanda dari globalisasi, menurut Anthony Giddens adalah intensifikasi hubungan sosial world-wide, yang saling menghubungkan lokalitas yang jauh. Akibatnya, sesuatu yang bersifat lokal selalu dipengaruhi apa yang terjadi ribuan mil dari tempat itu, begitu juga sebaliknya. Wallerstein yang menyebut globalisasi sebagai “proses integrasi tiada akhir” pada 1974, bahkan telah yakin proses itu telah bergerak bebas menerjang batas fisik dan imajiner negara-bangsa. Ini seiring dengan apa yang dinyatakan oleh Benedict Anderson tentang nationalism and imagined community.

Ya, kita memang tak dapat menghindar untuk berada dalam dunia penuh paradoks masa ini. Idealisasi-idealisasi kita bisa saja berbenturan dengan kenyataan-kenyataan hidupnya. Dengan menggunakan perspektif analisis budaya, kecenderungan unsur paradoksal berubahnya budaya dengan mudah dapat dibaca pada terjadinya proses pergeseran kebudayaan, dari masyarakat modern ke masyarakat postmodern. Melalui jalur kultural, modernisme ataupun postmodernisme lebih mudah merentangkan sayapnya dan diterima sebagai visi baru peradaban. Di sinilah proses globalisasi budaya terjadi dengan melakukan ekspansi nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya dengan pembungkusan ekspansi yang cantik sehingga nilai-nilai yang pada awalnya bertentangan pun lambat laun akan dapat ditoleransi dan akhirnya diterima sebagai sebuah budaya baru yang lebih mencerahkan. Akibatnya, sistem nilai suatu masyarakat yang telah terbangun secara turun-temurun mengalami penggerusan oleh budaya dan sistem nilai baru yang belum tentu mampu menghadirkan sebuah tata kehidupan yang dianggap lebih cocok dan baik bagi masyarakat tersebut. Internalisasinya seakan tidak terjadi secara paksa, atau terjadi dengan sopan sehingga proses adopsi budaya terjadi secara perlahan tapi bisa saja mematikan.

Globalisasi menciptakan suatu kondisi di mana budaya baru yang dicap sebagai budaya modern dengan berbagai standar yang telah dikonstruksi dan dicitrakan memang sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Inilah penyebab masyarakat secara internal berkeinginan untuk mengadopsi dan menerapkan nilai budaya tersebut dalam kehidupan publik mereka hingga kehidupan pribadi sekalipun. Pada kondisi ini masyarakat tidak akan pernah merasa bahwa sistem nilai yang sedang mereka tiru merupakan sebuah kontruksi dominasi suatu sistem terhadap sistem yang lainnya. Masyarakat akan menjadi bangga jika mampu untuk bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai budaya baru dan meninggalkan budaya lama karena dianggap tidak relevan dengan kondisi kemajuan zaman.

Mungkin bisa jadi benar apa yang dikatakan oleh Antonio Gramsci, globalisasi dekat dengan kata hegemoni, yaitu di mana sebuah sistem melakukan pemaksaan terhadap yang lain melalui cara yang halus melalui kesadaran manusia dikuasi. Kondisi inilah yang tengah berkembang khususnya pada masyarakat Indonesia. Atmosfer perubahan budaya secara global ternyata berdampak secara cukup mengejutkan bagi kelangsungan budaya lokal warisan nusantara. Indonesia sepatutnya untuk waspada pada keadaan ini sebab praktik imitasi budaya yang dilakukan oleh anak bangsa Indonesia kini telah semakin mengkhawatirkan. Hal ini tentu kembali kita harus mengingat bahwa globalisasi teridentifikasi melalui arus perpindahan modal (ekonomi) sekaligus ke wilayah budaya. Globalisasi budaya terjadi sebagai konsekuensi perkembangan baru masyarakat postmodern. Melalui terbentuknya budaya massa atau budaya pop, dunia seakan diciutkan dalam keseragaman dan manusia disatukan di bawah bendera kesadaran yang sama.

Itu bisa jadi tantangan yang diriuhkan di wacana budaya global. Agresivitas pembentukan budaya massa atau budaya pop seakan mengalahkan dan menunda semua bentuk budaya tanding (yang lokal), kecuali budaya tersebut layak dimasukkan ke dalam pasar budaya global. Mungkin di sinilah salah satu perbedaan cara pandang logika modernisme dan postmodernisme. Jika modernisme selalu cenderung meniadakan dan mensubordinasikan yang lain (the other) atau tradisi lokal, justru postmodernisme merayakan perbedaan kultural dalam ruang-ruang komodifikasi yang inspiratif dan inovatif. Namun, Walaupun ada ambiguitas yang melekat pada globalisasi budaya, yaitu sangat terbukanya dunia, tetapi di sisi lain ada daya untuk mempertahankan diri. Artinya, masuknya informasi budaya dunia juga dapat mengakibatkan penguatan budaya lokal jika masing-masing negara mau dan mampu berpartisipasi dan mengambil peluang di dalamnya untuk mempertahankan kebudayaan yang menjadi identitasnya. Hal ini karena kebudayaan merupakan suatu aspek yang selalu melekat dalam setiap kehidupan manusia tanpa memisahkan zaman, antara yang tradisional dan modern.


No Narsis, No Eksis: Mengembangkan Permuseuman di Ranah Global

Ikon kebudayaan popular yaitu 3M (Macintosh, McDonald’s, MTV) yang menjadi perhatian masyarakat global dan membuat getar-getir para pemerhati masyarakat lokal tidak dapat diremehkan begitu saja keberadaannya memasuki masa krisis ini. Tak heran akhirnya kekhawatiran itu memasuki denah krisis identitas yang membawa apatis pada apa yang disebut budaya bangsa. Ikon kebudayaan yang disebut-sebut kebudayaan popular tersebut ibarat bayang-bayang kebudayaan meminjam istilah Benedict Anderson imagine community seakan-akan dapat menjadi hantu yang siap melumpuhkan sikap perhatian kita kepada kebudayaan lokal dan kebudayaan nasional.

Nyatanya ikon kebudayaan itu siap membumikan generasi muda untuk terlibat di dalamnya. Tak heran jika kita melihat anak-anak berangkat ke warnet sekedar hanya menyatakan ‘say hello’ bagi teman chattingnya, para remaja memuaskan diri dengan tontonan channel musik MTV atau ibu-ibu rumah tangga keluar dari restoran Mc-D dengan alasan memasak di rumah merepotkan. Ya itu fakta yang akhirnya terkonstruksi dalam media massa saat ini. Jika akhir-akhir ini kita sementara dihadapkan pada perhatian dunia tentang masalah Israel-Palestina dan di ranah nasional ataupun lokal berhadapan dengan masalah politik demonstrasi untuk Pemilu ataupun masalah bencana alam dan harga sembako, maka yang terjadi itu betapa masa sekarang membawa kita untuk tetap berhati-hati dan perhatian terhadap segala sesuatu, dalam aspek kebudayaan kewaspadaan ini tidak sekedar kita tersenyum dan tanpa melakukan apa-apa yang membanggakan diri dan bangsa.

Demikianlah di bidang permuseuman, kita harus berlaku profesional dalam menyelenggarakan dan pengelolaannya. Ibarat sebuah mobil agar dapat bergerak dan berjalan tentunya memerlukan berbagai komponen pendukungnya dan diperlukan bermacam-macam keahlian dan spesialisasi menurut masing-masing jenis komponennya, jika ada gangguan di dalamnya maka perlu montir khusus dalam menanganinya. Permuseuman akan berjalan baik jika museum didukung oleh semua unsur di dalamnya. Artinya, perhatiannya secara holistik dari unsur-unsur seperti bangunan/lokasi, koleksi, pengelola, dan pengunjung. Aspek gedung museum harus mendukung dan mempunyai daya tarik pengunjung, sedangkan koleksi museum perlu dilakukan upaya pengelolaan dan pengendalian. Benda koleksi yang merupakan Benda Cagar Budaya (BCB) menjadi sasaran orang yang bertujuan mencari keuntungan dengan jalan mencuri benda-benda untuk dijual kepada pihak lain adalah suatu hal yang tidak dapat dibiarkan begitu saja selain menjaga museum dari kerusakan karena faktor alamiah, misalnya, faktor alam dan lingkungan yang disebabkan oleh hujan, sinar berlebihan, getaran bumi, polusi udara asap kendaraan bermotor, debu, udara lembab, dan suhu udara terlalu panas, ataupun kerusakan karena serangan hewan seperti rayap juga perlu diperhatikan secara saksama.

Pengelolaan dan pengendalian dengan memerhatikan segala aspek yang berkait dengan pengembangan permuseuman, maka kita dapat bangga menunggu hasilnya. Tentunya, output tidak dapat diukur dalam jangka waktu yang pendek, sedangkan outcome tidak hanya terukur dengan kuantitas. Inilah makna yang diharapkan bahwa museum juga dapat meningkatkan martabat suatu bangsa pemiliknya. Inilah cermin dari sejarah permuseuman yang panjang yang dimulai dengan gerakan-gerakan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan kesenian. Kontak antarbangsa yang mendampingkan pada kontak antarbudaya memunculkan jenis museum, diantaranya museum etnologi dan museum iptek. Perkembangan permuseuman memanglah dengan usaha dan reformasi yang tidak singkat waktu. Alma S. Wittlin (Sutaarga: 1990:78) menyatakan bahwa semenjak perang dunia pertama tahun 1914 di beberapa negara telah memiliki museum, museum hingga tahun itu berjumlah 295 museum. Perkembangan yang cukup signifikan yang membuat orang berusaha membuat pengertian tentang museum dan koleksi museum yang akhirnya meletakkan peran dan fungsi museum untuk edukasi kultural. Pengertian tersebut membawa negara-negara di dunia setelah akhir perang dunia kedua perlu mendirikan ICOM (The International Council of Museum) untuk menfungsikan pelayanan museum untuk publik.

Perkembangan permuseuman menjelaskan pada kita bahwa hampir setiap bangsa meninggalkan jejak dan corak yang khusus dalam usaha berfungsi dan berperannya museum. Inggris menekankan pesan ilmiah, Jerman, Italia, dan Soviet menekankan pesan ideologi politik, dan Amerika Serikat menjagokan dirinya sebagai pelopor demokrasi. Rupanya asosiasi yang terbentuk di negara-negara itu merupakan wujud kepedulian tyerhadap warisan budaya bangsanya. Di kawasan Asia, kepedulian itu berawal dari Jepang dan India yang mengembangkan museologi lewat jalur formal dengan berbagai aktivitas, seperti melaui penataran, diskusi, seminar, dan penerbitan untuk penyempurnaan profesionalisme mereka terhadap museum. Sejarah permuseuman di Indonesia pun ‘membuktikan’ bahwa museum didirikan salah satunya dengan maksud mencerdaskan bangsa Indonesia. Keberadaan museum sebagai maksud tersebut menggugah upaya pendirian museum sehingga sekitar 270-an kini museum ada di Indonesia. Hal inilah yang membawa kita sebagai bangsa Indonesia pada komitmen untuk terus melakukan pengembangan museum sebagai bukti kebanggaan kita pada bangsa Indonesia dengan budaya Indonesia di ranah global sekarang pun. Kita tak perlu apatis jika kita belum memberikan kepedulian kita pada museum sebagai lembaga pelestari warisan budaya bangsa ini. Seharusnya kita patut optimis, bahwa Indonesia dengan masyaraktnya yang multikultural pun dapat memajukan budayanya. Yakinlah bahwa jika tidak ada keyakinan maka tujuan dalam usaha juga sulit untuk diraih. Dalam ranah global di mana waktu dan ruang bukanlah pemisah ini, kita patut bangga untuk suatu keberlangsungan dan keberadaan identitas, yaitu bangga sebagai bangsa dengan budaya Indonesia. Identik dengan kalimat tersebut kata penyemangatnya adalah ‘No Narcis, No Exist”. Salah satu bentuknya adalah dengan memberikan apresiasi kita pada museum.


Apresiasi Masyarakat terhadap Museum?

Perhatian kita terhadap museum yang merupakan tempat edukasi kultural ini tentunya bukan justru ‘mematikan’ semangat kita untuk terus maju mengembangkan museum dengan kata lain apresiasi terhadap museum harus terus digalakkan. Proporsi yang dapat dilakukan ibarat melakukan promosi, kita harus outreach jika itu memang kondisi yang dibutuhkan masyarakat sekarang. Hal ini karena perlu keaktifan terhadap kinerja kita memahamkan museum sebagai wujud cinta kita pada aspek budaya bangsa. Langkah ini mengingat fakta bahkan data mengungkapkan bahwa rendahnya apresiasi generasi muda khususnya terhadop museum dewasa ini karena mereka belum mampu merasakan manfaat kehadiran museum, baik sebagai lembaga yang melaksanakan tugas pelestarian warisan alam dan budaya, sebagai tempat pendidikan, ataupun sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan sehingga yang terjadi adalah mereka datang atau berkunjung ke museum karena instruksi dari sekolah ataupun instansi yang terkait, bukan suatu kesadaran. Ada beberapa kasus terbukti dari maraknya pencurian dan pemalsuan BCB di museum mengindikasikan bahwa museum kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Namun, walaupun demikian kita tetap harus memberikan apresiasi terhadap kehadiran mereka ke museum sebagai langkah awal untuk mereka mengapresiasi museum.

Apresiasi menurut pengertian umum adalah penghargaan/penilaian kepada segala sesuatu yang dapat berupa karya tertentu. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Harapan yang kita nantikan wujudnya adalah apresiasi dengan setulus hati dalam arti yang positif. Apresiasi dalam bahasa inggris appreciation ini ibarat pembangunan image dapat dilakukan ketika indra manusia bekerja, di antaranya mengamati, membandingkan, dan mempertimbangkan dengan daya nalar.

Menggugah apresiasi masyarakat terhadap museum apalagi meningkatkannya bukanlah usaha yang mudah. Namun, minimal semuanya itu dimulai dari diri sendiri. Keyakinan pada museum yang ditancapkan pada sanubari diri merupakan ‘ruh’ yang dapat memotivasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Kepedulian dan keaktifan pribadi pada karya budaya seperti halnya museum merupakan yang harus dilakukan sekarang juga.

Seperti halnya metode snow ball, menjadikan kita sebagai key person memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada orang lain untuk mau memahami peranan museum dengan variasi cara ‘share’ juga merupakan wujud apresiasi itu sendiri. Seperti halnya metode MLM (Multi Level Marketing) ataupun mouth to mouth, pengetahuan tentang museum dari mulut ke mulut juga merupakan cara yang cukup signifikan untuk menggugah orang lain untuk berbuat sama.

Setelah pengetahuan dan pemahaman telah berada dalam diri seseorang, kita perlu meyakinkan bagaimana orang tersebut mau berbuat sama tentunya dengan tingkat kesadaran yang berbeda. Beberapa bentuk ‘do’ berkait dengan hal ini, misalnya mau berkunjung ke museum, mau mengikuti event-event museum, dan menyebarkan brosur dan tulisan tentang museum.


Peran Media: Lembaga Pendidikan dan Media Massa dalam Peningkatan Apresiasi terhadap Museum

Dialog tentang budaya atau kebudayaan terus mengalir di berbagai forum sampai saat ini. Kebudayaan diartikan sebagai semua hal yang terkait dengan budaya. Dalam konteksi tinjauan budaya dilihat dari tiga aspek, yaitu pertama, budaya yang universal yaitu berkaitan niliai-nilai universal yang berlaku di mana saja yang berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi. Kedua, budaya nasional, yaitu nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Indonesia secara nasional. Ketiga, budaya lokal yang eksis dalam kehidupan masayarakat setempat. Ketiga aspek ini terkait erat dengan sistem pendidikan sebagai wahana dan proses pewarisan budaya.

Kebudayaan adalah way of life atau pedoman bagi masyarakat. Sebagai unsur vital, kebudayaan mengambil unsur-unsur pembentuknya dari segala ilmu pengetahuan yang dianggap vital dan sangat diperlukan dalam menginterpretasi semua yang ada dalam kehidupannya. Hal ini diperlukan sebagai modal dasar untuk dapat berdaptasi dan mempertahankan kelangsungan hidup (survive). Dalam kaitan ini kebudayaan dipandang sebagai nilai-nilai yang diyakini bersama dan terinternalisasi dalam diri individu sehingga terhayati dalam setiap perilaku. Nilai-nilai yang dihayati ataupun ide yang diyakini tersebut itu diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar merupakan cara untuk mewariskan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi. Proses pewarisan tersebut dikenal dengan proses sosialisasi atau enkulturasi (proses pembudayaan).

a. Lembaga Pendidikan
Satu aspek penting yang tidak dapat terpisahkan dari aspek budaya berkaitan dengan proses pewarisan budaya adalah pendidikan. Keluarga dan sekolah adalah saluran atau media dari proses pembudayaan. Dalam konteks inilah pendidikan disebut sebagai proses untuk “memanusiakan manusia”. Sejalan dengan itu, pendidikan merupakan upaya untuk membudayakan dan menyosialisasikan manusia sebagaimana yang kita kenal dengan proses enkulturasi (pembudayaan) dan sosialisasi (proses membentuk kepribadian dan perilaku seorang anak menjadi anggota masyarakat sehingga anak tersebut diakui keberadaanya oleh masyarakat yang bersangkutan). Proses enkulturasi dan sosialisasi didampingi dengan proses internalisasi.

Proses internalisasi berarti bahwa sepanjang kehidupannya, manusia menanamkan dalam kepribadiannya hal-hal yang diperlukan dalam kehidupan dan berusaha memenuhi hasrat dan motivasi dalam dirinya; beradaptasi, belajar dari alam dan lingkungan sosial dan budayanya. Sementara itu, menurut Herskovits enkulturasi berasal dari aspek-aspek dari pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses tersebut berbeda-beda pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan seorang. Enkulturasi terjadi secara agak dipaksakan selama awal masa kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan belajar secara lebih sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran dari masyarakatnya. Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat dari pernyataan Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasi individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam kebudayaan kelompok. Proses belajar kebudayaan, internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi dapat dikatakan, kebudayaan itu sendiri. Belajar adalah kebudayaan.

Semakin banyak belajar, semakin mantap beraktivitas, semakin berakumulasi hasilnya. Inilah makna pendidikan meminjam istilah Herskovits, pendidikan (education) adalah ”directed learning”. Pendidikan bertujuan membentuk agar manusia dapat menunjukkan perilakunya sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan adalah upaya menanamkan sikap dan keterampilan pada anggota masyarakat agar mereka kelak mampu memainkan peranan sesuai dengan kedudukan dan peran sosial masing-masing dalam masyarakat. Secara tidak langsung, pola ini menjadi proses melestarikan suatu kebudayaan. Sejalan dengan ini, Bertrand Russel mengatakan pendidikan sebagai tatanan sosial kehidupan bermasyarakat yang berbudaya. Melalui pendidikan kita bisa membentuk suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang maju, modern, tentram dan damai berdasarkan nilai-nilai dan norma budaya.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembelajaran dalam konsep enkulturasi adalah perubahan perilaku. Hal ini sejalan dengan 4 (empat) pilar pendidikan yang dikemukakan oleh Unesco, Belajar bukan hanya untuk tahu (to know), tetapi juga menggiring siswa untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dalam kehidupan nyata (to do), belajar untuk membangun jati diri (to be), dan membentuk sikap hidup dalam kebersamaan yang harmoni (to live together). Berkaitan dengan pendidikan tentang permuseuman ada beberapa lembaga yang berperan di dalamnya, yaitu museum itu sendiri, sekolah, dan keluarga serta masyarakat.

Selain sebagai salah satu objek wisata, museum juga berfungsi sebagai tempat menggali ilmu pengetahuan non formal. Ini berarti, keberadaan museum mempunyai peranan penting dalam menunjang kegiatan pendidikan masyarakat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, berbicara tentang kebudayaan, juga tidak terlepas dari keberadaan museum. Dan tentu pula, keberadaan museum juga tak terpisahkan dengan pendidikan. Hal ini terlihat nyata dengan keberadan museum sebagai lembaga yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya yang fungsi dan tugasnya mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan serta mempublikasikan benda-benda dan lingkungannya untuk tujuan pendidikan non formal yang bersifat kreatif. Inilah perkembangan kebudayaan tak terlepas dari pengaruh lingkungan social masyarakat pendukung dimana kebudayaan itu berkembang. Jadi, museum ini berperan serta menunjang kegiatan pendidikan masyarakat.

Sekolah adalah salah satu media proses pembudayaan (enkulturasi). Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga mereka mampu berpikir secara rasional, kritis, dan memiliki karakter serta kepribadian yang cinta pada keharmonian kehidupan. Di sini para pendidik di sekolah diharapkan juga dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang museum sebagai tempat pelestari warisan budaya masyarakat.

Keluarga adalah media yang sangat efektif dalam proses sosialisasi. Pengenalan terhadap nilai budaya dan termasuk pemahaman tentang peran penting museum sebagai lembaga pelestari budaya masyarakat diajarkan pertama kali dari keluarga. Keluarga juga sangat efektif terutama jika seseorang masih mengandalkan kemampuannya dalam bahasa lisan, bukan bahasa tulis.

Dalam masyarakat, seseorang dapat melihat, memahami, dan mempratikkan setiap unsur kebudayaan, masyarakat dengan aturannya juga dapat menjadi media yang memperkenalkan dan memahamkan masyarakat itu sendiri tentang pentingnya dan peranan museum. Di sini tokokh masyarakat tetap menjadi seseorang yang sangat berperan di dalamnya.

b. Media Massa
Media massa mempunyai peran yang sangat besar dalam masyarakat. Media massa dapat berperan sebagai institusi bisnis dan institusi sosial. Kedua sifat institusional ini membawa implikasi dalam orientasi keberadaannya. Sebagai institusi bisnis media massa menjalankan operasinya dengan orientasi ke dalam (inward), untuk kepentingan sendiri. Sementara itu, dalam menjalankan fungsi sebagai institusi sosial, berorientasi ke luar (outward) untuk kepentingan masyarakat. Dalam fungsi institusi bisnis, media massa berlangsung melahirkan dikhotomi antara ranah (domain) produksi dan marketing, dengan pendanaan (3C: capital, cost, calculating) sebagai ranah utama pada sisi lainnya. Apakah ranah produksi merancang produksi sesuai dengan orientasi marketing, atau sebaliknya ranah marketing mencari dan menciptakan market untuk produknya, merupakan problem klasik dari bisnis media massa.

Sebagai insitusi sosial, media massa menjalankan fungsi informasi, edukasi, persuasi, dan hiburan serta sebagai hak menyatakan (right to expression). Dengan cara lain, keberadaan institusional media massa dapat dilihat bersifat resiprokal, di satu pihak menjalankan fungsi-fungsi sosialnya, menyampaikan produk informasi untuk kepentingan pragmatis sosial dan psikologis bagi masyarakat. Informasi yang disampaikan media massa baru bersifat fungsional jika dapat memenuhi motif pragmatis khalayaknya. Dengan motif pragmatis sosial, warga masyarakat menjadikan informasi publik dari media massa sebagai referensi dan dasar alam pikirannya dalam memproses diri dalam institusi politik, ekonomi dan kultural. Keberadaan dan peranan masyarakat dalam institusi politik, ekonomi dan budaya ini menentukan sifat, kualitas dan kuantitas informasi publik yang diperlukannya. Pada sisi lain, media massa menyampaikan informasi hiburan untuk memenuhi motif pragmatis psikologis warga masyarakat.

Peran media massa dalam kehidupan sosial, terutama dalam masyarakat sangatlah penting. Media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa dan merefleksikan dunia. Media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan umpan balik. Itu menunjukkkan bahwa peran media dalam kehidupan sosial bukan sekedar sarana pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Bertolak dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran khalayaknya, tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada massa akan datang harus lebih diperhatikan. Hal ini karena melalui media yang kian terbuka dan terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Melalui media massa pun, kita dapat membangun opini publik, karena media ini mempunyai kekuatan mengkonstruksi masyarakat. Media massa seperti halnya koran, majalah, televisi, ataupun internet adalah media massa yang saat ini sangat dapat berperan dalam pemberian pengetahuan dan pemahamam tentang museum kepada masyarakat. Melihat hal itulah perluanya dunia permuseuman membarui sikap, wawasan, komitmen dengan media massa agar permuseuman mendapatkan porsi pemberitaan yang sesuai harapan. Penyelenggara dan pengelola museum juga perlu menciptakan jaringan dan kemitraan yang profesional dengan media, baik media dalam negeri maupun luar negeri. Media massa yang tersebut itu dapat dijadikan jembatan untuk membangun komunikasi dan apresiasi antara insan museum dan masyarakat. Insan museum perlu menggandeng museum untuk tujuan tersebnut secara professional agar pesan tentang permuseuman dapat dtersampaikan dengan baik kepada pembaca atau pemirsa pada tingkat usia dan pendidikan yang bervariasi.


Daftar Pustaka

Benedict Richard O’Gorman Anderson. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Edition: 2, revised. Verso, 1991

Bertrand Russell. Power: A New Social Analysis. Edition: 2. W.W.Norton & company, 1938

Chantal Mouffe . Gramsci and Marxist Theory: essays. Routledge, 1979

Dewey, John, 1974, The Child and The Curriculum,and The School and Society, Chicago and London, The University of Chicago Press.

Giddens, Anthony, The Nation States and Violence: Volume Two of a Contemporary

Immanuel Maurice Wallerstein, Immanuel Wallerstein. The Modern World-system II. Edition: 2. Academic Press, 1980

Masinambow, EKM (ed), 1997, Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, Jakarta, AAI dan Yayasan Obor Indonesia.

McQuail, Denis, 2000, Mass Communication Theories, Fourth edition, Sage Publication, London

Michael Wallerstein : The Political Economy of Inequality, Unions, amd Social Democracy. New York: Cambridge University Press, 2008

Renate Holub. Antonio Gramsci: Beyond Marxism and Postmodernism. Routledge, 1992

Rudolf Ekstein, Robert S. Wallerstein. The Teaching and Learning of Psychotherapy. Edition: 2. Basic Books, 1958

Siswanta, Relasi kekuasaan: telaah pemikiran Antonio Gramsci dalam konteks politik Indonesia kontemporer. Media Wacana, 2006

Sutaarga, Moh. Amir. 1997/1998. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta: Proyek Pembangunan Permuseuman Jakarta

Vedi R. Hadiz, Benedict Richard O’Gorman Anderson. Politik, budaya, dan perubahan sosial: Ben Anderson dalam studi politik Indonesia. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan SPES, 1992

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.554 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: