Oleh: museumku | 15 Maret 2011

Pengelolaan Museum: Pentingnya Riset Pengunjung

Sebagai sebuah lembaga yang menjadi tempat kunjungan banyak orang, museum seharusnya melakukan penelitian berkala terhadap pengunjungnya. Penelitian serupa ini penting, terutama untuk meningkatkan pelayanan kepada pengunjung. Museum harus dapat memenuhi harapan dan kebutuhan komunitasnya, dan harus melakukan evaluasi apakah yang diperagakannya dapat dimengerti dan sudah memenuhi rasa ingin tahu pengunjungnya. Sayangnya, di Indonesia masih sangat sedikit museum yang melakukan penelitian pengunjung (audience research) secara serius. Lebih sedikit lagi (atau malah tidak ada?) museum yang menindaklanjuti hasil penelitian pengunjung tersebut. Berikut ini studi kasus yang dilakukan oleh beberapa museum di beberapa negara Barat terhadap masyarakatnya dan bagaimana museum-museum tersebut merespons dan mengapresiasi masyarakatnya.


Museum Sebagai Tempat Riset

Sebagai lembaga pendidikan, museum memiliki tugas yang sulit. Museum berhubungan dengan pengunjung yang beraneka ragam yang memiliki perbedaan besar dari segi umur, pendidikan, dan latar belakang budaya. Museum mengajar dengan cara permisif, dalam arti pengunjung datang sekehendak mereka, tinggal selama mereka suka, dan bergerak bebas tanpa ada pengawasan, serta mengamati objek yang menarik perhatian mereka, yang jika dirata-ratakan hanya beberapa detik per peragaan. Tidak ada tujuan instruksional, buku teks, peringkat, ataupun ujian untuk menggambarkan ataupun mengevaluasi pengalaman belajar. Namun, museum sering memberi dampak besar kepada para pengunjungnya dan menggerakkan minat yang dapat mengarah pada pendidikan-diri yang sebenarnya.

Dengan bekerja memakai pendekatan belajar terbuka seperti itu, kurator museum, staf perancang dan staf edukasi harus tahu bagaimana membangun peragaan yang akan menarik dan memberi pengajaran kepada pengunjung serta bagaimana merencanakan program-program lain yang dapat membantu memotivasi pemahaman yang tak akan lekang. Dengan demikian museum perlu mempertimbangkan aspek-aspek psikologis, sosiologis, dan motivasional dari setiap upaya pendidikannya yang permisif dan informal tersebut, serta menggunakan metode-metode penelitian yang akan menguji dan meningkatkan efektivitas upaya tersebut. Jika tidak, sebagaimana dikatakan oleh Stephan F. de Borhegyi, “Museum akan gagal menjalankan fungsinya sebagai penyedia pendidikan massa dan hanya akan menjadi gudang megah, fasilitas rekreasi, atau klub eksklusif bagi kaum terpelajar.”

Atas desakan Clark Wissler, pada tahun 1924, The American Association of Museums memanggil psikolog Edward S. Robinson untuk secara cermat melakukan penelitian terkontrol mengenai time-and-motion terhadap pengunjung museum. Dengan menggunakan stopwatch dan clipboard, Robinson beserta rekan dan mahasiswanya secara ilmiah dan diam-diam mengamati reaksi pengunjung di museum-museum di Chicago, Milwaukee, Philadelphia, New York, dan Buffalo. Mereka mendapatkan penemuan yang mengejutkan. Misalnya, Robinson menemukan bahwa pengunjung rata-rata menghabiskan waktu sembilan detik untuk mengamati setiap peragaan di museum besar, dan dua belas hingga lima belas detik di museum yang kecil. Arthur Melton menemukan bahwa 75% pengunjung, ketika memasuki ruang peragaan, berbelok ke kanan, terus bergerak berlawanan arah jarum jam, dan jika terlihat ada pintu keluar ketika mereka sampai di bagian belakang ruangan, mereka hanya mengamati peragaan di dinding sebelah kanan. Peragaan di sebelah kiri, yang dekat dengan pintu masuk, tampaknya diabaikan sama sekali. Melton juga mengamati betapa kuatnya daya tarik pintu keluar, banyak pengunjung yang ketika melihat ada pintu keluar di depannya, langsung saja menuju ke sana, tanpa memperhatikan lagi peragaan lainnya di ruangan tersebut.

Mungkin konsep paling penting yang ditanamkan oleh para perintis psikologi investigatif tahun 1920-an dan 1930-an ini adalah bahwa setiap tata peragaan dalam sebuah museum saling bersaing satu sama lain. Cara menempatkan sebuah objek dan jumlah objek merupakan hal penting dalam menentukan berapa lama setiap objek akan diamati oleh pengunjung. Di museum-museum ilmu pengetahuan dan industri, Melton menemukan bahwa menempatkan objek bergerak pada sebuah benda peraga akan segera menarik pengunjung, dan daya tarik ini akan lebih kuat lagi jika pengunjung menghidupkan objek bergerak itu dengan cara memijit tombol atau memutar tuas. Pengamatan ilmiah seperti ini memberi harapan kepada museum untuk dapat lebih memahami reaksi pengunjungnya, memberi peluang pada benda peraganya untuk mendapatkan perhatian maksimum, dan melakukan uji coba dengan maket sebelum melakukan pemasangan akhir.


Penelitian Demografis Museum

Jenis penelitian lain mengamati demografi pengunjung museum dengan cara melakukan survei pengambilan sampel menggunakan wawancara memakai kuesioner, atau hanya memakai kuesioner. Beberapa penelitian terkenal semacam ini adalah projek yang dilaksanakan di Milwaukee Public Museum (1952-1953), Royal Ontario Museum di Toronto (1959-1960), New York State Museum di Albany (1966), dan the Smithsonian’s National Museum of History and Technology serta National Museum of Natural History (1968-1969). Inggeris juga mulai memakai jenis penelitian ini di Ulster Museum di Belfast (1968-1970), dan di Antiquities Gallery di Dundee (1970).

Survei-survei semacam ini biasanya mengelompokkan pengunjung berdasarkan jenis kelamin, ras, umur, latar belakang pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan, tempat tinggal, tingkat kekerapan kunjungan, lamanya kunjungan, sendiri atau dengan teman, dan alasan berkunjung. Pada umumnya, pengunjung museum adalah warga kulit putih, berusia muda (tetapi pengunjung the Smithsonian adalah golongan paruh baya), dari segi pendapatan berada pada kelas menengah atas, pendidikan di atas rata-rata, berkunjung museum bersama teman atau keluarga, dan tinggal selama sekitar satu setengah hingga dua jam. Profil pengunjung seperti ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah museum harus menyesuaikan perannya dengan pengunjung yang agak elit seperti itu, ataukah museum harus mengambil langkah untuk menarik orang-orang tua, kelompok minoritas, dan kelas yang tidak begitu istimewa? Jelaslah, pengelola museum harus menentukan apa tujuan mereka, dan bukannya melaksanakan program hanya karena program tersebut disukai banyak orang.

Kadang-kadang survei seperti ini memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang membantu museum memecahkan masalah-masalah praktis. Penelitian di Milwaukee menunjukkan bahwa keberadaan tangga ternyata mengganggu pengunjung (mengurangi popularitas peragaan), peragaan di lantai dua kehilangan sekitar 25% dari total jumlah pengunjung, dan peragaan di lantai tiga berkurang 25% lagi. Oleh karena itu bangunan museum Milwaukee yang baru memasang eskalator untuk mengatasi hal tersebut. Di Toronto, survei ini meneliti kesan staf museum terhadap pengunjung yang dianggapnya lebih berpendidikan dan lebih kaya. Hanya satu persen dari pengunjung New York State Museum yang pernah mendengar tentang museum ini melalui radio, televisi, atau pers (dibandingkan dengan 66% yang mendengarnya dari mulut ke mulut); ini menunjukkan betapa perlunya publisitas yang lebih baik melalui media massa. Sejumlah besar pengunjung juga mengharapkan adanya restoran atau warung kopi, ini penting diketahui jika akan membangun museum baru. Di Smithsonian, 63% pengunjungnya menginginkan informasi tambahan untuk peragaan.

Museum Ulster yang melakukan ekspansi lebih besar, tidak hanya melakukan survei terhadap pengunjungnya, tetapi turun ke jalan untuk mengambil sampel mengenai sikap masyarakat. Delapan puluh tujuh persen dari mereka yang bukan pengunjung menyebutkan pernah mendengar tentang museum tersebut, tetapi 63% tidak tahu di mana letaknya, 38% tidak tertarik pada museum, dan 40% tidak dapat meluangkan waktu untuk berkunjung (mungkin perlu dicoba untuk membuka museum pada hari Minggu, atau malam hari). Tampak jelas pula bahwa museum tersebut terutama menarik bagi pelajar dan anak muda. Ketika merencanakan untuk melakukan renovasi, The Antiquities Gallery di Dundee merasa kecewa karena 85% pengunjungnya menyukai perpaduan antara peragaan yang sudah ada dengan arkeologi, sejarah lokal/setempat, dan sejarah alam; 43% dari orang dewasa yang disurvei tidak merekomendasikan dibangunnya galeri baru.

Sebagian penelitian demografis menghadapi masalah di luar museum itu sendiri dan masalah tersebut memiliki signifikansi luas. Pada tahun 1969 The Regional Planning Association for the New York Metropolitan Region melakukan survei mendalam yang berkaitan dengan pertumbuhan budaya di tiga puluh satu wilayah area New York, New Jersey, dan Connecticut. Survei ini secara teliti mengkaji sampel yang dipilih secara statistik dari 2500 pengunjung pada hari Kamis dan Minggu, yang berkunjung ke Metropolitan Museum, Museum of Modern Art, dan Whitney Museum di Manhattan dan the Brooklyn Museum, Newark (New Jersey) Museum, dan Hudson River Museum di Yonkers. Banyak pengunjung yang berasal dari kalangan keluarga kaum profesional dan manajer, kelompok yang paling kaya dan paling berpendidikan di masyarakatnya. Ada sedikit kaum pekerja kerah biru (kaum buruh – penerj.) yang berkunjung ke museum Manhattan, tetapi di tiga museum lainnya lebih banyak pekerja kerah biru yang datang. Tenaga penjualan dan pelayan mengunjungi museum yang dekat dengan tempat kerjanya. Pengunjung terbesar museum adalah orang-orang daerah tempat museum berada, tetapi untuk museum Manhattan 20% pengunjungnya adalah orang di luar daerah. Total kunjungan per tahunnya adalah 20 juta orang.

Para perencana mengharapkan kunjungan ke museum mencapai 80 juta orang untuk tahun 2000. Mereka mengusulkan agar komunitas metropolitan yang berjumlah 24, yang pada saat itu jumlahnya mencapai lebih dari satu setengah juta orang sedikitnya memiliki satu museum yang mewakili wilayahnya, melakukan pameran keliling (beberapa di antaranya menggunakan kontainer), dan meminjam koleksi dari museum yang lebih besar. Akan diperlukan pendanaan publik sehingga museum pusat dapat mencapai kelompok-kelompok berpenghasilan rendah dengan cara melakukan pameran keliling ke sekolah-sekolah dan lingkungan sekitar.

Survei lain yang tidak lazim dengan basis demografi dilakukan di Toronto antara tahun 1963-1967, bertujuan memastikan sikap masyarakat terhadap seni modern. Survei ini dirancang oleh Committee for Museum of Modern Art yang menjadi bagian dari International Council of Museum, dan dirancang sebagai pilot study (kajian sebagai uji coba untuk menentukan apakah layak atau tidak untuk melakukan penelitian selanjutnya dalam lingkup yang lebih besar – penerj.) yang dapat diperluas ke negara-negara lain. Partisipan diwawancarai di rumah masing-masing oleh sebuah perusahaan riset pemasaran. Setelah menyerahkan informasi demografis, partisipan diminta mengamati empat dari dua puluh empat pak yang berisi sepuluh kartupos bergambar lukisan yang dibuat antara tahun 1900-1960. Mereka diminta memberi peringkat terhadap satu pak kartu dengan urutan dari sepuluh hingga satu, dan menjawab beberapa pertanyaan mengenai hal tersebut kemudian diminta memilih lukisan yang paling mereka sukai; dan satu lukisan yang paling tidak disukai dari tiga pak lainnya.

Para responden memilih lukisan yang paling konservatif, yaitu gambar yang tidak terlalu radikal, sebagai lukisan favorit mereka (lukisan karya Millet Angelus mendapat peringkat pertama dengan 51% pemilih). Mereka tidak menyukai lukisan yang dianggap tidak dapat dipahami atau membingungkan bagi mereka. Sebuah karya Dubuffet menjadi pilihan yang tidak disukai oleh 78% pemilih, dan empat puluh satu pelukis paling terkemuka di abad ke-20 berada di dua urutan terbawah. Lukisan atau jenis lukisan yang banyak dikenal menjadi pilihan yang disukai. Publik bersikap konsisten mengenai apa yang mereka sukai dan apa yang (sangat) tidak mereka sukai. Tidaklah mungkin mengidentifikasi tema rangkaian kartu seperti yang dipilih oleh para ahli sejarah seni, misalnya, sosok dalam komuni sunyi, pemandangan bentang alam dengan bentuk-bentuk pegunungan dan batu karang, bentuk menara, atau bentuk jejak (maju atau mundur). Tidak ada hubungan antara umur, jenis kelamin, pekerjaan, atau pendidikan responden dengan temuan-temuan umum tersebut.

Beberapa penelitian pengunjung di Eropa meneliti sikap masyarakat umum terhadap museum dan mencoba memahami proses-proses sosial budaya yang melibatkan museum. Pada tahun 1972 Manfred Eisenbeis melaporkan sampel dari 1917 orang di Jerman Barat. Dia menemukan bahwa 9% dari respondennya tidak pernah mengunjungi museum, 23% pernah berkunjung ke museum ketika masih sekolah, 30% kadang-kadang berkunjung secara kebetulan, 8% berkunjung jika ada kesempatan, dan 2% berkunjung secara berkala sesering mungkin. Dari segi popularitas, museum hampir sebanding dengan teater, sedikit lebih populer dibandingkan dengan konser atau pameran seni, dan kalah populer dibandingkan dengan jalan-jalan, pasar malam, kebun binatang, ataupun kebun raya. Lima puluh tujuh persen responden beranggapan berkunjung ke museum untuk mendapatkan informasi/meningkatkan pengetahuan, 6% untuk mendapatkan hiburan/senang-senang, 34% untuk hal lainnya. Bioskop dan teater dianggap jauh lebih menghibur. Kesan tentang museum diidentifikasi dengan kesan tentang bangunan besar (30%), monumen (19%), perpustakaan (16%), sekolah (12%), gereja ((9%), teater (9%), pasar swalayan (2%), dan bank (2%).

Survei tersebut menemukan bahwa museum seni memiliki daya tarik bagi publik tertentu/khusus, yaitu kelompok terpelajar dan elit budaya. Museum seni bukanlah lembaga yang murni menyajikan hiburan tanpa ada tekanan untuk belajar. Tetapi kebun binatang, kastil, rumah pedesaan, museum teknologi atau sejarah alam yang besar, dan museum terbuka menawarkan kesempatan hiburan dan tempat untuk ekskursi keluarga dengan taman bermain untuk anak-anak, kafe, dan taman, yang sedikit sekali kaitannya dengan koleksi museum itu sendiri. Tempat-tempat di atas memiliki daya tarik bagi kelompok wisatawan, perusahaan perdagangan, dan society outings. Sejalan dengan itu, museum yang menyelenggarakan kelas melukis bagi kaum amatir, perpustakaan, kursus dan kuliah/ceramah, pemutaran film, dan kafetaria mengalahkan kesan elitisme dan berperan sebagai pusat rekreasi umum.

Benarlah apa yang dikatakan Ross J. Loomis dalam artikelnya yang berjudul “Please! Not Another Visitor Survey”, yang menyatakan bahwa banyak projek demografis (bukan yang disebutkan di atas) dikerjakan secara amatir. Sering kali data deskriptif yang didapat tidak ditindaklanjuti dengan penghitungan pengunjung secara berkala. Loomis juga menekankan harus adanya bantuan profesional dalam merencanakan (pembuatan) kuesioner dan metode pengambilan sampel. Secara umum, museum besar harus menyimpan data kunjungan harian sehingga museum tersebut dapat menjawab masalah-masalah praktis seperti banyaknya staf yang dibutuhkan, atau waktu terbaik untuk menutup peragaan untuk keperluan perbaikan, peristiwa khusus, pertunjukan televisi, dan sebagainya. Museum besar juga harus melakukan survei berkala terhadap pengunjungnya agar peka terhadap perubahan yang akan membawa akibat pada program intepretasi.


Peragaan Interaktif dan Para Pengunjungnya

Teori komunikasi-sistem yang modern diawali dengan sebuah sumber atau transmitter yang mengirim pesan dengan perantaraan sebuah medium. Medium ini mengatasi gangguan suara (noise) dan mencapai penerima (receiver), yang melalui umpan balik (feedback) memungkinkan transmiter menentukan pesan mana yang dipahami. Museum juga membentuk sistem komunikasi semacam itu. Staf kuratorial dan edukasional museum berperan sebagai transmiter, memutuskan pesan atau script mana yang akan disampaikan, dan dengan bantuan ahli desain menyalurkan/mentransmisikan pesan melalui peragaan. Pemanfaatan objek-objek imajinatif dan artistik, karya seni, label dan pancaindera akan menghindari atau mengurangi pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu (noise) sehingga pesan diterima jelas oleh pengunjung museum, yang berperan sebagai penerima (receiver). Reaksi pengunjung – atau umpan balik – memungkinkan staf pengirim menentukan apakah pesan itu dimengerti dan bagaimana mengurangi gangguan yang masih ada. Dengan demikian, lompatan/langkah umpan balik tersebut menjadi wilayah penelitian pengunjung. Peragaan bukanlah satu-satunya medium untuk menyampaikan pesan; ceramah/kuliah, demonstrasi/pertunjukan, seminar, publikasi, dan produksi audiovisual adalah beberapa di antara media yang layak menjadi kajian cermat.

Banyak penelitian pengunjung terus dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah peragaan, beberapa di antaranya dilakukan terhadap pameran di pasar dunia yang berkaitan dengan pemerintah dan di pameran-pameran sejenis, dan banyak di antaranya dilakukan di dalam museum itu sendiri. Pada tahun 1962 John B. Taylor dan rekan-rekannya melakukan kajian mendalam tentang the United States Science Exhibit di Seattle World’s Fair (Pekan Raya Dunia di Seattle). Mereka menemukan (bahwa) pameran merupakan sebuah proses yang di dalamnya ada serangkaian peragaan yang mengarah pada kesan keseluruhan; peragaan individual harus disusun berdasarkan sekuen dalam proses tersebut, dan bukan sekadar orientasi yang statis. Tekanan dan arus pengunjung adalah hal yang paling penting; peragaan di area tempat arus pengunjung bergerak konstan haruslah singkat dan cepat dipahami, area tempat pengunjung berhenti haruslah berupa penjelasan umum dan kompleks, sedangkan area yang arus pengunjungnya bervariasi peragaannya paling sedikit dibuat dua tahap, baik untuk mereka yang hanya melihat sekilas sambil lalu ataupun bagi mereka yang ingin mengamati dengan seksama. Perencana peragaan haruslah menyajikan kerangka kerja umum dengan sekuen/alur pameran yang diprogram dengan teliti sehingga tema umum dan pesan dapat diterima dengan jernih. Suasana dan irama peragaan harus bervariasi, bahkan humor dan efek tekstural dapat juga dipakai. Sebagian peragaan harus dirancang untuk memenuhi rasa keingintahuan dan motivasi pengunjung, bukan hanya sekedar menyampaikan informasi saja. De Borhgeyi mencoba menerapkan prinsip-prinsip ini di Milwaukee Public Museum dan menghasilkan rancangan cemerlang untuk museum barunya.

Pengujian terhadap efektivitas peragaan idealnya dilakukan sebelum peragaan tersebut selesai dirancang. Pengujian-pengujian semacam ini dapat berupa maket yang murah, yang terdiri dari bahan-bahan temporer yang dapat dengan mudah diganti untuk pameran tetap. Kajian menarik yang dilakukan oleh Elizabeth H. Nizol dan dipublikasikan pada tahun 1969 adalah mengenai peragaan gigi-geligi mamalia (terutama gigi pemotong dan pengunyah) yang diamati oleh seorang anak berumur sembilan tahun di Children Museum, Boston. Ada berbagai peragaan yang harus disingkirkan atau dimodifikasi ketika melihat reaksi anak-anak dalam sampel penelitian, sebelum akhirnya pameran tetap dapat dipasang. Ini merupakan cara yang dapat diterima untuk menghemat waktu dan uang, sementara efektivitas pembelajaran pun lebih meningkat.

Para ahli psikologi lebih banyak melakukan penelitian eksperimental dalam menganalisis interaksi antara pengunjung (viewers) dengan peragaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Harris H. Shettel, tidak setiap benda peraga merupakan peragaan yang dapat memberikan pembelajaran (teaching exhibit). Beberapa di antaranya hanya memiliki daya tarik estetik dan hanya sedikit memerlukan interpretasi dari orang-orang yang mengamatinya. Objek-objek lain yang menjadi ciri/penanda sedemikian menariknya sehingga objek tersebut mendapat perhatian penuh dari hampir semua orang yang melihatnya; sebuah lokomotif besar, bernama the Huge Diamond, atau Spirit of St. Louis karya Lindberg, adalah beberapa di antaranya. Namun, peragaan yang bersifat instruksional dan mengajari berbeda dengan yang disebutkan sebelumnya karena keduanya dirancang untuk menyampaikan pemahaman – untuk menyampaikan cerita, menunjukkan perkembangan sejarah, atau menerangkan proses atau prinsip ilmiah. Peragaan seperti ini berusaha meningkatkan pengetahuan pengunjung atau mengubah sikap mereka.

Para ahli psikologi bersikeras bahwa peragaan instruksional harus memiliki tujuan/sasaran yang dapat diuji; peragaan tersebut harus mampu menembus generalisasi seperti memungkinkan pengunjung untuk dapat memahami, menemukan, atau menangkap makna tentang sesuatu. Tujuan/sasaran harus mengarah pada tindakan berbasis perilaku (behavioral action), seperti memberi nama, menyusun, membandingkan, membedakan, mengenali/mengidentifikasi, dan sebagainya. Chandler C. Screven melukiskan bahwa tujuan penelitian pengunjung di sebuah pameran kriya Yunani dan Romawi adalah sebagai berikut:

Dengan diberi enam pasang slide berwarna tentang kriya, kemudian menyajikan satu pasang pada saat bersamaan dalam sebuah alat uji, dan setiap pasangnya berisi contoh satu kriya Yunani dan satu kriya Romawi, pengunjung dapat mengidentifikasi mana kriya Yunani (atau Romawi) sebanyak lima dari enam pasang yang diberikan.

Ketika tujuan telah ditetapkan dan peragaan telah dipasang, proses eksperimental, dalam bentuknya yang paling sederhana, adalah memilih sampel yang benar secara ilmiah dari orang yang diharapkan akan berkunjung (intended audience), memberinya materi pra-ujian (pretest), memperlihatkan peragaan kepadanya, lalu memberinya materi pasca-ujian (post-test). Ujian-ujian serupa ini dapat tertulis, dapat pula menggunakan mesin penguji, misalnya dengan gambar slide pengunjung dapat memilih jawaban dengan cara menekan tombol. Selama pengunjung mengamati peragaan, berbagai peralatan peragaan dapat mengarahkannya untuk melakukan sesuatu, dan jika dia merespon maka dia akan diberi tahu apakah dia benar atau salah, lalu alat peragaan itu akan mengarahkannya pada langkah berikutnya. Alat sederhana untuk memandu pengunjung seperti itu adalah kartu skor pribadi yang di dalamnya tercetak pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi oleh pengunjung di titik-titik tertentu. Jika pengunjung menandai kotak yang benar, maka kartu berubah warna menjadi merah muda, sementara jika salah maka kartu berubah menjadi biru. Alat lainnya adalah papan-tekan (punchboard) yang harus ditekan dengan stylus untuk memilih jawaban. Papan ini terhubung pada sebuah pita kaset. Untuk jawaban benar, kaset yang mengeluarkan suara seperti “Bagus! Lanjutkan ke nomor berikutnya,” atau tidak merespon ketika pengunjung menekan jawaban yang salah. Mesin swa-uji (self-test machine) seperti ini pada akhirnya dapat saja berupa mesin yang diaktifkan dengan koin dan koin akan keluar lagi jika satu rangkaian prosentase tertentu dijawab dengan benar.

Pada tes semacam ini harus ada tanda peringatan yang terpasang. Meskipun pengunjung tidak perlu turut serta jika mereka tidak menghendaki, eksperimen seperti ini harus tetap seperti itu – eksperimen dilakukan untuk meningkatkan efektivitas peragaan di museum. Seluruh peragaan yang bersifat mengajari yang ada di sebuah museum tidak harus disusun seperti ini. Salah satu alasan utama untuk efektivitas museum adalah karakter museum yang permisif, yaitu bagaimana museum memperbolehkan pengunjungnya untuk melakukan pengamatan tanpa adanya paksaan – ini merupakan tipe pendidikan informal yang diberikan oleh museum. Walter Dorwin Teague, seorang perancang di bidang industri, pernah bercerita tentang peragaan di pameran-pameran dunia yang perancangnya tidak mengendalikan ataupun memaksa pengunjung untuk melakukan apapun; dia hanya mempermudah saja. Kadangkala peraga pembelajaran interaktif dapat diletakkan secara permanen seperti layaknya permainan bagi pengunjung, atau swa-uji dapat pula dibuat menyatu dengan peragaan di bagian akhir untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang didapat pengunjung. Namun, biasanya ekperimen dengan proses pembelajaran seperti ini haruslah digunakan untuk tujuan merancang atau meningkatkan sistem peragaan.

Museum yang besar akan menugaskan stafnya untuk menguji berbagai bagian program – peragaan, buku panduan, kinerja/pemandu, alat bantu audiovisual, dan sebagainya – secara berkala. Staf museum bisa saja melakukan sendiri pengujian tersebut dengan bantuan konsultan psikologi yang memberi petunjuk mengenai pengambilan sampel, kuesioner, analisis statistik, dan sebagainya. Kebanyakan pengunjung akan dengan senang hati mengikuti tes semacam ini dan mereka juga senang ketika mengetahui bahwa upaya ini merupakan cara untuk meningkatkan program-program museum. Tes yang dilakukan berdasarkan periode tertentu akan sangat berharga dalam menentukan kajian titik awal perbandingan. Museum juga harus berani/percaya diri mempublikasikan kontribusi signifikan program penelitian pengunjung yang dilakukannya, karena bidang yang berkembang cepat ini memiliki implikasi penting bagi masa depan seluruh museum.

Terjemahan dari:
Alexander, Edward Porter; Museum In Motion: An Introduction to the History of Functions of Museums, American Asociation for State and Local History, Nashville, 1980, p. 165-172.
[Oleh: Julianty M, Museum Geologi Bandung]


(british council)

About these ads

Responses

  1. http://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/03/14/terjemah-al-qowa’idul-arba’-empat-kaidah/

  2. tulisan yang sangat menarik tentang museum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.570 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: